"Panggil semua para pengawal dan Dayang. Kumpulkan sekaranga juga..!" Titah Bromo dengan Sarkas dan penuh amarah.
"Ba…baik Baginda Raja.." jawab jawab sulirah dengan terbata. Ia tampak ketakutan dan gemetar.
Belum pernah Ia melihat Bromo semarah itu. Ia lalu mengumumkan keseluruh Istana, agar semua para pengawal dan para dayang berkumpul. Karena ada sesuatu yang sangat penting.
Dalam sekejap, para pengawal dan dan para dayang Istana sudah berkumpul disebuah Aula.
Bromo duduk dikursi singgasan kebesarannya.
Setelah para pengawal dan para dayang berkumpul, Bromo bangkit dari duduknya, dengan suara yang menggelegar, Ia menyatakan titah yang harus diingat dan dipatuhi oleh semuanya. "Aku peringatkan dan aku perintahkan kepada kalian semua..!! Mulai saat ini, jangan pernah membiarkan calon permaisuriku keluar dari istana tanpa pengawasan salah satu dari kalian.!!." titah Baginda Bromo Sadewo dengan suara keras dan lantang.
"Jika sampai kalian tidak mematuhinya, maka aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman penjara seumur hidup kalian disumur Pati..!!"
"apa kalian faham..?!!" Ucap Bromo dwngan tatapan tajam dan lantang. Matanya menatap dengan penuh amarah.
"Kami dengar dan kami patuhi titah baginda.." ucap seluruh pengawal dan dayang secara bersamaan.
"Bagus…!!" Ucap Bromo sarkas.
Seekor kelinci putih nan imut, masuk kedalam aula dengan lincahnya, saat semua sedang merasa diam tak bergeming.
Kelinci itu dengan berani mendekati kursi singgasana milik Bromo.
"Ampun kanda Prabu..maafkan jika saya lancang" ucap kelinci itu dengan suara nerendah.
"Apa keperluanmu menghadapku..?" Ucap Bromo dengan sekidik
"Perkenalkan, saya Arini.. Ijinkan saya menjadi pengawal untuk calon permaisuri kanda Prabu. Dan jika sudi kiranya, kanda Prabu Bromo Sadewo, menitipkan sedikit kekuatannya kepada saya, agar saya dapat melindungi sang calon permaisuri, kapanpun, dan dimanapun.." ucap kelinci bernama Arini tersebut.
Bromo terlihat berfikir sejenak. Tidak ada salahnya jika mendengarkan sedkiti saran dari Arini berwujud kelinci ini. " Baiklah..aku akan mengijinkanmu, tetaplah menjadi kelinci agar tidak menimbulkan kecurigaan pada calon permaisuriku." Ucap Bromo sarkas.
Dengan kesatiannya, Bromo memberikan sebuah ajian yang mampu membuat Arini melawan musuhnya. Ia meberikan sebuah perisai berupa busur panah dan anak panah.
Dengan kekuatan ghaib, busur dan anak panah berubah menjadi kecil dan bersemayam didalam punggung hewan lucu tersebut, dan akan keluar jika dinutuhkan saja.
"Terimakasih aku ucapkan kepada Kanda Prabu Bromo Sadewo." Ucap Arini si kelinci imut.
"Baiklah..sekarang mulailah bertugas.. dan laksanakan dengan baik.." ucap Bromo sarkas.
"Baik kanda Prabu.. saya pamit undur diri." Ucap Arini, sembari memberi hormat dan pergi.
****
Dina, yang memiliki nama lengkap Ayu Andina. Mengerjapkan matanya, Ia tersadar ketika, merasakan ada bulu-bulu halus menyapa lembut pipinya.
Saat Ia membuka matanya, Ia melihat seekor kelinci berada tepat di wajahnya. Ia sedikit kaget, namun akhirnya tersenyum.
Dina beranjak dari tidurnya, lalu merubah posisknya, dudu ditepian ranjang dan bersandar disandaran ranjang.
"Heeiii…kenapa kamu bisa disini..?" Ucap Dina dengan lembut. Ia meraih kelinci didekatnya. Meletakkannya didadanya, seperti sedang menggendong.
Dina membelai lembut bulu binatang menggemaskan itu. Mata Arini mengerjap saat Dina membelainya dengan lembut.
Dina yang merasa gemas, lalu menciumi wajah Arini si kelinci Imut. Ia merasa memiliki seorang teman. Sehingga menghilangkan sedikit rasa bosannya.
Arini yang mendapat perlakuan sangat menyenagkan dari Dina, menggesekkan kepalanya didada Dina dengan manja.
Membuat keduanya menjadi teman yang baik.
Saat sedang asyik bermain dengan Arini, sayup-sayup, Dina mendengar suara panggilan dari Ibunya dialam nyata. Ia melepaskan Arini dari gendongannya.
Dina bergegas turun dari ranjang, lalu berlari menuju sumber suara.
Arini ikut berlari bersamanya. Mengikuti arah langkah kaki Dina kemanapun melangkah.
Dina melihat dari depan gerbang Istana, jika kedua orangtuanya sedang memanggil namanya, beserta warga lainnya.
Dina berusaha ingin menembus pintu gerbang, namun, dari kejauhan, Bromo telah memantaunya, dan memberikan perisai ghaib pada pintu gerbang masuk Istana. Sehingga kedua orangtua Dina dan warga yang sedang mencari terhalang pandangan mata kasarnya.
Meskipun Dina berteriak sekuat tenaganya, maka suara Dina tidak akan terdengar oleh manusia. Dina juga diselimuti perisai ghaib, sehingga tidak terlihat oleh pandangan mata manusia biasa. Kecuali mereka yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi yang mampu menembusnya.
****
Bromo berjalan memasuki hutan kecil tersebut. Ia telah berada dibawah sebuah pohon beringin berdaun rindang, yang mana batangnya berukuran sangat besar. Pohon itu berusia ribuan tahun, dengan memiliki banyak cabang.
Ia mentap marah kepada penghuni pohon tersebut.
"Ristiii….keluarlah kau..!!" Ucap Bromo dengan lantang dan penuh amarah. Ditujukan kepada seseorang yang bersemayam disana.
Lalu, dari atas pohon itu, terdengar suara desisan ular.
[sssssssshhh..]
Seekor ular raksasa berkepala manusia, turun dengan merambat.
Ia membawa sebuah tongkat bertahta berlian. Ia mendekati Bromo yang sedang tersulut amarahnya.
Yang penasaran wujud siluman ularnya seperti inilah kira-kira ya.. begitu juga juga dengan Bromo, hanya bedanya Bromo Siluman Buaya ghaib, bukan Buaya darat ya para pembaca yang budiman.
"Ada Apa kiranya Kanda menemuiku dengan sangat marah.." ucap Risti dengan nada menggoda. Ia memutari tubuh Bromo, lalu meraptkan tubuhnya sembari memeluknya dari arah belakang, lidahnya menjulur menyusuri leher milik Bomo.
Bromo yang masih mengatur nafasnya, seketika mencengkram tangan kiri Risti yang tengah menjelajahi dada kekarnya. Lalu dengan gerakan memutr, Ia menghempaskan tubuh Risti hingga terpental jauh..
"Aaaarrrgh.." Risti meringis kesakitan. Ia tidak terima diperlakukan sangat hina oleh Bromo.
"Kuperingatkan kepadamu..jangan pernah kau sentuh..!! calon permaisuriku.." ucap Bromo dengan lantang, suaranya membahana didalam seluruh hutan.
"Hahaha…." Risti bangkit dan tertawa. Lalu mendekati Bromo lagi. "Apa yang kau harapkan dari anak manja itu..? Menikahlah denganku.. maka akan terlahir anak-anak tangguh" ucap Risti dengan lirih sembari melilitkan tubuhnya pada Bromo.
"Aku mencintaimu Sadewo… mengapa kau tak pernah menaruh hati sedikitpun padaku..? Ucap Risti dengan nada lirih dan memilukan.
Wajahnya menghadap tepat diwajah Bromo. Tangannya membelai lembut wajah Bromo.
"Sadewo..apakah aku kurang cantik dan menawan dimatamu..? Menikahlah denganku.." ucap Risti menghiba. Sembari merapatkan wajahnya kepada wajah Bromo, Saati ini Ia ingin melumatkan bibirnya kepada bibir milik Bromo yang sangat menarik hasratnya. Saat bibir itu hampir mencapai bibir Bromo.
dengan sigap, ujung ekor yang tajam milik Bromo melibaskan ketubuh Risti yang sedang membelitnya. Sehingga membuat Risti mengerang kesakitan, dan melepaskan lilitannya.
"Jangan pernah berharap banyak dariku..!! Hati dan tubuhku hanya milik anak manusia itu..!! Kuperingatkan padamu.. jangan sampai kau ataupun anak buahmu menyentuh calon permaisuriku." Ucap Bromo penuh ancaman.
"Ciih…!! apa menariknya dia bagimu..?!" Ucap Risti berang, sembari memegangi lengan kirinya yang terkena sabetan ekor Bromo.
"Dia segalanya bagiku..! Jika sampai kau menyentuhnya, maka kupastikan tububmu akan terpisah dari kepalamu..!" Ancam Bromo. Lalu beranjak pergi meninggalkan Risti yang terlukan tubuh dan hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
FiaNasa
coba klau tubuh Bromo bisa utuh kayak manusia mungkin Dina gak begitu takut kali ya
2023-09-07
1
Yurnita Yurnita
lanjut Thor
2023-05-11
0
Deni Irfansyah
Keren
2023-01-22
1