Keesokan harinya.
Mila terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar. Mila tampak bingung karena lagi-lagi pangeran Hans tidak ada di ruangan tersebut.
"Ke mana dia? Apa mungkin dia sudah berhenti mengikutiku?" gumam Mila sembari menyingkap selimutnya.
"Kalau benar begitu, ya, baguslah!"
Mila pun segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia meraih handuk dan berjalan menuju pintu kamar.
Sementara itu di kamar Rika.
Rika yang sudah mandi serta berpakaian, duduk di tepian ranjang sambil memegang ponsel miliknya. Ia berniat menghubungi nomor ponsel Rangga. Tampak Rika tengah fokus memencet-memencet layar ponsel tersebut kemudian meletakkannya di samping telinga.
"Ya, hallo?" Terdengar suara wanita paruh baya yang menerima panggilan dari Rika tersebut.
"Maaf, Bu. Mas Rangga nya ada?" tanya Rika dengan lembut karena ia tahu bahwa yang menerima panggilan darinya saat itu adalah ibu kandung dari Rangga.
"Saat ini Rangga sedang sakit. Ada yang bisa Ibu bantu, Nak? Katakan saja," sahut wanita paruh baya itu dari seberang telepon.
"Mas Rangga sakit? Sakit apa, Bu?" Rika mengerutkan kedua alisnya. Ia pun semakin penasaran.
"Entah, Nak. Tadi malam Rangga jatuh pingsan dan setelah sadar suhu tubuhnya tiba-tiba meningkat drastis dan sekarang ia demam. Ia bahkan suka meracau dan menceritakan hal-hal aneh sama Ibu. Sebenarnya apa yang terjadi pada Rangga kemarin di toko? Apa kamu mengetahuinya?"
Rika terdiam sejenak sambil berpikir keras. "Kemarin Mas Rangga sempat terjatuh bersama kursinya ke lantai tapi sepertinya dia baik-baik saja, Bu. Bahkan tadi malam kami sempat ngobrol dan dia bilang pinggangnya sakit. Itu saja yang saya tahu," jawab Rika.
Rangga yang tadinya diam dengan tubuh bergetar, tiba-tiba membuka mata kemudian dengan cepat meraih ponsel itu dari genggaman sang ibu. Lelaki tampan itu meletakkan benda pipih tersebut ke samping telinganya.
"Rika, berhati-hatilah! Mahluk gaib yang mengikuti Mila sangatlah kuat. Sebaiknya untuk keselamatanmu, kamu lebih baik jangan ikut campur dan biarkan Mila menanganinya sendiri!"
Setelah mengucapkan hal itu, Rangga segera melepaskan ponselnya ke sembarang arah kemudian masuk ke dalam selimut hingga batas kepala.
"Mas Rangga! Maksud Mas apa? Mas!" sahut Rika dengan setengah berteriak. Ia kaget sekaligus syok saat itu.
Wanita paruh baya yang sejak tadi duduk di tepian tempat tidur Rangga hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat tingkah aneh putranya tersebut. Ia meraih ponsel itu kemudian kembali mengajak Rika bicara.
"Maafkan Rangga ya, Nak. Nah, sekarang kamu dengar sendiri 'kan? Dia suka meracau tentang mahluk gaib itu. Entah apa maksudnya, Ibu pun tidak mengerti," ucap wanita itu.
Rika masih syok setelah mendengar peringatan dari lelaki tampan itu. Nyalinya tiba-tiba menciut walaupun ia masih ragu apakah yang dikatakan oleh Rangga itu benar atau tidak.
"Nak? Kamu masih di sana?" tanya Ibunda Rangga karena tak ada jawaban dari gadis itu.
"Ah ya, Bu! Saya masih di sini. Saya dengar apa yang Ibu katakan. Ehm, saya doakan semoga Mas Rangga cepat sembuh dan kembali beraktivitas sama seperti biasanya. Saya pamit dulu ya, Bu. Soalnya saya harus bersiap-siap," sahut Rika.
"Baiklah. Terima kasih atas doanya."
Panggilan itu pun segera di tutup oleh Rika dengan tangan yang gemetar. Ia melepaskan ponselnya kemudian duduk termangu sambil terus memikirkan ucapan dari Rangga barusan. Wajah gadis itu mendadak pucat pasi dan keringat dingin terus mengucur di pelipisnya.
"Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Mas Rangga barusan? Kenapa ia bisa berkata seperti itu? Ya, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Rika menutup wajahnya dengan kedua tangan kemudian mengusapnya kasar.
"Kalaupun yang dikatakan oleh Mas Rangga itu benar, tapi aku tidak bisa membiarkan Mila menghadapi masalahnya sendirian. Biar bagaimanapun Mila adalah sahabatku dan aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya," gumam Rika lagi.
Setelah membulatkan tekadnya, Rika pun kembali bersiap-siap. Hari ini ia akan mengajak Mila pergi ke tempat orang pintar dan menolong sahabatnya itu.
Rika yang sudah siap untuk berangkat segera keluar dari kamarnya kemudian menuju dapur di mana Mila sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Wah, sudah siap rupanya. Tapi sebelum berangkat, sebaiknya kita sarapan dulu. Sarapan dengan nasi goreng sederhana ala chef Mila," ucap Mila sembari meletakkan dua buah piring berisi nasi goreng buatannya ke atas meja.
Ia meraih kursi kosong kemudian duduk di sana sambil memperhatikan Rika yang masih terdiam dengan tatapan kosong menerawang.
"Kamu kenapa, Rika? Kamu sakit?" Mila tampak panik karena wajah sahabatnya itu terlihat memucat. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian meletakkan tangan ke kening Rika.
"Sepertinya kamu baik-baik saja," gumam Mila dengan alis berkerut.
"Aku baik-baik saja, Mil. Hanya saja tadi malam aku tidak bisa tidur," jawab Rika bohong.
"Tidak bisa tidur? Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan keberangkatan kita hari ini, Rik?" tanya Mila yang makin penasaran.
Rika menggeleng dengan cepat. "Bukan soal itu, Mil. Entahlah, tiba-tiba saja tadi malam mataku tidak merasa ngantuk sama sekali dan sekarang ngantuknya baru terasa."
Tidak mungkin Rika menceritakan yang sebenarnya kepada Mila soal Rangga dan mahluk gaib itu. Bisa-bisa Mila semakin ketakutan dan putus asa. Dengan terpaksa, Rika pun berkata bohong kepada gadis itu.
Mila menghela napas berat. "Kalau begitu sebaliknya kita tunda saja rencana kita biar kamu bisa beristirahat hari ini."
"Tidak! Mil, tidak! Kita lanjutkan saja rencana kita sebelumnya. Soal rasa kantukku, aku bisa tidur di bus nanti," sahut Rika.
"Benarkah?" tanya Mila yang tampak ragu-ragu.
Rika mengangguk cepat. "Ya, benar."
"Lalu ... apa mas Rangga bersedia menemani kita hari ini?" tanya Mila lagi.
"Sepertinya tidak, Mil. Kata ibunya, mas Rangga masih sakit dan butuh istirahat yang cukup."
Mila tersenyum kecut. "Ya, sudah. Tidak apa-apa. Biar kita berangkat berdua saja."
Rika pun mengangguk kemudian meraih piring yang tadi diserahkan oleh Mila kepadanya. Kedua gadis itu memulai sarapan mereka di ruangan itu. Mengisi perut yang kosong sebelum mereka berangkat ke tempat orang pintar yang akan membantu Mila melepaskan diri dari jeratan sang mahluk gaib.
Beberapa menit kemudian.
Setelah selesai sarapan, Rika dan Mila pun segera berjalan menuju jalan besar di mana mereka biasa menunggu bus.
Sesekali Rika memperhatikan raut wajah Mila yang terlihat lebih berseri dari sebelumnya. Walaupun sebenarnya ia takut, tetapi dengan melihat wajah bahagia sahabatnya itu, ia pun ikut bahagia.
"Mila, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
Mila menoleh sambil tersenyum. "Tentu saja. Apa itu?"
"Ini soal lelaki gaib itu. Apakah lelaki gaib itu ada di sini dan mengikuti kita?" tanya Rika dengan setengah berbisik.
Mila memperhatikan sekelilingnya. "Entahlah, Rika. Sejak kemarin aku tidak melihat di mana lelaki gaib itu. Apa jangan-jangan dia memang sudah pergi dariku?"
"Moga saja begitu," sambung Rika kemudian.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
💜💜💜REVIAA 99💜💜💜
hati2 Rika, Hans semua tauwww rencana klxn
2022-11-13
0
Yanti
ntar org pintrx dilempar lgi itu,,kn kasian biasax org pintar kakek2 ntar encok gmna
2022-10-14
1
Berdo'a saja
dia menunggu di rumah orang yang mau kalian tuju,. kayaknya gitu siihh
2022-10-10
0