Cecilia dan Nita akhirnya tidak jadi masuk ke dalam Coffee shop yang masih terlihat sepi itu, mereka memutuskan untuk pergi ke bioskop dan menonton film horor.
"Ce ... Yakin lo mau nonton film ini?" Nita mengibarkan tiket film di sela jarinya. "Kok gue merinding sendiri deh. Ganti yuk! Mending nonton romance aja."
"Elah, tiket udah dibeli Nit! Jangan ngaco deh ... Lagian hidup kita lebih nyeremin dari pada film ini. Yuk ah." ucapnya dengan menarik tangan Nita yang terpaksa mengikuti Cecilia dengan kakinya yang di seret.
"Tapi gue ke toilet dulu deh!"
"Udah deh jangan banyak alesan! Di dalam juga ada toilet,"
Nita tidak punya pilihan lagi selain menyerahkan tiket pada petugas yang berjaga di pintu masuk studio, menunggu petugas itu merobek tiket dan dia bisa masuk menyusul Cecilia.
"Bukan apa! Film ini di angkat dari kisah nyata, yang jelas pasti bakal lebih kerasa nyereminnya." gumam Nita di belakang Cecilia.
Mereka mendapat kursi ke tiga dari belakang, tidak terlalu jauh dari pintu keluar. Nita buru buru duduk, mendahului Cecilia.
"Nit ... Lo duduk di kursi gue!"
"Bodo amat ah! Yang penting duduk aja, lo tinggal duduk di kursi gue, sama aja kan."
Cecilia berdecak, namun dia juga tidak memperpanjang masalah sepele itu, dia akhirnya duduk di kursi ke empat dimana jajaran setelahnya kosong.
"Lo liat ke sana! Belum mulai tapi udah serem banget, mana cuma kita berdua lagi yang di sini."
"Banyak bacot! Udah nonton aja, gak bayar ini kan lo!"
Nita terdiam setelahnya, dia masih mengedarkan pandangannya ke segala arah. Pintu keluar, orang orang yang sudah mulai berdatangan dan duduk. Tampak gelisah hanya karena film horor kali ini diangkat dari kisah nyata dari sang penulis itu sendiri.
Tak lama seorang pria melewatinya dan juga melewati Cecilia, dengan begitu, pria tersebit menjadi penonton di paling ujung, ditengahnya ada Cecilia. Dan Membuat Nita lebih tenang.
"Lo gelisah amat."
Lampu sudah dimatikan, orang orang sudah tidak terlihat dan suasana sudah terasa sangat menakutkan, Layar besar pun sudah menyala dan film akan diputar.
"Gue ke toilet dulu deh!"
"Jangan lama Nit! Awas kalau kabur."
Nita mengangguk, walau sebenarnya anggukan kepalanya itu tidak juga bisa Cecilia lihat. Hanya bayangan hitam yang bergerak saja.
Film pun berputar, Cecilia dengan santainya menonton dan juga memakan camilan yang dia beli sebelum masuk. Adegan adegan menyeramkan membuatnya berkali kali menjerit dan berteriak. Membuat pop corn ditangannya berhamburan kemana mana.
"Nitaaaa!!"
Cecilia bersembunyi dengan menarik lengan Nita, namun lengan lembut yang dia fikir lengan sahabatnya itu berubah kekar dan juga keras. Dengan cepat Cecilia mendongkak dan melihat wajahnya.
"Kau? Lepaskan tanganmu!"
Sialan si Nita pasti kabur, dia gak balik lagi ke sini. Da kenapa tiba tiba Irsan yang duduk disamping gue. Apa dia salah nomor kursi.
"Kenapa aku harus terus bertemu denganmu!" ujar Irsan dengan menyentak tangan Cecilia.
"Nita mana?"
Irsan hanya mengerdikkan bahunya, namun dia ingat sesuatu sebelum masuk ke studio ini.
Flash back On
Irsan masuk kedalam gedung bioskop, dia mencari film terbaru yang tengah berlangsung di antara poster poster film yang terpasang. Setelah menentukan film yang akan ditonton, Irsan segera memesan tiket namun tiket bioskop telah habis, seorang gadis berambut pendek berjalan mendekatinya.
"Om mau nonton horor pemuja iblis ya?"
Irsan mengernyit, dia tidak suka saat orang asing yang bersikap seperti mengenalnya. Terasa sangat membosankan karena dia kerap merasakan hal itu di rumah sakit.
"Aku punya tiketnya, aku sempet masuk tapi gak jadi karena takut. Kalau Om mau. Niih."
Gadis berambut pendek itu menyerahkan tiket padanya dan langsung pergi bergitu saja. Karena terlanut memegang tiket, petugas tiket pun melambaikan tangan dan memberi tahu jika film akan segera di mulai. Dan memintanya untuk segera masuk.
"Padahal jelas jelas tiket ini sudah di robeknya, kenapa aku masih bisa masuk dengan hanya membawa sobekan tiket. Keberuntungan yang tidak aku sangka." gumam Irsan saat masuk kedalam studio yang sudah dalam ke adaan gelap.
Petugas bioskop menghampirinya dengan membawa senter dan membantu mencari nomor kursi tanpa tahu disampingnya Cecilia.
Flash back Off
Irsan berdecak dan hendak bangkit dari duduknya, namun Cecilia menarik pergelangan tangannya.
"No ... No! Filmnya bentar lagi selesai, aku ingin nonton. Duduk saja Om! Please? Aku takut kalau nonton sendiri."
Irsan menghela nafas, dia kembali duduk dan kembali menonton film. Tidak ada percakapan diantara mereka, Cecilia fokus dengan adegan adegan menakutkan dan terkihat menahan diri agar tidak berteriak. Sementara Irsan diam diam meliriknya.
Gadis ini cukup cantik dan tidak menyebalkan jika hanya diam dan kalem.
Cecilia mengulum senyuman, dia diam bukan berarti tidak tahu jika Irsan memperhatikannya. Perlahan dia menggeserkan kepalanya sedikit sedikit.
"Awas nanti cinta beneran!" gumamnya yang tentu saja membuat Irsan tersentak.
Dia menoleh, begitu juga dengan Cecilia. Sepersekian detik mereka saling menatap satu sama lain dengan layar menyala yang menjadi penerang keduanya.
Cecilia bisa merasakan hangatnya nafas Irsan, dengan gerakan perlahan Cecilia semakin memajukan wajahnya. Namun seketika Irsan mundur dan bangkit dari duduknya, dia keluar dari studio bioskop dengan dada yang berdetak detak tidak karuan.
Sementara Cecilia terkekeh dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Sial ... Padahal dikit lagi itu! Aaah ... Tahu gitu tadi nurut aja pas si Nita ngajak nonton Romance."
Film belum berakhir, Cecilia juga memilih untuk keluar dan mencari sahabat yang telah meninggalkannya. Terlihat Nita tengah duduk di food courd dengan soft drink dan sepiring siomay.
"Heh brengsekkk lo!" Cecilia menarik kursi di depannya. Dan langsung mencuil siomay.
"Sorry deh Ce! Abisnya gue beneran takut tahu!"
Cecilia terdiam, dia sibuk mengunyah dan kembali memesan satu porsi lagi pada penjual siomay yang berada tepat di belakangnya.
"Ce ... Lo marah ya sama gue! Sorry deh! Gue kan udah bilang, gue takut kalau nonton horor yang diangkat dari kisah nyata. Kebawa bawa mimpi lagi nanti! Mana apartemen gue di kenal angker ya kan!"
Cecilia lagi lagi tidak menjawabnya, dia sibuk membumbui siomay yang baru saja diantarkan padanya.
"Ce!! Lo bener bener marah?"
"Enggak siapa bilang! Gue malah makasih karena lo pergi!"
Nita mengernyitkan dahinya, "Nyindir gue lo!"
"Serius ... Karena pas lo pergi, gue ...!" Cecilia menjeda ucapannya, bibirnya melengkung tipis membayangkan wajah Irsan yang hanya di terangi layar bioskop, yang juga meliriknya diam diam.
"Apaan sih lo! Gak jelas banget!"
"Dia kayaknya suka deh sama gue!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
lina
ember irsan suka ma u. e 🤣🤣
2022-11-19
1
lina
🤣🤣🤣 ulah s nita
2022-11-02
0
lina
🤣🤣🤣🤣 pasti irsan
2022-11-02
0