Dan seperti biasa, Cecilia menghabiskan waktu di klub, entah berapa gelas dia meminum alkohol, tapi karena dia sudah biasa dan dia memang kuat minum, mengeksplor lantai klub dengan berjoged di iringi musik R & B dan juga Hip hop yang di mainkan seorang DJ.
Kehidupan Cecilia memang tidak jauh dari gemerlap dunia hiburan, minuman keras bukan hal aneh baginya, bahkan melakukan hubungan dalam satu malam juga bukan hal yang tabu di lakukannya. Untuk hal itu berbeda, jelas ada uang yang bicara. Namun Cecilia juga tidak ceroboh, dia tidak akan melakukannya dengan sembarangan orang, hanya orang orang dari High Class yang dia terima, bahkan orang orang penting di dalam pemerintahan.
Soal tarif jangan di tanya, dirinya tentu memasang harga tinggi. Dia tidak akan melakukannya tanpa di bayar, terkecuali Dirga. Satu satunya pria yang bisa menikmatinya tanpa membayar, alasan yang dipakainya cukup klise, Cinta.
Dan itu dulu, sekitar tujuh bulan yang lalu, dimana Dirga yang tengah patah hati ditinggal Serly, dan dirinya yang merasa jatuh cinta padanya. Meskipun sekarang dia merasakan keraguan atas perasaan yang dia yakini itu cinta.
Namun tidak pernah ada yang tahu jika Cecilia kerap menangis sendirian, terjebak dalam kubangan yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan, bak rantai yang membelenggu leher nya dengan jutaan ton besi terikat di kakinya. Kemana pun dia pergi, beban itu seolah mengikutinya.
Jika sudah begitu, Cecilia akan mengurung diri di kamar mandi, menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam air, bahkan menahan nafas selama mungkin hingga merasa dadanya sesak karena kehabisan oksigen.
Mentalnya terganggu? Mungkin iya, bayangan masa lalu yang kelam masih kerap mengusiknya, masa lalu yang berpengaruh besar pada kehidupan yang saat ini dia jalani.
Cecilia tidak ingin terus hidup dalam ketakutan masa lalu, maka dari itu dia kerap mabuk sebelum pulang atau bahkan sebelum tidur, karena itu lah satu satu nya cara agar tidurnya tidak terganggu.
Seperti saat ini, Cecilia kembali ke apartemen dini hari dalam keadaan mabuk parah, supir taksi yang mengantarkannya pulang hanya bisa melongo saat Cecilia keluar dari taksi tanpa membayar ongkos nya. Sepersekian detik pria paruh baya itu tersadar dan menyusulnya masuk.
"Non ... Nona, nona belum bayar!"
Cecilia yang berjalan sempoyongan dengan kedua high hilss yang dia tenteng ditangannya menoleh,
"Belum bayar? Apa yang aku belum bayar sayang?" ucapnya dengan terkekeh.
"Ongkos taksi Nona!"
"Ah ... Iya, aku naik taksi ya! Maaf yaa," ujarnya dengan merogoh tas untuk mengambil dompet.
Dan dia memberikan dompet itu pada pria berseragam sebuah perusahaan taksi terbesar, "Ambil sendiri!" ucapnya lagi dengan terus meracau.
Supir taksi itu tentu saja canggung, dia tidak berani mengambil uang di dalam dompet tebal itu, hingga Cecilia mencabut semua kertas berwarna merah dan memberikannya pada supir taksi yang kini lebih tercengang karena mendapatkan uang yang cukup banyak. Setelah itu Cecilia pergi begitu saja meninggalkannya.
Dirga muncul merebut uang dari tangan supir, dan memberikannya dua lembar saja.
"Dia pacar gue! Dan uang yang diberikan ini uang gue, sekarang pergilah, jangan sampai gue tendang muka lo." ujarnya dengan kasar.
Supir taksi yang tercengang itu pun segera pergi, dia tidak ingin berurusan dengan anak muda yang terlihat tidak punya rasa ke sopanan itu. Namun saat hendak melaju, Irsan berlari menghampirinya.
"Taksi ...! Kebetulan sekali, antarkan aku ke rumah sakit." ucapnya dengan buru buru masuk.
Supir taksi tentu saja senang, karena mendapat penumpang lagi.
'Ya ... Baiklah! Siapkan meja operasi sekarang juga, aku sedang dalam perjalanan.'
Irsan baru saja mendapat telepon dari rumah sakit, jika ada salah satu pasiennya harus segera di tangani.
"Pak ... Bisa di percepat? Aku sangat buru buru."
"Baik tuan!"
Drett
Drett
Drett
Irsan memeriksa ponselnya, namun tidak ada panggilan atau chat apapun di ponselnya, sementara dering ponsel terus menggaung.
"Apa ponsel anda pak?" tanya Supir memastikan.
"Bukan, tapi sepertinya dari belakang."
Ada bunyi ponsel di kursi belakang, Irsan yang duduk di kursi depan pun memeriksanya dan menemukannya tergeletak di seat mobil.
"Ini ponsel bapak?" Tanya Irsan.
"Aaah ... Sepertinya ponsel Nona baik hati tadi. Dia sepertinya mabuk, sampai meninggalkan ponselnya di sini."
Irsan menyodorkannya pada supir taksi itu, dia juga enggan menyimpannya karena merasa Irsan yang lebih baik menyimpannya karena dia juga keluar dari Apartemen.
"Apa anda juga tinggal di apartemen itu?" tanya Supir menoleh sekilas.
"Ya. Aku tinggal di sana."
"Apa sebaiknya anda bawa saja Dok? Agar bisa bantu mengembalikannya pada Nona yang tadi naik di mobil saya?"
"Tapi aku juga tidak tahu siapa yang anda maksud. Penghuni Apartemen itu banyak, dan tidak ada yang aku kenal."
"Tapi kalau saya yang menyimpannya, saya tidak berani Tuan, bisa bisa saya kena tegur pacarnya lagi."
Irsan berfikir sebentar, dia saja tidak tahu siapa yang baru saja naik taksi dan sama sama penghuni Apartemen.
"Pacar?"
Supir taksi mengangguk, "Betul tuan."
Dia pun akhirnya menekan tombol untuk mencari informasi pemilik ponsel. Seketika Irsan terbelalak sempurna melihat foto yang menjadi wallpaper ponsel keluaran terbaru itu.
"Ini sih si jalaaang kecil!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
epifania rendo
si jalang kecil
2023-04-28
0
Sheila Silvia
j
2022-12-19
0
Yuli Ana
ke apesan Irsan,,,pintu u tuk jalan kehidupan bar Cece
2022-12-06
1