Setelah mendapatkan teman baru si Arini kelinci nan imut. Dina mulai pasrah akan nasibnya yang tak dapat kembali ke alam nyata.
Dina menghabiskan waktunya hanya dengan bermain bersama Arini.
"sebaiknya aku beri kamu nama ya..?" Dina berfikir untuk memberi nama pada kelinci itu.
"apa ya, yang cocok buat kelinci seimut kamu..?" ucap Dina memandang gemas pada Arini.
"kalau aku beri kamu nama Mumu bagus gak..?" Dina bertanya pada kelinci itu.
Arini mengerjapkan matanya, pertanda setuju.
"mulai sekarang aku panggil kamu mumu.." ucap Dina sembari mengangkat Arini kepelukannya.
Dina mulai merasa bosan didalam kamar. meski memiliki fasilitas yang mewah, namun Ia merasa jenuh.
"Mu..kita keluar yuk..? jalan-jalan ditaman..?" ucap Dina kepada Arini.
kelinci imut itu mengerjapkan matanya. Dina berdandan seadanya. mengenakan gaun yang tersedia dikamarnya. seluruh pakaiannya tersedia dalam bentuk gaun kerajaan.
Dina memilih satu gaun berwarna pink peach. menggeraikan rambutnya, dan menyelipkan jepit rambut disisi kirinya kepala bagian depan.
udah cantiklah visual si Dina ini ya kan..?
Dina dan Mumu keluar Istana. mereka menysuri taman, hingga tanpa terasa mereka memasuki hutan. hutan itu banyak ditumbuhi tumbuhan perdu dan
Dina dan Arini telah sampai di taman. Tanpa sadar mereka telah memasuki batas wilayah taman kerajaan. Keindahan alam yang berpadu dengan bukit bertebing batuan cadas, membuat mata tak jemu untuk menikmatinya.
Dina dan Arini asyik bermain. Lalu ia mendengar suara desingan benda melesat [wuuuuuuusssh..] Dina melihat sebuah anak panah melesat diudara.
Dina merasa penasaran dari mana asal sumber anak panah itu.
Ia berjalan mengendap- endap untuk mencoba menjadi pengintai. Dina menyibakkan semak dengan lembut, agar tidak ketahuan oleh seseorang yang sedang di intainya.
Ia terperangah, karena sosok yang melepaskan anak panah tersebut adalah Bromo yang sedang berburu seekor rusa. Seekor rusa berukuran besar telah berhasil terkena anak panahnya.
Lalu targetnya kali ini Ialah seekor babi hutan yang sedang asyik mencuri makanan dari kebun warga.
Dina tanpa sadar terpana saat melihat Bromo menarik anak panah pada busurnya. Matanya tak lepas memandangi Bromo yang terlihat sangat tampan, teduh, tenang dan bersahaja.
Bromo membidikkan anak panah pada babi hutan tersebut. Menarik tali busurnya, dan Saat yang tepat, Ia melepaskan anak panah, tepat mengenai perut sang babi hutan. Lalu babi itu mati seketika.,
Dina mengaguminya dan berdecak kagum. "Ternyata Dia tampan juga ya..? Dan jago memanah. Tapi sayang, Dia berekor." Ucap Dina dengan lirih.
Lalu Ia mengerjapkan matanya, dan menggelengkan kepalanya. "Tidak..tidak..aku tidak boleh mengaguminya."
"Masa Iya aku kagum dengan seekor siluman..? Ini tidak boleh terjadi" Dina berguman lirih.
Bromo yang telah berhasil mengumpulkan seekor rusa dan seekor babi. Meletakkan hasik buruannya di datas bebatuan.
Ia bergerak meliuk-liukkan ekornya, berjalan ke kolam kecil yang memiliki pancuran air dari sebilah bambu. Kolam itu juga biasanya digunakan oleh penduduk yang berkebun diatas bukit untuk mengambil air minum dan mandi.
Bromo tidak pernah mengganggu bangsa manusia yang mengambil air dikolam itu. baginya, selama manusia tidak mengusiknya, maka Ia juga tidak akan mengusik mereka.
Bromo membenamkan pinggangnya yang berwujud setengah buaya, kini hanya tampak wujud setengah manusianya saja. Ia menikmati air yang memancur dari bilah bambu tersebut.
Bromo menanggalkan mahkota dikepalanya. Lalu meletakkannya di sisi tempat Ia membenamkan separuh tubuhnya.
Wajah tampannya basah terkena air yang mengalir, rambutnya yang panjang tergerai begitu saja.
Ia menengadahkan kepalanya keatas, menampilkan lehernya yang berdiri dengan kokoh. Ia melakukan gerakan menyapu rambutanya dari bagian kening hingga belakang.memamerkan dada kekar dan otot-otot tubuh yang menyembul, gerakan itu begitu exotis, membuatnya terlihat semakin gagah.
Dari kejauhan, Dina yang masih mengintai, Diam terpaku menatap pemandangan dihadapannya. "Mengapa aku gak sadar sih..? Kalau dia ternyata setampan itu." Dina berguman lirih, sembari menelah salivanya.
Tanpa sengaja, Dina menginjak sebatang ranting yang kering. [Kreeeeek..] suara ranting patah.
Dina merasa kaget dan menutup mulutnya.
Bromo yang mendengar suara tersebut, bergegas mengenakan mahkotanya kembali, mengambil busur dan melesat kearah sumber suara, sembari memasang anak panah dibusurnya, yang siap dilepaskan untuk sang pengintai.
Dina yang melihat Bromo bersiap dengan busurnya terpekik "aaaaaagggghhhh…" dan menutup matanya. Mungkin Ia pasrah jika harus terkena anak panah tersebut.
Sesampainya di tempat sang pengintai. Bromo menurukan busurnya. Lalu menyimpan anak panah kedalam sarung yang diletakkan dipunggung belakangnya.
Bromo menarik nafasnya dengan berat.
" kau…rupanya?!"
"Apa yang kau lakukan disini..?" Ucap Bromo dengan tenang, sembari tersenyum teduh.
"Bukan urusanmu..!!" Ucap Dina kesal.
Bromo menatap Dina dengan lembut.. "apakah kini kau sudah menjadi seorang pengintai..?" Ucap Bromo menatap Dina dengan tatapan dingin.
Dina yang ditatap seperti itu menjadi kikuk.."aku hanya kebetulan lewat.." ucap Dina kikuk.
Bromo tersenyum mendengar jawaban Dina.."kebetulan lewatkah..? Atau sengaja mengintipku mandi..?" Ucap Bromo menggoda Dina, yang mana wajah gadis itu kini bersemu merah menahan malu.
Dina membulatkan matanya dan merapatkan giginya."a.aapa..? Aku mengintipmu mandi..? Kau..!!" Ucap Dina geram sembari menaikkan tangannya keatas dengan gerakan hendak memukul.
Namun Ia menurunkan tangannya kembali dengan kasar. Ia ingin beranjak pergi.
"mau kemana kamu..?" Ucap Bromo dengan lembut namun penuh penekan disetiap katanya.
"Bukan urusanmu..!!" Jawab Dina kesal, sembari memutar tubuhnya untuk pergi.
"Tunggu…!" Bromo dengan sigap mencekal lengan Dina, sehingga Dina tak mampu menyimbangkan tubuhnya dan limbung kekanan.
"Aaawww.." teriak Dina saat tubuhnya limbung.
Dengan gerakan cepat, Bromo menangkap tubuh Dina yang hampir saja menyentuh tanah.
Tatapan mata mereka beradu. Dina merasakan degup jantungnya berpacu lebih cepat, saat sorot mata teduh Bromo bertemu dengan matanya. Dina memandang dengan terpana.
Bromo menarik tubuh Dina untuk berdiri, lalu mengambil kesempatan untuk memeluknya.
Dina meronta melepaskan diri. Bromo melepaskannya sembari tersenyum manis.
Bromo tidak mengerti dengan sikap anak manusia ini. Terkadang membuatnya gemas, namun semua sikap juteknya telah menawan hatinya.
Arini yang menyaksikan adegan tersebut, tersenyum-senyum sendiri.. seperti orang yang lagi baca saat ini.
Dina mendorong tubuh Bromo hingga satu langkah. Ia menatap Bromo dengan tatapan kesal. Lalu berlari meninggalkan Bromo yang diikuti oleh Arini.
Arini berlari sembari menoleh kearah Bromo, dengan kode 'Aku menjaganya' . Lalu Bromo mengerjapkan matanya. Ia memandangi punggung Dina yang terus berlari.
****
Dina terengah-engah.. antara lelah berlari dan degup jantungnya yang berpacu lebil kencang, karena tatapan mata Bromo barusan. Ia seperti tersihir sesuatu.
Ia mencoba menenangkan degupannya. Dina duduk disebuah batu berukuran sangat besar, dibawah pohon rindang.
Arini mengikuinya, duduk disebelah Dina.
"Mengapa jantungku seperti ini. Apa sebenarnya yang aku rasakan..?" Dina berguman dalam hatinya.
Wajah tampan Bromo dan tatapan mata teduh itu, telah mengusik hatinya.
"Sebenarnya Ia baik..tapi sayang.. mengapa Ia harus berekor sih..?" Ucap Dina menggerutu.
Saat Dina sedang berkhayal, Mata Arini tertuju pada sebuah pemandangan yang menarik hatinya. Ada perkebunan sayur. Ia tanpa sadar berlari menuju kearah kebun sayur yang banyak ditumbuhi kangkung dan wortel.
Arini mengambil sebatang wortel dan melahabnya.
Dari balik semak, sepasang mata memperhatikannya, seekor singa betina sedang menatapnya dengan lapar.
Meskipun Dina diberi perisai ghaib, agar tidak terlihat oleh pandangan manusia, namu tidak untuk hewan berjenis Anjjng, kucing dan unggas. Hewan ini diberi kelebihan dapat melihat makhkuk astral.
Singa yang merupakan jenis kucing, melihat Dina yang sedang duduk sendirian. Ia berjalan mengendap mendekati Dina yang sedang melamun.
[Grrrrrrhhh..] singa betina itu merasa mendapatkan mangsanya.
Dina menoleh kearah sumber geraman. Ia tersentak, lalu turun dari atas batu, Ia mencari keberadaan Arini, namun tak menemukannya. Singa itu semakin mendekat. Dina berjalan mundur, lalu berlari menyelamatkan dirinya.
Singa itu ikut mengejar Dina, Ia semakin bersemangat melihat buruannya. Dina mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyelamatkan diri.
Dihatinya masih memikirkan Arini. "Dimana Mumu.." ucapnya sembari berlari kencang.
Ditempat lain, Arini masih asyik dengan wortelnya. Ia menggigit wortel itu dengan sangat lahabnya. Ia belum menyadari jika Dina sudah tidak berada ditempatnya.
Dina semakin kencang berlari, hingga akhirnya tanpa sengaja Ia menubruk seseorang, dan berteriak."aaaaaagghhhhh"
Setelah melihat orang yang ditubruknya adalah Bromo, Ia memeluk Bromo dengan kuat sembari menutup matanya. Membenamkan wajahnya didada kekar milik Bromo, berharap Bromo menyelamatkannya dari serangan singa betina.
Melihat sang pujaan hatinya dalam bahaya, Bromo mengambli busur dan anak panah. Ia membidik dan menarik anak panah panah pada tali dawainya, menatap lurus kearah Singa betina yang sedang berlari kencang kearahnya.
Saat singa itu melompat hendak menerkam Dina, Bromo melepaskan anak panahnya..[ssssssstttt.wuuusssh.] suara desingan anak panah yang melesat diudara, tepat mengenai kepala singa betina yang sedang melompat hendak menerkam.
Singa itu terpental, jatuh ketanah, lalu mati seketika. Terkena sebuah anak panah ghaib.
Dina yang menyadari singa itu telah tewas, melepaskan pelukannya dari Bromo, lalu mundur dua langkah.
"Terimakasih.." ucapnya lirih dengan tulus.
Bromo yang mendengar ucapan Dina merasa sangat berbunga hatinya. Kata yang tak pernah Ia dapatkan sejak pertama pertemuannya dengan gadis itu.
Bromo tersenyum sarkas.
Dari kejauhan, tampak Arini yang berlari kencang menuju kearah mereka.
Ia datang dengan wajah pucat ketakutan karena merasa bersalah telah lalai menjaga Dina.
Bromo menatapnya dengan tajam dan sorot mata penuh amarah kepadanya.
Dina yang melihat Arini berlari kearahnya, segera merentangkan tangannya, menyambut Arini si kelinci imut dan berteriak "Mumu…" dengan perasaan senang.
Arini telah sampai didekapannya.. "kamu kemana saja. Mumu.? Aku khawatir akan kamu" cecar Dina dengan nada penuh kekhawatiran.
Dina menciumi Arini sikelinci imut. Membuat amarah Bromo, mereda.
"Jika bukan karena Dina yang menyayangimu, aku pastikan sudah membuangmu ke sumur pati." Gerutu Bromo dengan nada amarah, melalui percakan ghaib. sembari menatap tajam pada Arini
"Ampuni hamba Kanda Prabu..hamba tidak akan memgulanginya lagi." Jawab Arini melalui percakan ghaib mereka. dengan nada ketakutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Hielmeera🍒⃞⃟🦅
satu 🌹 untuk kakak yang sudah memberi inspirasi
2022-12-24
3
Hielmeera🍒⃞⃟🦅
cusssss.. sat dah. mantap kali panahan kang bromo
2022-12-24
3
maharastra
wuuusshhh,ciamik,kerenn😱
2022-12-16
2