Cecilia kembali menangis histeris, dia bahkan menghampiri Security yang hendak ke ruangan CCTV. Akting menangisnya sangat bagus dan membuat pria yang bahkan tidak mengenalnya pun berdecak kesal.
"Pak ... aku mohon! Aku tidak sanggup melihat rekaman itu. Aku trauma, aku takut ...! Tolong Pak ..." Sekilas Cecilia melirik nama yang terpasang di baju seragam security itu. "Pak Dika. Tolong ak--Aku ... Aku hanya ingin tinggal dengan aman di sini. Aku bukan penghuni baru, dan aku baru melihatnya hari ini. ak--- aku takut sekali Pak. Please Pak, aku tidak mau melihatnya lagi."
"Cih!! Kau tidak ingin melihatnya karena kau takut ketahuan kalau kau berbohong kan?"
"Pak Dika ... Lihat kan? Dia ... Dia menyerang psikis ku Pak! Mau memutar balikan fakta. Padahal ... Jelas jelas aku ini korban." Cecilia lunglai ke lantai, menutupi wajahnya yang merah dan berair mata. "Kenapa wanita korban pelecehan selalu tidak berani speak up. Itu karena ancaman, dan kalian para pria, masih menyerang psikis korban." ujarnya dengan menangis tergugu dengan bahu yang semakin bergetar.
Security itu hanya menghela nafas, dia menatap pria yang duduk dengan tenang di sofa. Pria itu mengangguk, lalu securty pun kembali menutup pintu ruangan CCTV.
"Baiklah Nona, karena rasa kemanusianku yang amat tinggi, kita tidak perlu melihat CCTV." seru pria itu bersandar pada sandaraan sofa. "Tapi sebagai gantinya, aku akan memanggil polisi kemari, kalau perlu dokter kejiwaan untuk memeriksa psikismu." ucapnya lagi.
Lamat lamat Cecilia menegakkan kepalanya, dia menoleh pada pria yang kini tersenyum jahat padanya. "Kau fikir aku gila?"
"Kau bilang aku menyerang psikis mu Nona? Jadi aku akan bertanggung jawab penuh, kalau terbukti aku menyerang dan melakukan pelecehan denganmu, aku akan membayar ganti rugi. Apa harus aku menikahimu?"
Sialan jalaang kecil ini, dia yang merugikanku. Aku harus menanggung malu untuk hal yang tidak pernah aku lakukan.
Securty itu memapah Cecilia ke sofa, dan memberinya segelas air putih. "Karena tuan Irsan sudah bersedia bertanggung jawab, kita bisa menyelesaikannya secara kekeluargaan."
Irsan ... Jadi namanya Irsan. Gue harus lakuin hal memalukan ini hanya untuk tahu nama nya? Sial banget lo Ce, mampus lo kalau polisi sampe periksa lo.
Cecilia terdiam dengan ibu jari sesekali menyapu air mata palsu yang dengan mudah dia keluarkan. Irsan tidak melepas tatapannya sedikitpun darinya, bahkan hanya untuk setiap helaan nafasnya.
"Bagaimana? Mereka akan datang sebentar lagi, jadi kau tenangkan diri saja dulu di sini."
"Aku takut!!" Cecilia kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia kembali menangis, walau kali ini tangisannya lebih lembut dari sebelumnya.
Irsan menghembuskan nafasnya berat, situasi ibi benar benar merugikannya, meetingnya terlambat hanya gara gara gadis setengah gila yang sedang di pengaruhi alkohol.
Dia pun beranjak dari sofa, "Pergilah sekarang atau aku berubah fikiran!"
Cecilia kembali membuka kedua tangan yang menangkup wajahnya penuh, dia melihat ke arah Irsan lalu mengulum senyuman.
"Terima kasih! Aku pasti akan membalas kebaikan anda tuan Irsan." ujarnya dengan nada yang mendayu.
Dengan bergegas dia keluar dari kantor managemen apartemen.
Brukk
Tanpa sengaja dia menabrak Dirga yang sedari tadi mencarinya. Keduanya terhenyak namun tidak lama karena Cecilia segera menarik tangan Dirga dan membawanya pergi.
"Ada apa Ce? Lo kenapa keluar dari kantor management?"
"Cepet Dirga! Kita pergi dulu, nanti aja gue ceritanya." ujarnya terus menarik tangan pacarnya itu.
Gadis berumur 20 tahun itu memasuki lift, begitu juga dengan Dirga sementara Irsan menghela nafas entah untuk keseberapa kalinya.
"Nona itu tinggal di unit G lantai lima bersama pacarnya, dia memang kerap pulang dalam keadaan mabuk. Menurut informasi data, dia masih mahasiswa namun mampu membayar biaya IPL di sini."
"Iuran pengelolaan lingkungan?"
Securty itu mengangguk, "Tanpa tunggakan dan selalu dibayar di muka. Bahkan dengan tips besar."
"Menarik! Dia memang jalaang. Awasi selalu dia Pak."
"Baik ...!"
Irsan keluar dari dari kantor managemen, dia menarik satu bibirnya ke atas. "Kau salah target nona Jalaang."
.
"Gila lo Ce! Lo sampai ngelakuin hal gila ini hanya untuk pria yang cuma ngatain lo cacat mental? Lo emang sakit!"
Cecilia mengerdikkan bahu, "Dia yang mulai peperangan!"
"Tapi lo sendiri gak bisa ngatasin masalah yang lo buat sendiri kan Ce. Cari masalah lo." Dirga memang tidak aneh dengan sifat Cecilia, dia bahkan melakukan hal itu padanya dulu.
"Bisa ... Buktinya gue lolos dan ada di sini sekarang!"
Dirga hanya menghela nafas, Cecilia memang wanita keras kepala, tidak ada kata menurut dalam kamus hidupnya kecuali dengan uang. Dia akan seperti kucing yang mengeong, lemah dan menyenangkan. Menggoda adalah keahliannya, dan hampir semua pria yang dia goda pasti akan takluk padanya, pesona Cecilia memang menarik, cantik, seksi dan mampu membuat dunia jurkir balik hanya dengan satu gerakan saja. Membuka kedua paha mulusnya.
Dan itu membuat Dirga sedkit takut, Cecilia adalah aset paling berharga, walau cinta dihatinya hanya seujung kuku saja. Bahkan selama ini mereka hanya saling bermain main, Cecilia hanya menggunakan Dirga hanya agar terlihat dia memiliki pacar seumuran yang bisa dia banggakan pada teman temannya.
"Gimana kalau dia serius dengan bawa polisi dan dokter kejiwaan buat lo Ce?"
Cecilia menghempaskan tubuh lelahnya ke atas ranjang berukuran king, dia terkekeh dengan berguling ke kanan dan ke kiri. "Lo khawatir sama gue Dirga?"
"Iya ya lah Ce ... Lo pacar gue. Mana mungkin gue gak khawatir sama pacar sendiri. Gue cinta sama lo Ce." Ujar Dirga terduduk di tepi ranjang membelakanginya.
"Aaaaa ... Pacarku yang mencintaiku!" Cecilia bangkit dan menarik kerah Dirga hingga Pria itu terjatuh disampingnya.
"Tapi untuk Cinta? Apa itu cinta? Seonggok perasaan yang gak guna." ujarnya dengan Cecilia naik ke atas tubuh Dirga, dia juga membuka pakaian bagian atasnya yang sudah sobek dan melemparkannya begitu saja. Hanya tinggal kain penutup berenda berwarna merah yang tersisa di tubuhnya.
Tangannya pun terulur membuka kancing kemeja yang di kenakan Dirga. Dengan tubuh bergerak gerak lembut membuat otak Dirga tidak lagi mampu berfikir. Bibir sensual miliknya merayap di dada bidang Dirga yang turun naik. Mengecup beberapa kulit di daerah yang sangat dia tahu efeknya bagaimana,
"Begini kah caramu mengaet pria pria mata keranjang? Hem?" Tanya Dirga dengan suara serak.
"Lebih dari ini Dirga sayang! Mereka memberiku uang dan kemewahan. Maka aku akan berikan semua yang mereka butuhkan.
Dirga menelan saliva, saat tangan Cecilia menurunkan resleting celananya, "Lalu aku?"
"Cinta hanya bikin basah sayang. Gak bikin kenyang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
Crystal
Kok gue mlah keinget tiktoker yg viral itu ya🙈
2023-04-05
0
Surya Yeyen
irsan kan dokter pribadi x si zian ya thor..
2023-01-16
0
🌻Yying🌻
woooow
2022-12-29
0