Dirga memejamkan mata, ini lah yang selalu dia tunggu, permainan Cecil yang tidak pernah membosankan, gadis itu memang selalu memiliki trik khusus dan juga variatif soal masalah ranjang, jam terbang yang sudah tinggi disertai pengalamannya yang mumpuni dalam hal menyenangkan partner di atas ranjangnya.
Resleting sudah terbuka, senjata Dirga sudah menegang sejak tadi, namun Cecilia menghentikan gerakan jarinya tiba tiba.
"Aku baru sadar, sejak tadi aku tidak mendengar ponselku berdering."
"Oh god!! Kenapa kau harus ingat hal itu saat begini Ce!"
Cecilia turun dari tubuh Dirga, dia juga turun dari ranjang dan menyambar bathrobe yang tersampir di atas sofa.
"Lo kelarin sendiri aja deh! Gue harus pergi, gue lupa malem ini ada janji." ujarnya dengan melemparkan botol hand and body ke arah Dirga, setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.
"Shiiiittttt ... Lo emang brengsekk Ce! Pelacuuuur." teriak Dirga tepat saat Cecilia menutup pintu kamar mandi.
"Lah lo tahu kan kalau gue emang pelacuuurr Dirga!" sahut Cecilia dari dalam kamar mandi disusul oleh gelak tawanya sendiri. Tak lama dia kembali menyembulkan kepalanya, "Tapi gue pelacuuur berkelas. Lo tahu itu brengsekk!" ujarnya lagi.
Brukk
Pintu kamar mandi ditutup dengan keras, entah hubungan seperti apa yang terjalin di antara mereka, Cecilia maupun Dirga bersama hanya untuk bersenang senang saja, perasaan cinta yang lambat laun memuai dengan sendirinya hanya karena Dirga hanya mampu dia agungkan di depan teman temannya saja.
Walau lisannya mengatakan dia cinta setengah mati, tapi hatinya tentu saja masih terasa amat kosong, tidak ada getaran getaran yang teman temannya bilang saat bersama Dirga.
"Lo fikir gue peduli?" gumamnya seraya mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower.
Dirga membuka penutup botol hand and body dan masuk ke dalam selimut. "Sialan ... Sekali lagi lo bikin gue kayak gini. ? Mampus lo! Aaaaagghhh ... Sial."
Cecilia keluar dari apartemen tepat jam sembilan malam, sebuah mobil BMW keluaran terbaru berwarna hitam telah menunggunya di depan gedung apartemen.
"Daddy!!" ujarnya masuk begitu saja ke dalam mobil, melingkarkan tangan pada pinggang pria yang sudah di penuhi oleh uban itu.
"Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Hem?"
"Maaf Daddy ... ponselku mati!"
"Jangan banyak alasan! Kau pasti bermain dengan pria lain saat ini."
Cecilia memperlihatkan wajah lugunya, menatap pria yang usianya bahkan tiga kali lipat usianya itu dengan tatapan sendu.
"Enggak Daddy! Hari ini hari buruk aku."
Suaranya jelas mendayu dayu, skill tingkat dewa yang mampu meruntuhkan pertahanan seorang pria.
"Apa yang terjadi?"
Mobil yang di kendarai seorang supir itu melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah hotel berbintang lima. Cecilia menunjukan sifat manjanya dan juga sangat lembut. Dengan kepala yang dia sandarkan di dada pria bernama Reno.
Pengusaha dibidang batu bara yang memiliki banyak aset, apartemen yang di tinggalinya saat ini tentu saja pemberian nya. Bahkan biaya kehidupannya selama ini Reno yang berikan.
"Aku kangen Daddy, kenapa Daddy susah sekali diajak ketemu."
Reno tergelak, seraya mengelus punggung Cecilia dan turun ke bokongnya seraya mere mass nya keras.
"Awww ... Daddy ih!"
"Aku juga merindukanmu honey. Tapi kau tahu kan, istriku baru pulang dari Itali, setiap hari dia ada di rumah. Dan aku tidak bisa menemui dengan bebas."
"Kan Daddy gitu deh! Katanya Daddy sayang sama aku. Kok Daddy gak ada waktu buat aku, bosan tahu Dad nunggu itu,"
Reno kembali tertawa lepas, kali ini dia merekatkan tangan di pinggang Cecilia dengan semakin erat.
"Daddy jahat!" ujar gadis berambut hitam pekat itu manja, tangannya memukul lembut dada Reno.
Mobil telah sampai di hotel berbintang lima di jalan xx, hotel dimana mereka kerap menghabiskan waktu seharian, walaupun ujung ujungnya Cecilia akan di tinggalkan sendirian di pagi harinya.
Keduanya keluar dari mobil, masuk kedalam hotel yang bahkan tidak perlu lagi melakukan reservasi. Semua di lakukan oleh sang supir merangkap sebagai asisten pria tua bangka itu.
Mereka berjalan menuju lift, masuk kedalam kotak besi itu dengan Cecilia yang bergelayut manja pada lengan Reno.
Sekali lagi, wajahnya sangat meneduhkan, bak kucing rumahan yang selalu manja terhadap majikannya.
"Kenapa wajahmu sendu begitu honey? Kau tidak senang bertemu denganku?"
Cecilia menggelengkan kepalanya yang kini dia sedikit tundukan, Reno mengecup pucuk rambutnya yang kemudian terus turun merayap ke telinga dan cuping telinga Cecilia.
"Dadddyy ...." ujar Cecilia dengan hentakan kaki beberapa kali.
"Ada apa? Kau tidak seperti biasanya?"
"Tidak ada apa apa."
Ting
Pintu lift terbuka, keduanya keluar dari lift dan mengayunkan kaki ke arah kamar yang sudah di pesannya.
"Kalau tidak apa apa, mana mungkin wajahmu muram begitu."
"Aku hanya sedih Daddy! Masa teman temanku bilang aku tidak punya baju bagus, mereka tidak mengajakku pergi karena aku hanya memakai baju baju itu saja."
Pintu kamar sudah terbuka, keduanya masuk dan Cecilia mendaratkan tubuhnya disofa dengan lesu. Sementara Reno membuka mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
"Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu! Lihatlah apa itu cukup, beli baju yang kau inginkan honey, dan pergilah ke pesta bersama teman temanmu."
Cecilia mendadak sumringah, itu satu dari sekian banyak trik untuk mendapat uang dengan mudah. Bersikap manja dengan wajah lugu dan sedih. Jangan lupa, tarik ulur saat pria itu menyentuhnya. Jangan lakukan apa apa sebelum uang masuk kedalam rekeningnya.
"Daddy ini banyak sekali!"
Reno tertawa lagi, uang bukanlah masalah baginya. Kesenangan yang dia cari di luar rumah lah nomor satu, kepuasan tersendiri yang tidak lagi dia dapatkan dari istri yang semakin lama semakin membosankan.
Cecilia bangkit dari sofa dengan penuh bahagia, tujuannya tercapai, dan kini tugasnya membalas. Memberikan sedikit sentuhan saja yang mampu menbuat Reno tidak berdaya.
"Daddy emang paling ngerti." ujarnya dengan membuka jas yang dipakainya, lalu mengantungkannya ke tiang khusus yang terdapat di dekat pintu. Kemudian membantu melonggarkan dasi yang melilit di kerah kemejanya hingga hampir terlepas.
"Daddy pasti capek seharian kerja." tukas Cecilia membawa Reno duduk di sofa.
"Hm ... andai saja aku punya anak! Aku tidak akan selelah ini."
Iyalah ... Kalau lo punya anak, yang gue gaet pasti anak lo, bukan aki aki bau tanah kayak lo.
Cecelia memberikan pijatan lembut di kedua bahu yang bahkan tidak lagi kuat itu, hanya daging yang bertumpuk disana membalut ototnya.
"Aaahgg ... Enak sekali pijatanmu honey."
"Iya dong, aku khusus belajar kelas pijat buat mijat Daddy."
"Benarkah?"
"Hem ... Walaupun agak mahal biayanya! Tapi gak apa apa, sebanding sama ilmu pijat yang aku dapat."
Reno menoleh ke arah belakang, dia menarik pinggang Cecilia hingga terduduk.
"Aku akan menambahkan uang untuk kelas memijatmu honey."
.
.
Jangan cari apa apa di novel ini, isinya dijamin hanya ada gelitik gelitik manjah. Wkwwk. Tidak ada ilmu yang bisa diambil, ilmu menggeat ala Cecilia palingan.
Jangan lupa like dan komen, jangan pelit pelit dukung othor receh ini. Makasih yang sudah mampir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
Ficky Amalia
Thor.. Thor.. tingkat kehaluanmu emang tingkat dewa KL hal hal kyk bgini.. dapet pengalaman dr mana nih.. wkwkwkwk
2023-06-28
1
epifania rendo
celin celin
2023-04-28
0
Elsa Pasalli
Ada dong ilmunya Cecil bisa dipake untuk suami biar aman dirumah gak kabur ma pelakor. 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
2023-04-03
0