"Woy, Pangeran Hans! Aku tau kamu masih di sini. Aku tau kamu pasti mendengar teriakkanku! Kumohon, Pangeran! Kembalilah ...." Mila terus memanggil pangeran Hans dan tidak akan menyerah sebelum lelaki itu kembali kemudian menampakkan wajahnya.
Benar saja, beberapa menit berikutnya pangeran itu tiba-tiba muncul di balik punggung Mila sambil tersenyum miring. Seolah puas karena sudah berhasil membuat Mila pusing tujuh keliling.
"Aku sudah di sini dan sekarang katakan apa yang kamu inginkan dariku?"
Mila sontak berbalik kemudian menatap lelaki itu dengan mata berkaca-kaca. Ia meraih tangan kekar Hans yang terasa dingin kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Pangeran Hans, aku mohon padamu! Tolong jangan sakiti mas Rangga. Mas Rangga tidak bersalah dalam hal ini. Kalau kamu ingin marah dan melampiaskan kemarahanmu, maka lampiaskanlah semuanya kepadaku," ucap Mila sambil memelas kepada Pangeran Hans.
Lelaki gaib itu terdiam untuk beberapa detik dengan tatapan dingin menatap Mila.
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
"Kumohon, Pangeran."
Sudut mata Mila tampak memerah. Terlihat cairan bening yang mulai menumpuk dan siap merembes. Bibir mungil gadis itu ikut bergetar tetapi ia tahan dengan mengigitnya pelan.
Hans yang tadinya tampak angkuh dan begitu teguh dengan pendiriannya, tiba-tiba luluh. Apa lagi ketika ia menyaksikan netra indah itu mulai berkaca-kaca. Lelaki gaib itu menghela napas berat kemudian kembali membuka suaranya.
"Baiklah. Aku akan mengabulkan keinginanmu, tetapi ada syaratnya," ucap Pangeran Hans, masih dengan tatapan dinginnya.
Mila menerbitkan sebuah senyuman di wajah cantiknya dan tampak dua buah lubang kecil menghiasi kedua belah pipi gadis itu.
"Baiklah. Apa syaratnya, Pangeran?"
"Menikahlah denganku," jawab Pangeran itu secara singkat dan jelas.
"Apa!" pekik Mila yang tak habis pikir dengan syarat itu.
"Pangeran Hans, dunia kita berbeda! Aku tidak mungkin 'kan ikut ke duniamu kemudian punya anak bersamamu?" lanjut Mila yang masih panik dengan persyaratan lelaki gaib tersebut.
"Tentu saja itu mungkin. Sebab kamu memang bagian dari kami," sahut Pangeran Hans dengan mantap.
Mila berbalik dan berjalan menjauhi Pangeran Hans. Ia duduk di tepian ranjang dengan raut wajah tertekan. Bagaimana tidak, pilihannya kali ini begitu sulit. Menyelamatkan Rangga dan menikah bersama lelaki gaib itu atau menolaknya dengan nyawa Rangga sebagai taruhannya.
"Ya Tuhan! Pilihan apa yang harus aku ambil?" gumam Mila sambil mengusap wajah stress-nya dengan kasar.
Pangeran Hans dengan sabar menanti jawaban gadis itu. Ia bersandar di dinding kamar sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Bagaimana, Aurora?"
Mila mengangkat kepalanya dan menatap lelaki gaib itu.
"Setelah kita menikah, apa kamu akan langsung memboyongku ke duniamu?" tanya Mila yang mulai tampak pasrah.
"Ya," jawab Pangeran Hans tanpa beban.
Mila menghela napas berat. "Tidak bisakah aku meminta sedikit waktu, Pangeran? Biarkan aku tinggal di sini hingga Rika menemukan pendamping hidupnya," ucap Mila sambil menundukkan kepalanya menghadap lantai.
Pangeran Hans memijit pelipisnya dengan pelan. "Baiklah. Tapi hingga Rika menikah saja," sahut Pangeran Hans.
"Ya, hanya sampai Rika menemukan pendamping hidupnya. Aku ingin melihat dia bahagia, Pangeran. Aku sudah menganggapnya seperti saudariku sendiri dan aku akan pergi dengan tenang setelah memastikan bahwa dia hidup bahagia bersama lelaki pilihannya," lanjut Mila dengan begitu antusias.
Pangeran Hans pun mengangguk tanda setuju.
Beberapa jam kemudian.
Jarum pendek jam di dinding kamar Mila sudah menunjuk ke angka 12 bersamaan dengan jarum panjangnya. Namun, Mila masih belum bisa memejamkan mata sama seperti malam-malam biasanya.
Gadis itu tampak gelisah. Berbagai macam posisi enak sudah ia coba, tetapi hasilnya sama saja. Kedua netra indahnya sukar untuk diajak kompromi.
Bukan tanpa alasan Mila mengalami sulit tidur pada malam itu. Persyaratan Pangeran Hans soal pernikahan mendadak itu membuat Mila pusing tujuh keliling.
"Bagaimana bisa aku menikah dengannya, sementara dunia kami saja sudah berbeda. Belum lagi soal usia kami yang terpaut begitu jauh," gumam Mila dalam hati.
"Aku sudah jadi nenek-nenek, eh dia masih ganteng seperti itu. Mana adil!" gumam Mila dengan wajah cemberut.
"Setelah aku sudah jadi nenek-nenek yang sudah dipenuhi oleh keriput di sana-sini dan tidak menarik lagi, lelaki gaib itu pasti akan membuangku kemudian mengembalikan aku ke dunia. Aku akan hidup sendirian, tanpa anak apalagi suami dan akhirnya aku mati dalam kesendirian," lanjut Mila dengan mata berkaca-kaca.
"Ya Tuhan, tragis sekali nasibku!" Mila menutup wajahnya dengan guling yang sejak tadi ia peluk.
"Apa yang kamu pikirkan, Aurora? Memikirkan aku?"
Mila terperanjat setelah mendengar suara berat pangeran Hans yang kini sudah berbaring di samping tubuhnya. Ia berbalik dengan cepat dan mencoba menjaga jarak aman dari lelaki itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Pangeran! Aku mau tidur, sekarang pergilah!" titah Mila sembari memegang selimutnya dengan erat.
Mila memperhatikan penampilan pangeran Hans saat itu. Lelaki gaib itu bertelanjangg dada dan hanya mengenakan celana pendek selutut. Kulit tubuhnya yang putih mulus dengan dihiasi bulu-bulu cetar membahana, membuat Mila menelan salivanya.
Belum lagi perut kotak-kotak milik pangeran Hans yang tampak begitu kokoh, membuat jari-jemari Mila menjadi gatal dan ingin menyentuhnya.
Lelaki itu tersenyum tipis. "Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya?"
Mila menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh! Kita belum menikah dan kamu belum sah menjadi suamiku," ucapnya dengan tegas.
"Sudahlah, jangan cemas." Pangeran Hans meraih tangan Mila dan mengajak gadis itu untuk kembali berbaring sama seperti sebelumnya.
"Aku berjanji tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin berbaring di sini. Menjaga dan melindungimu hingga pagi menjelang."
Mila menurut saja. Ia berbaring di tempatnya semula dengan posisi membelakangi pangeran Hans. Lelaki gaib itu memeluk tubuh Mila dari belakang dengan begitu erat dan membuat Mila merasa sangat nyaman.
Anehnya, tubuh pangeran Hans yang seharusnya terasa begitu dingin, tiba-tiba menjadi hangat dan membuat Mila merasa betah berada di dalam pelukan mahluk itu.
"Ketika kekasihmu pergi, apa yang kamu lakukan, Pangeran Hans?" Tiba-tiba Mila membuka suaranya.
"Aku hancur, Aurora. Namun, aku tidak putus asa. Aku yakin kamu akan terlahir kembali dan kembali ke sisiku, sama seperti sebelumnya."
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
akhirnya,Mila pasrah menerima kehadiran Pangeran Hans...
2025-03-08
0
💜💜💜REVIAA 99💜💜💜
sebenarnya aku suka karakter pangeran Hans yg setia juga romantis'...ia begitu mencintai kekasihnya hingga rela menanti renkarnasi nya
2022-11-15
1
Berdo'a saja
akhirnya ngobrol
2022-10-10
0