Hari Senin, 6 Juni 2022
Hari di mana anak-anak muda yang mendaftar sekolah untuk perdana menjadi murid suatu sekolah, dan ada yang berbahagia dengan kelulusan mereka serta kenaikan kelas.
Reza sendiri berjalan dengan santai sembari bersiul pelan. Seragam putih abu-abu nya dan juga tas yang dia jinjing membuatnya terlihat cool. Tingginya yang cukup, postur badan tegap, kulit sawo matang dengan tatapan santainya.
Rambutnya yang dia sisir ke samping kanan menambah ketampanannya. Bahkan beberapa siswi sedikit terpukau sesaat Reza memasuki gerbang sekolah.
“Hai, Reza!” Sebuah suara serak-serak basah terdengar dari belakang.
Reza yang hendak berbalik langsung dirangkul oleh sebuah tangan besar dan memiliki beban berat. Reza memutar kepalanya dan melihat Haikal yang tersenyum senang.
Tubuh Haikal yang besar cocok sebagai seorang defender, tentu tubuh besarnya tak menutup dia kesulitan untuk bergerak, malah dia termasuk lincah.
“Enyah dari pandanganku.”
Perkataan Reza seketika membuat hati Haikal bagai tertusuk ribuan bilah pedang. Rasanya amat sakit, itu yang dibilang sakit tak berdarah.
“Hahahah! Kena kau!” Reza melepas rangkulan Haikal dan berlari mendahului temannya tersebut.
“Aisshh! Kurang ayam!” Haikal berlari mengejar Reza yang gesit.
Tiba-tiba pandangan Haikal seperti melihat sosok Leonel ada di dalam Reza, dengan gerakannya yang menghindari gerombolan murid. Pandangan itu muncul sesaat sebelum dia sadar saat menabrak seseorang.
“Eh! Ma-maaf, Kak!” Haikal buru-buru membantu seseorang yang dia tabrak untuk berdiri.
“Tch! Anak baru, minggir!” Sosok tubuhnya yang lebih tinggi dari Haikal nampak mendominasi.
Reza yang beberapa meter di depan pun berhenti dan melihat ke belakang sesaat mendengar suara yang melengking keras tersebut.
Sontak tercipta lingkaran yang mengelilingi keduanya. Murid-murid yang penasaran mengerumuni keduanya.
“Hei, itu bukannya Kakak ketua OSIS?”
“Hei, diam, jangan sampai dia dengar!”
“Bahaya tuh anak, saya aja yang seangkatan si ketua ini sedikit takut.”
Bisik hingar bingar terdengar yang membuat Haikal terdiam sesaat. Dia saat ini ditatap tajam oleh sosok yang dia tabrak.
“Kenapa kau nabrak, huh?!” Sosok yang di bet namanya tertulis Andrean pun hendak memukul Haikal dengan kepalan tangannya.
Namun, sebuah tangan menghentikannya. Dia adalah Reza yang secara tiba-tiba bisa melewati kerumunan murid.
“Jangan anggap karena Kakak ketua OSIS, tapi seenaknya berkuasa.” Suara dingin Reza keluar begitu saja bagai angin.
“Siapa kau? Oh! Apakah kau itu kiper yang digadang-gadang penerus Riyandi anak kelas A itu?” Mata Andrean menelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut Reza.
“Kalau iya, ada apa yaa, Kak?” Reza masih mencoba untuk sopan.
Andrean menghempaskan tangannya dari pegangan Reza. Dia menatap sengit Reza, yang bisa saja dianimasikan akan ada percikan listrik di antaranya.
“Reza? Kenapa?” Haikal bergumam.
“Kalau memang kau kiper yang digadang-gadang penerus Riyandi anak kelas A, saya akan mengetesmu!
Yaa … meski saya anak klub basket, tapi masih bisa main sepakbola juga. Jadi … kutunggu kau setelah upacara peresmian murid baru nanti!”
Andrean pergi begitu saja dan meninggalkan semua orang di sana. Akhirnya perkumpulan itu bubar dengan sendirinya dan meninggalkan Reza serta Haikal yang saling berdebat.
“Hei, Reza! Ini masih hari pertamamu, jangan buat masalah.” Haikal memperingati.
Reza menatap malas Haikal kemudian berkata, “Siapa yang menabraknya, saya hanya menyelamatkanmu. Tidak lebih.”
Haikal akhirnya bungkam dan memilih berjalan lebih dahulu.
Mereka berdua menuju lapangan upacara sebagai peresmian hampir seribu anggota keluarga baru di SMA Harapan. Setelah upacara selesai, barisan dibubarkan dan para murid dipersilahkan untuk hari kosong pada Senin ini, kemudian mulai besok Selasa mulai belajar.
Dengan begitu, Reza dan Andrean berjanji bertemu di lapangan bola. Di sana sudah ada beberapa murid yang mendengar perseteruan di antaranya pagi tadi dan berniat melihat kelanjutannya. Reza sendiri seragamnya sudah dia ganti jadi jersey dengan bertuliskan Lev Yashin.
“Hei, anak baru! Tunjukkan bahwa kau mampu membawa klub sepakbola untuk mengangkat trofi piala Youth Tournament untuk kesepuluh kali!”
“Buset, berarti sudah banyak kali menang dong!” celetuk Reza terpukau.
“Terima ini!”
Andrean berlari dan langsung menendang bola dengan sekuat tenaga. Reza yang bersiap di bawah mistar gawang pun melompat bagai macan ke arah kanannya. Tangan kanannya dia ulurkan sepanjang yang dia bisa, ujuang jari-jari nya mengenai bola!
Bola tertepis dan memantul ke mistar gawang yang membuatnya terhempas keluar lapangan. Sontak tepuk tangan meriah terdengar setelah penyelamatan Reza.
Riyandi yang juga menonton perseteruan di antara keduanya pun terpukau dengan tendangan Andrean dan juga penyelamatan Reza. Pikirnya, tendangan Andrean cukup baik sebagai pemain bintang di klub bola basket sekolah.
“Ini lagi!” Bola yang dijejer rapi secara horizontal pun kembali ditendang Andrean tanpa rasa berat.
Reza yang baru berdiri segera memperkuat tolakan kakinya dan menuju ke sisi kiri gawang, di sana dia melakukan tepisan bawah saat bola datar tanah datang. Tepisan itu membuat bola tidak bisa masuk ke gawang Reza.
“Woy, tai! Kenapa kau tepis!”
“Tai juga! Saya 'kan kiper, ya harus selamatkan gawang saya!”
Balasan Reza hanya diiringi tawaan dari para murid. Ini menjadi hiburan mereka sebelum masuk masa berat mereka di esok hari. Mereka dipastikan akan dihujani pelajaran yang memusingkan nantinya.
“Masih mau lanjut?” tanya Reza seraya menyiapkan diri untuk serangan berikutnya dengan menggosok sarung tangannya.
“Masihlah, selama belum masuk, tidak akan selesai!”
“Yasudah, saya mau sedikit menyombong diri. Sekelas Kakak, tidak akan bisa membobol gawang saya!”
Sontak teriakkan “Huu!” bergema yang menyemangati ketua OSIS mereka beserta Reza sendiri. Amarah Andrean pun tersulut, dari tatapan matanya saja terlihat betapa marahnya ketua OSIS tersebut.
“Ini … pasti … masuk!!!” Bola melesat menarget sudut atas kanan gawang, benar-benar disudut.
Reza dengan refleks ajaibnya pun melompat. Saat di udara, tubuhnya seperti melayang dan tidak akan jatuh, tangannya meraih, hingga ujung jari tengahnya sempat menyentuh halus bola. Arah bola bergeser dan memantul ke tiang hingga kembali ke arah Andrean yang menendang bola.
Bruk!
Reza menabrak tiang gawang hingga dia sedikit kesakitan. Sontak rasa peduli Andrean keluar, dia dengan segera berlari ke arah Reza dan menanyakan apa dia baik-baik saja. Reza yang mendengar itu tersenyum ke arah Andrean sebagai tanda ia baik-baik saja.
Di saat itu juga, benih-benih persahabatan tumbuh di antara junior dan senior. Keduanya, saling bersalaman sebagai tanda bahwa perseteruan itu berakhir dengan damai. Semua penonton bertepuk tangan meramaikan perdamaian di antaranya.
“Kak! Terima kasih!”
“Haha! Seharusnya saya yang berterima kasih, sebab temanmu yang menjengkelkan, saya bisa melihat seberapa jagonya kamu di bawah mistar gawang.” Dengan wajah konyolnya, dia sedikit menyindir Haikal.
Apa yang Andrean tidak sadari, Haikal berada di belakangnya dengan hawa menusuk.
“Kak ketua OSIS, saya ingin sopan pada kamu, tapi … rasanya sulit.”
“Hahaha! Begitulah diriku yang menjengkelkan banyak orang!” Andrean malah tertawa terbahak-bahak mendengar suara Haikal.
Akhirnya, lapangan bola perlahan ditinggalkan para penonton perseteruan itu, meninggalkan seluruh anggota klub sepakbola serta klub bola basket.
“Kapan-kapan … hmm, siapa yaa namanya?”
“Reza!”
“Nah, kapan-kapan Reza lawan saya di bola basket.”
Reza seketika gugup. Bakatnya sama sekali tak cocok di bola basket, bahkan hanya memantulkan bola saja menurutnya sangat sulit. Terlihat dari gestur Reza yang gugup membuat Andrean kembali tertawa bersama anggota klub lainnya.
Kebersamaan di antara klub sangat diharuskan agar setiap ada sebuah pertandingan pada suatu klub, pihak sekolah mengharuskan seluruh klub lainnya mendukung klub yang bertanding tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Rippzmann
Semangat thor crazy up
2022-10-24
4
Anonymous
semoga gak berhenti di tengah jalan, ceritanya.
2022-10-24
2
YYYEEEKKKAAANNN
no komen😑😑😑😑😑
2022-10-24
2