Ujung pisau yang tajam itu sudah hampir menyentuh kulit dada lelaki paruh baya tersebut. Lelaki bertubuh gempal itu tampak kewalahan menahan serangan langsung dari mahluk gaib yang selama ini mengikuti Mila.
Bluussh!
Tiba-tiba Pangeran Hans muncul dengan wajah yang terlihat menakutkan. Sama seperti saat ia menampakkan wujudnya di hadapan Rangga. Dua buah sayap melebar di samping kanan dan kirinya. Dua buah tanduk panjang dan runcing menghiasi puncak kepala lelaki gaib tersebut.
Mila dan lelaki paruh baya itu tersentak kaget melihat kedatangan pangeran Hans yang begitu tiba-tiba. Sementara Rika, gadis itu sama sekali tak tahu karena ia tidak bisa melihat wujud pangeran Hans.
"Kamu!" pekik Mila. Walaupun kali ini wujudnya tampak berbeda dari biasanya, tetapi Mila yakin bahwa lelaki itu adalah Pangeran Hans.
"Si-siapa, Mil?" Rika semakin ketakutan tatkala Mila berbicara ke arah dinding yang tidak tampak sesiapa pun di sana.
Mila yang begitu cemas sekaligus ketakutan, tidak menghiraukan pertanyaan sahabatnya itu.
Perlahan Pangeran Hans melangkah maju, menghampiri lelaki paruh baya itu sambil menyeringai. Lelaki tua yang kini hampir putus asa tersebut membalas tatapannya dengan wajah memelas, mengharap belas kasihan dari pangeran Hans. Sekarang lelaki berkumis tebal itu sadar bahwa kekuatan pangeran tersebut jauh-jauh lebih besar darinya.
"Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menyakitimu, lelaki tua! Tetapi aku tidak akan pernah mengampuni siapa pun yang berani ikut campur dalam hubunganku bersama Mila," ucapnya sambil terus menyunggingkan senyum menakutkan itu.
"Pangeran Hans! Kumohon, jangan lakukan itu!" teriak Mila sembari bangkit dari posisi duduknya.
"A-ampun! Ja-jangan sakiti aku!" rintih lelaki paruh baya itu sambil berusaha keras menahan pisau yang masih mencoba menembus jantungnya.
"Aku hanya menerima perintah dari gadis-gadis itu untuk mengusirmu. Maafkan aku," sambung lelaki tua itu dengan wajah memucat.
Mila bergegas menghampiri orang pintar tersebut lalu berdiri tepat di hadapannya dengan kedua tangan membentang. Melihat hal itu, Pangeran Hans pun menghentikan langkahnya tepat di hadapan Mila.
"Kumohon jangan sakiti Bapak ini! Jika kamu ingin membunuhnya, maka bunuh aku lebih dulu!" tegas Mila sambil menatap lekat kedua netra yang kini berubah warna menjadi merah tersebut.
Mendadak Pangeran Hans luluh. Wujudnya yang terlihat menakutkan, kini kembali seperti semula. Tanpa tanduk yang tajam dan tanpa sayap mengerikan yang keluar dari balik punggungnya.
Begitu pula dengan pisau yang tadi melayang dan ingin menembus jantung lelaki berkumis tebal tersebut. Pisau itu jatuh ke lantai dan akhirnya lelaki tua itu pun bisa bernapas dengan lega.
Lelaki gaib itu mengangkat tangannya kemudian menyentuh pipi Mila dengan lembut. "Jangan lakukan ini lagi, Aurora. Ingat, kita ditakdirkan untuk bersama, selamanya."
Mila tidak menghiraukan ucapan lelaki gaib itu. Yang penting baginya saat ini hanyalah keselamatan lelaki paruh baya tersebut. Tak satu pun kalimat yang keluar dari bibir gadis itu. Hanya sebuah tatapan tajam yang terus tertuju pada pangeran Hans.
"Sekarang pulanglah!" titah Pangeran Hans dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya.
"Aku akan pergi setelah kamu pergi!" ucap Mila, tidak kalah tegas dari lelaki gaib itu.
Pangeran Hans mengangguk pelan. "Baiklah."
Lelaki gaib itu melabuhkan sebuah ciuman hangat di kening Mila sebelum ia pergi dan menghilang dari pandangan wanita pujaannya tersebut.
Rika hanya bisa terbengong-bengong dengan mulut menganga. Kejadian yang terjadi di dalam ruangan itu membuat ia percaya dan yakin bahwa keberadaan mahluk gaib itu nyata adanya. Walaupun ia sama sekali tidak dapat melihat bagaimana wujud lelaki yang mengaku sebagai pangeran tersebut.
Sepeninggal pangeran Hans, Mila berbalik kemudian menatap lelaki paruh baya itu dengan wajah sendu.
"Maafkan saya, Pak. Ini semua kesalahan saya. Seandainya saja saya tidak—"
Belum habis Mila berkata-kata, lelaki paruh baya itu berteriak dengan lantang sembari bangkit dari posisinya. Wajahnya memerah menahan marah. Ia terlanjur kesal kepada Mila karena ia hampir saja meregang nyawa akibat perbuatan pangeran dari negeri gaib tersebut.
"Pergi dari sini! Dan jangan pernah kembali!" ketus lelaki berpakaian serba hitam tersebut sambil menunjuk ke arah pintu.
Rika yang sejak tadi hanya terdiam dan mematung, kini bergegas menghampiri Mila. "Mil, sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Rika sambil menarik pelan lengan Mila.
"Ya! Pergilah dan jangan kembali lagi! Aku tidak ingin berurusan dengan kalian lagi sampai kapan pun!" lanjut lelaki paruh baya itu.
Tak ada pilihan lain bagi Mila dan Rika. Mereka bergegas meninggalkan ruangan itu dan berjalan dengan cepat menuju halaman luar.
"Loh, Nak? Kalian sudah selesai?" tanya wanita paruh baya yang tadi menyambut kedatangan mereka.
"Ya, Bu. Kami permisi dulu," sahut Rika tanpa menghentikan langkahnya bersama Mila.
Wanita itu terus menatapi kepergian Mila dan Rika dengan wajah heran hingga mereka menghilang dari pandangannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka? Tampaknya mereka begitu ketakutan," gumam wanita itu.
Tepat di saat itu.
"Tolong diingat kedua gadis itu! Jika mereka kembali lagi, maka usir saja mereka!" titah lelaki paruh baya yang tiba di ruangan itu lalu menghampirinya.
Wanita itu sontak menoleh setelah mendengar suara sang suami yang berasal dari belakang tubuhnya. "Memangnya kenapa, Pak? Apa kedua gadis itu sudah menipumu?"
Lelaki itu menggelengkan kepala. "Bukan, tetapi aku hampir saja mati sia-sia hanya karena ingin menolong mereka. Pokoknya Ibu harus ingat kedua wajah orang itu dan jangan biarkan mereka kembali lagi ke tempat ini!"
Wanita paruh baya itu pun mengangguk paham. "Baiklah, Pak."
Sementara itu.
"Ya ampun, Mila! Jika seandainya aku tidak melihat kejadian tak masuk akal itu dengan mata kepalaku sendiri, mungkin aku tidak akan pernah mempercayainya. Mungkin sampai sekarang aku tidak akan pernah mempercayai kata-katamu tentang mahluk tak kasat mata itu," tutur Rika dengan mata membulat sempurna menatap Mila yang tengah berjalan gontai di sampingnya.
Mila melirik sahabatnya itu kemudian memasang wajah masam. "Jadi selama ini kamu pikir aku berbohong soal lelaki gaib itu, Rika? Aku tahu yang ada di pikiranmu, pasti kamu pikir bahwa aku sudah gila. Benar 'kan?"
Rika terkekeh pelan kemudian merengkuh pundak sahabatnya itu. "Maafkan aku, Mil. Tapi sekarang aku percaya padamu. Percaya seratus persen malah. Oh ya, ngomong-ngomong soal pangeran itu ... bagaimana sih rupanya? Apa dia tampan?"
"Apa kamu ingin melihat wajahnya, Rika? Aku bisa meminta lelaki itu untuk menampakkan wujudnya di hadapanmu?"
"Eh, jangan-jangan! Aku tidak berani. Bagaimana jika wajahnya mengerikan sama seperti setan-setan yang sering kita tonton di film horor? Bisa-bisa aku jatuh pingsan!" pekik Rika sambil menggelengkan kepala dengan cepat.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
beruntung ada Mila kalau tidak bisa mati sia² pakcik tu
2025-01-28
0
💜💜💜REVIAA 99💜💜💜
Rika tak kasi tauwww kamu yaa.... setampan apapun pangeran jin itu tetap menakutkan bagi kaum manusia karena ia bertindak di luar kemampuan manusia
2022-11-15
2
Berdo'a saja
sudah mil jangan membahayakan orang lagi
2022-10-10
0