Bus yang membawa para muda-mudi itu pun meluncur meninggalkan tempat wisata air terjun tersebut. Semua orang tampak senang dan puas menikmati hari liburan mereka kali ini, tetapi hal itu tidak berlaku untuk Mila.
Sementara teman-temannya saling bercerita sambil tertawa lepas di dalam bus tersebut, Mila malah terdiam dengan pikiran yang terus tertuju pada sosok lelaki aneh yang tadi ia temui di bawah pohon nan rimbun tersebut.
Mila menatap ke arah jendela sambil memperhatikan rerumputan yang tumbuh tinggi di pinggir jalan yang mereka lewati. Sesekali terdengar hembusan napas panjang keluar dari hidung gadis itu. Keceriaan para muda-mudi di bus tersebut, tidak mampu mengusir ketakutan yang masih ia rasakan sampai saat ini.
"Sudahlah, Mil. Jangan dipikirkan lagi," ucap Rika tiba-tiba sembari menggenggam tangannya dengan erat. Mila tersentak kaget. Ia segera menoleh ke arah sahabatnya itu sambil tersenyum kecut.
"Ya. Akan kucoba," jawab Mila singkat yang kemudian kembali membuang pandangannya ke arah samping.
Baru saja Rika kembali memfokuskan pandangannya pada tingkah konyol para muda-mudi itu, tiba-tiba Mila menepuk tangannya dengan cepat dan kasar.
"Rika-Rika, coba lihat itu!" Mila menunjuk ke arah semak-semak belukar dengan begitu serius.
Rika menatap heran kepada Mila yang wajahnya terlihat semakin memucat. Mila terus menepuk-nepuk lengan Rika sembari menunjuk-nunjuk tempat itu.
"Ada apa lagi sih, Mil?" tanya Rika heran.
"Itu lelaki aneh yang tadi aku lihat di air terjun, Rika. Coba kamu lihat!" pekik Mila, masih menunjuk-nunjuk ke arah semak-semak.
Rika kembali melihat ke tempat itu dan sekali lagi kedua netranya tidak menangkap apa pun atau siapa pun di sana. Hanya ada semak belukar yang menghijau, tumbuh tinggi di sekitaran tempat itu.
"Mana, Mil? Aku gak lihat apa-apa di sana. Hanya ada semak belukar," jelas Rika dengan heran.
"Hah?" Mila tersentak kaget. "Kamu tidak melihatnya? Dia di sana, Rika, dan sekarang dia malah lihatin aku," lanjut Mila dengan tubuh bergetar.
Mila refleks memeluk tubuh Rika kemudian membenamkan wajah di pundak sahabatnya itu sambil memejamkan mata. Tubuh gadis itu bergetar dan membuat Rika merasa iba sekaligus khawatir.
"Hush, hush, sudah. Tidak apa-apa," ucap Rika sembari membalas pelukan Mila.
"Beritahu aku jika kita sudah keluar dari area hutan ini ya, Rik."
"Baiklah," jawab Rika.
Beberapa ratus meter setelah meninggalkan area hutan itu, Rika pun segera memberitahu Mila.
"Mila, kita sudah berada di jalan besar. Sekarang kamu sudah bisa membuka matamu," ucap Rika sambil mengelus punggung gadis itu.
Mila segera melerai pelukannya bersama Rika kemudian menatap sekitar tempat yang mereka lalui. Perlahan wajah gadis itu terlihat lebih tenang. Ia menghembuskan napas panjang sembari mengelus dadanya.
"Oh, syukurlah."
"Sekarang kamu sudah mulai baikkan?" tanya Rika sembari menyerahkan botol air mineral ke hadapan Mila.
"Ya, sudah lebih baik." Mila tersenyum kecil sambil meraih botol minuman itu kemudian menenggaknya hingga hampir tandas.
"Kalau boss kita kasih berlibur ke tempat ini lagi, aku pastikan aku gak akan ikut. Aku trauma," tutur Mila sambil menutup kembali botol air mineral itu.
"Ehm, maaf. Kalau boleh aku tau, wajah lelaki yang kamu lihat itu seperti apa, Mil? Tampan, menyeramkan atau bagaimana?" tanya Rika penasaran.
"Sebenarnya dia tidak menyeramkan. Malah sebaliknya, dia sangat tampan. Wajahnya berbeda dari laki-laki tampan yang pernah aku lihat. Bagaimana menjelaskannya, ya? Ah, pokoknya dia tampan," jelas Mila.
"Lah, kalau dia memang tampan, kenapa kamu mesti takut?" tanya Rika sambil tersenyum tipis.
"Ya ampun, Rika. Bagaimana tidak takut, kamu aja gak bisa lihat dia 'kan? Itu artinya dia bukan manusia," sahut Mila dengan sedikit kesal.
Rika terkekeh pelan sembari menggoda Mila. "Tampan mana sama Mas Rangga?"
Mila terdiam sejenak sambil membanding-bandingkan wajah tampan lelaki tak kasat mata itu dengan wajah tampan Rangga, lelaki yang menjadi pujaan hatinya selama ini.
"Aku rasa jauh lebih tampan lelaki aneh itu. Walaupun begitu aku tetap memilih Mas Rangga, setidaknya dia manusia tulen dan bukan makhluk tak kasat mata," jawab Mila dengan mantap.
"Cieee ... yang milih Mas Rangga. Ngomong-ngomong, kapan kamu akan mengungkapkan isi hatimu kepadanya?"
"Entahlah. Aku belum siap. Aku takut ditolak," jawab Mila sambil menghela napas berat.
"Heleh, Mila. Aku yakin seratus persen bahwa Mas Rangga pasti akan menerima cintamu. Sebenarnya kamu itu sangat cantik, hanya saja suka minderan," celetuk Rika.
"Tapi bagaimana jika Mas Rangga menolakku? Mau ditaruh di mana mukaku ini? Mana setiap hari aku harus bertemu dengannya. Belum lagi jika dia ember dan menceritakan kepada seluruh karyawan toko, bisa mati berdiri aku menahan malu," tutur Mila dengan begitu serius.
Rika tertawa pelan dan ia merasa sedikit tenang karena Mila sudah tidak ketakutan seperti sebelumnya. Ia menyandarkan kepala di sandaran kursi kemudian mulai memejamkan matanya.
"Ya, sudah. Aku mau istirahat dulu. Tubuhku benar-benar merasa lelah setelah seharian menikmati keindahan di tempat itu," ucapnya dengan mata terpejam.
Mila pun mengangguk kemudian ikut bersandar di sandaran kursinya. Setelah beberapa saat, kedua gadis itu pun tertidur.
***
"Aurora, berhenti!"
"Ayo kejar aku, Pangeran!"
Tampak sepasang kekasih dengan berpakaian khas kerajaan, tengah berlarian di sebuah taman bunga sambil tertawa riang. Berbagai bunga-bunga bermekaran di tempat itu dan mengeluarkan aroma wangi yang begitu menakjubkan.
Sesekali wanita cantik yang dipanggil Aurora itu berbalik kemudian tersenyum manja menatap lelaki tampan yang kini tengah mengejarnya.
"Tunggu aku, Aurora!"
"Ayo, Pangeran, kejar aku!" tantang wanita itu lagi sambil terus berlari dengan lincahnya. Namun, kecepatan wanita itu tak sebanding dengan kecepatan sang pangeran yang tengah mengejarnya. Hingga ...
"Dapat! Sekarang kamu tidak bisa pergi ke mana-mana lagi, Aurora! Kamu akan tetap di sini bersamaku, selamanya."
Pangeran berhasil menangkap tubuh Aurora kemudian memeluknya dengan erat. Begitu pula Aurora. Ia segera membalas pelukan sang kekasih dan membenamkan kepalanya di dada bidang lelaki itu.
"Aku sudah lama menunggumu, Aurora. Sekarang berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan aku lagi." Wajah lelaki itu tampak sendu dan kedua netra indahnya mulai berkaca-kaca.
Aurora mengangguk pelan kemudian mendongakkan kepalanya menatap sang pangeran. "Bukankah aku sudah berjanji padamu, Pangeran. Bahwa aku akan kembali ke sisimu," jawabnya.
Sang pangeran tersenyum kemudian melerai pelukannya bersama Aurora. Ia meraih sesuatu dari saku celananya kemudian menentengnya di hadapan wanita itu.
"Ini kalungmu, Aurora. Dan hari ini akan kukembalikan kepadamu," ucapnya yang kemudian memasangkan kalung itu ke leher Aurora. Kalung berlian merah yang selama ini menjadi lambang cinta mereka.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
mungkin Rika tidak melihatnya cuma Mila saja...
2025-01-15
0
bunda s'as
pangerannya tetep pangeran hans yah berarti umurnya udah ratusan taun tuh kalo mila pasti reinkarnasinya aurora
2023-02-03
0
Welda Arsy❤
aq mampirr thoor
2023-01-04
0