Bus berhenti di pemberhentian yang terletak tak jauh dari toko kue di mana Mila dan Rika bekerja. Kedua gadis itu pun segera turun dari bus tersebut, begitu pula lelaki bertubuh gempal yang tadi ingin berbuat tidak senonoh kepada Mila.
Beberapa kali Mila menoleh ke belakang dan memperhatikan lelaki bertubuh gempal itu. Lelaki itu berjalan di belakangnya dengan jarak yang cukup jauh. Dari raut wajah kusut lelaki itu, terlihat jelas bahwa ia masih menahan rasa sakit di tangannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada pria itu, Mil? Kenapa tiba-tiba dia mengerang kesakitan? Jangan-jangan kamu yang gangguin pria itu , ya?" tanya Rika sambil iseng menggoda Mila.
Mila menekuk wajahnya kesal. "Memangnya aku punya kekuatan apa hingga bisa menyakiti pria mesum itu tanpa menyentuhnya? Seandainya aku bisa melakukan itu, mungkin aku akan memberikan pelajaran yang lebih dari itu."
"Pria mesum?" Mila menatap heran ke arah Mila.
"Ya, pria mesum. Aku tidak menyangka dia datang menghampiriku hanya untuk berbuat yang tidak senonoh padaku. Bayangkan saja, seluruh tubuhku tersapu bersih oleh mata jelalatannya itu. Bahkan tak ada yang terlewat darinya, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki," sahut Mila sambil mendengus kesal.
"Oh ya, ampun!" pekik Rika sambil membulatkan matanya dengan sempurna.
Brakkkk!
Aaaakh!
Tiba-tiba terdengar suara tabrakan serta disusul suara teriakan orang-orang yang berada tak jauh dari posisi kedua gadis itu. Mila dan Rika refleks menoleh ke arah asal suara dan tampak beberapa warga sekitar berbondong-bondong menghampiri seseorang yang tergeletak di atas aspal.
"Apa yang terjadi?" Rika bertanya sambil memperhatikan di sekitar tempat kejadian.
"Sepertinya baru saja terjadi kecelakaan, deh." Mila pun ikut penasaran dan melihat ke arah jalan itu.
"Kamu benar. Coba kita lihat!" Rika menarik tangan Mila pelan. Namun, Mila menolaknya.
"Jangan, ih. Aku suka ngeri lihat yang begituan."
"Kamu tidak usah ikut-ikutan. Biar aku saja yang lihat," sahut Rika yang masih saja penasaran dengan kejadian yang baru saja terjadi di tempat itu.
Mau tidak mau, Mila pun mengalah dan mengikuti langkah Rika yang berjalan menuju tempat kejadian. Setibanya di tempat itu, Mila berhenti tak jauh dari posisi korban kecelakaan yang kini dikerumuni oleh warga sekitar hingga Mila tidak bisa melihat bagaimana kondisinya.
Sementara Rika yang begitu penasaran malah nekat menerobos masuk di antara sela-sela kerumunan warga. Ia ingin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kondisi korban kecelakaan itu.
Mila menunggu dengan sabar hingga beberapa menit berikutnya, Rika pun kembali dan melangkah menghampirinya dengan wajah pucat pasi.
"Kamu kenapa, Rik?"
Rika menghembuskan napas panjang sembari melototkan matanya menatap Mila. "Kamu tahu siapa yang menjadi korban kecelakaan itu, Mil?"
Mila menggelengkan kepalanya. "Tidak. Memangnya siapa?"
"Pria itu, Mil. Pria mesum yang baru saja kita bicarakan!" pekik Rika.
"Apa! Kamu serius?" Mila terkejut dengan mata membulat.
"Ya. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa lihat sendiri di sana," lanjut Rika.
"Lalu bagaimana kondisinya?"
Mila tampak khawatir. Walaupun ia tidak mengenali lelaki itu dan sempat merasa kesal serta marah kepadanya. Namun, sebagai sesama manusia, Mila masih memiliki rasa iba terhadap lelaki bertubuh gempal tersebut.
"Kalau menurutku sih kondisinya cukup parah. Dia bahkan tidak sadarkan diri," jawab Rika.
Rika melirik jam tangannya kemudian menarik tangan Mila yang masih terdiam di tempat itu sambil memperhatikan kerumunan orang-orang.
"Sebaiknya kita segera ke toko. Aku yakin lelaki pujaanmu sudah menunggu di depan pintu masuk. Kamu tahu sendiri 'kan? Dia adalah karyawan yang paling rajin dan tidak salah jika dia di angkat menjadi kepala toko," celetuk Rika.
Mila pun mengangguk kemudian mengikuti mensejajarkan langkahnya bersama Rika. Setibanya di depan toko, ternyata apa yang dikatakan oleh Rika benar adanya. Rangga sudah berdiri di depan pintu masuk sambil menyunggingkan senyuman untuk kedua gadis itu.
"Tumben terlambat," sapa Rangga.
"Itu, Mas Rangga. Tadi kami keasyikan lihat kecelakaan di depan sana. Sampai lupa waktu," sahut Rika sambil cengar-cengir.
"Ya ampun, kalian ini. Kecelakaan aja diliatin," celetuk Rangga sembari mengikuti langkah kedua gadis itu dari belakang.
***
Menjelang malam.
Selesai makan malam dengan menu seadanya, Mila dan Rika memilih santai sejenak di ruang depan sambil menonton televisi.
"Mil, sebenarnya kamu beneran suka gak sih, sama Rangga?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Rika memecah keheningan di ruangan itu.
Mila tersenyum sembari melirik Rika yang duduk tak jauh darinya. "Memangnya kenapa, sih?"
"Soalnya aku gemas sama kamu, Mil! Katanya cinta tapi sampai sekarang kamu masih diam dan tidak berani mengutarakan perasaanmu kepadanya," ungkap Rika.
"Heh!" Mila menepuk pelan lengan Rika. "Aku ini perempuan! Masa aku duluan yang menyatakan cinta. Oke lah kalau dia nerima, lah bagaimana kalau dia menolak? Bisa mati berdiri aku karena malu," sahut Mila sambil terkekeh pelan.
Rika menghembuskan napas berat. "Terus kamu mau nungguin dia yang nembak kamu, gitu? Hmm, nungguin mas Rangga mengatakan cintanya padamu, sama seperti menunggu salju turun di negara kita, Mil."
Mila tergelak untuk beberapa saat. "Ya, sudah. Aku ke kamar dulu. Aku dah ngantuk dan ingin beristirahat."
"Gak nginep lagi di kamarku?" tanya Rika.
Mila menggeleng. "Enggak. Sebaiknya aku tidur di kamarku saja."
"Mmm, baiklah kalau begitu."
Baru saja Mila melangkahkan kakinya, tiba-tiba Rika kembali bertanya padanya.
"Beneran kamu mau tidur di kamarmu, Mila?" tanya Rika lagi, untuk memastikan jawaban dari Mila.
Mila pun mengangguk pelan. "Ya. Dan aku rasa kamu benar, Rik. Apa yang aku alami kemarin malam hanyalah sebuah halusinasi akibat rasa takutku yang amat sangat."
"Baguslah. Tapi jika kamu masih merasa takut, segeralah ke kamarku. Pintu kamarku selalu terbuka lebar untukmu," lanjut Rika.
"Ok!" Mila menerbitkan senyuman manis di wajah cantiknya kemudian kembali melenggang meninggalkan Rika di ruangan itu.
Baru saja Mila membuka pintu kamarnya, tiba-tiba tercium aroma wangi yang mampu menghipnotis indera penciumannya.
"Hmmm, wangi apa ini. Wanginya enak sekali!" gumam Mila sembari melangkah masuk.
Ketika memasuki ruangan sempit itu, netra indahnya langsung tertuju pada sosok lelaki tak kasat mata yang kini duduk di tepian ranjangnya dengan penampilan yang sedikit berbeda. Pakaian khas kerajaan, tetapi terlihat lebih modern dari sebelumnya.
Sama seperti tadi pagi, lelaki berwajah tampan itu menatap Mila dengan tatapan dingin dengan sudut bibir sedikit terangkat.
"Kamu lagi! Tidak bisakah kamu pergi dan tidak menampakkan diri di hadapanku?"
"Biasakanlah dirimu, Aurora. Karena mulai sekarang aku akan selalu bersamamu, ke mana pun dan di mana pun kamu berada," jawab lelaki gaib itu dengan santainya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
jangan sampai Rangga jadi korban kejahatan Pangeran Hans apa lagi Pangeran Hans begitu mencintai Mila...
2025-01-28
0
💜💜💜REVIAA 99💜💜💜
Mila sekarang kamu kan mulai Uda terbiasa dgn kehadiran sang pangeran gaib,coba dehhh nyatakan apa saja keinginan mu agar merasa nyaman dgn kehadirannya
2022-11-13
1
Berdo'a saja
aku Mila bukan Aurora gitu dong
2022-10-10
0