"Kamu lagi! Tidak bisakah kamu pergi dan tidak menampakkan diri di hadapanku?"
"Biasakanlah dirimu, Aurora. Karena mulai sekarang aku akan selalu bersamamu, ke mana pun dan di mana pun kamu berada," jawab lelaki gaib itu dengan santainya.
Mila bergidik ngeri. "Ish, kamu kurang kerjaan, ya?"
Namun, lelaki gaib itu tidak menjawab. Ia hanya diam dengan sudut bibir sedikit terangkat.
Mila yang sudah mengantuk, memberanikan diri berjalan menghampiri pangeran Hans yang masih duduk di tepian tempat tidurnya dengan gaya yang begitu keren.
"Hush, minggir! Aku mau tidur," ucap Mila sembari mengibaskan-ngibaskan tangannya agar pangeran Hans pergi menjauh dari tempat tidurnya.
Pangeran Hans melirik Mila dengan tatapan yang tampak kesal. Baru saja gadis itu ingin menyingkap selimutnya, tiba-tiba tubuhnya melayang dengan cepat dan kini berada di pangkuan pangeran Hans.
"Berani sekali kau mengusirku, hei, Nona Manis! Kamu tidak tahu bagaimana perjuanganku selama ini. Menunggu kelahiranmu kembali hingga beratus-ratus tahun lamanya, tidaklah sesuatu yang mudah untuk kulalui," ucap pangeran Hans sambil menatap lekat kedua netra Mila yang kini duduk di atas pangkuannya.
Lagi-lagi Mila bungkam dan hanya terdengar suara tarikan serta hembusan napas yang begitu cepat. Pangeran Hans menyentuh kedua pipi Mila sambil mengelusnya dengan lembut. Sentuhan dingin lelaki itu kini turun ke bawah. Dari pundak ke lengan kemudian terus bergerak hingga mencapai jari-jemari Mila yang juga terasa dingin karena takut sekaligus gugup.
"Sekarang pergilah tidur. Aku yakin kamu sudah lelah."
Mila mengangguk pelan kemudian beringsut dari pangkuan Hans. Ia yang sudah bisa mengontrol tubuhnya kembali, segera masuk ke dalam selimut dan menenggelamkan seluruh tubuh, termasuk kepalanya.
Untuk beberapa saat Mila terdiam di dalam selimut dengan denyut jantung yang berdenyut kencang. Dan setelah yakin bahwa Hans sudah menghilang dari ruangan itu, Mila pun segera membuka selimut dan menyembulkan kepalanya.
"Apakah lelaki itu sudah pergi?" gumam Mila sembari mengedarkan pandangannya.
Namun, ternyata dia salah. Ternyata lelaki gaib itu masih berada di dalam kamar tersebut. Dengan santainya pangeran Hans duduk di kursi kayu yang ada di depan cermin rias milik Mila.
"Ya ampun!" pekik Mila sambil memasukkan kembali kepalanya ke dalam selimut.
"Ternyata lelaki itu menepati janjinya! Apa kah ia akan selamanya seperti itu? Oh, tidak!" gumam Mila pelan.
Di tengah kegalauannya, Mila tiba-tiba teringat akan lelaki bertubuh gempal yang tadi pagi sempat mengganggunya. Entah kenapa hati kecil Mila berkata bahwa Hans ada sangkut pautnya dengan berbagai kejadian yang menimpa lelaki mesum tersebut.
Mila memberanikan diri menyingkap selimutnya untuk ke-dua kali kemudian menatap lelaki itu. "Apa kamu ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi pagi, Pangeran Hans? Lelaki yang tadi berdiri di sampingku ketika di bus, mendadak sakit tangan dan tidak lama berselang dia malah mengalami kecelakaan."
Pangeran Hans tersenyum miring. "Dia pantas mendapatkannya."
"Apa?" pekik Mila dengan mata membola. "Jadi benar itu ulahmu?"
Pangeran Hans hanya diam, tetapi tatapan dinginnya masih menohok tajam ke arah Mila.
"Kenapa kamu melakukannya, Pangeran Hans? Kamu benar-benar kejam!" Mila benar-benar kesal.
"Itu hukuman yang ringan untuk seorang lelaki mesum seperti dia, Aurora. Apa kamu tahu? Tanpa sepengetahuanmu, lelaki itu ingin melakukan hal yang tidak senonoh kepadamu. Seandainya ini di kerajaanku, maka aku akan perintahkan algojo untuk memotong kepalanya!" tegas Pangeran Hans dengan wajah serius.
Lagi-lagi Mila bergidik ngeri saat lelaki gaib itu menyinggung soal kepala. Ancaman pangeran Hans soal kalung berlian yang kini menempel di lehernya pun ikut-ikutan melintas di kepala gadis itu.
"A-aku tahu dia adalah pria mesum, tapi tidak seharusnya kamu menghukumnya hingga dua kali, 'kan!" ucap Mila dengan terbata-bata.
Pangeran Hans menyunggingkan senyuman sinisnya ke hadapan Mila. "Bukankah itu maumu, Aurora? Apa kamu sudah lupa dengan kata-katamu tadi pagi saat berbincang dengan sahabatmu?"
Mila tampak mengingat-ingat apa yang sudah ia bicarakan bersama Rika tadi pagi.
Memangnya aku punya kekuatan apa hingga bisa menyakiti pria mesum itu tanpa menyentuhnya? Seandainya aku bisa melakukan itu, mungkin aku akan memberikan pelajaran yang lebih dari itu.
Tiba-tiba kata-kata yang keluar dari bibir Mila tadi pagi kembali terngiang-ngiang di telinganya.
"Ya, ampun!" Mila menepuk jidat pelan. Ia tidak pernah menyangka bahwa pangeran Hans akan semudah itu mengabulkan kata-katanya.
"Tapi saat itu aku sama sekali tidak serius saat mengucapkannya, Pangeran Hans!"
"Tidak ada istilah bercanda di dalam kamus hidupku, Aurora."
Mila menghembuskan napas kasar. "Baiklah, sekarang jelaskan padaku tentang asal usulmu dan kenapa kamu bisa berkesimpulan bahwa aku adalah kekasihmu di masa lalu. Sementara aku sendiri tidak kenal dan tidak ingat siapa kamu," ucap Mila dengan serius.
"Baiklah. Pasang telingamu dengan baik dan dengarkan ceritaku." Pangeran Hans yang masih duduk di kursi kayu depan cermin rias milik Mila, menyilangkan kakinya sembari bersandar di sandaran kursi.
"Seperti yang aku katakan padamu sebelumnya, aku adalah seorang pangeran dari dunia gaib. Sementara kamu, Aurora, kamu hanya seorang pelayan di kerajaan kami. Walaupun begitu, cinta kita begitu kuat dan tak terpisahkan. Perbedaan kasta di antara kita membuat Raja Edward meradang dan nekat menyingkirkanmu dari hidupku. Tapi kamu berjanji akan kembali padaku dan aku menunggu hari itu. Di mana kamu akan terlahir kembali. Beratus-ratus tahun aku menunggu hingga akhirnya kamu pun lahir kembali. Namun, sayangnya aku harus menerima kenyataan pahit bahwa kamu harus terlahir menjadi manusia dan melupakan semua kisah kita," jelas Pangeran Hans sambil membuang napas berat.
"Beratus-ratus tahun? Memangnya usiamu berapa?" tanya Mila yang tampak keheranan.
"Perhitungan waktu antara dunia kita berbeda jauh, Aurora. Jika di duniamu usia 70 tahun pun sudah terlihat sangat tua, berbeda dengan dunia kami. Ayahku bahkan sudah berusia ribuan tahun, tetapi dia masih terlihat masih muda."
Mila terdiam sejenak sambil berpikir. Walaupun penjelasan lelaki gaib itu terdengar begitu meyakinkan dan masuk akal, tetapi hati kecilnya tetap tidak bisa menerima hal itu. Ia menolak untuk menjadi bagian dari pangeran Hans. Mila ingin hidup seperti wanita normal lainnya, memiliki kekasih, menikah kemudian memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan.
"Bagaimana jika kamu salah orang, Pangeran Hans? Bagaimana jika kekasihmu bereinkarnasi menjadi wanita lain dan bukan aku?" tanya Mila dengan serius menatap kedua netra indah pangeran Hans.
Lelaki gaib itu tertawa pelan dan singkat. Ia berdiri kemudian berjalan menghampiri tempat tidur Mila. Hans duduk di samping Mila kemudian meraih wajah gadis itu.
"Tak ada satu pun manusia di duniamu ini yang dapat melihat keberadaanku, Aurora. Hanya kamu dan hanya kamu yang bisa melihat bagaimana masa lalu kita," ucap Pangeran Hans sambil menyeringai.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
berusia ribuan tahun tapi masih muda 😱 biar betul
2025-01-28
0
Yuli Yanti
thor cerita mu yg ini buat aq merinding,apa lgi bca nya mlm2
2023-05-12
0
buk epi
suka banget dgn novel genre begini,,love U author kerennn,,,😘😘
2022-12-15
1