Dirga menarik tangan Nita yang sudah setengah berbaring di atas ranjang dengan kasar, hingga gadis itu tersentak kaget. Cecilia menarik dan mendorong Dirga agar menjauhi sahabatnya.
"Lo gila!"
"Selalu lo belain temen lo itu! Dia gak ngehargain gue sebagai pacar lo dan orang yang tinggal sama lo di sini." sentak Dirga pada Cecilia.
"Ya tapi gak maen kasar juga!"
Nita melerai kedua pasangan tidak jelas itu agar tidak terus ribut gara gara dirinya, dia menarik lengan Cecilia "Udah Ce ... Gak usah ribut! Gue balik aja."
"Enggak Nit! Lo gak usah balik, gue yang ngajak lo kesini! Dan lo tidur aja di sofa, malem ini doang kok! Kasian kalau pulang, lo tahu jarak apartemennya jauh."
Dirga menepis tangan Cecilia, "Jangan banyak alesan, kalian gak aneh pulang malem bahkan dini hari! Udah biasanya juga kan! Jadi gak usah pada lebay!"
"Apaan sih! Lo yang lebay banget cuma gara gara gue nginep disini doang! Udah Ce gue balik aja." Nita menyambar tas miliknya dan keluar dari kamar, Cecilia menyusul dan mencegahnya, dia tidak ingin Nita pergi.
"Nit tunggu!"
Dirga menarik Cecilia agar tidak mengejarnya, walau pun Cecilia beberapa kali memberontak dengan mendorong tubuh Dirga beberapa kali.
"Dirg! Lepasin gue."
"Enggak! Lo tuh keras kepala banget! Lo lebih milih temen lo itu dibandingin gue? Kenapa ... Karena dia teman sepenanggungan sama lo? Senasib sama lo dan Sama sama pelacuurrr!"
Plak!
"Cukup Dirga! Lo gak mesti ngomong kayak gitu! Kalau lo gak suka, lo tinggal pergi!"
Dirga terperanjat dengan memegangi pipi yang baru saja ditampar Cecilia, tak lama dia mencengkram kedua pipi Cecilia, "Lo nampar gue cuma gara gara Nita?"
"Lepas! Sakit Dirga!"
"Sakit? Lo bilang sakit?" ujar Dirga dengan cengkramannya yang kian menguat, hingga rasanya perih saat ujung ujung kukunya menusuk kulit pipi.
Cecilia meronta, bahkan dia menendang tulang kering kakinya, namun justru membuat Dirga semakin marah. "Lo tahu gimana sakit nya gue yang gak pernah lo hargai. Hem?" Dia menghentak dan mendorong Cecilia hingga kepalanya membentur lemari di belakangnya. Tak berhenti di situ, dalam kemarahannya Dirga membenturkan kepalanya lagi dua kali, hingga Cecilia jatuh terduduk, pria jangkung itu menendang nya sekali.
"Lo emang brengsekk! Lo gak pernah mau dengerin gue!" ucapnya lagi.
Cecilia menangis dengan memegangi kepalanya, kenangan buruk masa lalu kembali berputar, kekerasan yang kerap dia alami semasa kecil, pria bertubuh besar yang tidak lain ayah tirinya berkali kali membenturkan kepalanya ke tembok di depan ibunya sendiri. Sang ibu hanya bisa menangis tanpa bisa menolongnya.
Cecilia merintih kesakitan, bukan hanya di kepala saja saat itu, namun menangis karena mengingat ibu yang melihatnya menderita namun tidak bisa melakukan apa apa. Dan sekarang, dia kembali mengalaminya lagi, kekerasan fisik yang di lakukan oleh Dirga.
"Dirga!"
"Gak usah belaga akting di depan gue! Air mata lo itu gak ada artinya buat gue."
"Dir---ga!!"
Dirga menariknya dengan kasar, dan membawanya masuk kedalam kamar. Menghempaskannya ke atas kasur dengan kasar.
"Lo emang pantes diperlakukan kasar! Gak cuma ayah tiri lo, tapi sama pria pria termasuk gue. Kenapa? Karena lo hanya seorang pelacurrr yang gak berharga sama sekali."
"Iya semua yang lo katakan emang bener! Tapi lo juga gak berhak ngatain gue, lo fikir lo orang yang suci? Lo sama saja Dirga! Lo juga nikmatin duit yang pelacurrr ini hasilkan bukan?"
Plak!
Dirga menampar wajah Cecilia dengan keras, hingga bekas telapak tangannya terlihat jelas di pipi putih Cecilia, dia juga mencekik lehernya hingga Cecilia hampir kehabisan oksigen.
"Dirga! Lo gi--gila!"
"Ya ... Sekalian lo gue matiin!!!" ujarnya melepas tangannya dari leher Cecilia.
Uhuk uhuk
Cecilia terbatuk batuk dengan memegangi lehernya yang sakit, dia bangkit dan mendorong tubuh Dirga, dia ingin lari dari sana sebelum Dirga semakin biadap. Namun jelas Dirga tidak akan mengijinkan Cecilia keluar, dia menghempaskan kembali tubuhnya ke atas ranjang.
"Lo fikir lo bisa kabur hah? Jangan harap Pelacurrr!" ujarnya dengan melemparkan lampu duduk ke arahnya dan mengenai kepalanya.
Brak!
***
Cecilia meringkuk memeluk kedua lulutnya di atas kasur, kamarnya sudah tidak karuan karena kemarahan Dirga yang tidak karuan. Kedua matanya bengkak karena terus menangis, dengan wajah lebam dan kepala yang sedikit berdarah.
Dirga membuka pintu kamar, membawa nampan berisi bubur dan juga segelas air. Menyimpannya di atas meja di dekat ranjang.
"Nih lo makan dulu! Gue udah beliin bubur."
Cecilia terdiam, Dirga memang selalu begitu. Setelah semalam mengamuk dan menyiksanya, juga merusak barang. Dia akan terlihat baik baik saja di pagi hari seolah tidak terjadi apa apa, jangan kan meminta maaf atas kekerasan yang dia lakukan, membahasnya saja tidak.
"Gue harus ke kampus! Ada kelas pagi. Mobil gue bawa! Lo gak usah ke kampus hari ini. Lo istirahat aja."
Cecilia sama sekali tidak menjawabnya, dia tetap terdiam tanpa sedikitpun ingin menatap Dirga. Sampai Dirga menghilang di balik pintu kamar dan keluar dari apartemen.
Bahu Cecilia bergetar lagi, menandakan dia kembali menangis diam diam, luka di tubuhnya memang sakit, namun hatinya lebih sakit lagi, bahkan lebih parah dari sekedar darah yang keluar dari kepalanya. Perlahan dia turun dari ranjang, mencari ponsel miliknya namun tidak menemukannya dimana mana.
Cecilia keluar dari kamar, matanya menyapu ruangan apartemen luas itu mencari tas dan ponselnya, namun lagi lagi tidak dia temukan.
"Sial ... si Dirga pasti bawa ponsel gue!"
Dia pun terduduk lemah di sofa, memegangi kepalanya yang sakit, dia tidak bisa terus diam di apartemen, dia harus menghubungi seseorang yang bisa membantunya.
Namun ponselnya juga tidak ada, dan dia tidak ingin keluar dengan penampilan yang buruk seperti saat ini.
Cecilia kembali masuk ke kamar, membuka lemari.
"Brengsekk ... Dia juga bawa semua uang gue! Dirgaaa!!" teriaknya dengan menggebrak pintu lemari dengan keras.
Dirga sudah keterlaluan, amarahnya yang kerap meluap itu semakin menjadi tidak terkontrol. Dia benar benar toxic, dan ini tidak bisa dia maafkan.
Dengan sisa tenaganya yang masih lemah, Cecilia berjalan ke arah pintu keluar, dia mengotak ngatik kunci otomatis di pintunya agar Dirga tidak bisa masuk lagi ke dalam apartemennya.
"Harusnya gue dengerin apa kata lo Nit! Sebelum gue bener bener mati di tangan Dirga hanya karena gue mikirin apa kata orang!" gumamnya setelah berhasil mengganti nomor pin yang digunakan sebagai akses masuk.
Setelah itu dia kembali ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, bersembunyi di dalam selimut tebal dan kembali menangis sendiri.
"Gue emang bodoh! Harusnya gue lakuin ini dari dulu!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
epifania rendo
kasian kan jauhi laki2 bagitu
2023-04-29
0
Manroy Manta
ya ampun cecil, thor tolongin cecil napa
2022-12-20
1
Sri Lestari
iya kau bodoh cecil dirga cuma manfaatin lo, kasar begitu masih dipiara
2022-12-09
1