Dina terbangun dari tidurnya. Ia mengerlingkan matanya. saat Ia menggesek mata dengan jemari telunjuknya, samar-samar Ia melihat seekor kelinci imut tidur pulas disisinya.
"haah..Mumu.." teriak Dina dengan sangat senang. Ia mengangkat tubuh mungil Arini dan meletakkannya dalam dekapannya. Ia tak henti-hentinya mendaratkan ciumannya kepada hewan mungil berbulu lembut itu.
"kamu kemana saja sih..? aku kangen banget sama kamu.." Dina terus menciumi binatang mungil itu dengan gemas.
Arini yang mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari Dina, bergelayut manja pada Dina. membuat Dina semakin gemas.
Dina melirik sisi kirinya, Ia tak menemukan Bromo disana. "mengapa Ia sekarang jarang menemuiku..?"
"apakah Ia sedang berselingkuh dengan peri cantik itu..?" Dina berguman dalam hatinya.
Arini yang mampu membaca isi hati Dina seketika bersin "wiiish.." Arini merasa geli melihat sikap Dina. jika Bromo dekat dengannya sok merasa cuek, namun, jika Bromo jauh merasa kehilangan.
Dina membelai lembut bulu-bulu Arini. namun perasaannya terus mencari keberadaan Bromo.
****
Dina beranjak dari ranjangnya. Ia berjalan menuju ceruk. lalu membuka semua pakaiannya. Ia berendam dalam ceruk tersebut, membenamkan tubuhnya, lalu meletakkan kepalanya pada tepian ceruk. Ia memjamkan matanya, mencoba membayangkan wajah suami silumannya.
wajah tampan itu tampak terlihat jelas dimatanya. tatapan teduh, senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Dina merindukan itu. Ia berharap Bromo hadir saat ini.
semilir angin menyentuh kulit wajahnya. bersamaan dengan itu, Dina merasakan sesuatu sedang membelai lembut wajahnya, menyusuri setiap lekuk tubuhnya. gairahnya terbakar. Dina mencoba meresapi setiap sentuhan lembut itu.
entah mengapa Ia begitu sulit untuk membuka matanya. Ia seperti tersihir, tak mampu menggerakkan tubuhnya. sentuhan itu terus menjalar kesegala arah.
Dina merasakan nafasnya memburu, sentuhan itu membuatnya candu. Ia mencoba ingin membuka matanya, namun terasa seperti sangat lengket.
hingga akhinya, Dina merasakan sebuah benda melesak keorgan sensitifnya. Dina terperangah dalam mata yang masih terpejam. benda itu terus menghentakkan dengan ritme yang sangat lembut.
Ia ingin melihat siapa yang sedang menyenggamainya, namun sia-sia. Ia mencium aroma tubuh dari orang yang sedang menjamahnya. Ia mengenalinya. "itukah kau Bromo..?" ucap Dina dengan lirih dalam hatinya, sembari menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sosok tak terlihat itu.
Dina merasakan hentakan itu semakin kuat, hingga akhirnya Dina merasakan puncak surgawi. sosok itu terus membuat Dina melayang berulang kali.
setelah Dina merasakan sosok itu tak berada disisnya, Ia membuka matanya. "haaah.. " Ia terperanjat. tak menemukan sesiapapun disisinya.
"apa aku hanya bermimpi..? atau karena aku kini merindukannya, sehingga membayangkan hal tersebut..?" ucap Dina berguman lirih.
Ia mengerjapkan matanya, lalu menepuk-nepuk lembut kepalanya. memastikan jika dirinya hanya bermimpi. namun Ia merasakannya seperti nyata.
Tanpa Dina sadari, sepasang mata teduh sedang memperhatikannya, lalu menghilang dengan kerlingan mata saja.
Dina menyudahi mandinya. Ia menyalin pakaiannya. kejadian barusan begitu sangat meresap dihatinya. Ia masih merasakan seperti nyata.
Ia duduk termenung ditepian ranjang. kejadian barusan membuatnya begitu sangat terkesan.
"kamu dimana..? aku merindukanmu..?"
"maafkan semua sikap kasarku selama ini..?" Dkna berguman dalam hatinya.
Ia menekuk lututnya, lalu meletakkannya kepalanya diatas lutut. "hadirlah..aku merindukanmu.."
"aku berjanji akan menjadi istri yang baik.." Dina berguman dalam hatinya.
lamunannya buyar saat cacing dalam perutnya berbunyi meminta untuk diisi sesuatu.
Dina mencari keberadaan Arini, namun tak terlihat. "kemana Mumu pergi..?" Dina berguman lirih.
Ia mengambil keranjang kecilnya. Ia berniat berburu rusa hari ini. Dina diberi keahlian memanah oleh Bromo. Dina membawa busur dan sarung untuk menyimpan anak panah dibelakang punggungnya.
****
Dina menyusuri hutan, mencari seekor rusa sebagai buruannya pagi ini. setelah jauh berjalan, Dina melihat seekor rusa yang masih muda sedang memakan rumput. Dengan sangat hati-hati Ia mengeluarkan anak panah, meletakkan pada tali busur, siap membidik, lalu membacakan shalawat saat melepaskan anak panah tersebut.
[wuuuusss...ssshhht...] suara desingan anak panah melesat mengenai tepat perut rusa.
rusa itu menggelepar, Dina segera mendekatinya, lalu mengambil sebilah pisau yang dibawanya dari goa, dan menyembelih rusa tersebut.
Dina menenteng daging rusa berukuran sedang tersebut. Ia membawanya dengan sedikit tertatih karena berat.
aroma anyir dari darah rusah yang disembelih oleh Dina, mengundang hewan karnivora untuk mendekat.
seekor harimau yang sedang lapar, mengikutinya dari balik semak. Ia menginginkan daging rusa tersebut.
dengan satu lompatan, Ia sudah berada di hadapan Dina. harimau bertubuh besar itu berdiri dengan menyeringai.
Dina yang menyadari bahaya sedang mengintainya, mencoba berjalan mundur.
Dina mengira jika harimau itu hendak menyerangnya. padahal hanya menginginkan daging rusa itu.
(aaaarrgggh..) Harimau itu menggeram. berjalan mendekati Dina yang ketakutan. wanita muda berusia 18 tahun itu tidak mengerti bahasa tubuh harimau yang sedang kelaparan itu mengincar rusa buruannya.
Dina hendak berlari, namun rusa itu sedikit berat. Ia mencoba terus berjalan mundur, mencari kesempatan untuk menghindar.
lalu..tanpa disadarinya Ia telah berada di tepian jurang, kakinya menginjak bayuan kerikil dan kakinya tergelincir. lalu kesimbangan tubuhnya hilang, dan Ia terperosok jatuh kedalam jurang sedalam 317 meter.
"aaaaaaaggghhh...." suara teriakan Dina menggema keseluruh alam..
dengan kecepatan cahaya, Bromo datang menangkap tubuh Dina yang jatuh melayang,.lalu mendekapnya dalam pelukannya.
Dina yang ketakutan merasakan jika dirinya mungkin sudah berpindah alam.
saat Ia meraskan seseorang meletakkannya diatas ranjang dengan lembut, Ia memberanikan diri membuka matanya.
saat ini wajah Bromo begitu dekat dengannya, Ia memandang wajah itu dengan perasaan yang sulit diartikannya.
entah dorongan darimana Ia dengan berani memyambar bibir suami silumannya. meresapinya dengan hatinya kian terbakar.
Bromo tersenyum mendapati perlakuan Dina yang begitu manis hari ini.
Ia melepaskan tautan bibirnya "jangan pergi... jangan pergi tinggalkan aku lagi.." ucap Dina dengan linangan air mata.
Ia benar-benar tulus mengatakannya. Ia telah jatuh hati pada suami silumannya. Bromo menatap sendu pada Istri kecilnya.
Ia menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya dengan lembut.
"apakah saat ini aku boleh menyentuhmu..?" ucap Bromo dengan nada yang begitu sangat lembut.
Dina menganggukkan kepalanya, pertanda menyetujuinya.
Bromo telah berhasil menjebak Dina dalam perangkap asmaranya. meski sebenarnya Ia telah mencuri percintaan diceruk goa tadi. hal itu ternyata yang membuat Dina candu, meskipun Ia tak melihat wajah Bromo, namun Ia tau jika itu adalah Bromo.
"apakah kamu sudah ikhlas menerimaku..?" ucap Bromo untuk mendengar Jawaban langsung dari Dina. karena Ia ingin Dina yang mengucapkan dari bibirnya.
Dina menghambur kepelukannya, "aku mencintaimu.. tulus dari hatiku.." ucap Dina sembari membenamkan wajahnya didada kekar milik Bromo.
"apakah kamu tidak malu atau takut dengan wujudku yang seperti ini..?" tanya Bromo dengan tenang dan penuh kelembutan.
Dina menggelengkan kepalanya. "aku tidak perduli dengan wujudmu yang seperti apa.. yang aku tau aku hanya memcintaimu." ucap Dina lirih dan tulus dati hatinya.
mendapatkan jawaban langsung dari mulut Dina, Bromo membelai lembut rambut Dina. hatinya kini lega. lalu Ia memegang dagu Dina dan mengangkatnya sedikit keatas. Ia memagut bibir itu dengan sangat lembut dan penuh ketulusan cinta.
seketika ekornya menghilang, Ia berubah wujud layaknya manusia normal dengan kedua kaki layaknya manusia. tentunya tanpa oplas, ekor itu langsung menghilang.
Dina terperangah, melepaskan tautan bibirnya. Ia meraba kedua kaki Bromo dengan bingung.
"ini.. beneran kaki kamu.." ucap Dina dengan nada kebingungan.
Bromo menganggukkan kepalanya, membelai lembut rambut Dina yang tergerai. "aku sengaja menyembunyikan ini darimu. aku sengaja tidak menunjukkan ini padamu sebelumnya.."
"aku ingin melihat seberapa tulus kamu mencintaiku dengan wujudku yang setengah buaya."
"setelah aku yakin, kamu mencintaiku dengan tulus tanpa melihat seperti apa wujudku, maka kamu berhak melihatnya." ucap Bromo dengan lembut dan tenang.
"Benarkah.." ucap Dina lirih.. memandang wajah suaminya yang kini dalam wujud manusia normal.
Bromo membalas ucapan Dina dengan sentuhan lembut dan memabukkan.
mereka melakukan percintaan yang sangat manis dan indah. mereka terbuai dalam hasrat cinta yang terpendam.
dan para pembaca yang budiman, diharapkan tidak terlalu menghayati adegan dewasa ini. karena dapat menyebabkan kejang-kejang mual-mual dan pusing kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Susi Akbarini
😀😀😀❤❤❤😡
2024-07-06
1
Elminar Varida
iiiissh...author suka bener dech...🤣🤣🤣
2023-04-29
2
Hielmeera🍒⃞⃟🦅
ngeri bnget bah.
2023-01-04
0