Cecilia tiba di kampus, bergegas masuk ke dalam kelas dimana dosen yang terkenal killer sudah berada di dalam. Dengan mengendap ngendap Cecilia masuk dan duduk di kursi paling belakang.
"Veronica Cecilia!"
Gadis yang tengah mengedarkan pandangannya itu tersentak kaget saat nama lengkapnya dipanggil dengan suara keras.
"Ya!"
"Keluar sekarang juga! Kau terlambat sepuluh menit dan masuk seperti seekor ayam. Keluar dari kelasku."
Cecilia menghela nafas, sia sia sudah dia bangun dan pergi ke kampus kalau akhirnya tidak boleh mengikuti materi. Dia menangkap sosok Nita yang duduk di depan yang juga melihat ke arahnya.
"Mampus lo!"
Hanya itu yang bisa dia tangkap dari gerakan bibir Nita, dia hanya mengerdikkan bahu lalu keluar dari kelas.
"Sial banget! Ini semua gara gara Dirga! Mana tuh anak. Gue harus kasih dia pelajaran." ujarnya saat keluar dari kelas.
Kedua manik tajamnya beredar mencari sosok Dirga, laki laki yang dia anggap penyebab dirinya kesiangan, tidak membangunkan dan meninggalkannya. Cecilia mengayunkan kedua kakinya ke kantin, Suara cekikikan tawa seorang wanita membuatnya menoleh, dan benar dugaannya.
"Heh ... Brengsekk!!" ujarnya menggebrak meja, sontak membuat Dirga yang tengah bergurau dengan seorang wanita tersentak kaget.
"Ce?"
"Iya ini gue! Kenapa? ke gep sama gue disini?"
Dirga menghela nafas, dengan cepat air mukanya berubah. "Terus?"
"Pergi lo! Gue ada urusan sama cowo brengsekk ini!" titahnya pada wanita yang duduk di hadapan Dirga, dia jelas tidak mau mengalah, namun Dirga mengangguk ke arahnya dan dia pun menurut.
Cecilia duduk, dia mengenadahkan tangan ke arah Dirga, "Mana kunci mobil gue!"
"Lho kenapa? Lo mau ambil mobil yang gue pake?"
"Menurut lo? Udah sini, gue mau pergi."
Dirga masih bersikeras tidak mau memberikan kunci mobil pada pemiliknya, dia justru menggenggam tangan Cecilia dengan lembut. "Lo marah ya sama gue? Sorry deh! Gue gak tega bangunin lo, lo kan jarang banget bisa tidur nyenyak gitu, tapi gue berkali kali hubungin lo dan gak di angkat sekalipun."
Cecilia mendengus, "Lo emang gak berguna! Lo mau enaknya doang!"
"Maafin gue Ce!"
Dengan cekatan Dirga mengambilkan juice jeruk untuknya dan semangkok bakso dengan kuah merah kesukaan Cecilia.
"Lo pasti belum makan. Gue pesenin bakso kesukaan lo, minumnya juga." ujarnya dengan meletakkan keduanya di depan Cecilia.
Gadis bertindik itu hanya menghela nafas, dia seolah terjebak pada hubungan rumit yang jelas tidak bisa dia akhiri. Terlebih karena Dirga lah jati diri Cecilia tertutupi, walaupun semua orang tahu jika Dirga pria yang mudah dekat dengan wanita. Namun semua orang juga tahu jika Dirga milik Cecilia dan begitu sebaliknya.
"Asal lo tahu, ponsel gue ketinggalan di taksi semalem, dan baru di kembalikan tadi." gumam Cecilia dengan menyeruput juice miliknya.
Dirga memperlihatkan aktifitas memanggil di dalam ponselnya, agar membuat Cecilia percaya jika dia berkali kali menghubunginya, dengan puluhan pesan singkat yang sama sekali belum dia buka.
"Lo emang payah! Gak bisa lo nungguin gue? Lo malah ninggalin gue, lagian lo ke sini juga malah mojok di kantin! Bukannya belajar."
Sial ... Dirga kirim chat sebanyak itu, mana ada Reno juga! Dokter Irsan sempet baca gak ya. Eeh bodo amat, ngapain gue mikirin dia.
Bruk!
Tak lama Nita datang dengan menghempaskan buku tebal di meja lalu duduk, meraih juice milik Cecilia hingga hampir tandas.
"Heh bego, sekalian lo telen sama sedotannya!" sindir Dirga melihat sahabat dari Cecilia itu hampir menghabiskan minuman yang dia pesan.
"Elah ... Cuma beginian doang ribut lo Dirga! Tinggal pesen lagi, kalau perlu sekalian sama gerobaknya, biar si Cecil yang bayar."
Cecilia mendengus, "Kebangetan lo!"
Dirga beranjak untuk kembali memesan minuman untuk Cecilia, tak hanya itu, dia mampu melakukan apa pun agar Cecilia tidak lagi marah padanya.
"Abisnya lo bego di piara, ngapain sih lo masih mertahanin hubungan lo sama Dirga! Dah jelas jelas dia manfaatin lo doang! Lo gak inget apa omongan Si Regi pas dia mau ke LA."
"Inget! Tapi bukan cuma dia yang manfaaatin gue, gue juga manfaatin dia. Lo gak lihat? Dia bisa gue suruh suruh, lo perhatiin baik baik, bahkan dia mau ngelakuin apa pun agar gue luluh dan gak ambil fasilitas uang dia pake sekarang, Tas, sepatu, bahkan iket pinggang mahal yang dia pakek! Kebayang gak lo kalau gue lepas dia. Bisa gila dia."
Nita yang memperhatikan Dirga mengangguk anggukkan kepalanya setuju, "Kenapa dia beda banget sama sepupunya."
"Mental miskin namanya itu!" sahut Cecilia. "Ngemall yuk!"
"Sekalian gue mau cari buku!"
"Gila ... Rajin amat lo! Ya udah yuk cabut."
"Lah si Dirga itu gimana? Dia lagi pesen makanan buat gue."
Cecilia sudah bangkit dari duduknya, menarik lengan Nita, "Bodo amat! Udah ayo cabut aja. Gue juga gak ada kelas lagi, dan gue lebih suka mall dari pada kampus."
***
Sesampainya di mall, mereka berdua langsung menuju ke toko buku, mencari buku yang di cari Nita. Namun sudah hampir setengah jam mereka tidak menemukannya.
"Lo cari di sana! Gue cari di sebelah sini, biar cepet." Ujar Nita menunjuk sisi kiri yang berisi deretan buku buku.
"Elah ... Lo bikin repot aja sih!" gerutu Cecilia dengan melangkahkan kakinya ke arah yang di tunjuk Nita.
"Repot ... Tapi dia mau juga kan! Dasar bego!"
Tak lama Cecilia berjalan dengan mencari buku yang di minta Nita, dia juga mengubek ubek rak buku namun tidak menemukannya. Malah dia terus menerus menoleh ke arah restoran bakmi jepang yang berada persis di samping toko.
Tanpa berfikir panjang, dia keluar dari toko buku dan melangkah masuk ke restoran, meninggalkan Nita sendirian.
"Bodo amat ah buku si Nita! Gue lapeer."
seketika dia membulatkan kedua manik hitamnya saat melihat seseorang yang dia kenal dengan baik tengah duduk dengan seorang wanita. Keduanya terlihat sangat datar dengan wajah serius.
"Reno?... Kebetulan sekali, Itu pasti istrinya dia!" ujarnya dengan terkekeh.
Cecilia memilih duduk di meja yang terdekat dengan meja mereka hingga Reno bisa melihatnya.
Cecilia duduk persis di belakang istri Reno, membuat pria berumur 60 tahun itu tersentak dan membulatkan kedua mata ke arahnya.
"Muaaah!!"
Cecilia melayangkan ciuuman jauh ke arah Reno, membuat pria itu was was. Dan melirik asistennya untuk membawa Cecilia pergi.
Namun Cecilia menggelengkan kepalanya, dia merekatkan bibirnya dengan mengedipkan mata serta menunjuk ke arah sang istri yang tengah serius menikmati semangkuk bakmi. Asisten Reno pun hanya menghela nafas.
"Aku benar benar tidak akan mengganggu mereka! Aku kesini hanya lapar. Kau juga kan! Ayo makan bersamaku dan melihat mereka."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
lina
🤣🤣🤣 bego d piara ce
2022-10-25
2
lina
s dirga ngapa jd gitu s y
2022-10-25
0
lina
🤭🤭🤭 ngarep dr.irsan marah kaga?
2022-10-25
0