Mila terdiam sambil memikirkan sesuatu di kepalanya. Sementara Rangga sudah di bawa ke sebuah ruangan untuk beristirahat.
"Apa jangan-jangan ini perbuatannya Pangeran Hans? Tapi ...." Mila mengedarkan pandangannya dan ia sama sekali tidak menemukan keberadaan lelaki gaib tersebut.
"Entah kenapa aku yakin sekali kalau ini semua adalah perbuatan lelaki itu. Aku yakin dia pasti berada di sekitar sini, tetapi ia tidak ingin menampakkan keberadaan kepadaku."
***
Sore menjelang.
Mila dan Rika bersiap untuk pulang dan kini mereka tengah menunggu bus di halte.
"Rik, bisakah kamu mengantarkan aku secepatnya ke tempat orang pinter itu? Aku sudah tidak tahan lagi jika terus-menerus seperti ini," lirih Mila dengan kepala tertunduk.
Rika menoleh kemudian menepuk pundak Mila dengan lembut. "Baiklah. Kalau kamu mau, besok kita bisa pergi ke sana."
Mila mengangkat kepalanya. "Benarkah? Lalu bagaimana dengan pekerjaan kita?" tanya Mila lagi dengan penuh semangat.
"Kamu tenang saja. Biar aku minta izin sama mas Rangga."
"Sebenarnya mas Rangga juga ingin ikut menemani kita ke tempat orang pinter itu. Tapi kalau besok, sepertinya ia tidak mungkin bisa ikut. Tidak mungkin ia bolos kerja hanya untuk masalahku yang tak masuk akal ini. Benar 'kan?" tutur Mila.
"Eh, siapa tahu Mas Rangga bersedia? Biar nanti malam aku hubungi dia sekaligus minta izin bolos kerja," ucap Rika.
Mila pun mengembangkan senyum di wajah cantiknya. "Semoga saja," sahut Mila.
Tepat di saat itu sebuah bus besar berhenti di hadapan kedua gadis itu. Mila dan Rika bergegas masuk dan bus tersebut kembali melaju untuk mengantarkan seluruh penumpangnya ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Tak terasa malam pun menjelang.
Selesai mandi dan berpakaian, Mila menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur sambil memperhatikan sekeliling ruangan sempit berukuran 3x4 tersebut dengan seksama.
Seharian tak bertemu dengan lelaki gaib itu, membuat pikiran Mila di penuhi dengan berbagai pertanyaan. Ke mana dan di mana lelaki gaib itu sekarang. Mila menyentuh bagian lehernya, di mana kalung berlian merah itu masih melingkar di sana.
"Ke mana perginya pangeran Hans? Aku harap dia tidak melakukan sesuatu yang mungkin akan membahayakan orang lain," gumam Mila.
Sementara itu di kamar Rika.
Rika yang sudah bersiap untuk beristirahat, meraih ponselnya kemudian membawanya ke tempat tidur. Rika membuka sebuah aplikasi berwarna hijau kemudian mencoba menghubungi nomor Rangga.
Cukup lama Rika menunggu, hingga akhirnya Rangga pun menerima panggilan darinya.
"Ya, Rika. Ada apa?" tanya Rangga dari seberang telepon.
"Ehm, Mas Rangga. Bagaimana kondisimu sekarang? Sudah baikkan?" tanya Rika, mencoba membuka pembicaraan mereka.
"Masih sama saja, Rik. Padahal aku sudah berobat ke dokter sepulang bekerja tadi," lirih Rangga.
"Aku doakan semoga cepat sembuh ya, Mas. Oh ya, Mas Rangga. Besok, aku dan Mila minta izin untuk tidak masuk kerja. Aku ingin menemani Mila menemui orang pinter yang tadi siang aku ceritakan kepada Mas Rangga. Kasihan Mila, sepertinya ia sudah benar-benar tidak tahan lagi," tutur Rika.
"Baiklah, aku mengerti. Jika rasa sakit ini sudah reda, maka aku akan ikut bersama kalian," ucap Rangga sambil memijit pinggangnya yang masih terasa sakit.
Rika tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Rangga barusan. Ia senang karena lelaki itu bersedia menemani mereka menuju tempat orang pinter tersebut.
"Terima kasih, Mas Rangga. Semoga cepat sembuh sakit pinggangnya dan besok Mas bisa menemani kami pergi ke tempat orang pinter itu," sahut Rika dengan penuh semangat.
"Aamiin, semoga."
"Sudah dulu ya, Mas. Aku ingin istirahat dan terima kasih banyak atas semuanya."
"Ya. Sama-sama."
Setelah Rika memutuskan panggilannya, Rangga pun segera meletakkan ponsel tersebut ke atas nakas yang berada di samping ranjang. Rangga meraih salep otot dari dalam laci kemudian mengoleskan ke area pinggangnya yang terasa sakit.
"Aku heran, kenapa tiba-tiba aku bisa terpental seperti itu. Padahal tidak ada sesiapapun di sana. Bahkan angin pun tidak ada," gumam Rangga sambil mengingat-ingat kejadian tadi siang saat ia bicara bersama Mila.
"Aku harap ini bukanlah pertanda buruk."
Setelah meletakkan kembali salep otot tersebut, Rangga segera merebahkan tubuh lelahnya ke atas tempat tidur. Tak lupa, ia juga mematikan lampu tidur yang terletak di atas nakas tersebut.
Rangga yang mulai terserang rasa ngatuk, segera memejamkan matanya dan mencoba tidur. Pada awalnya, Rangga merasa nyaman-nyaman saja berada di dalam ruangan itu, sama seperti biasanya. Namun, entah kenapa semakin ke sini, ia semakin gelisah.
Dada lelaki itu berdegup dengan kencang. Darahnya terasa mengalir dua kali lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin terus mengucur dan seluruh bulu-bulu halus yang tumbuh di tubuh Rangga mendadak tegang.
"Ada apa ini? Kenapa perasaanku begitu tidak enak?" Rangga menyingkap selimut yang menutupi tubuh kekarnya. Ia bangkit kemudian bersandar di sandaran tempat tidurnya.
Ruangan itu begitu gelap hingga Rangga tidak bisa melihat apa pun. Namun, ada sesuatu yang aneh, yang tampak di dalam kegelapan tersebut. Ia seperti melihat sebuah bayangan hitam pekat berukuran tinggi besar berdiri tepat di hadapan tempat tidurnya.
"Apa itu?" gumamnya dalam hati.
Rangga yang mulai merasa takut, segera menghidupkan kembali lampu tidurnya.
Tekkk!
Lampu tidur itu pun menyala dan Rangga sontak menoleh ke arah bayangan hitam pekat tersebut.
"Ya, Tuhan!"
Tiba-tiba Rangga memekik ketakutan. Ia menarik selimutnya hingga sebatas dada kemudian sambil menutup matanya dengan erat. Mulut rangga tampak komat-kamit membaca berbagai hapalan doa yang bisa ia ingat di tengah-tengah ketakutannya saat ini.
Sesosok mahluk menyeringai menatap Rangga yang begitu ketakutan. Dengan kekuatan yang ia miliki, mahluk itu membuat mata Rangga yang tertutup menjadi terbuka.
Rangga yang ketakutan, menghentikan hapalan doa-doanya kemudian menatap sosok gaib itu dengan seksama.
"Si-siapa kamu?" Dengan terbata-bata, Rangga memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki gaib itu.
Lelaki gaib itu menyeringai. Tiba-tiba wajah tampannya berubah menjadi mengerikan. Dua buah tanduk muncul di kepala mahluk itu serta di iringi dengan melebarnya dua buah sayap yang keluar dari balik punggungnya. Bukan hanya itu, seluruh tubuhnya menjadi merah, termasuk mata dan kulitnya.
"Jika kamu ingin selamat, jauhi Mila! Kamu mengerti, Rangga!"
Suara mahluk gaib itu menggelegar hingga memenuhi ruang kamar Rangga. Rangga bungkam, ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tadi siang hanyalah sebuah peringatan kecil untukmu, Rangga. Jika kamu berani mendekati Mila lagi, aku bisa pastikan bahwa tubuhmu akan terpisah menjadi dua bagian dan kamu tidak perlu merasakan sakit itu lagi," lanjut mahluk gaib itu, yang kemudian tertawa lantang.
Rangga menganggukkan kepalanya pelan tanpa bersuara satu kata pun.
"Bagus!"
Wujud mahluk gaib itu tiba-tiba kembali seperti semula. Terlihat gagah dan tampan rupawan. Kedua tanduk yang tadi menghiasi kepalanya tiba-tiba menghilang. Begitu pula dengan kedua sayap lebar yang menambah kengerian mahluk itu, juga menghilang tanpa jejak.
Rangga yang sudah tidak bisa menahan rasa ketakutannya, akhirnya jatuh pingsan dan tak sadarkan diri di atas kasur empuknya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
demi keselamatan mu Rangga,kau harus ikut kata² Pangeran Hans....
2025-01-28
0
💜💜💜REVIAA 99💜💜💜
siapapun yg ada di posisi Mila pasti ketakutan yg luar biasa lama2 bisa gila
2022-11-13
1
Lala Pricilla
kasian mila mah ini
2022-10-14
1