Karim dan Lastri sudah sebulan lamanya kehilangan puteri satu-satunya. mereka sudah mencari kemana-mana, rasa putus asa membuat mereka semakin tak berdaya.
Lastri sehari-hari meratapi putrinya yang hilang. wanita berusia 59 tahun terlihat semakin kurus.
Karim berusaha menghibur istrinya, meskipun Ia sendiri terlihat rapuh.
"sabar bu..mudah-mudahan ada titik terang tentang keberadaan puteri kita." ucap Karim, mencoba membesarkan hati istrinya. Ia sendiri sebenarnya sedang patah hati, karena kehilangan puteri tercintanya.
terdengar suara langkah kaki, menaiki ditangga rumahnya. rumah Karim adalah rumah berbentuk panggung.
tinggal dipedalaman, dibawah kaki bukit mengharuskan mereka membangun rumah panggung, karena itu berfungsi untuk menghindari dari bahaya serangan hewan buas.
[tok..tok..tok..] suara ketukan pintu dari arah luar.
"siapa..?" ucap Karim dengan nada bertanya.
"aku..Jarwo, Bah.." ucap suara pria dewasa dari arah luar.
Karim segera beranjak dari tempatnya, membuka pintu rumahnya.
"masuk, Jar.." ucap Karim mempersilahkan.
"Assallammualaikum, Abah." ucap Jarwo. sembari melangkah masuk.
"Waalaikumsalam.." jawab Karim, sembari duduk dilantai kayu rumahnya. dan diikuti oleh Jarwo.
Jarwo sepertinya ingin menyampaikan sebuah pesan yang amat penting. itu terlihat dari arah gerak-gerik tubuhnya.
"Ada apa nak Jarwo..? sepertinya ada hal yang amat penting, yang ingin kamu sampaikan." ucap Karim dengan parau.
"emmm..anu Bah. sebenarnya saya, waktu itu melihat Dina berjalan kearah bukit." ucao Jarwo dengan sangat hati-hati.
"a...apa..?" serga Lastri yang berada tak jauh dari mereka. Ia menyeka air matanya, lalu ikut bergabung dengan Jarwo dan suaminya.
Ada secercah harapan dihatinya, untuk dapat menemukan anaknya.
"mengapa kamu baru ngomong sekarang..?" ucap Karim dengan sedikit kesal.
"maaf, Abah Karim.. waktu itu saya baru saja selesai memanen kopi"
"terus saya kekota sore itu juga, untuk membawa kopi-kopi saya ke pengepul."
"setelah itu, saya pergi kerumah mertua saya di deaa sebelah, karena ada sebuah masalah."
"dan baru saat ini, saya ada waktu untuk menyampaikannya."
Jarwo mengatur nafasnya. "saya juga mendapat kabar ini dari para tetangga." ucap Jarwo menjelaskan.
Karim menghela nafasnya. "Hari masih pagi, dapatkah kamu membantu saya, untuk mengumpulkan para tetangga, kita melakukan pencarian anak saya." ucap Karim memohon.
Jarwo dengan sigap menjawab "baik, Bah..saya akan segera kabarkan kepada para tetangga." ucap Jarwo dengan tulus.
*****
warga sudah berkumpul didepan rumah Karim. mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka, demi untuk membantu Karim dalam pencarian Dina yang sudah menghilang sejak sebulan yang lalu.
bagi masyarakat pedesaan, rasa gotong-royong dan empati pada warganya itu masih terjalin dengan baik. jika ada warga yang mengalami kesusahan, hajatan atau membangun rumah, semuanya akan dilakukan secara beramai-ramai, tanpa imbalan.
"Ibu iku pak.. Ibu ingin ikut mencari Dina. "ucap Lastri memohon.
"tapi..bu. Nanti ibu lelah.." ucap Karim mencegah.
"tidak pak, Ibu ikut.." ucap Lastri kekeh dengan keinginannya.
Akhirnya, Karim mengalah, dan menuruti keinginan istrinya.
warga mulai bergerak pergi keatas bukit. mereka menaiki sepeda motor, agar lebih cepat sampai.
mereka mulai membagi beberapa kelompok untuk berpencar. ada yang menyusuri tepian sungai, memasuki hutan, dan juga disekitar air terjun.
mereka tidak berharap banyak, jikapun Dina telah meninggal dunia karena sesuatu hal, setidaknya mereka menemukan jasad Dina, sudah membuat lega dan hilangnya rasa penasaran.
Karim dan Lastri, beserta beberapa warga lainnya, mendapat bagian menyusuri kawasan air terjun. mereka menduga jika Dina bunuh diri melompat dari puncak air terjun. lalu jasadnya akan ditemukan di diatara derasnya air sungai. atau terjepit diantara bebatuan cadas.
warga dan lainnya mulai memanggil nama Dina. Lastri dengan isakannya yerus memanggil Dina "Diinaaaa..bali..nak..wes sore.." (Dina.. pulanglah.. hari sudah senja). ucap Lastri dengan nada pilu, sembari menghanyutkan guling kesayangan milik Dina.
suara Lastri terdengar parau...hatinya begitu hancur.
Ia menatap nanar sekitar air terjun. matanya terpusat pada dinding dasar air terjun. Ia ingin pergi memeriksanya, namun seseorang melarangnya.
"Bik Lastri, jangan kesitu..! airnya dalam, dan ada batu tipuan disitu.." ucap seorang warga.
-batu tipuan Ialah, batu yang terlihat menyembul, namun ketika dipijakkan ternyata mengambang, dan korbanya akan terseret kedalam dasar air terjun.
Lastri mengurungkan niatnya. namun entah bisikan dari mana yang mengatakan jika ada sesuatu di balik air terjun tersebut.
****
samar-samar Dina mendengar suara panggilan dari Ibunya. Ia berlari keluar dari istana. Ia terlihat senang, karena ternyata ibunya menyayanginya, buktinya mereka mencarinya.
Dina berteriak.."Ibuuuuu.. ini Dina bu.." teriak Dina sembari melambai-lambaikan tangannya.
Dina merasa bingung, mengapa ibu dan ayahnya tidak melihatnya. padahal jarak mereka sangat dekat.
Ia mendengar Ibunya memanggil namanya. "Ibuuu..ini Dina bu.." teriak Dina memanggil ibunya. namun semua yang berada disana tidak melihat dan mendengar teriakannya.
hari semakin senja, Lastri dan Karim, serta warga lainnya tak menemukan jejak Dina. saat akan pergi, Lastri melihat sesuatu, sebuah sendal terjepit diantara bebatuan cadas. sendal yang Ia kenal.
"pak..pak e.. lihat itu pak.." ucap Lastri dengan setitik harapan. Karim dan yang lainnya datang menghampiri. mereka penasaran dengan apa yang ditemukan oleh Lastri.
"ada apa bu..?" ucap Karim penasaran.
"itu..pak e.. itu sendal milik Dina, tetapi hanya satu." ucap Lastri dengan suara bergetar.
Seorang yang lebih muda, memgambil sebatang ranting kayu, lalu mengambil sendal jepit milik yang dipastikan milik Dina.
setelah sendal itu naik ketepian, Lastri berteriak.."paaak..ini bener milik Dina pak.." hatinya sudah membayangkan hal buruk telah terjadi pada anaknya.
seorang diantara warga mencoba menganilisinya. "sepertinya Dina melakukan bunuh diri, dengan cara melompat dari puncak air terjun."
"Saat terjatuh, tubuhnya masuk kedalam palung terdalam dari air terjun, sehingga tidak dapat naik kepermukaan."
mungkin tubuhnya tersangkut sesuatu didasar sana." ucap seorang warga tersebut dengan analisisnya sendiri.
semua warga memandanginya, lalu menyetujui analisis yang diberikan oleh warga tersebut.
"ini bagaimana abah..? hari audah senja.. kita tidak mungkin melakukan pencarian dimalam hari. karena sangat berbahaya bagi kita semua. akan banyak binatang buas yang mengancam kita. " ucap Jarwo memberi pengertian kepada Karim.
setelah memikirkan segala resikonya, Karim menyetujuinya.
Lastri dan Karim, serta warga lainnya memutuskan untuk pulang. dan akan melakukan pencarian dihari berikutnya.
"ii...buuuu.. jangan tinggalkan Dina, Bu.." Teriak Dina sembari berlari hendak mengejar kedua orang tuanya. namun saat Ia akan keluar, Dina tifak mampu menembusnya.
seperti ada dinding ghaib yang menghalangi Dina untuk mengejar kedua orangtuanya.
Dinding ghaib itu, telah menghalangi pandangan dan pendengaran Ayah dan Ibu, serta warga lainnya untuk menemukan Dina.
semakin lama, semakin jauh kedua orangtuanya melangkah pergi, meninggalkan Dina yang terus memanggil ibunya.
setelah tubuh kedua orang tuanya mengjilang dari pandangannya, Dina menangis terisak meratapi nasibnya.
"Ibuuu.. bawa Dina pulang bu.." ucapnya dengan derai air mata.
Dina merasa Ia sudah empat hari didalam kerajaan Bromo. namun dialam nyata, Ia sudah menghilang selama sebulan lamanya.
dari kejauhan, Bromo sedang memperhatikannya, namun, Ia tak rela jika harus kehilangan Dina. Ia telah jatuh cinta pada gadis itu. Bromo masih menangguhkan penyekapannya.
Bromo berniat untuk tetap menahan Dina, sampai Dina memenuhi perjanjian dengannya, untuk mengikat tali pernikahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
AbhiAgam Al Kautsar
ceritanya seperti kisah yg dialami tetanggaku. tp dialam lelembut tetanggaku di jadikan sebagai pekerja di peternakan ular
2024-08-19
0
Hielmeera🍒⃞⃟🦅
asal bukan kabar dari SOPO ya wo!!
2022-12-17
2
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
kamu GK bisa keluar dari alam gaib, harus ada yg menolong mu Dina
2022-12-03
1