"Ngomong apaan sih! Gak jelas banget. Kesurupan lo?"
"Lo inget cowok di coffee shop yang lagi sama anak dan istrinya?" Tanya Cecilia dengan kedua mata mengerling, "Tadi gue ketemu dia di dalem, dan hampir aja gue berhasil ciuum dia! Kayaknya gue udah nemuin jodoh gue deh Nit."
Nita jelas tercengang, dengan pupil melebar menatap sahabatnya yang bicara tak karuan. "Lo gila? Mana mungkin lo bisa seyakin itu kalau dia jodoh lo!"
Cecilia menunjuk dadanya sendiri, "Hati Nit ... hati gue yang bilang begitu!"
"Habis obat lo? Ngaco ... Kalau nentuin jodoh segampang itu, gue juga pengen kali. Hati gue suka bilang kalau jodoh gue aktor korea diserial yang sering gue tonton. Yang lagi viral itu."
"Gue serius anjim!!!"
"Serah lo deh! Gue mending pulang, nonton serial yang maennya jodoh gue!" Nita beranjak pergi, dia mana percaya omong kosong yang di ucapkan sahabatnya.
Cecilia mengejarnya, tidak lupa membawa es boba pesanannya, "Eh gue serius bego! Lo harus bantuin gue."
Keduanya keluar area food courd dengan tertawa dan saing menoyor kepala, melewati coffe shop milik Irsan, namun tidak melihatnya ada di sana.
"Lo harus bantuin gue dapetin dia."
"Kenapa lo minta bantuan gue! Lo bisa godain dia dengan gampang. Selama ini gak ada yang bisa nolak lo kan."
"Justru itu ... Satu satunya nolak gue cuma dokter itu! Dan gue gak bisa godain dia sama sekali. Terlebih dia punya istri dan anak!" Gumam Cecilia dengan menatap Coffe shop didepannya. Mencari Irsan.
"Berarti dia tife setia! Sayang keluarga."
Cecilia mengangguk, "Bener banget Nit! Dia bahkan gak nolak dan marah waktu ibu nelfon dan suruh dia datang."
"Hah??"
Cecilia menarik tangan Nita, mereka berlalu dari sana dengan terkikik. "Gue ceritanya nanti aja! Yang pasti dokter Irsan cocok banget sama gue. Dia jodoh gue."
Nita menghela nafas panjang mendengar kata kata yang terus Cecilia ucapkan itu, dengan menoleh ke belakang dan melihat coffe shop dari kejauhan. Juga Irsan yang baru saja keluar dari sana.
"Itu kan om yang tadi gue kasih tiket! Dia duduk disebelah lo berarti?"
"Serius lo? Lo yang kasih tiket itu?"
"Gue serius, gue inget banget mukanya,"
Cecilia berhambur memeluk Nita dengan erat, lalu tubuhnya dia goyang kan ke kiri dan kanan.
"Aaaaa ... Nita, gue harus bilang makasih sama lo! Ternyata lo udah bantuin gue secara gak langsung."
"Apaan sih!! Lepasin gue ah!"
Cecilia terus tertawa dengan memeluk Nita dan tidak mau melepasnya walau sahabatnya itu sudah berteriak teriak minta dilepaskan.
"Cecil!!!! Lo ih ... Anjim banget!! Lepas, lo gak normal."
Cecilia tertawa, memeluk tubuh Nita dan menciumi wajahnya. "Pokoknya gue seneng banget!!! Muah ... Muah!"
"Gila lo! Udah lepas ah! Di kira kita tempe makan tempe mau lo! Tuh pada liatin kita! Ujarnya dengan terus menepis tangan Cecilia yang melingkar di tubuhnya dan mendorong bibirnya yang berusaha mencium pipinya.
Tanpa mereka sadari Irsan sudah berjalan keluar dan melewati mereka berdua, menatap keduanya dengan alis yang bertautan.
"Benar benar gila!" desisnya dengan berlalu pergi.
Nita yang melihat dan mendengarnya menolehkan kepala Cecilia agar melihat Irsan yang baru saja lewat, "Mampus lo! Noh dilihat jodoh lo! Makin gak mau dia sama lo yang geragasaan begitu!"
Cecilia termangu, dia menatap punggung Irsan yang berjalan semakin menjauh. Tangannya terlepas dari tubuh Nita dan lunglai begitu saja.
"Yah ... Lo kenapa gak bilang sebelum nya sih!"
Nita berdecak, dia kembali berjalan dan meninggalkan Cecilia.
***
Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di apartemen milik Cecilia. Mereka berdua keluar dari mobil. Cecilia mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Cari siapa?"
"Kali aja aku ketemu lagi di sini."
"Ya lo datengin aja langsung ke unitnya, gampang kan!" Nita yang mengerdik tak peduli melanjutkan langkahnya.
Namun Cecilia berdiri mematung dengan fikirannya. "Bego kalau gue dateng ke unitnya langsung, ketemu istrinya nanti! Terus ditanya. Mana mungkin gue bilang to the point kalau gue suka suami nya."
Cecilia mengejar Nita yang lebih dulu masuk lift, gasis berambut panjang itu menekan tombol no lima dimana lantai itu unitnya berada.
"Nit! Ide lo buat langsung ke unitnya bagus juga! Gue bisa deketin dulu istri dan anaknya, biar lebih banyak tahu gimana Irsan."
Kedua mata Nita terbelakak, dia tidak menyangka ucapan asal yang dia katakan di anggap serius bahkan menjadi ide untuk Cecilia.
"Lo gila apa? Ngelakuin itu!"
"Bukan nya ide bagus itu? Gue perlahan lahan deketin mereka."
Nita menoyor kepala Cecilia, "Mana ada bagus itu! Yang ada lo bego, cara lo kampungan! Dah ah gue males ngomong sama lo."
Cecilia berdecak, dia menyandarkan punggungnya di dinding lift dengan kembali memikirkan tentang Irsan.
Perkataan Nita dan juga wanita yang duduk di coffe shop serta anak kecil yang di pangku Irsan.
Ting
Lift terbuka, keduanya keluar tanpa bicara apa apa lagi, mereka sibuk dengan fikirannya masing masing.
Hingga telefon Nita berdering barulah mereka kembali mengobrol.
"Nit angkat telefon lo! Berisik tahu."
"Males ... Gue lagi gak mau ketemu siapa siapa malem ini!"
"Eeh ... Lo aja belum lihat siapa yang telfon. Kalau ayah lo gimana? Kalau penting gimana?"
"Bukan, gue baru kemaren ketemu ayah ... Palingan dari dia." jawab Nita malas tanpa melihat ponsel yang terus berdering di dalam tasnya.
"Ya udah terserah lo aja! Jangan sampe lo nyesel kalau itu ternyata penting banget." tukas cecilia menekan nomor sandi di pintu apartemen miliknya.
"Kalian dah balik?" Tanya Dirga yang tengah bermain Play station.
"Lo lihat kita kan? Pake ditanya." Ketus Nita, entah kenapa dia menyukai Dirga. Terlebih gara gara Dirga, dia dan Cecilia tidak lagi satu apartemen.
Brak!
"Heh Nit! Lo sensi mulu sama gue!" Dirga melempar majalah yang berada di atas meja.
"Iya lo tahu alesan nya apa! Ya karena gue gak suka sama lo." terang Nita tanpa basa basi, karena memang itulah alasannya.
Dirga bangkit dan berkacak pinggang, namun Cecilia menghalau langkahnya.
"Udah deh! Ngapain sih lo!"
"Temen lo tuh!" tunjuknya pada Nita yang melenggang masuk ke dalam kamar Cecilia.
Cecilia berdecak, dia juga langsung masuk tanpa mengatakan apa apa lagi. Dirga menarik lengannya hingga tubuh Cecilia menghadap ke arahnya lagi.
"Kalau dia tidur di sini! Gue dimana?"
"Lo bisa kan tidur di sofa!"
"Enak aja! Gue gak mau, si Nita aja yang di sofa." ujar Dirga mendorong pintu kamar dan masuk ke dalam.
"Udah Dirga! Gue cape ... Lo ngeributin hal sepele kayak gini terus!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
∆_•MiMih•_∆
Dirga Dirga gue GX sangka Lo begitu...
2022-12-25
1
Yuli Ana
kampert tuh orang
2022-12-06
1
Siti Suhartini
benalu iihh Dirga.. ga punya rumah apa 😈
2022-09-07
1