Perut Dina kian lama kian membuncit. hari kelahirannya semakin dekat. sebagai wanita muda berusia 18 tahun, hal ini sungguh amat menakutkan baginya.
Arini terus mendampinginya, Ia selalu menjadi pengawal yang selalu siaga untuk majikannya.
Dina merasakan perutnya sangat keram. sebagai orang yang tidak memiliki pengalaman dalam melahirkan, tentu membuatnya merasa panik.
"Bromo kemana ya..? mengapa Ia tidak mengunjungiku..?" Djna berguman lirih, dengan perut yang teramat sakit.
Ia meremas ujung bajunya, rasa sakit itu kian menyiksanya. Arini terus berada disisinya.
Arini melakikan panggilan ghaib terhadap Bromo, namun tidak ada jawaban. berulang kali Ia menghubunginya namun tak jua mendapatkan jawaban.
Arini merasa kasihan terhadap Dina. Ia mengenduskan moncongnya keperut Dina, memberikan rasa nyaman yang kepada majikannya.
"mengapa pinggangku terasa sangat panas.." Dina berguman lirih sembari meringis menahan sakit.
Ia merasakannya sudah seharian penuh. Dina mencoba bangkit untuk berjalan, namun tak mampu.
bersamaan dengan itu, Ia merasakan seakan ingin buang air besar. lalu nalurinya untuk mengejan datang dengan tiba-tiba. Ia mengjan sembari mengeluarkan semua tenaganya.
sesosok bayi mungil meluncur dengan ejanan terakhirnya. sosok bayi laki-laki nan tampan lahir kedunia.
bayi itu mengeluarkan tangisan yang membahana keseluruh ruangan goa. Dina menangis tersedu. antara bahagia dan sedih.
bahagia karena kelahiran bayinya dengan selamat, dan sedih karena Bromo tak mendampinginya.
dengan tubuh yang masih lemah, Dina beringsut dari tempatnya berbaring, Ia meraih bayinya. lalu mendekap dalam pelukannya. Ia bingung dengan tali pusat sang jabang bayi yang masih menempel.
Dina yang tidak mengetahui apa-apa tentang melahirkan, tidak menyadari jika placenta atau ari-sang jabang bayi masih tertinggal didalam rahimnya.
suara tangisan sang jabang bayi, membuatnya berinisiatif untuk menyusuinya. setelah kenyang, bayi itupun tertidur pulas. Dina meletakkan bayinya ditepian ranjang, Ia ingin pergi ke ceruk, untuk membasahi kainnya, karena Ia akan mebersihkan bayinya yang baru lahir.
saat Dina berjalan yertatih menuju ceruk, Arini mendekati sang bayi, dengan giginya Ia memutus tali pusat sang bayi, lalu berpura-pura tidak mengetahuinya.
saat Dina mendekati ceruk, Ia seperti ingin terbatuk, lalu bersamaan dengan itu, dari area sensitifny, meluncur segumpalan daging yang dipastikan adalah placenta dari sang jabang bayi.
Dina bingung dengan segumpalan daging tersebut. Arini yang melihatnya, langsung berlari mengambil placenta tersebut. Ia membawanya kedekat ceruk. meminta Dina untuk mencucinya.
Dina yang masih bingung, menghampiri Arini, lalu mengamati gerakan kepala Ari dan tangan mungilnya."kamu memintaku untuk mencucinya..?" ucap Dina kepada kelinci mungil itu. Arini memganggukkan kepalanya.
lalu Dina mencuci gumpalan daging tersebut. setelah itu Arini menggigit kain baju Dina, lalu menarik-nariknya. "kamu mau apa..?" ucap Dina dengan bingung.
Arini melompat-lompat dengan gerakan bahwa Ia meminta Dina merobek kain bajunya. "kamu ingin aku merobeknya?" ucap Dina sembari memegang kain bajunya.
Arini mengangguk. "emm..jangan kain baju ya, ntar aku carikan kain yang lain." ucap Dina, sembari barjalan tertatih, menuju tempat penyimpanan pakaiannya, sebuah lemari yang hanya terbuat dari anyaman rotan.
Ia menemukan kain panjang yang sudah tak terpakai, lalu merobeknya. Ia memberkannya kepada Arini. dengan sigap Arini ingin membungkus placenta tersebut.
namun karena tubuhnya yang mungil, tak mampu untuk melakukannya. Dina melihat Arini yang kesusahan, akhirnya membantunya. setelah selesai membungkusnya, Arini membawanya kedepan goa, lalu dengan kedua tangannya, Ia menggali lubang untuk menguburkan placenta atau ari-ari tersebut.
setelah selesai Ia pergi kembali masuk kedalam goa.
diluar sana, seekor ular raksasa sedang memperhatikan kondisi goa. Ia mencium aroma segar dari seirang bayi yang baru saja dilahirkan.
Ia merayap mendekati mulut goa. kepalanya melongok melihat apa yang sedang terjadi didalam goa. sesosok tubuh mungil, yang terbungkus kain sedang tertidur lelap.
sedangkan ibunya juga sudah tertidur karena kelelahan.
ular raksasa itu merayap masuk kedalam goa. Ia mendekati kedua anak manusia yang sedang tertidur lelap tersebut.
Ia memperhatikan wajah Dina. dengan perasaan benci dan dendam Ia menajamkan pandangannya. "ciih. hanya seorang wanita murahan, bahkan kau melahirkan anak yang bukan anak Sadewo." ular itu mengumpat kesal.
"akan kucabik-cabik wajahmu, agar kau tak cantik lagi." ucapnya dengan kesal.
lalu Ia menjulurkan kepalannya, menggunakan tongkat sihirnya untuk mengubah wajah Dina. Ia merapalkan sebuah mantra.
saat Ia akan melakukan sihir tiba-tiba sebuah anak panak melesat..[wuuuussshh...seeet..] mengenai tongkatnya dan terpental. Ia terperangah dan mendengus kesal.
tampak Arini yang telah berwujud menjadi peri cantik, memegang sebuah busur lengkap dengan anak panahnya.
Ular raksasa uang bernama Ristih itu menggeram. "hei..bocah tengil, berani-beraninya kau ikut campur urusanku." ucapnya dengan berang.
Arini menatapnya dengan tajam.
penampakan Arini ketika merubah wujud.
"jangan pernah mengusik tuanku..!" ucapnya dengan lantang.
"hahaha... sungguh menggelikan..bagaimana mungkin kau bangsa siluman menjadi budak dari manusia tak berguna ini." ucap Ristih dengan sinis.
Arini hanya menanggapinya dengan senyuman. dan bersiap-siap jika kemungkinan buruk terjadi.
dengan kekuatan sihirnya Ristih meraih tongkatnya yang terlempar dilantai goa. lalu dengan sekejap saja [wuuuuussh..] tongkat itu sudah berada ditanganya.
Ristih memutar tongkatnya. lalu dengan kekuatan sihirnya Ia menyerang Arini. sebuah kilatan cahaya ingin menyambar tubuh Arini.
dengan kecepatan tinggi, Arini menghindar. sehingga cahaya sihir itu menghantam dinding goa. peristiwa itu menghasilkan suara dentuman yang sangat kuat. [buuuuuummm..]
suara menggelegar itu, itu membuat Dina tersentak dari tidurnya, lalu terbangun.
Ia melihat suasan goa yang sangat kacau. terdapat sebuah lubang didinding goa.
Ia terperanjat, saat melihat seekor ular siluman raksasa sedang berada tak jauh dari tempatnya berbaring. Ia ketakutan melihatnya.
Ristih yang menyadari targetnya terjaga mengalihkan perhatiannya. dengan secepat kilat Ia berada tepat disisi Dina yang terlihat pucat pasi.
Dina gemetaran, sesaat Arini melepaskan anak panahnya, belum sempat anak panah itu mengenai tubuh Ristih, siluman ular itu telah menyerang Arini dengan sihirnya.
sehingga Arini terpental, terkena kilatan cahaya sihir milik Risti, yang tepat mengenai dadanya. seketika Arini kembali ke wujud kelincinya, dengan luka yang sangat parah.
Ristih mendekati mangsanya dengan seringai yang tajam. Ia sudah tak sabar ingin mencabik wajah Dina. karena wajah itu yang membuat Sadewo mencintai anak manusia itu.
Dina semakin merasakan ketakutan yang luar biasa. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, saat Ristih hendak menyentuh wajahnya. Dengan rasa takut yang luar biasa Ia berteriak dengan keras. "Broooooommooo..datanglah.." teriaknya dengan nada yang bergetar penuh pengjarapan sepenuh jiwanya.
sesaat sebuah kilatan cahaya menyambar tubuh Ristih, dan ular Siluman itu terpental jauh ke dinding goa. Ia meringis kesakitan.
sesosok pria tampan muncul disaat yang tidak terduga.
Risti berusaha bangkit. lalu dengan terhuyung Ia menopang tubuhnya yang terasa sangat perih.
Ia berjalan sembari meliuk-liukan tubuhnya. Ia mendekati Bromo sembari memegangi dadanya yang menghitam lebam, dan mengeluarkan sedikit asap dari bekas luka tersebut.
"mengapa kau berani sekali menemui permaisuriku." ucap Bromo dengan tenang namun dengan tatapan tajam.
Dina yang merasakan kehadiran Bromo disisinya, membuka matanya dan mengintip dari jemari tangan yang menutupi wajahnya. "kanda.." ucap Dina dengan lirih sembari terisak.
Ristih memandang sinis pada Dina. "Sadewo..hanya demi wanita murahan ini, kau berani melukaiku. lihatlah.. anak yang dilahirkannya bahkan bukan keturunanmu." ucap Ristih dengan mencibir.
Dina terasa sangat sakit mendengar ucapan Ristih yang mencibirnya.
"bukan urusanmu, pergilah..sebelum aku melenyapkanmu." ucap Bromo dengan lantang.
Ristih mendengus kesal. "kau..!! sungguh menyebalkan. ingatlah..suatu saat kau akan menyesali dengan keputusanmu." ucap Ristih, lalu menghilang dalam sekejap mata.
Bromo mendekati Dina yang masih dalam kondisi lemah. Ia melihat seorang jabang bayi berada disisi kiri Dina. ada luka dalam hatinya. namun Ia harus menerima kenyataan pahit itu.
Ia membelai Dina dengan lembut. lalu mengobati luka rahim Dina dengan sihirnya.
"kamu akan baik-baik saja.." ucapnya dengan tenang. lalu meraih tubuh Dina, dan membawanya dalam dekapan penuh cinta.
Dina teringat sesuatu. "mumu.. Dia terluka saat menyelamatkanku.." ucap Dina sembari melepaskan pelukan Bromo.
dengan mata bathinnya, Ia melihat Arini yang terlempar dilantai dengan luka yang sangat parah. lalu Bromo meraihnya dengan sihir. dan mengobati luka Arini hingga sembuh.
kini kelinci imut itu kembali mengerjapkan matanya, dan melompat kegirangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Inayah Puput
Untung saja Bromo cepat sampai ke goa tepat waktu saat Dina mau dirusak wajahnya oleh Ristih
Lanjutkan Author 🤗🤗🤗
2023-05-08
1
RoChiMin Bst 11
salut dgn bromo yg bisa menerima kenyataan,,,👍👍👍
2023-03-25
2
rajes salam lubis
tetap semangat
2022-12-07
1