"Maafin kelakuan Dirga Nit!"
"Gue bener bener bakal laporin dia kalau sampe ganggu lo lagi Ce. Gue serius!" Tegas Nita, memperlihatkan wajah serius miliknya, dengan sorot mata menajam.
"Udah yuk, abis ini gue harus ke bank. Gue mau blokir kartu gue dan lain lain, Dirga pasti bakal gunakan kartu kredit punya gue, gue gak bakal ngebiarin dia ambil semua duit gue."
"Tapi dia gak tahu pin kartu bank lo kan? Bahaya anjim kalau dia tahu, ayo pergi sekarang aja."
Cecilia menggeleng, "Dia gak tahu pin gue Nit, tapi semua kartu kredit gue aktif dan itu bisa nguras semua tabungan gue anjim!"
Cecilia masuk ke dalam kamar dan mengambil tas selempang miliknya, dia tidak ingin kehilangan semua uangnya yang dia hasilkan dengan susah payah menipu pria pria hidung belang.
"Jangan sampe penipu kena tipu Ce! Lo bakal diketawain semua orang kalau tahu!" cibir Nita yang ikut mausuk kedalam kamar dan mengambil tas miliknya.
"Sialan lo nyindir gue mulu!"
Nita terkekeh, "Habisnya lo bego sih! Terus kalau kita pergi sekarang, itu kepala lo gimana?"
"Gue gak apa apa, gue bisa nahan sakit pala gue, dari pada kehilangan semua duit gue, urusan mobil dan yang lainnya bisa gue urus nanti." ujar Cecilia.
Mereka akhirnya keluar dari apartemen, Cecilia menggunakan kaca mata hitam dan topi hitam bermerek Dior. Mereka masuk ke dalam lift yang terbuka dan mengabaikan tatapan orang orang yang penasaran pada mereka.
"Semoga gue gak ketemu Dokter Irsan ya Nit! Kalau enggak gue pasti bakal malu banget, apalagi dia udah tahu wajah gue tanpa make up."
"Elah! Yang gitu aja gercep otak lo! Giliran di tipu Si benalu, lo banyak mikir. Heran gue!"
Cecilia terkekeh, dia menarik ujung topi hingga hampir menutupi kedua matanya, "Kan itu beda kasus Nita!"
Ting
Pintu lift terbuka, keduanya langsung bergerak pergi, mereka berdua menuju milik Nita.
"Semoga duit lo gak raib Ce!" ujar Nita dengan terkekeh.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang ke bank dimana semua uang pemberian Reno di simpan, beruntung karena Cecilia selalu mengambil uang cash secukupnya saja untuk berjaga jaga, dan semua uang cash sudah diambil Dirga.
Mereka sampai di depan bank, Cecilia keluar lebih dulu sedangkan Nita harus mencari tempat parkir agar bisa menyimpannya mobilnya lebih dulu. Mereka juga tidak tahu jika Dirga mengikutinya sejak tadi.
Cecilia berjalan menaiki tiga anak tangga di depan pintu masuk, namun dia merasa tersentak kaget saat lengannya di tarik paksa oleh Dirga dari belakang, sorot matanya merah seperti orang mabuk dengan bau alkohol yang menyeruak dari mulutnya.
"Gue tahu lo pasti bakal kesini! Gue antar masuk dan ambil uang. Hem?"
Cecilia menepiskan tangan Dirga dengan kasar, namun justru tangan itu semakin kuat mencengkram, "Jangan gila lo! Lepasin gue. Lo udah ambil mobil dan uang gue, terus sekarang lo dengan gak tahu dirinya masih pengen duit gue. Sinting lo Dirga."
"Gue gak peduli! Kalau lo mau gue pergi, kasih gue duit lo. Gue gak bakal ganggu hidup lo lagi."
"Enak banget hidup lo, dasar gak punya otak! Udah lepasin gue! Gue gak sudi, lo boleh ambil mobil gue itu, tapi jangan harap gue bakal kasih apa yang lo minta."
"Lo bisa kasih apa aja yang gue minta Cecil atau...." ucapannya terjeda
"Atau apa?"
Suara bariton dari arah belakang Cecilia terdengar, Irsan keluar dari pintu bank dan berdiri disamping Cecilia, setelah beberapa menit hanya berdiri di balik pintu dan mendengarkan percakapan mereka.
"Kau akan melakukan apa padanya?"
Dirga menatapnya tajam, dia tidak mengenal pria bertubuh tegap itu sama sekali,
"Gak usah ikut campur!"
"Kenapa? Kau takut aku lapor polisi atas tuduhan penganiayaan atau ancaman kekerasan atau bisa juga tuduhan pencurian, dia dengan senang hati memberikanmu mobil. Harusnya kau tahu diri." tukas Irsan dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Siapa dia? Apa dia salah satu pria tua yang suka membayarmu sebagai teman kencan. Iya? Jawab aku Cecil." Dirga menghentak cengkramannya.
"Aw!! Dirga, sakit!"
"Jawab! Apa benar apa yang aku katakan?"
"Kenapa kau ingin sekali tahu siapa aku?" tanya Irsan menepiskan tangan Dirga yang mencengkram lengan Cecilia. "Siapapun aku itu tidak penting, yang jelas sikapmu sudah keterlaluan bung!" ujarnya lagi dengan memintirkan tangan Dirga hingga dia meringis kesakitan. "Pergilah sebelum aku memanggil polisi, kau seperti pemakai narkoba. Benar begitu?"
Dirga tentu saja tersentak, yang tahu dia memakai narkoba hanya Cecilia dan satu teman yang menjadi pemasoknya saja, dia pun menatap ke arah Cecilia dengan tajam.
"Gue gak akan lepasin lo!"
Dirga berlalu pergi, masuk kedalam mobil dan menghilang, Irsan menoleh ke arah Cecilia dan luka lukanya yang masih diperban.
"Kenapa kau sudah berkeliaran begini! Bukankah harusnya kau istirahat saja di rumah sampai benar benar pulih!"
"Ak--aku harus kesini untuk mengurus kartu debitku yang dibawa Dirga. Om!"
"Oh ...!" Irsan hanya beroh ria, tak lama dia melangkah keluar dan meninggalkannya.
Cecilia mengejarnya, dia bahkan belum mengatakan terima kasih, karena Irsan mengobati luka lukanya.
"Tunggu!"
Irsan kembali menoleh, namun Cecilia justru tersandung dan menabrak tubuh Irsan, Pria itu berhasil menangkap kedua pundaknya agar Cecilia tidak terjatuh.
"Ceroboh sekali!"
"Maaf ... Tapi aku lupa bilang makasih karena Om udah obatin a---"
"Tidak perlu, itu sudah tugasku sebagai dokter! Beristirahatnya dan jangan memaksa dirimu sendiri. Permisi."
Irsan melangkah pergi, meninggalkan Cecilia yang bahkan belum selesai bicara. Dia masuk kedalam mobil dan melaju begitu saja, tidak lagi menoleh ke arahnya walau Cecilia menghitungnya seperti di film film dan berharap Irsan kembali menoleh.
"Sialan, lempeng banget kayak tiang listrik." umpat Cecilia.
Tak lama Nita datang dengan nafas terengah engah, mencari lahan parkir untuk mobilnya dan menemukannya di paling ujung.
"Apaan Ce?" sengalnya dengan memegangi pinggangnya, dia hanya melihat mobil yang di kemudikan oleh Irsan yang berlalu pergi.
"Noh! Tiang listrik, padahal gue cuma mau bilang makasih. Eeh dia lempeng aja ... Cuma bilang tidak usah! Ngeselin banget." Cecilia menjadi uring uringan, dia tidak berhenti menatap mobil Irsan walau semakin menjauh dari pandangannya.
"Siapa?"
"Dokter Irsan?"
Cecilia mengangguk, yang sedari tadi dia umpat itu lah Irsan, Nita terkekeh melihat wajah kesal sahabatnya itu.
"Kenapa kesel? Bukan nya dia jodoh lo?"
Cecilia mendengus kasar dia menarik tangan Nita dan memasuki bank.
"Udah deh! Lo jangan nyinyir. Gue harus mikir seribu kali lagi, dan kayaknya lo bener. Dia itu tife setia sama wanita."
"Kan gue bilang apa!"
Cecilia mengambil nomor antrian dan duduk di kursi alumunium yang ada di tengah tengah ruangan, "Tapi gue yakin, gue bisa bikin dia luluh."
Nita berdecak dan ikut menghempaskan tubuhnya di samping Cecilia. "Lo tuh gimana sih! Gak jelas banget."
"Gue pasti bisa naklukin si tiang listrik."
.
Haduh ucapanmu bikin author mengakak plus plus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
Grisella
Mantap cok. Org macam Dirga it harus di sadarkan dari urat malunya yg putus
2023-04-24
0
sri purwati Wati
tiang listrik jg tiang jaler (laki2)
2023-02-16
0
∆_•MiMih•_∆
ya Elah... tiang listrik 🤣🤣🤣
2022-12-25
1