Irsan tidak habis fikir ada gadis seperti Cecilia yang tidak punya rasa malu sedikitpun, dia terus menerus mengusik dirinya, namun juga ada perasaan salut karena ketidak tahu maluannya itu.
Pria berumur 40 tahun itu baru saja membuka coffee shop baru di mall sebagai peralihan dari rutinitasnya sebagai dokter. Pekerjaan mulia yang tiada tandingannya, namun juga bisa sangat membosankan karena halnyang dia hadapi di rumah sakit tidak ada habisnya.
Pria yang mengenakan jas berwarna navy itu duduk termangu di depan layar laptop miliknya yang masih menyala. Fikirannya terus menerawang ke kejadian kejadian dimana dirinya dan gadis gila yang sering dia panggil jalaang kecil itu selalu terlibat, seolah menjadi magnet yang datang tiba tiba dan menempel.
Irsan tersentak saat bahunya disentuh lembut dari belakang. Dia menoleh ke arahnya dan menghela nafas.
"Kau sudah datang?"
"Hem ... Maaf aku terlambat, aku baru saja keluar dari ruangan operasi!"
"Ya kau sangat terlambat Siska! Grand opening baru saja selesai. Kau melewatkan melihat artis."
Siska terkekeh, "Benarkah? Kenapa kau tidak menyuruhnya menungguku tadi? Hari ini dua operasi yang benar benar melelahkan. Dan satu terpaksa harus caesar."
Irsan menghela nafas dengan lirih, "Pekerjaan mu pasti sangat berat!"
"Kau juga kan Dokter!" Siska terkekeh, mengingat Dokter Irsan mengatakan seolah dia tidak tahu bagaimana lelah nya jadi seorang dokter.
"Terkadang aku ingin jadi orang biasa saja! Bukan terlahir dari keluarga dokter dan meneruskan jejak mereka, walaupun aku menyukainya tapi juga tidak terlalu."
"Kau benar, Dan saat kau mengatakan hal itu, apa tidak terdengar seperti warisan keluarga yang di kutuk?" Siska tergelak, dia paling senang menggoda Irsan, "Kau ini serius sekali! Santailah sedikit. Beban mu sudah banyak."
"Itulah alasannya kenapa aku membuka coffe shop ini!" Irsan mengulas senyuman, dia mengangkat beban tubuhnya dan berjalan ke arah mesin kopi, menekan tombol berwarna hitam dan menunggu cairan kopi yang keluar.
Wangi kopi menyeruak kemana mana, saat seisi cangkir dia bentuk menjadi sebuah hiasan dengan menggunakan creamer cair dengan campuran susu.
"Kau memang terbaik kalau masalah kopi. Dan ini sangat cocok denganmu yang terlalu serius menjalani hidup." Siska terkekeh dengan memperhatikan Irsan yang telah selesai dengan kopinya lalu mengambil cangkir itu dari tangannya. "Terima kasih!" kekehnya lagi lalu membawanya duduk.
"Kau mungkin harus mulai mencari teman kencan!" ujarnya tanpa basa basi. Menyeruput kopi sedikit dengan kepala yang dia angguk anggukan.
Irsan hanya berdecih mendengarnya.
"Atau kau bisa menurunkan standarmu kali ini!"
"Hei ... Kau fikir aku siapa? Setinggi apa standar ku sampai aku harus menurunkannya, kau benar benar menganggapku seperti itu? Terlalu berlebihan Siska."
Seorang anak kecil berlari ke arah mereka, tertawa riang dengan es krim di tangannya.
"Mamaaa!" panggilnya pada Siska.
Siska menoleh, lalu tersenyum. Berbeda dengan Irsan yang langsung menghampirinya.
"Hei jagoan! Apa kabar?"
"Baik! Om mau es krim tidak?"
Irsan mengambil tissu dan mengelap mulutnya yang belepotan dengan Es krim, "Kau menjilati es krimmu sampai lumer di mulutmu."
Tanpa sengaja Cecilia dan juga Nita melewati tempat itu lagi, melihat ke arah Irsan yang tengah berjongkok mengelap mulut seorang anak kecil dihadapannya.
"Ini tempatnya Ce? Masih sepi tapi." gumam Nita.
"Hem ... Keluarga yang harmonis!"
"Eeh bego juga kadang kadang! Gue tanya apa, lo jawab apa."
Cecilia menarik lengan Nita, hingga tubuh gadis berambut pendek itu berputar ke arahnya, Nita berdecak, dia memukul lengan Cecilia.
"Kebiasan lo!"
"Aw ... sakit bego!" Eh Nit, lo mau taruhan gak sama gue? Kalau gue bisa rebut om itu dari Istrinya." ujar Cecelia dengan lirikan matanya ke arah coffe shop.
"Ah ... Bego lo! Gue gak mau ikut ikutan! Karena lo pasti menang banyak! Gue? Yang ada amsyong. Dah lah males."
Nita kembali berjalan, dia sama sekali tidak tertarik pada ajakan Cecilia yang sudah tentu akan menang. Usaha gadis berrambut pirang itu memang selalu berhasil dan tidak pernah gagal sekalipun.
Cecilia setengah berlari menyusul Nita yang sudah melangkah lebih dulu, "Ah lo!"
"Lagian lo ngapain sih ganggu rumah tangga orang?"
"Lah emang dari dulu kali Nit, itu pekerjaan kita."
"Eeh bego! Dari dulu kita hanya menunggu pria pria hidung belang yang datang, gak kita yang goda. Gak kayak lo! Lo ngerusak reputasi nama Sugar Baby!".Nita terkekeh sendiri dengan ucapannya yang kacau.
"Reputasi sugar baby! Laga lo Nit. Tapi gue yakin, dia bakal gue jadiin milik gue. Lo tahu dia siapa? Dokter Nit."
"Nah apa lagi itu! Lo fikir deh sendiri, mana mau seorang dokter sama kita kita! Mereka bersih, minimal lo gak ngerokok dan gak minum! Mau lo? Disuruh berhenti? Atau masuk rehabilitasi. Lo kan nyandu alkohol ege."
Cecilia terdiam, memang benar apa yang di katakan Nita, "Berat juga ya!"
"Ditambah lo yakin dia mau sama lo, secara lobang lo ....!" Nita tidak meneruskan perkataannya lagi, namun dia mengerdikkan bahu dengan tatapan ke area dibawah perut Cecilia. "Nih satu lagi, dia gak mungkin mau sama cewe yang udelnya diumbar umbar begini." ujarnya lagi dengan menarik tindikan di pusar Cecilia.
"Sialan lo ... ngata ngatain gue habis habisan! Mana bener semua lagi."
"Makanya mikir pake otak! Standar dokter gak kayak kita. Mending lo sama si Reno, biar gue ikut kecipratan."
" Gue masih butuh duitnya, gak bakal gue lepas kalau perlu gue susul dia ke kuburan kalau dia mati besok!"
"Terserah lo deh!"
.
.
Tidak untuk di tiru ya readers wkwkwkwk ... si Cecil bikin othor belingsatan! Bikin ulah mulu...Awas lo Ce jangan bikin ulah banyak banyak. Othor takut di timpuk readers.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
epifania rendo
celin rubah lah dulu sikapmu
2023-04-29
0
Jjlynn Tudin
🤣🤣🤣🤣 susul.di.kuburan iti ikutati lo col🤣
2023-03-16
0
siti khalivah
🤣🤣ketawa ah
2023-02-05
0