Binggo
Memang itulah tujuan Cecilia, uang uang dan tentu saja uang. Tidak ada yang disukai selain uang di dunia ini.
Persetan dengan cara apa gue cari uang, gue bekerja keras buat dapetin semua yang gue punya sekarang. Cecilia membatin, senyuman manis palsu terukir indah menutupi jati dirinya yang hampa, dan kosong.
Cecilia yang duduk dipangkuan Reno tentu saja semakin sumringah, uang berkali kali lipat masuk dalam rekeningnya bulan ini, padahal jatah bulan sebelumnya masih tersisa banyak.
Gadis dengan tindikan dihidung lancipnya itu melingkarkan kedua tangannya dileher Reno, mengecup lembut pipi keriput pria yang lebih cocok jadi ayahnya itu. Dan tentu saja Reno bergelinjangan mendapatkan kecupan manja gadis yang menjadi pemuass nya itu. Muda, cantik, interaktif, lincah di ranjang dan tentu saja menyenangkan hati di usia senja nya.
Terasa usianya jauh lebih muda, memacu adrenalin yang mulai mengendor karena terlalu membosankan bersama sang istri yang tetap setia di rumah.
"Thank you Daddy."
"You welcome darling."
Reno membawa Cecilia ke ranjang, mendudukannya ditepi ranjang dan tentu saja ikut duduk di sampingnya. Has ratnya kian memuncak, dengan terburu buru dia membuka kancing baju yang di kenakan Cecilia.
"Honey! Beli banyak dress mini dan pakai saat bersamaku, jadi aku tidak perlu susah payah membuka kancing sialan ini."
Cecilia terkekeh, karena itu lah trik yang di gunakannya. Menghambat pergerakan pria berusia 60 tahun yang tidak tahu diri itu.
"Harus usaha untuk dapat kesenangan dong Daddy."
Reno tergelak, "Tentu saja Honey ... Tapi aku semakin tidak sabar."
"Biar aku bantu."
Perlahan lahan, Cecilia membuka kancing kemeja Reno, menariknya hingga salah satu kancingnya terlepas begitu saja. Reno semakin gila, has rat nya kian membara dan tidak bisa dia tahan lagi.
"Oohh honey!! Cepatlah ... Lakukan dengan cepat! Aku sudah tidak tahan." Ujarnya seraya melorotkan celana yang dipakainya, melemparkannya sembarangan.
Cecilia memundurkan tubuhnya hingga bersandar pada sandaran ranjang, tertawa melihat pria tua yang bahkan tidak bisa menahannya lagi. Pria tua itu naik dengan wajah laparnya, benar benar tidak kuasa menahan gelora jiwanya.
"Daddy! Nakal deh."
Reno tidak peduli apa yang katakan Cecilia, yang jelas dia ingin segera menuntaskannya. Mengungkung tubuh Cecilia di bawahnya, namun dengan sekali gerakan saja, posisi mereka jadi terbalik, Cecilia kini berada diatas tubuh Reno.
Dengan kerlingan mata Cecilia membuka baju yang dikenakannya, memperlihatkan dua benda busung yang hanya di lapisi kain berenda berwarna hitam.
"Honey ... Kau seksi sekali."
"Of course Daddy."
Tubuhnya bergelinjangan, bak seorang penari yang berada di atas panggung, sangat gemulai dengan iringan nafas Reno yang semakin menderu.
"Honey ... Lakukan lah!"
"Daddy gak sabaran." Cecilia tertawa kecil, merasai benda keras yang menyembul di dekat pangkal paha yang di tindihnya.
Namun semua terlambat, baru saja hendak bergerak. Reno telah mencapai puncaknya sendirian, tanpa gerakan apa apa dari Cecilia. Bahkan dirinya saja belum beraksi sama sekali.
"Daddy!!"
Reno mengerang sendirian, stamina yang semakin menurun dan usia tuanya menjadi alasan Cecilia tidak pernah mau melepaskan Reno, dia bahkan tidak harus bersusah payah bahkan tidak mengeluarkan keringat sedikitpun.
"Maaf Honey! Aku sudah katakan, aku sudah tidak tahan."
Cecilia turun dari ranjang dengan wajah muram yang sengaja dia pasang, begitu menyedihkan karena has ratnya tidak terpenuhi, namun hatinya bersorak dengan bibir yang dia tahan agar tidak tersenyum.
"Terus aku gimana? Daddy suka gitu deh! Belum juga aku pegang. Udah loyo aja."
Reno kembali mengenakan celana panjangnya, wajahnya bahagia tiada tara, dia memeluk Cecilia dari belakang, dan mengecup pipinya dua kali.
"Kita lakukan lagi nanti. Sekarang kita makan dulu ya. Kau pasti lapar."
"Dua kali?"
Reno mengangguk, "Dua kali atau lebih."
"Emang Daddy sanggup?"
Reno bangkit dan berjalan menuju sofa, mengambil sesuatu dari paper bag. Dan kembali menghampiri Cecilia.
"Untukmu."
"Apaan Daddy? Hadiah buat Aku?"
"Hm ... Buka lah. Kau pasti senang, aku membelinya dari jepang. Dan itu costum, tidak akan ada yang sama persis."
Cecilia menggoyang goyangkan boks berwarna putih itu dan berbunyi, dia semakin penasaran dengan hadiah yang Reno bilang itu dari jepang.
"Siapa yang beli? Daddy yang beli?"
Reno menenggak wine dari gelas di atas meja, "Bukan honey, Asisten Daddy yang pesan online."
"Gak ketahuan istri Daddy?"
"Enggak sayang! Bukalah."
Cecilia yang semakin penasaran dengan isinya itu membukanya, dan terbelalak sempurna karena isinya jauh dari ekspetasinya.
"Daddy? Apa ini?"
Sialan, gue dikasih barang beginian lagi, dia fikir gue gak mampu cari laki laki yang bisa muasin gue, Si Dirga aja jauh lebih baik dibandingin vibrattorr ini. Gue di suruh main solo begini anjim banget.
"Daddy ... Kenapa kasih ini? Daddy udah gak mau sama aku? Daddy udah gak sayang sama aku?"
"Bukan Honey ... Itu untukmu kalau kamu rindu Daddy, dua bulan ke depan Daddy tidak bisa menemuimu karena harus nemenin Istri Daddy kemo. Jangan marah ya."
"Ta---tapi kan---?"
"Kamu tenang aja, aku akan tetap kasih jatah bulanan dan shopping untukmu honey."
Yes Yes ... Kenapa marah, yang ada gue seneng lah. Gak apa apa deh, gue ambil barang sialan ini buat gue kasih si Nita aja.
Cecilia menatapnya dengan sendu, wajah sedih yang sempurna, dengan hatinya yang bahagia luar biasa. Reno kembali mendekapnya. "Jangan nakal oke Honey ... Kalau aku tahu kau nakal saat aku tidak bisa menemuimu, kau harus mengembalikan semua jatah bulanan yang aku berikan."
Cecilia mengulum senyuman, membalas pelukan Reno dengan erat. "Daddy gak percaya sama aku? Mana mungkin aku kayak gitu, selama aku jadi Sugar Baby milik Daddy, aku tidak akan mengecewakan Daddy. Kecuali kalau Daddy punya sugar baby lain. Aku akan marah besar dan mengamuk." ujarnya dengan memukul perut buncit Reno.
"Kau terbaik honey ... Sekarang kita makan oke! Daddy harus segera pulang, nanti istri Daddy curiga."
Cecilia mengangguk lirih, dalam hatinya tertawa penuh kemenangan.
Setelah menghabiskan makanan di meja, asisten Reno mengetuk pintu, memberi tahu jika mereka harus segera pulang.
"Honey mau aku antar pulang atau disini dulu?"
"Daddy saja duluan, aku disini dulu!" ujarnya memeluk tubuh gempal Reno, "Mau nyobain hadiah yang Daddy kasih tadi, Daddy sih curang maennya, enak sendiri." ujarnya dengan setengah berbisik.
"Lain kali aku tidak akan begitu, kita enak enak lagi yaa."
Cecilia mengangguk, dia melayangkan kecupan pada pipi Reno, begitu juga Reno yang mendaratkan ciumaann pada semua bagian wajah Cecilia.
"Ingat jangan nakal Honey."
"Aku pasti bakal kangen terus sama Daddy."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
Pak Yan
IÀ DADDY..... AKU JUGA PASTI KANGENNNNN BUANGET...... KANGEN BUANGET SAMA UANG DADDY...... 😆😆😆😆😲😅😅😅😅😅😅😅😅😂😂😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍👍👍👌👌👌👌👌
2022-12-22
0
nengkirana
this is the real sugar baby 🖒🖒😏😏😘
2022-12-17
2
Asty Mamane Ata
hadeh 🤭
2022-11-25
0