Tanpa sepengetahuan Mila dan Rika, Pangeran Hans mendengar semua percakapan mereka. Lelaki itu menyeringai sembari menggelengkan kepalanya.
"Aurora-Aurora ... kamu pikir akan semudah itu menyingkirkan aku? Tidak, Aurora. Jika dulu saja aku berhasil menaklukkan dirimu yang keras kepala itu. Kenapa sekarang tidak? Tidak akan sulit bagiku menaklukkan dirimu untuk yang ke-dua kalinya."
Mila dan Rika sudah menaiki bus yang akan mengantarkan mereka ke toko kue. Di mana kedua gadis itu bekerja. Sesampainya di toko tersebut, Mila dan Rika pun segera melakukan tugas-tugas mereka bersama karyawan lainnya.
Di saat Mila tengah asik bekerja, Rika menghampiri Rangga dan mengajak lelaki itu bicara tanpa sepengetahuan Mila.
"Mas! Mas Rangga, bisa kita bicara sebentar?"
Rangga pun menoleh kemudian tersenyum. "Rika? Ada yang bisa kubantu?"
"Ehm, sebenarnya ini bukan soal pekerjaan, Mas. Ini soal Mila," tutur Rika sambil memperhatikan Mila yang masih asik dengan pekerjaannya.
"Mila? Memangnya kenapa Mila? Dia sedang sakit, ya?" tanya Rangga secara beruntun.
Rika menggelengkan kepalanya. "Bukan, Mas. Bukan itu. Ini soal prilaku Mila yang beberapa hari ini terlihat begitu aneh," sambung Rika.
Rangga memperhatikan sekeliling toko dan memastikan bahwa saat itu toko dalam kondisi aman dan terkendali.
"Oh, baiklah. Sebaiknya kita bicara di sana saja," ucap Rangga sembari menunjuk ke salah satu sudut ruangan toko.
"Baiklah."
Rangga melangkah menuju tempat itu kemudian disusul oleh Rika dari belakang. Setibanya di tempat tersebut, Rangga pun segera berbalik kemudian menatap Rika yang kini berdiri di hadapannya dengan begitu serius.
"Sekarang katakan, Rika. Memangnya ada apa?"
"Begini, Mas. Sepulang dari tempat wisata air terjun beberapa hari yang lalu, prilaku Mila menjadi aneh bahkan kadang membuat aku takut sekaligus kasihan. Dia bilang ada mahluk gaib yang terus mengikutinya dan ia tidak bisa menghindar dari mahluk itu," tutur Rika dengan wajah cemas.
Rangga terdiam sejenak kemudian menoleh ke arah Mila yang tengah berada di sisi lain toko. Begitu pula Rika, ia ikut memperhatikan sahabatnya itu dari kejauhan.
"Tuh, tuh! Benar 'kan? Dia suka celingak-celinguk seperti itu, kayak ada orang yang terus mengawasinya. Padahal tidak ada siapa-siapa di sana, hanya beberapa orang pengunjung toko," lanjut Rika sembari menunjuk ke arah Mila yang tampak cemas.
Memang benar, saat itu Mila tengah mencari keberadaan pangeran Hans yang kebetulan tidak mengikuti dirinya.
"Bagaimana pendapatmu soal Mila, Mas? Apa Mas percaya dengan kata-katanya atau malah sebaliknya? Kalau aku masih separuh-separuh, Mas. Bingung, antara percaya dan tidak percaya." Mila menatap lekat Rangga yang masih memperhatikan Mila dari tempatnya berdiri.
"Aku percaya akan hal gaib dan mungkin saja apa yang ia katakan itu benar," ucap Rangga.
"Begitu, ya? Dia juga bilang bahwa ia ingin menemui orang pinter yang bisa mengusir mahluk tak kasat mata itu dan kebetulan aku tahu di mana alamatnya," lanjut Rika.
"Sebaiknya kamu ajakin aja dia menemui orang pinter itu. Siapa tahu bisa membantunya. Kasihan juga 'kan kalau dia dibiarkan seperti itu."
Rika pun mengangguk. "Ya, Mas benar. Mungkin lusa aku akan ajak dia ke tempat orang pinter itu."
"Baiklah. Sebaiknya kamu kembali bekerja. Biar aku temui Mila dan ajak dia bicara. Siapa tahu dengan begitu ia bisa sedikit lebih tenang," ucap Rangga.
"Nah, itu dia, Mas! Maksud aku juga gitu, tapi aku bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada Mas. Siapa tahu Mila bisa sedikit lebih tenang jika Mas Rangga mengajak ia bicara," sambung Rika dengan sangat antusias.
Rangga tersenyum seolah mengerti apa maksud Rika. Ia menepuk pelan pundak Rika kemudian berjalan menghampiri Mila yang sedang asik menata kue-kue ke dalam etalase.
Ehem! Rangga berdehem.
Mila tersentak kaget kemudian segera menoleh ke belakang. "Mas Rangga?" sapa Mila sambil mengembangkan senyum. Tampak dua buah lubang kecil di pipi kanan serta kirinya dan menambah nilai plus dari kecantikan gadis itu.
"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Rangga dengan wajah merah merona.
Mila terdiam sejenak sambil menatap lekat kedua netra indah milik lelaki pujaannya itu. Mila tampak bingung karena jarang-jarang lelaki itu mengajaknya bicara. Seandainya pernah pun, mereka tidak pernah bicara berduaan dan selalu ada orang lain yang menemani mereka.
"Ehm, boleh, Mas. Boleh!" Untuk beberapa saat, Mila lupa akan masalah terbesarnya saat ini. Tanpa basa-basi ia segera mengiyakan ajakan Rangga.
Rangga berjalan menuju kursi kosong yang biasa di gunakan oleh para pengunjung di toko itu. Rangga duduk di sana kemudian di susul oleh Mila.
Mila tampak gugup dan grogi, begitu pula Rangga. Untuk beberapa saat, Rangga malah terdiam sambil sesekali melirik gadis yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Ehm, begini, Mila. Tadi Rika sudah menceritakan semua tentangmu kepadaku dan me—" Belum habis Rangga berkata, Mila sudah memotong ucapan dengan mata membulat.
"Rika menceritakan semua tentangku kepada Mas? Cerita apa saja?" tanya Mila dengan wajah penasaran.
"Tentang semua yang menggangumu akhir-akhir ini, Mil."
"Ya ampun, Rika!" Mila mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. Ia merasa kecewa karena sahabatnya itu sudah menceritakan masalah pribadinya kepada Rangga. Masalah yang mungkin sebagian orang adalah masalah yang benar-benar di luar nalar dan juga tak masuk akal.
"Tenang saja, Mil. Aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang," ucap Rangga sembari meraih tangan Mila kemudian menggenggamnya dengan erat.
Mila tersentak kaget, tetapi ia sama sekali tidak menolak ketika Rangga menggenggam tangannya. Malah sebaliknya, gadis itu merasa bahagia karena selama ini ia begitu mencintai sosok Rangga.
"Katanya kamu ingin pergi ke tempat orang pintar 'kan? Kalau tidak ada aral, aku akan ikut menemani kalian," ucap Rangga lagi.
"Be-benarkah? Mas mau menemaniku ke tempat orang pinter itu?"
"Ya," jawab Rangga dengan mantap.
Tanpa sepengetahuan Mila dan Rangga, pangeran Hans memperhatikan mereka dengan wajah memerah. Bahkan iris mata indah berwarna abu-abu itu berubah menjadi merah dan terlihat begitu mengerikan.
Pangeran Hans yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya, melakukan serangan terhadap Rangga dengan kekuatannya.
Braakkk!
Tiba-tiba Rangga terpental bersama kursi yang ia duduki. Lelaki itu terhempas ke lantai dengan sangat keras dan membuatnya meringis kesakitan.
"Mas Rangga!" teriak Mila sembari menghampiri Rangga yang masih tergeletak di lantai.
"Mas tidak apa-apa?"
"Ya Tuhan, pinggangku sakit sekali!" rintih Rangga sambil memegangi pinggangnya.
Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut segera menghampiri Rangga dan berusaha membantu lelaki itu.
"Mas Rangga kenapa, Mil?" tanya Rika yang baru saja tiba di tempat itu dan berdiri di samping Mila.
"Entahlah, tiba-tiba saja ia terpental dan terhempas ke lantai," sahut Mila.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
maka nya jangan cari masalah Mila yang bisa membuat Pangeran Hans marah...
2025-01-28
0
bunda s'as
itu ulah pangeranmu mila
2023-02-07
0
Berdo'a saja
Hans cemburu
2022-10-10
0