Mila baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Ia duduk di depan cermin rias sambil mencoba mengeringkan rambutnya yang masih setengah kering. Tanpa Mila sadari, pangeran Hans sejak tadi terus memperhatikan dirinya tanpa berkedip sedikit pun.
Selesai mengeringkan rambutnya, Mila berniat merapikan rambutnya yang berantakan dengan sisir yang biasa ia gunakan. Namun, kali ini ia tidak melihat keberadaan sisirnya di atas meja rias.
"Loh, kemana perginya sisirku, ya?" gumam Mila sembari mencari keberadaan sisir tersebut hingga ke bawah meja, tetapi tetap tidak ia temukan.
Mila membuka salah satu laci yang ada di meja riasnya tersebut. Namun, yang ia temukan malah sebuah benda yang benar-benar tidak ia inginkan keberadaannya.
"Apa-apaan ini!" pekik Mila dengan wajah kesal. Ia meraih benda itu kemudian memindainya dengan seksama.
Beberapa detik berikutnya.
"Aarghhh!"
Tanpa sadar Mila berteriak kesal sambil menggenggam benda itu di dalam kepalan tangannya.
"Mencari ini, Aurora?"
Dari belakang tubuhnya terdengar suara seorang laki-laki yang begitu ia kenali. Lelaki menyebalkan yang akhir-akhir ini berhasil membuat dirinya pusing tujuh keliling.
Pangeran Hans mengulurkan tangannya ke hadapan Mila, di mana tangan kekar itu tengah memegang sisir yang sejak tadi dicari-cari oleh Mila. Mila memperhatikan sisir itu tanpa berkeinginan meraihnya dari tangan kekar tersebut.
Karena Mila hanya diam dengan bibir yang terkunci rapat, Pangeran Hans pun memutuskan menarik kembali tangannya dari hadapan gadis itu.
"Bagaimana kabarmu, Aurora? Apa kamu merindukan aku?" ucap Pangeran Hans sembari menyisir rambut panjang Aurora dengan begitu lembut.
"Dari mana saja kamu, Pangeran?" Mila balik bertanya dengan tatapan serius menatap lelaki gaib itu dari balik cermin riasnya.
"Aku kembali ke istanaku. Memangnya kenapa? Kamu merindukanku?" sahut Pangeran Hans. Membalas tatapan Mila, tetapi tangannya terus bergerak menyisir rambut indah dan panjang milik Mila.
Mila tersenyum sinis. "Kembali ke istana atau ... mengancam seseorang?"
Pangeran Hans menghentikan aksinya. Ia meletakkan kembali sisir tersebut ke atas meja kemudian meraih kalung berlian merah yang saat ini masih berada di dalam genggaman kekasih hatinya itu.
"Kenapa kamu melepaskan kalung ini, Aurora? Apakah kamu tidak menyukai kalung ini? Padahal sebelumnya kamu begitu menyukainya dan tidak ingin melepaskannya," ucap Pangeran Hans sembari memasangkan kalung itu ke leher Mila.
"Padahal sebelumnya aku sudah memperingatkan dirimu soal kalung ini, benar 'kan? Tapi ... karena hari ini suasana hatiku sedang baik, maka aku memilih untuk mengampunimu," lanjut Pangeran Hans.
Tubuh Mila mendadak kaku. Ia tampak pasrah ketika Pangeran Hans memasangkan kalung itu. Padahal saat itu ia ingin sekali berontak dan meneriaki lelaki gaib tersebut. Melarangnya memasangkan kalung itu kembali ke lehernya.
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan kita, Pangeran Hans! Sekarang jawab dengan jujur, apa yang kamu lakukan beberapa hari ini?" tanya Mila. Masih dengan tatapan serius, menatap lelaki tampan itu.
"Memangnya jawaban seperti apa yang ingin kamu dengar, Aurora?"
Sekarang kalung itu kembali melekat di leher Mila dan pangeran Hans pun segera beranjak lalu duduk di tepian tempat tidur Mila dengan gaya santainya.
Mila bangkit dari posisi duduknya dan kini berdiri tepat di hadapan Pangeran Hans dengan wajah memerah. Gadis itu merasa sangat kesal karena pangeran Hans tetap tidak mau berkata jujur kepadanya.
"Aku tahu apa yang kamu katakan padaku itu semuanya bohong, Pangeran Hans! Kamu bukannya kembali ke istana, tetapi kamu malah menemui Mas Rangga untuk menakut-nakuti sekaligus mengancamnya, iya 'kan!" geram Mila sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Bukannya marah atau pun kesal, lelaki gaib itu malah tergelak setelah mendengar penuturan Mila barusan.
"Memangnya kenapa? Dia memang pantas mendapatkannya karena sudah berani mencoba mendekatimu, Aurora. Aku tidak suka karena kamu adalah milikku, hanya milikku," jelas Pangeran Hans.
"Arghhh!" Lagi-lagi Mila berteriak kesal.
"Kamu itu salah orang, Pangeran Hans! Aku tegaskan sekali lagi padamu bahwa aku bukanlah Aurora. Aku bukanlah reinkarnasi dari kekasihmu yang dulu. Aku adalah Mila dan akan tetap menjadi seperti itu selamanya!" kesal Mila sambil membentak lelaki yang berasal dari negari gaib tersebut.
"Apa kamu menyukai Rangga?" Sekarang lelaki itu tampak begitu serius.
"A-aku?" Mila terkesiap. Ia tampak bingung harus menjawab apa.
"Jika aku berkata dengan jujur bahwa aku menyukai Mas Rangga, lelaki ini pasti akan melakukan sesuatu kepada Mas Rangga," gumam Mila dalam hati.
"Ah, tidak-tidak! Aku tidak boleh mengatakan yang sebenarnya. Kasihan Mas Rangga," lanjut Mila.
"Kenapa kamu terdiam, Aurora? Apakah pertanyaanku begitu sulit, hingga kamu tidak bisa menjawabnya?" Pangeran Hans menaikkan sebelah alisnya saat menatap Mila.
"Ti-tidak! Bukan seperti itu. Hanya saja aku—" Belum habis Mila berkata-kata, pangeran Hans malah kembali menyela ucapannya.
"Sudahlah. Tidak perlu kamu jelaskan, Aurora. Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu bagaimana perasaanmu terhadap lelaki itu. Bahkan aku jauh lebih tahu dari pada dirimu sendiri."
Pangeran Hans bangkit dari posisi duduknya. Ia menghampiri Mila yang masih mematung di hadapannya dengan wajah cemas. Cemas karena lelaki gaib itu tahu bagaimana perasaannya terhadap Rangga.
Kini lelaki gaib itu berdiri tepat di hadapan Mila dengan ekspresi wajah yang begitu sulit di artikan. Bahkan Mila pun tidak tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran lelaki itu saat ini.
"Ji-jika kamu sudah tahu semuanya, ke-kenapa kamu masih bertanya, Pangeran Hans?" tanya Mila dengan terbata-bata.
"Aku hanya ingin menguji kejujuranmu, Aurora. Ternyata sikapmu sudah benar-benar berubah. Kamu berbeda seratus persen dari dirimu yang dulu," jawab Pangeran Hans.
"Ya! Karena kami memang dua orang yang berbeda. Hanya kamu saja yang selalu bersikeras mengatakan bahwa aku adalah titisan dari kekasihmu yang sudah mati itu!" geram Mila yang akhirnya berhasil menumpahkan kemarahannya.
"Aurora, cukup!" Pangeran Hans mengepalkan kedua tangan dengan erat hingga otot-ototnya terlihat dengan jelas. Wajahnya pun tampak memerah, menahan amarahnya.
"Kamu sudah tahu bagaimana aku 'kan, Aurora? Aku bisa melakukan apa saja dan menyingkirkan siapa saja yang ingin mengganggu hubungan kita," ucap Pangeran Hans sambil menyeringai menatap Mila.
"A-apa maksudmu, Pangeran Hans!" geram Mila. "Jangan pernah sakit Mas Rangga!"
Lelaki gaib itu kembali menyeringai, tetapi ia tidak ingin membalas ucapan Mila.
"Pangeran Hans, aku serius!" ucap Mila lagi.
"Aku juga serius, Aurora. Bahkan sangat serius!" Pangeran Hans tiba-tiba menghilang dari ruangan itu.
Mila panik bukan kepalang. Ia tahu bahwa lelaki gaib itu tidak main-main dengan ucapannya barusan. Mila kembali berteriak sekuat tenaga, berharap lelaki gaib itu kembali ke ruangan itu dan mengurungkan niat buruknya.
"Pangeran Hans! Kembali lah, kumohon!" teriak Mila dengan wajah memucat.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Mila, ikuti saja kemahuan Pangeran Hans daripada Rangga kenapa²
2025-03-08
0
Fat_run
hm...baru mampir nih ..masih nyimak thor......tdak trlalu bertele2 cerita n konflik.a ngk trlalu berat juga baca smpai habis dah😉
2022-12-27
0
💜💜💜REVIAA 99💜💜💜
kalau kamu ingin pangeran Hans kembali ke alamnya, cobalah bnyxxx beribadah,makin dekat dgn sang pencipta juga mohon bantuan para ulama yg bisa merapalkan doa2.. insyaallah bisa kembali. sprt semula
2022-11-15
1