Jam dinding yang menggantung di salah satu sudut ruangan sempit berukuran 3 x 4 meter itu sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi. Gadis cantik yang sedang tertidur pulas itu akhirnya menggeliatkan tubuhnya.
"Ehmmm!"
Mila merenggangkan otot-otot kaki serta tangannya yang terasa sedikit kaku. Perlahan ia membuka matanya kemudian melirik ke arah jam dinding.
"Aku masih lelah. Bisakah aku minta waktu 15 menit lagi?" gumam Mila sembari membalikkan badannya ke samping kiri.
"Aaakkhh! Apa yang kamu lakukan di sini! Jangan-jangan kamu sudah ...."
Mila berteriak histeris ketika ia berhasil membalikkan badannya. Bagaimana tidak, tanpa ia sadari ternyata lelaki tampan nan rupawan itu juga berbaring di samping tubuhnya. Mila bergegas m at apaenaikkan selimutnya sebatas dada kemudian menggenggamnya dengan erat.
Sementara pangeran Hans, bukannya bangkit dari posisinya, lelaki gaib itu malah menyunggingkan senyum untuk Mila.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang aku?" Pangeran Hans balik bertanya.
Mila mengintip tubuhnya yang tersembunyi di balik selimut. Pakaian gadis itu masih melekat sempurna dan tak ada satu pun yang terlepas. Ternyata pikiran buruknya terhadap lelaki gaib itu tidak benar. Pangeran Hans tidak melakukan apa pun terhadapnya.
"Aku harus mandi!"
Mila bergegas bangkit dari posisinya kemudian berjalan ke arah pintu kamar dengan membawa serta handuk miliknya. Sementara pangeran Hans masih berada di atas tempat tidur sambil memperhatikan gadis itu hingga menghilang dari balik pintu.
"Ya, Tuhan! Bagaimana caranya agar aku bisa menghindar dari lelaki ini? Aku tidak ingin terus-menerus seperti ini. Bisa-bisa aku gila," gumam Mila yang kini sudah berada di dalam kamar mandi.
"Aku harus mencari cara agar bisa menghindar darinya, harus!"
***
Selesai melakukan ritual mandinya, Mila pun kembali ke kamar. Mila melongokkan kepala dari balik pintu dan memperhatikan situasi di dalam ruangan itu sebelum memasukinya.
Rika yang baru saja keluar dari kamar, begitu terkejut ketika ia mendapati Mila yang sedang mengintip di balik pintu kamar miliknya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan di sana, Mila?" tanya Rika dengan kedua alis yang saling bertaut. Rika menutup pintu kamarnya kemudian menghampiri Mila yang kini tampak gelagapan.
"Ehm, bukan apa-apa." Mila menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.
Rika kembali menautkan kedua alisnya kemudian ikut melongokkan kepala dari balik pintu kamar Mila dan memperhatikan sekeliling ruangan itu.
"Sebenarnya apa yang kamu intip? Aku jadi penasaran," ucap Rika, yang kemudian menarik kepalanya lagi setelah memastikan di dalam kamar itu tidak ada sesuatu yang aneh.
"Ehm, itu, apa ...." Mila menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tadi ada kecoa masuk ke dalam kamarku dan aku tidak tahu apakah kecoa itu masih ada di sana atau sudah pergi," lanjut Mila.
"Oh, kecoa!" Rika mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar Mila.
"Kalau cuma kecoa sih, kamu tenang saja. Sini, biar aku yang usir!" Rika mulai mencari hewan itu ke segenap penjuru ruangan di kamar tersebut.
Mila pun segera masuk ke dalam kamarnya setelah memastikan bahwa pangeran Hans sudah tidak ada di ruangan tersebut. Mila menghembuskan napas lega kemudian meraih seragam kerjanya.
"Sepertinya kecoa itu sudah pergi, Mil. Nanti jika kamu lihat kecoa itu muncul, jangan segan-segan untuk memanggilku," ucap Rika setelah puas menelisik segenap penjuru ruangan 3x4 meter tersebut dan tidak menemukan apa pun di sana.
"Ya. Terima kasih, Rik."
Rika tersenyum kemudian segera keluar dari kamar Mila.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Mila? Entah kenapa setelah kejadian di air terjun kemarin, sikap Mila terlihat semakin aneh," gumam Rika.
Beberapa jam kemudian.
"Kamu sudah sarapan, Mil?" tanya Rika kepada Mila yang sudah menunggunya di teras depan rumah.
"Belum. Aku sarapan di tempat kerja saja," ucap Mila yang tampak tidak sabar meninggalkan kos-kosan itu.
"Oh, ok!"
Rika pun bergegas mengunci pintu kontrakan mereka kemudian melangkah bersama gadis itu menuju jalan besar.
"Rika, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," ucap Mila sambil terus melangkahkan di samping Rika.
"Tanya apa? Tanyakan saja," jawab Rika.
Mila menoleh ke arah belakang kemudian memperhatikan tempat itu dengan seksama. Dan bukan hanya tempat itu, tetapi sekeliling tubuhnya tidak luput dari perhatian gadis itu.
Rika yang sejak tadi memperhatikan Mila, terlihat kebingungan dengan tingkah laku gadis itu.
"Sebenarnya kamu ini kenapa sih, Mil?" tanya Rika yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Sebenarnya saat itu Mila tengah mencari keberadaan pangeran dari alam gaib tersebut. Untuk memastikan bahwa lelaki itu tidak mengikutinya.
"Hmmm ... sebenarnya begini, Rika." Lagi-lagi Mila menoleh ke belakang tubuhnya.
"Kamu tahu gak, di mana aku bisa menemukan orang pinter yang bisa membantu mengusir mahluk tak kasat mata yang suka mengganggu?" tanya Mila dengan setengah berbisik kepada gadis itu. Ia takut perbincangannya bersama Rika kali ini kedengaran oleh pangeran dari dunia lain itu.
Rika mengerutkan alisnya. "Orang pinter? Ta-tapi untuk siapa?"
"Untuk aku. Ya, mungkin kedengarannya sangat aneh, tapi saat ini aku serius, Rika. Aku butuh bantuan orang pinter yang bisa mengusir mahluk gaib yang suka menggangguku," tutur Mila. Sesekali ia mengedarkan pandangannya dan berharap lelaki itu muncul secara tiba-tiba sama seperti biasanya.
"Mahluk gaib? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian di wisata air terjun kemarin?" tanya Rika dengan begitu serius.
Mila mengangguk pelan sembari menelan salivanya. "Ya. Mahluk gaib itu masih saja mengikutiku sampai sekarang, Rika. Semakin ke sini, dia semakin berani," tutur Mila dengan wajah memucat.
"Tapi ... kamu bilang itu hanya halusinasimu saja? Ayolah, Mil! Jangan buat aku takut," ucap Rika cemas.
"Aku serius, Rika. Aku memang sengaja tidak menceritakan masalah ini kepadamu. Aku tidak ingin kamu menganggap aku gila. Lagi pula aku sangat yakin kamu pasti tidak akan mempercayai kata-kataku," tutur Mila.
Rika terdiam sejenak sambil sesekali melirik sahabatnya itu. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Mila memang benar. Ia memang belum bisa mempercayai kata-kata Mila seutuhnya sebab ia pikir Mila hanya berhalusinasi.
"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak karena aku tidak bisa melihat keberadaan lelaki gaib yang sering mengganggumu itu, Mila. Tapi ... jika kamu butuh seseorang yang bisa membantumu soal hal-hal seperti ini, aku bisa membantumu," ucap Rika.
"Benarkah? Kamu tahu di mana aku bisa menemukan orang pinter itu?" tanya Mila dengan begitu antusias.
"Ya. Dulu aku pernah menemani sepupu aku ke tempat orang pinter itu. Kata sepupuku, orang itu sakti dan ahlinya soal begituan," sahut Rika.
"Serius! Oh, syukurlah. Kalau begitu ajak aku ke tempat orang pinter itu secepatnya. Aku tidak ingin berurusan dengan lelaki gaib itu lebih lama lagi. Dia mengerikan, Rika!" lanjut Mila.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
jangan sampai Pangeran Hans marah dan sampai membunuh orang pinter tu
2025-01-28
0
💜💜💜REVIAA 99💜💜💜
jgn gegabah Mila sabarrrrrr, bicarakan dulu dgn Hans gmn baiknya demi keselamatan mu juga
2022-11-13
0
💜💜💜REVIAA 99💜💜💜
duhhhh Mila kamu jgn macem2, Hans lebih jago dari.org pinter itu
2022-11-13
0