Seharian ini Nita mencari Cecilia di kampus dan tidak menemukannya dimana mana. Mencoba menghubunginya namun juga tidak kunjung di angkatnya, bahkan ponsel juga tidak dapat di hubungi lagi.
"Si Cecil kemana ya? Gue jadi khawatir." gumamnya saat menghubungi kembali nomor kontaknya.Dia juga mencarinya di tempat biasanya dia duduk, namun juga tidak ada.
Sampai Nita terus memperhatikan Dirga yang tengah jadi sorotan pihak kampus itu, sampai dia mendekat
Dirga tetap berjalan melewatinya tanpa menyapa dirinya, dia tertawa dengan beberapa teman temannya tanpa peduli pada Nita.
"Dirga! Pacar lo mana?" tanya Nita memberanikan diri walaupun sebenarnya dia malas bertanya pada pria brengsekk itu. Sikap nya menjengkelkan, juga tidak sangat menyebalkan.
Dirga hanya menatapnya sekilas, tanpa menjawab dan kembali tertawa pada temannya. Mengabaikan pertanyaan Nita.
"Sialan tuh orang! Gue sebel banget! Heran sama si Cecil yang masih pertahanin dia. Punya tampang cakep tapi otak kagak ada." Nita terus mendumel tampa henti.
Akhirnya Nita memutuskan menghubungi pihak apartemen, beruntung dia masih menyimpan nomornya. Menyuruhnya mengecek keberadaan Cecilia di unitnya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pihak apartemen memberi tahunya jika tidak ada respon dari kamar dimana Cecilia tinggal. Dan Nita memutuskan untuk ke sana.
Mobil merah itu dilajukannya dengan kencang, Nita ingin segera sampai dan berharap Cecilia ada di dalam kamarnya dalam keadaan baik baik saja.
Dan tak lama dia sudah berada di lobby apartemen dan memberikan kunci pada security yang kebetulan bertugas di sana.
"Pak ... Nitip mobil ya!" ujarnya dengan setengah berlari masuk ke dalam lift.
Bruk!
Namun tanpa disengaja, Nita justru bertubrukan dengan Irsan yang baru saja keluar dari lift.
"Om ... Om dokter kan?" Irsan mengernyit, lalu mengangguk pelan,
"Kalau gitu! Om bisa kan temani aku? Aku fikir temanku butuh bantuan di atas." ujar Nita menarik tangan Irsan masuk ke dalam lift.
"Hey ... maaf! Tidak bisa ... Aku harus ke rumah sakit!"
"Sebentar saja Om hanya memastikan saja. Ya please."
Irsan menghela nafas, samar samar dia mengingat jika gadis yang sekarang berada di depannya itu adalah gadis yang telah memberikan tiket film semalam.
"Kau yang memberi tiket film itu kan?"
Nita mengangguk, "Iya Om, Om masih inget?"
Irsan juga mengangguk, mana mungkin dia tidak ingat, jelas jelas gara gara dia. Irsan kembali terlibat dengan jalaang kecil itu lagi, dan tentu saja membayang di ingatannya saat hampir saja jalaang kecil itu mencium bibirnya. Irsan harus memejamkan matanya agar bayangan itu sirna dari fikirannya.
"Temanmu kenapa?"
"Aku juga tidak tahu! Tapi dia gak bisa di hubungi dari pagi!"
Irsan mengernyit, "Mungkin pergi dan lupa bawa ponsel! Sudahlah aku ada jadwal praktek sore ini. Temanmu juga sepertinya belum tentu butuh bantuan ku!"
"Om ... please! Kita cuma ngecek aja sebentar."
Ting
Lift terbuka, keduanya keluar dan menuju ke unit Cecilia, walaupun Nita terus menoleh ke belakang agar Irsan mau menemaninya melihat Cecilia, firasatnya mengatakan terjadi sesuatu dengannya, dia tidak pernah sekalipun mematikan ponselnya selama ini, semua aktifitas pekerjaannya selama ini terpusat di ponsel miliknya itu.
Mereka sampai di unit milik Cecilia, berkali kali Nita menggedor pintu namun tidak ada jawaban dari dalam, terdengar hening seolah tidak berpenghuni.
"Sudahlah! Temanmu mungkin tidak ada di dalam! Aku benar benar harus segera pergi!" ucapnya dengan melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
"Sebentar lagi Om! Mungkin dia tidak denger dan berada di kamar."
Tok
Tok
Tok
"Ce! Lo di dalem kan? Jawab gue Ce!" ujar Nita
dengan ketukan lebih keras lagi.
Nita mencoba menekan pin di kunci otomatis, namun pin telah di rubah, dan dia mulai kebingungan sendiri, padahal password pintu itu baru saja diganti oleh Dirga.
"Sudah aku bilang! Temanmu tidak ada di dalam, dia mungkin pergi dan pasti baik baik saja."
Nita tidak menyerah, dia kembali menekan pin, menggunakan pin lama saat dirinya masih tinggal bersama disana.
Ting
Dan benar, Cecilia kembali menggantinya dengan pin lama mereka, dan tentu saja sebelum Dirga yang kini tinggal disana.
"Berhasil!"
Nita mendorong pintu dan masuk ke dalam, tidak ada yang aneh dan berubah diruangan tamu, Irsan mengikutinya walau dia sendiri ragu. Nita menuju kamar dan membukanya. Dia terhenyak melihat kamar yang berantakan tidak karuan itu, dan melihat Cecilia tak sadarkan diri di atas ranjang. Nita bergegas lari ke arahnya, dia tidak peduli padamu
"Ce!?"
Begitu juga Irsan, dia tak kalah kagetnya dengan Nita, dan bergegas masuk menyusul Nita.
"Ce ... Lo kenapa? Ce? Bangun."
"Temanmu sepertinya pingsan!" Ujar Irsan, dia mengangkat kepala Cecilia dengan darah yang hampir mengering di dahinya, juga ada lebam di wajahnya.
"Dia ...?" Lirihnya setelah tahu siapa gadis yang kini dia lihat.
"Bawakan aku air panas! Cepat!"
Nita mengangguk, dan berlari membawa apa yang Irsan katakan, untung saja Irsan selalu membawa tas penuh peralatan dokternya. Nita membantu membersihkan luka diwajahnya, sobekan kecil juga terdapat di ujung bibir Cecilia.
"Lo kenapa Ce! Ini pasti Dirga lagi! Lo berantem gara gara gue semalam pasti."
"Naikkan kepalanya, gunakan bantal ini! Aku akan menjahit luka nya." ujar Irsan yang bersiap dengan alat miliknya yang telah dia bersihkan dengan air panas yang di bawa Nita.
***
Hampir setengah jam Nita duduk ditepi ranjang, menatap wajah sahabatnya yang kini jauh lebih pucat dengan bibir keringnya, dahinya telah dijahit, lukanya juga sudah dibersihkan. Kamarnya pun telah Nita rapikan kembali.
Tak lama Cecilia mengerjapkan kedua matanya, pandangannya beredar pada seisi kamar dan berakhir pada sosok Nita di sampingnya.
"Nita?"
"Ce ... Lo udah sadar? Syukurlah, gue khawatir sama lo." uajarnya terurduduk
Cecilia menangis lagi dalam pelukan Nita, gadis riang dan selalu terlihat bahagia itu kini benar benar lemah.
"Nit ... Gue!"
"Udah lo tenang Ce! Gak usah mikirin apa apa dulu! Lo istirahat aja ya, gue juga udah siapin makan buat lo." ucap Nita membaringkan lagi sahabat yang sudah seperti saudara baginya.
Cecilia mengangguk, "Lo bisa masuk Nit?"
"Hem ... Gue gak nyangka lo ganti password lama kita."
"Gue hanya berjaga jaga Nit! Dan gue bener, lo pasti datang."
"Karena gue sahabat lo Ce! Saudara lo! Lo aja yang kadang lupa lo punya gue. Dah makan dulu! Kita bahas nanti ya." ujar Nita mengambil nampan.
Cecilia mengangguk, dia memakan nasi dan soto yang di siapkan oleh Nita untuknya.
"Ini soto maknyes langganan kita dulu?" Nita mengangguk.
"Keren sekarang maknyes udah ada di online!"
"Kok gue gak tahu!" Cecilia terkekeh dengan mulut penuh.
"Ya lah ... Lo kan udah gak doyan makanan murah kayak gini!" sindir Nita dengan terkekeh juga.
"Jangan nyindir deh! Ngomong ngomong kok luka luka gue?" ujar Cecilia yang baru sadar jika kepalanya diperban.
"Tadi gue bawa dokter Irsan kesini, dia yang ngobatin luka luka lo Ce!"
"Do---dokter Irsan? Dia ... Dia tahu dong kalau gue ... gue dan Dirga! Kita ...!! Aaahkk bego."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
Meili Mekel
kasihan cecil
2022-10-23
1
TK
☕✍️✍️✍️
2022-09-05
0
Ausky
thoorr kasihlah si dirga tu sekarat dan jangan ganggu si cecil bikin susah terus
2022-09-04
1