Dina menggeliatkan tubuhnya. meleksasikan tubuhnya yang yang terasa penat setelah bangun tidur.
Ia melirik sisi kirinya. Ia tak mendapati Bromo disisinya. Dina mengusap wajahnya dengan kasar. "marah kenapa sampai selama ini ya..?" Dina berguman lirih.
Dina beranjak dari peraduannya, lalu menuju ceruk untuk membersihkan dirinya.
Dina berjalan menyusuri hutan. Arini mengikutinya dari belakang. kelinci itu sebagai pelipur laranya dikala dalam kesendirian.
Dina mencari jamur hutan, Ia berniat untuk menumisnya. semasa dengan orangtuanya Dina selalu menyukai menu yang satu ini.
Dina menemukan jamur yang berwarna putih pipih yang tersebar di batang pohon yang telah mati. Ia bersemangat memetiknya.
saat ini, Ia mendengar suara cicitan seekor burung. Dina menajamkan pendengarannya. Dina menghentikan kegiatannya. Ia mencari sumber suara burung tersebut.
Dina menyibakkan semak belukar. Ia menemukan seekor burung perkutut yang sedang terluka.
tubuh burung itu sepertinya terkena cakaran hewan buas. namun burung itu berhasil menghindar menyelamatkan dirinya.
Dina menghampirinya, berjongkok disisi burumg tersebut. mata hewan itu menatap menghiba pada Dina. seolah mengharapkan belas kasih kepada Dina untuk menolongnya.
Dina meraih hewan mungil yang lemah tersebut. sayapnya patah karena terluka. darah mengalir dari luka tersebut. tampak tulang sayap itu menyembul dari bagian sayapnya yang terluka.
Dina menaruh iba. Ia mengambil ranting kayu kecil, merobek sedikit kain bajunya. lalu membalut luka tersebut. "semoga lukamu segera sembuh." tanpa sadar Dina berucap dengan tulus.
tiba-tiba saja, burung itu bangkit, lalu ingin mengepakkan sayapnya. Dina memandang heran. burung itu mengerjapkan matanya, mengibaskan sayapnya yang terluka. seolah meminta Dina membuka balutannnya.
"kamu mau aku membukanya..?" ucap Dina kepada burung mungil itu.
Burung itu kembali mengerjapkan matanya. Djna penasaran, lalu membuka balutan diluka sayap burung itu. "hah.." Dina terperangah. luka itu sudah sembuh, tanpa ada sedikitpun goresan.
"mengapa bisa seperti ini..?" ucapnya dengan kebingungan.
burung itu mengepak-ngepakkan sayapnya. lalu terbang berputar-putar diudara. Ia mendaratkan kakinya dipundak Dina. Ia mengusapkan kepalanya dileher Dina, seolah-olah mengucapkan terimakasih karena Dina telah menolongnya.
"kamu boleh pergi. " ucap Dina sembari tersenyum.
burung itu mengerjapkan matanya, lalu terbang pergi meninggalkan Dina.
---------‐-----
Dina telah mengumpulkan banyak jamur, Ia berniat hendak pulang.
Ia melewati jalanan setapak yang biasa Ia lalui.
sayup-sayup Ia mendengar suara seseorang sedang merintih. Ia menanamkan pendengarannya, mencari sumber suara dengan berjalan mengendap-endap.
saat Ia sampai disebatang pohon apel yang berdaun rindang, serta lebat buahnya . Setalah melihat dengan jelas, Ia melihat seorang pria tua yang terkena perangkap hewan.
Ia merintih menahan sakit, karena kakinya terkena ranjau besi. darah mengalir dengan deras. Dina segera menghampiri pria tua tersebut.
Dengan sigap Ia melepaskan ranjau yang menjepit kaki pria tersebut.
Pria menatap tertegun. Ia bingung, mengapa ada seorang wanita muda yang cantik ditengah hutan belantara seperti ini. "dia manusia atau jin ya..?" pria tua tersebut berguman dalam hatinya. rasa sakit terkena ranjau tak lagi dirasakannya, yang kini adalah rasa takut karena kemunculan Dina
Ia merasa sangat mustahil ada penduduk diatas bukit ini yang bermukim. dimana bukit ini memiliki ketinggian mencapai 400 meter. bahkan bukit ini belum terjamah manusia.
saat pria itu sibuk dengan fikirannya, Dina mencari dedaunan senduduk, mengunyah daun itu hingga *****. lalu menempelkannya pada luka pria tersebut untuk menghentikan pendarahannya.
melihat semua yang dilakukan oleh Dina, kini pria itu yakin jika Dina adalah Manusia.
tanpa sengaja Dina berucap kembali.."semoga luka bapak segera sembuh." dan tiba-tiba saja, luka itu sembuh seketika. "hah.." Dina dan pria itu terperangah. sama-sama merasa heran.
pria tua itu berfirasat, jika wanita dihadapannya bukanlah sembarangan.
disisi lain, Dina merasa bingung dengan apa yang sedang dialaminya hari ini.
pertama Ia melihat burung yang terluka parah dan patah sayapnya, hanya mengucapkan kata 'semoga sembuh' dan luka itu langsung sembuh.
kini, pria tua itu juga mengalami hal yang sama. hanya dengan mengatakan 'kata sembuh' luka itu langsung sembuh.
"ada apa denganku..? mengapa yang kuucapkan menjadi kenyataan..?" Dina kebingungan.
pria tua itu bangkit. kini Ia tak lagi merasakan rasa sakit sedikitpun. "terimakasih nak.. kamu sudah menolongku.." ucapnya tulus.
Dina mengangguk, dengan tersenyum ramah.
"kalau boleh tau, ananda ini siapa dan tinggal dimana..?" ucapnya sopan.
Dina merasa ragu, Ia takut jika memberikan informasi tempat tinggalnya, akan membuatnya dalam bahaya. apalagi Ia tinggal sendirian didalam goa. "bapak tidak perlu tau mencari siapa saya, yang penting bapak sudah sembuh, itu sudah lebih dari cukup." ucap Dina dengan sahaja.
kata-kata Dina terdengar seperti maghnet. membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi tertarik, tanpa bantahan.
"baiklah.. kalau begitu saya permisi dulu. terimakasih atas bantuan yang ananda berikan .." ucapnya sembari beranjak pergi.
"pak..tunggu dulu.." ucap Dina mencoba mencegah langkah pria tersebut.
pria itu menoleh kearah Dina. "ya..ada yang bisa saya lakukan..?" ucap Pria itu sopan.
"emmm..jangan katakan pada siapapun jika kita pernah bertemu" ucap Dina dengan nada memohon.
Pria tua itu mengangguk, menyetujui. lalu Ia beranjak pergi, dengan mengambil dua ekor hewan hasil buruannya.
Ia berhenti sejenak, lalu menoleh kembali kepada Dina "kamu mau satu..?" ucapnya menawarkan seekor rusa berukuran kecil.
Dina mengangguk, lalu menghampirinya dan meraih seekor rusa kecil yang sudah disembelih.
"terimakasih ya pak..?" ucapnya dengan senyum sumringah.
pria tua itu tersenyum tulus. lalu menenteng hasil buruannya, menuruni bukit terjal yang tak terjamah tangan manusia.
sepanjang perjalanannya, Ia masih memikirkan gadis yang ditemuinya. "Ia dari bangsa manusia, tetapi mengapa segala yang diucapkannya dapat terwujud. sepertinya ada karomah yang didapat wanita muda itu. atau bisa jadi Ia telah menikah dengan bangsa jin" gumannya dengan lirih.
----------
Dina sangat senang hatinya. Ia akan mengolah daging rusa hari ini. Ia akan membakarnya. daging rusa muda tentu sangat manis dan empuk. sisanya akan Ia rebus, untuk persediaan esok.
Dina dengan mudahnya menyelesaikan segala pekerjaannya. Setelah percintaannya dengan Bromo, Ia merasakan hal-hal yang diluar nalar.
Ia dapat melihat sesuatu yang jauh dari pandangannya. Ia mampu menembus alam dimesin lain.
Ia juga dapat menyembuhkan seseorang yang sedang terluka hanya dengan ucapan dan air liurnya laksana obat yang mujarab.
bahkan Bromo menginjinkannya berinteraksi dengan manusia dan makhluk lainnya.
Bromo tidak lagi memberi perisai ghaib yang menghalangi pandangan manusia normal terhadapnya.
bahkan Bromo memberikan kebebasan kepada Dina, jika untuk memilih kembali kepada orangtuanya. namun keteguhan cintanya terhadap Bromo membuatnya untuk bertahan, dan memilih hidup menyendiri ditengah hutan belantara.
Ia menunggu sampai Bromo kembali memaafkannya, dan kembali kedalam pelukannya. "kembalilah..aku merindukanmu.." Dina berguman lirih, dalam kesendiriannya. hanya seeokor kelinci yang menjadi teman pelipur laranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Anna Malik
jadi Dina dari goa hunta judulnya ☺️☺️☺️
2022-12-15
1
Anna Malik
kebayang lucu memelasnya
2022-12-15
1
Anna Malik
typomu bikin aku ngeLag kak bil...
2022-12-15
1