Sudah dua malam Bromo tidak datang berkunjung ke kediaman Dina.
"tuh siluman kenapa sudah dua malam tidak muncul sih..?" ucap Dina menggerutu.
entah mengapa, semenjak sering bertemu, membuatnya merasa terbiasa dengan kehadiran sosok Bromo.
meskipun sosok Bromo setengah manusia dan setengah buaya, namun Ia tak memungkiri jika kehadiran Bromo sedikit demi sedikit mulai mengisi hari-harinya.
Namun, kini perasaannya mulai hampa. Bromo menghilang tanpa kabar.
Dina menatap ranjang tidurnya, Ia teringat akan saat-saat suami silumannya tidur di ranjang itu, dengan ekornya yang menjuntai. membuat Rena tertawa geli membayangkannya.
seketika Ia terdiam. "haah..mengapa aku jadi memikirkan dia sih..?"
"tidak..tidak..aku tidak boleh memikirkannya." Dina berguman lirih yang mana bertentangan dengan hatinya.
Bromo telah memyediakan tempat dan tanah yang subur disekitar goa.
Dina pergi memetik beberapa jagung dan sayuran untuk makan malamnya.
Ia membawa keranjang kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Dina memetik 3 buah jagung dan sayur kangkung. Ia memetiknya dengan hati galau.
meskipun Ia sudah membuang semua fikirannya tentang suami silumannya, namun bayangan wajah Bromo terus hadir dalam ingatannya.
tanpa terasa, ternyata Dina telah berjalan jauh dari kebun miliknya. fikirannya yang melayang membuatnya tidak menyadari jika Ia telah berjalan cukup jauh.
senja telah tiba, safak menggantung dilangit yang mulai semakin gelap.
Dina tersadar oleh bunyi suara burung ruak-ruak yang saling bersahutan satu sama lain. Ia memandang kesekelilingnya, Ia sangat terkejut karena Ia telah jauh dari goa.
hari mulai gelap, Ia sedikit ketakutan untuk kembali pulang ke goa. Ia bingung dengan jalan mana yang Ia lalui. saat Ia sedang kebingungan,
Samar-samar Dina melihat dua sosok makhluk yang sedang berbicara dengan suara yang lirih dan hampir berbisik.
Dina yang merasa penasaran, berjalan mengendap, ingin mencari tahu siapa yang sedang berbicara setengah berbisik itu, alangkah terkejutnya Ia, saat melihat sosok yang sedang berbicara itu adalah Bromo.
terlihat Bromo sedang berbicara dengan seorang peri yang sangat cantik. seketika Dina merasa terbakar cemburu. hatinya begitu sakit saat melihat Bromo berbicara dengan peri cantik tersebut.
Tanpa sadar Ia terisak karena menahan sakit dihatinya. Bromo yang menyadari jika ada yang sedang mencuri dengar pembicaraannya, menggunakan kekuatan ghaibnya untuk melihat siapa yang sedang mengintainya.
seketika Ia tersenyum sarkas, Ia mengetahui jika yang sedang mengintainya adalah sang pujaan hatinya.
namun senyumnya berubah seketika, tak kala Ia melihat seekor ular kobra sedang bersiap hendak mematuk pergelangan kaki Dina.
dengan menggunakan sebuah batu kerikil, Bromo menjentikkan batu itu lalu melesat..dan
[wuuuuushh..taak..]
[ssssssshhhhhht..] ular itu mendesis dan pergi menjauh.
seketika Dina terkejut dengan apa yang baru dialaminya.
seekor ular kobra bergerak menjauhinya. hampir saja Dina mati terkena patukan ular berbisa tersebut. Dina menyadari jika Bromo telah menyelamatkan dari ular tersebut.
melihat Bromo sudah mengetahui keberadaannya, Dina berniat hendak pergi dengan membawa rasa kesalnya. entah mengapa Ia begitu membenci Bromo saat melihatnya berbicara dengan peri cantik itu.
angin menyibakkan semak dimana tempat Dina mengintai. Bromo menatap mata Dina, dimana terlihat ada kecemburuan disana.
Bromo merasakan, jika Istri kecilnya itu diam-diam telah menaruh hati padanya. hanya saja rasa gengsi lebih menguasainya.
Dina menatap penuh amarah. "pantas saja dua malam ini dia tidak mengunjungiku, ternyata dia main gila dibelakangku." Dina menggerutu dalam hatinya.
tentu saja apa yang dibicarakan oleh Dina didalam hatinya, dapat didengar oleh Bromo melaui ilmu bathinnya.
"dasar laki-laki, gak manusia gak siluman saja, sama-sama buaya." umpat Dina lagi.
"tapi kan dia emang buaya.." ucap Dina dengan nada mencibir.
Bromo yang terus mendengarkan ungkapan hati Dina hanya tersenyum dengan penuh ketenangan. tatapan teduhnya membuat siapa saja akan terpesona dengan ketampanannya.
peri cantik yang berada bersama Bromo menghilang, sepertinya Ia faham akan situasi yang terjadi anatara suami istri tersebut.
Dina memutarkan tubuhnya, hendak berlari pulang ke goa dengan hati yang penuh luka. lalu dengan cepat sebuah selendang mengikat pinggangnya.
belum hilang rasa terkejut Dina, Bromo sudah terlebih dulu menarik selendangnya dan Dina berada didalam dekapannya.
saat Dina akan mengomel, dalam kedipan mata, Bromo sudah membawanya kedalam Goa kembali. lalu membaringkan Dina diranjang dengan lembut.
diikuti tatapan Dina yang penuh kekesalan.
Bromo berjalan meliukkan ekornya, lalu berwudhu, karena waktu maghrib telah tiba. dan Ia melaksanakan kewajiban shalat nya.
****
Dina masih dengan wajah yang masam. entah apa yang dirasakannya saat ini. Ia terlihat sangat kesal.
Bromo mendekati Dina yang sedang kesal, Ia mencoba menyentuh lengan Dina, dengan cepat Dina menepisnya. "jangan sentuh aku..!!" ucapnya dengan sengit. entah apa yang sedang dikesalkannya.
Bromo menatap istri kecilnya itu dengan sangat tenang, wajah penuh keteduhan.
"apa yang membuatmu marah duhai istriku..?"
Dina menatap dengan sengit. "apa..?! kamu tanya kenapa..?"
Bromo tetap tenang menghadapi sikap Dina yang arogan.
"sudah dua malam kamu tidak menemuiku..? dan kamu tertangkap basah sedang berduaan dengan wanita lain..? kamu tanya mengapa..?"
Bromo hanya diam dengan tenang, mendengar omelan Dina yang semakin meluap bak lautan api.
"ternyata semua laki-laki itu sama saja ya..? sama-sama buaya..!!"
Bromo yang dikatain Buaya membulatkan matanya karena terperanga. lalu Ia tersenyum sarkas.
"Apakah kamu menaruh rasa cemburu..?" ucap Bromo dengan lembut, tapi penuh penekanan disetiap katanya.
Dina seketika terdiam, Ia tak mampu berkata-kata lagi. ucapan Bromo begitu monohok dihatinya. Ia mencoba membuang wajahnya dari tatapan Bromo yang mampu menembus jantungnya.
"tidak..aku tidak cemburu padamu.. terserah padamu, mau datang berkunjung atau tidak." ucapnya lirih. Ia tak mampu lagi menaikkan nada bicaranya.
Wajahnya bersemu merah, menahan rasa malu, karena tanpa sengaja telah mengungkapkan segala isi hatinya.
Dengan cepat Ia berbaring dan menarik kain selimut, memunggungi Bromo, lalu berpura-pura tidur.
Hatinya berdebar tak karuan, karena ucapan Bromo yang tidak pernah Ia duga sebelumnya.
"Apakah kamu sudah mulai mencintaiku..?" ucap Bromo dengan lembut.
"gak..gak akan pernah terjadi..!" ucap Dina didalam balik selimut.
"kalau begitu aku pergi sekarang, karena kehadiranku tidak kamu harapkan." ucap Bromo lalu menghilang dalam sekejap mata.
Dina yang menyadari jika Bromo benar- benar telah pergi, membuka selimutnya. Ia bangkit dari ranjangnya, mencari keberadaan Bromo yang telah menghilang dengan sekerlingan mata saja.
"Bromo..mengapa kamu benar-benar pergi..? aku hanya bercanda.." ucapnya lirih. Ia terus mencari keberadaan Bromo, namun tak Ia temui.
Dina terduduk lemah ditepian ranjang. matanya menatap nanar dinding Goa. "sepertinya aku mulai mencintaimu.." ucapnya lirih penuh dengan kegundahan.
Ia mencoba berdamai dengan hatinya. mencoba mengakui, jika hatinya kini benar-benar telah mencintai suami silumannya.
Dina kembali berbaring diranjangnya, memejamkan matanya, untuk mengusir rasa rindu yang kini bersemayam dihatinya.
Ia tertidur dalam buaian mimpi indah.
tanpa Ia sadari, Bromo hadir di sisinya, lalu membelai lembut rambut istri kecilnya. setelah Ia menghilang, untuk sesuatu hal uang harus diselesaikannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Susi Akbarini
😀😀😀😀❤❤❤❤
2024-07-06
1
Pisces97
kebanyakan laki2 buaya
tapi jangan salah Bromo adalah buaya ² bukan sekedar buaya biasa'
tapi luar biasa 🤭
2023-08-10
1
Hielmeera🍒⃞⃟🦅
wk wk wk. bromo. jng main main. hati seorang wanita sangat lemah tau. jangan ilang muncul ilang muncul. sementang kamu silukman
2022-12-31
0