Setibanya di depan jalan besar, Rika dan Mila berhenti di pemberhentian bus dan menunggu bus yang biasa mengantarkan mereka ke tempat kerja sama seperti biasanya.
Rika memperhatikan Mila yang sejak tadi terdiam dengan seksama. Ada yang berbeda dari sahabatnya itu. Selain tampak lebih pendiam, Rika juga melihat sebuah kalung cantik yang melingkar di leher Mila.
"Kalungmu cantik sekali, Mila. Apa lagi liontinnya. Ngomong-ngomong kamu beli di mana?" tanya Rika yang begitu penasaran. Sudah hampir dua tahun terakhir ia tinggal bersama Mila, tak pernah sekali pun ia melihat gadis itu mengenakan kalung tersebut.
"Ini ...." Mila tampak bingung mau menjawab apa. "Ini kalung milik mendiang nenekku dan selama ini hanya tersimpan dalam lemari. Namun, entah kenapa tiba-tiba hari ini aku ingin mengenakannya," lanjut Mila.
"Pasti kalung ini mahal, ya. Soalnya batu liontin ini cantik sekali. Apa jangan-jangan ini berlian, Mil? Kalau benar, itu artinya kamu bisa kaya mendadak," celetuk Rika sambil terkekeh.
Mila hanya menyunggingkan senyuman kecut kepada Rika. Dalam hati kecilnya, Mila merasa begitu jahat karena sudah membohongi Rika, yang sudah seperti saudara perempuannya itu.
Tepat di saat itu, sebuah bus berhenti di hadapan mereka. Mila dan Rika bergegas masuk ke dalam bus tersebut kemudian duduk di kursi kosong yang masih tersisa. Tak biasanya, penumpang bus kali ini begitu banyak dan kursi yang disediakan sudah terisi semua.
Huft! Rika menghembuskan napas lega.
"Beruntung sekali kita masih kebagian kursi kosong, Mil. Kalau tidak kita akan berdiri di sepanjang perjalanan," ucap Rika.
"Ya. Tumben hari ini penumpangnya penuh," sahut Mila.
Bus itu pun melanjutkan perjalanannya untuk membawa seluruh penumpangnya ke tempat tujuan mereka masing-masing. Rika meraih ponsel miliknya kemudian memasang headset ke kedua belah telinga sambil menikmati musik favoritnya. Sementara Mila kembali terdiam dengan pikiran menerawang.
Kejadian tadi pagi masih membuatnya syok. Kejadian di mana ia berkomunikasi dengan makhluk tampan tak kasat mata itu untuk pertama kalinya. Sesekali tampak Mila menyentuh kalung berlian merah yang kini terpatri erat di lehernya.
Ancaman lelaki yang mengaku sebagai pangeran itu benar-benar membuat nyali Mila menciut dan berpikir beribu kali untuk melepaskan kalung cantik tersebut dari lehernya.
Tiba-tiba bulu kuduk Mila kembali menegang. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Mila mengelus tengkuknya kemudian memperhatikan sekeliling bus tersebut. Tidak ada hal yang aneh di dalam bus tersebut. Hanya ada puluhan orang yang sedang duduk di dalam bus tersebut sambil melakukan berbagai macam aktivitas kecil.
Ada yang sedang asik menikmati makanan kecil yang sengaja mereka bawa. Ada yang asik mendengarkan musik favorit melalui ponsel mereka sama seperti Rika dan ada yang hanya bengong saja sama seperti dirinya.
Namun, di antara banyaknya penumpang yang sedang duduk di dalam bus tersebut, tampak sesosok lelaki tampan dengan wajah dingin, berdiri dengan tangan menyilang di dada tak jauh dari posisi tempat duduk Mila dan Rika.
"Kamu!" pekik Mila dengan wajah tampak kesal. Namun, lelaki itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tetap menatap Mila dengan tatapan tajam dan tak berkedip sedikit pun.
"Siapa, Mila?" Ternyata Rika masih bisa mendengar pekikan Mila saat itu.
Mila menggeleng pelan kemudian tersenyum kepada sahabatnya itu. "Bukan apa-apa. Aku hanya terkejut saja," sahut Mila.
Rika pun ikut tersenyum kemudian kembali fokus pada musiknya.
Mila menghembuskan napas berat. Ia tidak menyangka acara jalan-jalan yang di adakan oleh pemilik toko tempat ia bekerja akan membuat dirinya terjerat dengan salah satu mahluk abstral yang ia temui di tempat wisata air terjun tersebut.
Bus berhenti di salah satu pemberhentian yang mereka lewati. Mila melongokkan kepalanya dan melihat sosok wanita tua dengan menggunakan tongkat dan seorang laki-laki bertubuh gempal masuk ke dalam bus tersebut.
Dengan tergopoh-gopoh wanita tua itu berjalan menelusuri kabin bus dan berharap menemukan sebuah kursi kosong untuknya. Namun, pada kenyataannya semua kursi sudah terisi dan tampak semua penumpang enggan membagi kursinya untuk wanita tua itu.
Mila merasa iba kepada wanita tua itu dan memutuskan untuk memberikan kursinya. Mila berdiri kemudian menghampiri wanita tersebut.
"Bu, sebaiknya Ibu duduk di kursi itu." Mila menunjuk kursi kosong yang tadi ia tempati.
Wanita tua itu tersenyum lebar. Ia tampak begitu bahagia karena ada seseorang yang bersedia mengalah dan memberikan kursi kosong kepadanya.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak," ucap wanita tua itu.
"Sama-sama, Bu."
Wanita tua itu pun duduk di samping Rika. Rika yang masih asik mendengarkan musik favoritnya, tersentak kaget kemudian menengok ke arah Mila yang memilih berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Ia kemudian tersenyum dan ikut bangga karena memiliki sahabat yang begitu baik seperti gadis itu.
Mila berdiri di tempatnya sambil sesekali melirik pangeran Hans yang ternyata masih berada di dalam bus tersebut. Lelaki tak kasat mata itu terus memandanginya dengan tatapan tajam seperti elang kepada buruannya.
Lelaki bertubuh gempal yang tadi masuk bersama wanita tua itu, berjalan menghampiri Mila. Lelaki itu tersenyum nakal sembari melewati Mila yang berdiri di posisinya tanpa bergerak sedikit pun.
Anehnya lelaki bertubuh gempal itu malah berhenti dan memilih berdiri di belakang Mila. Mila tampak risih karena lelaki itu terus menelisik seluruh tubuhnya bahkan hingga ke area pribadinya yang padat, montok dan berisi.
Mila yang merasa tidak nyaman, akhirnya maju beberapa langkah untuk memberi jarak antara dirinya dan lelaki itu. Namun, bukannya merasa malu dan menjauh, lelaki itu malah kembali menghampiri dan berdiri di belakang Mila sama seperti sebelumnya.
Mila mengulangi apa yang ia lakukan sebelumnya dan lelaki bertubuh gempal itu malah ikut mengulangi perbuatan tidak senonohnya. Mila melirik pangeran Hans yang kini tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang tampak mengerikan.
Wajahnya yang begitu putih, kini tampak memerah. Terpancar rasa marah yang begitu besar dari kedua bola mata lelaki gaib tersebut.
Lelaki bertubuh gempal itu mencoba menyentuh bokong Mila yang padat berisi tanpa sepengetahuan gadis itu. Namun, belum sempat tangan nakal lelaki itu mendarat di area pribadi Mila tersebut, tiba-tiba lelaki itu memekik kesakitan sambil memegangi tangannya.
Semua orang refleks menatap ke arah lelaki bertubuh gempal tersebut, termasuk Mila. Mereka bingung kenapa tiba-tiba lelaki itu memekik kesakitan tanpa sebab.
"Anda kenapa, Pak?" tanya Mila yang posisinya berada cukup dekat dengan lelaki itu.
"Tanganku sakit! Sakit sekali!" rintih lelaki itu dengan mata berair.
Mila yakin, tangan lelaki itu benar-benar sakit hingga lelaki sebesar dirinya saja sampai menangis menahan rasa sakit itu.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
padan muka kau lelaki gempal, pasti kerja Pangeran Hans
2025-01-28
0
Yunerty Blessa
hati Mila sungguh baik sekali bagi ibu tu tempat duduk nya
2025-01-28
0
💜💜💜REVIAA 99💜💜💜
mampus luuuu,coba2 pelecehan sihh...GK tauw aja si Mila punya pengawal pribadi tak kasat mata
2022-11-13
2