Wasit telah meniup peluit panjang tanda pertandingan telah usai, sontak penonton mulai bertepuk tangan melihat penampilan apik kedua tim, bahkan ada yang mulai menaruh kata penggemar terhadap Reza di hati mereka.
Para penonton pun mulai meninggalkan bangku, ada juga yang tinggal untuk melihat apa yang selanjutnya dilakukan kedua tim. Ada yang malah tertidur pulas di tengah keramaian itu.
Reza mendekati I Nyoman yang berbaring di lapangan dengan hembusan nafas kelelahan. Dia mengulurkan tangan sembari tertawa kecil.
“Ini bukan final, jadi … melangkah maju adalah yang terbaik untuk sekarang. Lagipula, kita akan bertemu sebagai musuh kembali di Youth Tournament.”
Uluran tangan Reza diterima dengan lapang dada oleh I Nyoman. Dia menatap Reza dengan pandangan yang sulit diartikan, bahkan seorang psikolog sekalipun. Menyadari dirinya ditatap begitu misterius, dia langsung merangkul I Nyoman.
“Saya Reza Kusuma, panggil saja Reza!”
I Nyoman pun membalasnya dengan tak acuh, masih sedikit kesal dengan tendangannya yang terus saja diselamatkan kiper b-jingan di depannya.
“I Nyoman Wardhana. Terserah mau panggil apa.”
Reza sempat berpikir kemudian berkata, “Hai, Ardhan.”
I Nyoman melepas rangkulan Reza, dia mendengus pasrah ketika panggilan yang dibuat Reza benar-benar sama dengan apa yang teman-temannya sebut.
Ardhan, begitulah panggilan untuk dirinya.
Bagus mendekati keduanya. Dia menatap lekat ke arah Ardhan, tanpa rasa kesal, dia tersenyum sembari menyeka keringatnya.
“Striker menakutkan sepertimu … di masa depan akan menjadi sainganku, walaupun saya lebih tua sekitar dua tahun, potensimu benar-benar lebih terlihat daripada saya saat diusiamu.”
“Ah, Kak. Tidak perlu menilaiku sebagus itu. Saya hanya Ardhan yang tak lolos di sekolah ini dan tersesat di SMKN 2.”
“Oy! Anak baru! Mulutmu benar-benar bau!” Seorang pemain bertubuh besar datang dengan nada kesal.
Dia adalah Maulid, wajahnya terlihat kesal dengan kerutan di dahi. Dia berniat menarik Ardhan kemudian melakukan kuncian. Ardhan menghindar dengan tawaan kelakar miliknya.
“Cih! Jangan peduli ucapannya. Oh, iya! Salam kenal, saya Maulid, pemain sayap yang berjulukan sayap raksasa. Yaa … meski waktuku di tim tidak lama lagi, karena akan dihujani ujian kelulusan sekitar setengah tahun lagi.”
Bagus mendekatinya dengan suram. Dia mencoba bersalaman dengan Maulid. Matanya tampak kusam seperti tak bernyawa, Maulid tentunya sedikit gentar dengan perilaku Bagus yang berubah drastis.
“Eumm … kamu Bagus yaa? Oh! Ka-kamu–”
“Benar, saya tahun ketiga, sama sepertimu.”
Tak lama setelahnya, sebuah suara kecil yang berangsur-angsur membesar.
“Hahahah!” Keduanya tertawa sembari merangkul layaknya sahabat yang sudah lama tak bertemu.
Seluruh anggota tim berkumpul untuk sedikit bercanda ria. Meski rivalitas di lapangan nampak jelas, tetapi sebagai anak seusia atau bahkan hanya lebih tua 1 sampai 2 tahun saja, rasa pertemanan yang begitu cepat merambat satu persatu kepada setiap anggota tim.
Reza hanya bisa tersenyum. Dia tidak ingin mengelak, berkat sistem, dia mampu seperti ini bahkan sedikit demi sedikit namanya mulai bersinar. Semuanya hanya tinggal menunggu waktunya untuk dia bersinar secara terang di seluruh dunia khususnya Indonesia.
“Semuanya berkumpul!” Serentak pelatih Sofyan dan Maximus.
Lantas keduanya saling berpandangan sebelum senyuman keduanya memecah keheningan di antaranya.
Akhirnya semua pemain berkumpul. Ada yang tidak berada pada timnya dan tersesat di tim lain, tetapi tak ada yang memerdulikannya, bahkan pelatih Sofyan maupun Maximus.
“Saya dan pelatih Max berjanji. Jika tim saya kalah, saya akan mentraktir semua orang, begitupun sebaliknya. Jadi … pelatih Max, apakah janji lelaki itu bisa ditepati?”
Beberapa pemain menutup mulutnya dan tak tahan untuk tertawa. Perjanjian di antara pelatih benar-benar menghibur semua orang yang ada di sana, bahkan pelatih-pelatih bagian lainnya sedikit menggelengkan kepala tak menyangka akan ada janji seperti itu.
“Baik, kita ke Mekdi.” Pelatih Max nampak pasrah.
“Jangan! Kita ke warung Mas Nur saja!” Sontak seruan seorang itu membuat atensi naik kepada dirinya.
Dia adalah Ardhan dengan nada yang tanpa malu tersebut. Dia bahkan mengatakan itu dengan bersemangat.
“Lokal lebih baik,” ucap Reza menambahkan.
Lantas semua orang mulai menyetujui usulan Ardhan. Bahkan mereka mulai mendebatkan betapa lezatnya menu yang disediakan warung Mas Nur.
“Baik, kita akan pergi … sekarang juga!” Pelatih Max juga tak mengelak, dia tahu betapa lezatnya menu warung Mas Nur.
Mereka pun berbondong-bondong keluar lapangan dan sekolah. Dengan berjalan kaki, sebab warung ini sendiri hanya berjarak setidaknya sepuluh menit saja dari sekolah.
Banyak pasang mata menyaksikan konvoy mereka. Seragam yang mencolok untuk SMA Harapan dengan berwarna merah dengan corak emas secara diagonal. SMKN 2 sendiri memiliki seragam jersey dengan pola kotak-kotak berwarna hijau dan putih.
Dengan diiringi canda tawa di antara mereka, tanpa terasa mereka telah sampai di warung Mas Nur yang benar-benar kebanjiran pelanggan. Itu karena para penonton pertandingan yang lapar di pagi hari pun langsung tancap gas ke tempat ini.
Beberapa pemain juga setelah pertandingan ada yang lapar, tidak, semuanya merasa lapar! Padahal mereka sudah membekali diri dengan gizi yang lengkap di pagi ini, tetapi setelah pertandingan berat, mereka dengan segera merasa lapar.
“Ramai … sekali,” ucap Ardhan dengan pasrah.
“Sepertinya kita harus menunggu berjam-jam!” gumam Bagus dengan kesal.
“Lapar!!!” Haikal berteriak.
“Hei, itu mereka! Beri jalan, beri mereka tempat pertama!” Seorang wanita cantik dengan kulit putih, rambut hitam panjang yang dikuncir, dia memakai topi, pakaian santainya yang terlihat natural.
Setelah seruan dari wanita itu, sontak semua pelanggan langsung segera memberi jalan.
...……...
Hidangan di meja sepanjang 6 meter, terlihat 3 meja penuh dengan anak muda dengan beberapa pria paruh baya. Mereka terlihat sedang menikmati lezatnya menu pilihan mereka.
Bunyi dentingan sendok dengan piring menambah kesan bahwa tak ada yang boleh mengganggu pesta mereka. Reza bahkan dengan bahagianya menyisihkan sedikit bagiannya untuk dia bawakan ibunya.
Dia memilih nasi putih dengan dua potong ayam bagian dadanya. Dia mengatakan sepotong lagi untuk ibunya di rumah yang menunggu anak semata wayangnya pulang.
Reza memakan bagiannya dengan suka cita, tak ada beban, kelelahan berat yang dia miliki menghilang bak ditelan bumi.
Ardhan yang menghembuskan nafas berat setelah laga, sekarang dia menghembuskan nafas kekenyangan.
Reza dan kawan-kawannya, Ardhan dan kawan-kawannya, semuanya menikmati makanan enak di depan mereka. Bahkan warung itu mengalami kehabisan stok secara cepat pagi itu, yang sebelumnya masih tersisa hingga siang, sekarang setelah para anak muda dan penonton lainnya menghabiskan stok besar mereka.
“Reza, dua minggu lagi pertandingan Youth Tournament sektor Sulawesi Tengah perdana di musim 2022/2023. Saya harap kamu menjadi palang pintu terbaik tim ini. Kita … akan melawan tim SMA Jaya Bangsa asal Luwuk.” Pelatih Sofyan menaruhnya beban berat di pundak Reza.
“Siap, coach!” Dengan mulut yang dipenuhi potongan ayam, dia berkata sedikit lucu.
Pelatih Sofyan hanya tersenyum senang sembari melanjutkan makanannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
glanter
main bola perut kenyang....😂😂😂😂
2023-02-05
2
Taaku
mantap
2022-10-29
4