Mata Reza akhirnya menutup sebelum dengan gerakan kecil, dia mendongakkan kepalanya dan berteriak dengan lantang. Mungkin saja jika ada yang mendengarnya, mereka pasti merasa ketakutan.
“Hahaha! Ini sih gak kaleng-kaleng!”
Reza berbalik dan langsung berlari meninggalkan kelas. Dia dengan semangat berlari hingga keluar halaman sekolah, beberapa siswa lainnya masih terlihat beraktivitas di sekolah. Reza tak memerdulikannya, sekarang dia hanya ingin menuju tempat rahasianya.
...……...
Sebuah stadion sepakbola yang rumputnya bahkan hampir tak terlihat lagi. Lapangan ini sudah tak pernah terpakai sejak dibukanya lahan baru untuk pembangunan stadion sepakbola baru di kota Palu dan itu sudah selesai setahun lalu serta telah dipakai sebagai stadion kandang klub Persipal Palu di Liga 2.
Dia di sana berlatih sendirian, tidak, berlatih bersama sistem mengasah kemampuan kipernya sejak dia sadar dan bisa beraktivitas setelah keluar rumah sakit. Di sini lah dia setiap hari berlatih bersama angin yang menghembus.
Entah bagaimana, dia hanya berlatih menendang bola dan juga mengasah gerak refleks nya dengan menangkap bola hasil tendangannya yang dipantulkan ke tembok. Itu terlihat sederhana, tetapi awal-awal dia hampir tak bisa menangkap tendangan tersebut.
Kali ini, Reza berniat melatih kartu atribut L. Messi, sebuah anugerah terbaik yang dia dapat. Skill Messi tak bisa dianggap sebelah mata bahkan hanya ada satu setiap beberapa generasi, dia lah Greatest Of All Time.
Namun, yang tak diketahui Reza, dia diikuti oleh seseorang. Sosok yang sangat penasaran akan kemampuan Reza sebagai pemimpin di bawah mistar gawang sekaligus julukan Reza yang pernah dia dengar, Kiper Gagal.
“Yo! Halo Reza!”
Reza yang baru saja mengambil bola terkejut bukan main. Di stadion yang sangat sepi dan hanya ada penerangan seadanya dari lampu yang tersisa, bagaimana tidak terkejut.
Reza berbalik dan terlihat Cipto dengan senyuman ramahnya. Cipto berjalan perlahan mendekati Reza, dia mengukur tinggi Reza dengan mengulurkan tangannya menyamakan tingginya.
“Oh, 175 cm, yaa? Tinggi juga untuk seumuranmu, saya 170 cm.”
“Hemm ... sejak kapan?” Tanpa basa-basi, Reza langsung mencecar Cipto dengan pertanyaan.
“Sejak … kau berteriak,” celetuk Cipto diakhiri tawaan kecilnya.
“Bruh ….”
“Yasudah, ngapain kamu di sini? Bukannya stadion ini mau dibongkar besok?”
Reza terkesiap atas informasi yang diberikan Cipto. Dia tentu saja tidak terlalu memercayainya, tetapi selebaran yang ditunjukkan Cipto menjawab keraguannya.
Stadion Celebes akan dibongkar pada Sabtu, 4 Juni 2022.
Seperti itulah selebaran yang ditunjukkan Cipto yang entah ia dapat darimana.
“Hanya iseng aja, latihan.”
“Huh? Latihan? Sendirian? Siapa yang tendang bola?” Pemahaman Cipto mentok kepada pekerjaan Reza sebagai kiper.
“Tembok.”
Reza meletakkan bolanya di tanah kemudian dia menendangnya ke arah tembok. Kemudian pantulan bola itu ditangkap dengan mudah oleh Reza. Setelah contoh kecil itu, Cipto menganggukkan kepalanya.
“Saya boleh bantu?”
“Kami juga …!” Teriakkan keributan terdengar dari lorong stadion.
“Hadeh … kalian dasar penguntit!” Reza tentu kesal, tetapi mereka sekarang adalah rekan setim.
Akhirnya pertandingan 5 vs 5 terjadi, seakan itu adalah pertandingan futsal, sebab hanya seperempat lapangan yang dipakai dalam pertandingan kecil tersebut.
“Aku maju!” Reza berpikir skill Messi akan segera dia pahami setelah dia gunakan sesaat sebelum pertandingan kecil ini.
Perkembangan status Reza sendiri sangat pesat setelah mendapatkan kemampuan milik Messi. Entah bagaimana penilaian orang-orang terhadap bintang paling terang yang akan segera lahir ke dunia pesepakbolaan.
...[Penambahan poin pada status]...
...[Kekuatan: 60 >> 86]...
...[Stamina: 70 >> 88]...
...[Akselerasi: 60 >> 95]...
...[Kecepatan: 60 >> 92]...
...[Dribbling: 20 >> 85]...
...[Kontrol bola: 75 >> 85]...
...[Umpan jauh: 70 >> 88]...
...[Umpan pendek: 60 >> 86]...
...[Tembakan: 40 >> 87]...
...[Kekuatan menembak: 60 >> 86]...
...[Akurasi: 65 >> 90]...
...[Kurva: 40 >> 87]...
...[Tendangan Penalti: 20 >> 70]...
...[Tendangan Bebas : 85 (Penambahan status)]...
...[Lemparan : 60 >> 80 (Bonus)]...
Reza sekarang monster. Hanya itu yang bisa dikatakan oleh sang narator. Entah bagaimana narator menciptakan manusia monster tersebut. Namun, rintangan akan ada dan tak akan pernah hilang ke depannya.
...……...
Reza membawa bola dengan tipuan kaki yang menciptakan putaran badan mengecoh lawan, dia membuat semua orang terpukau. Seorang kiper bisa melakukan itu? Jenius.
“Woy! Kalian ngapain di sana?!!” Cahaya senter dengan lampu LED semakin menyoroti para anak muda tersebut yang asyik memainkan bola di kaki mereka.
“Pergi kalian!” Itu adalah satpam yang ditugasi menjaga stadion Celebes hingga diadakan pembongkaran.
“Hahaha! Lari semua!” Reza langsung mengambil kuda-kuda dan lebih dahulu meninggalkan rekan-rekannya.
“Woy! Dasar teman pengkhianat!”
Akhirnya semua anak muda itu pergi meninggalkan bola yang diambil sang satpam.
“Sudah lama yaa, sejak saya tak memegang bola. Rasanya nostalgia,” gumam si satpam bernama Udin tersebut.
Kejadian malam itu membuat para anak muda hanya bercanda ria memasuki taman kota. Di sana mereka merayakan keberhasilan masuk di sekolah dengan klub sepakbola ternama di Indonesian League Youth.
Hingga malam semakin larut, yang seharusnya anak muda seusia mereka sudah di rumah, mereka sekarang baru ingin pulang setelah pukul 8 malam dan taman semakin ramai karena juga semakin malam.
“Sampai nanti di sekolah!”
Reza pergi pulang yang kebetulan rumahnya masih cukup dekat dari taman kota. Setelah sampai, dia disambut ibunya yang menunggu cemas.
“Nak! Darimana saja kamu?” Citra , ibu Reza dengan erat memeluk anaknya.
“Reza tidak kemana-mana kok, hanya ke taman bersama teman baru.” Reza melepas perlahan pelukan ibunya.
“Oh, iya, Bu. Ada yang mau Eca bicarain.”
“Sini, Nak.” Citra mendampingi Reza menuju sofa yang berada di tengah ruangan.
Ditemani lampu yang cerah, suasana tegang diantara ibu dan anak terlihat.
“Ini, Bu.” Sebuah amplop diberikan kepada ibunya.
Citra membuka amplop itu dan segera membacanya. Beberapa saat setelah membacanya, matanya terbelalak, dia menatap secara bergantian kepada anak satu-satunya tersebut.
“Ini bercanda, kan, Nak?”
Reza hanya membalasnya dengan menggelengkan kepalanya, akhirnya beberapa bulir cairan keluar dari mata Citra yang segera diseka oleh Reza.
“Maaf, Ibu, ini mendadak. Tapi–”
“Jangan! Jangan bilang kamu tidak mau menerima kesempatan ini? Terima saja! Ibu akan mendukungmu, Ibu tahu sifatmu yang tidak ingin jauh dari Ibu! Jadi … terima itu dan berkemaslah, ibu tak bisa menemanimu.”
Hati Reza semakin redup. Dia sangat sedih sekaligus senang. Sedihnya, dia harus berpisah dengan ibunya. Senangnya, dia masuk dalam daftar tim nasional Indonesia U-17.
“Terima kasih, Bu, Eca tidak akan melupakan nasihat Ibu!”
“Ah! Kamu ini, serasa akan berpisah selamanya, ini kan hanya sekitar dua minggu saja, dan itu juga masih lama, sekarang saja masih bulan Juni.”
Keesokan harinya, sekolah secara langsung memberitahu bahwa murid bernama Reza Kusuma dipilih pelatih Bima untuk Kualifikasi Piala Asia U-17 2023 yang diselenggarakan pada tanggal 4 Oktober nanti.
Keputusan keduanya juga sudah bulat. Dan … kehidupan sekolah Reza akan dimulai segera.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
•Nozoki Rey•☆
ini novel sepak bola yg ke 2 yg membuat sya mengakui novel ini keren semangat thor
2023-02-21
5
Penyuka Novel
menarik baru kali ini sy baca novel sistem bola sy paham alur nya:v
2022-11-20
7
Note_D
semangat thor
2022-11-11
1