Cecilia dengan sengaja terus melihat ke arah Reno, hingga pria itu terlihat gugup dan terus memalingkan wajahnya.
"Kenapa?" tanya istrinya yang meskipun telah lanjut usia, gurat kecantikannya masih terlihat jelas. Dan tentu saja karena perawatan yang kerap dia lakukannya.
"Tidak ... Aku hanya merasa kekenyangan! Aku ke toilet dulu."
Reno mengangkat bokongnya dan pergi ke toilet sementara Cecilia mengulum senyum dan mengikuti Reno dari belakang. Asisten Reno sempat kehilangan akal, namun dengan cepat dia mengikuti keduanya.
"Daddy!"
Reno menoleh dan tersentak kaget melihat Cecilia merangsek masuk ke dalam toilet pria. "Astaga ... Kenapa kau kemari honey! Istriku ada di depan, bagaimana kalau dia memergoki kita. Sudah sana, nanti aku menghubungimu."
Asisten Reno pun menariknya keluar, namun Cecilia merengek manja. "Daddy gitu deh! Aku hanya ingin melihat Daddy sebentar, masa gak boleh! Aku kangen tahu!"
Reno melirik ke arah asistennya dan mengangguk, akhirnya asistennya itu hanya menunggu di luar pintu dan berjaga jaga agar istrinya tidak curiga.
"Baru juga dua hari honey."
"Iya dua hari, tapi kayak udah dua tahun Daddy."
Pria yang tengah tergila gila dengan gadis muda itu mengulum senyuman. "Kau paling bisa menyenangkan hati."
Cecilia terkekeh, namun tak berlangsung lama karena asisten mengetuk pintu dan memberi tahu jika Istri Reno tengah berjalan ke arah toilet. Yang sudah pasti akan melewati toilet pria.
"Sekarang aku harus pergi! Aku tidak ingin membuat masalah nantinya dan membuat kita ketahuan."
Cup
Reno mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Cecilia yang terus mengulas senyuman manis di bibirnya. Kedua matanya mengikuti pergerakan Reno yang keluar dari toilet.
"Daddy sayang! Jangan harap gue bisa pergi sebelum gue dapet apa yang gue mau."
Cecilia keluar dari sana dan masuk ke dalam ke dalam toilet wanita. Dia mencuci tangannya dan merapikan riasannya dengan terus menerka nerka di bilik mana Istri Reno berada.
Tak lama seorang wanita paruh baya keluar dari bilik toilet dan mencuci tangan di wastafel. Mereka berdiri bersisian.
"Adduuh!"
Cecilia mengaduh, dengan memegangi kepalanya, dan bersandar di dinding.
"Kau kenapa?"
"Ah ... Tidak apa apa! Aku hanya pusing sedikit."
"Kau pasti kelelahan!"
Cecilia mengangguk lemah, dengan terus memegangi kepalanya.
"Kau perlu obat pereda sakit? Aku punya." ujar Istri Reno mengobrak abrik tas mahalnya.
"Terima kasih nyonya. Anda baik sekali! Seperti ibuku."
"Panggil aku Irene."
Cecilia mengangguk, "Tante Irene?"
"Itu lebih baik sayang! Kau cantik sekali,"
"Tante bisa aja." Cecilia terkekeh.
"Kau sendirian?"
Cecilia kembali mengangguk lemah, "Iya ... sebenarnya aku sudah menyuruh temanku datang menjemput kesini tapi belum datang, aku sebenarnya tidak enak badan sejak pagi! Tapi karena aku sedang banyak tugas kampus, aku harus mencari buku di sini."
"Wah selain cantik! Kau juga pasti pintar."
"Tante bisa aja, aku benar benar seperti mengobrol dengan ibuku yang tinggal jauh. Ahh ... Aku jadi rindu."
Irene mengangguk lirih, "Ibu mu pasti orang baik dan bangga karena memiliki putri secantik ini. Oh ya siapa namamu?"
"Cecil Tante."
"Bagaimana kalau Cecil bergabung denganku sambil menunggu temanmu menjemputmu disini?"
Gadis berusia 20 tahun itu menggelengkan kepalanya, "Tidak usah tante, aku tidak enak nanti."
"Tidak apa apa! Aku bersama suamiku di sini, dia pasti tidak akan keberatan kalau kamu bergabung. Yuk tante bantu."
Irene membantu dengan memapahnya keluar, dia mengajaknya bergabung di meja mereka dimana Reno terbelalak saat istrinya menggandeng Cecilia.
"Mas! Mas tidak keberatan kan kalau Cecil menunggu bersama kita disini? Kasian dia, tadi mengeluh pusing dan menunggu temannya datang menjemput."
Reno hampir tersedak ludahnya sendiri, bagaimana mungkin tiba tiba pusing dan bertemu istrinya, padahal sebelumnya Cecilia terlihat baik baik saja.
"Tante ... Lebih baik aku menunggu di tempat lain saja! Aku benar benar tidak enak."
"Tidak apa apa Cecil! Ayo duduk! Iya kan Mas?"
Reno hanya mengangguk pasrah, saat Irene menarik kursi dan menyuruh Cecilia duduk tepat di samping Reno.
Cecilia melirik diam diam ke arah Reno dan mengulas senyuman manis pada Irene. "Makasih tante, tante baik banget ... Om juga!"
Reno hanya bisa mengangguk lagi, sementara jemari Cecilia sudah merayap ke arah paha Reno di bawah meja, membuat Reno tersentak namun juga dengan perasaan yang sulit di artikan.
Dia menepis tangan Cecilia namun Cecilia tidak menyerah, dia terus menggoda Reno secara sembunyi sembunyi di depan Irene.
'Daddy! Kapan kita habiskan waktu lagi? Aku kangen!'
Cecilia mengirimkan pesan singkat ke nomor Reno, dengan tangan terus menyusuri paha Reno.
'Honey!! Hentikan, pergilah shopping atau apapun yang kau suka! Bukankah aku sudah kasih uang?'
'Aku mau beli tas limited edition, tapi uang nya kurang.'
'Pergilah dulu ... Jangan membuat Irene curiga! Dan beli lah tas itu, Daddy akan mentransfer uangnya nanti.'
Cecil mengulum senyuman saat membaca pesan singkat yang di kirim Reno.
"Cecil ... Minum ini!" Irene menyodorkan minuman yang baru saja dia pesankan untuknya, membuatnya sedikit tersentak.
"Tante ... Makasih lagi. Tante baik banget! Beruntung Om punya istri kayak Tante Irene." ujarnya memuji.
"Gimana dengan pusingmu?"
"Udah mendingan tante! Itu karena obat yang tante kasih tadi."
"Syukurlah!"
"Ayo Irene ... Kita pulang!" Ajak Reno yang mulai tidak nyaman karena Cecilia terus menggodanya terang terangan, dia semakin takut ketahuan oleh istrinya saat itu juga.
"Sayang ... Bisa tunggu sebentar lagi? Sampai teman Cecil datang, Kasian dia." ujar Irene mengelus lengan Cecil.
"Gak apa apa Tante, Om ... Kalau mau pulang. Cecil biar tunggu temen Cecil di sini. Dia sedang di toko buku dan... Itu dia." ujarnya menunjuk Nita yang baru saja keluar dari toko buku.
Nita membulatkan kedua matanya saat melihat Cecilia, dia melirik ke arah Reno lalu ke arah Irene bergantian. Cecilia melambaikan tangan ke arahnya.
"Ayo Irene, temannya sudah datang! Kita bisa pergi."
"Iya Mas ... Cecil, kami pergi dulu ya!"
"Terima kasih tante, semoga kita bisa ketemu lagi. Terima kasih Om." ujarnya menatap mereka bergantian.
Keduanya telah berlalu, Nita yang bahkan tidak bisa mengeluarkan kata kata itu duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Reno. Menatap Cecilia yang kini mengulum senyuman dengan memeriksa mobile banking miliknya.
"Sinting lo Ce! Itu Si Reno dan Istrinya?"
"Humm ...!"
"Gila lo parah! Kalau ketahuan mampus lo!"
"Gak tuh! Malah gue dapet ini!" sahutnya dengan memperlihatkan sejumlah uang yang baru saja dia terima dari Reno.
"Gila banyak banget si Reno kasih duit! Bukannya baru kemaren ya? Sumpah lo nekat banget Ce! empat jempol gue buat lo!" cerocos Nita yang terbeliak melihatnya
"Kita Party sampai pagi Nit!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
epifania rendo
cecil cecil
2023-04-29
0
∆_•MiMih•_∆
yang penting Tf masuk teroooosss...
2022-12-25
1
N Wage
itulah yg namanya uang panas,saking panasnya panas cepat
juga menguapnya.
itu habisnya jg buat foya foya...kasihan.😐
2022-10-27
2