"Udah deh! Lo gak usah banyak fikiran, masalah lo udah banyak Ce! Belum masalah Dirga, kita harus lapor polisi, dia udah kelewatan batas!"
Cecilia terdiam, dia tidak tahu apa melaporkan masalah ini pada polisi menjadi solusi terbaik, atau bahkan justru membuat semua masalah semakin rumit. Nita menatapnya dalam dalam, sebagai sahabat yang sudah hampir enam tahun mengenalnya dan tahu masa lalu Cecilia seperti apa.
"Gue tahu ini pasti berat Ce! Tapi---"
"Gue gak tahu Nit! Gue gak bisa mutusin sekarang! Gue takut."
Nita menghela nafas, menggenggam tangan sahabatnya dengan erat, "Lo gak sendiri Ce! Ada gue."
"Thanks Nit!"
Sementara di luar, Dirga menggedor pintu apartemen bak orang kesurupan, dia begitu marah saat tahu dirinya tidak bisa masuk ke dalam.
Brak!
"Brengsekk! Cecil ... Gue tahu lo di dalam! Buka pintunya." ujarnya menendang pintu apartemen dengan keras.
"Cecilia!! Brengsekk lo! Pelacurr. Lo berani ganti password tanpa gue tahu bego!" teriaknya lagi.
Suara Dirga tentu saja sangat jelas terdengar karena hanya kamar yang dilengkapi peredam suara, sementara pintu depan tidak memilikinya.
"Nit, si Dirga ya?" Ujar Cecilia pada Niga yang baru saja masuk dengan membawa segelas juice jeruk
"Gue denger! Tapi gue minta sama lo, kali ini lo gak boleh luluh. Lo buang jauh jauh cowok brengsekk kayak dia! Lo gak usah lagi mikirin apa kata temen temen lo dikampus, bodo amat. Mereka aja gak pernah ada buat lo!" terangnya dengan memberikan gelas juice itu pada Cecilia.
Cecilia mengambil dan menenggaknya hingga hampir setengahnya, dan memberikannya lagi pada Nita untuk dia habiskan. Setelah juice jeruk itu habis Nita kembali duduk di tepi ranjang.
"Ayolah kita lapor polisi aja! Gue gak sabar pengen bikin dia kapok. Kalau bisa dijerat pasal berlapis lapis atau hukuman penjara seumur hidup aja deh.
Cecilia menarik bahu Nita dan memeluknya, "Lo bawel banget sih!"
"Lo harus janji! Lo bakal jauhin Dirga!"
"Gue gak janji Nit! Gue harus ambil dulu apa yang dia ambil dari gue."
Nita berdecak, "Lo malah mikirin begituan!"
"Eeh jangan gila! Aduudu ... Sakit pala gue!" ujarnya meringis, "Gue mati matian kerja buat dapetin itu semua Nit, enak banget si Dirga ambil gitu aja! Gue harus ambil lagi lah." ujarnya dengan memegangi kepalanya yang di balut perban.
"Terserah lo deh! Jangan sampe lo nyesel, gue udah bilang! Lo mau mati sia sia ditangan cowok brengsekk itu! Iihh ... Kesel gue pengen gue sianida dia." Nita mengepalkan tangannya, dia memukul mukul bantal dengan terus menggerutu tentang Dirga, Cecilia mengulum senyum, "Jangan Nit! Keenakan kalau dia langsung mati, mending kita culik dia, terus sekap di satu tempat, siksa dia silet silet muka yang ganteng tapi gak ada otak itu."
"Gila lo! Itu sih sakit jiwa namanya."
Keduanya terkekeh, walaupun Cecilia masih terus meringis, mereka mengabaikan teriakan dan juga gedoran Dirga diluar pintu sampai suara nya tidak lagi terdengar.
***
Dirga mengepalkan tangan dengan kepala tertunduk di depan pintu, berkali kali berteriak memanggil nama Cecilia namun tidak satu kali pun ada jawaban dari dalam,
"Brengsekkk! Lo emang cewek brengsekk. Gue harusnya gak kasih lo kesempatan buat hidup lagi. Gue harusnya habisi lo tadi malem. Dasar sialann!" gumamnya dengan gigi bergemelatuk marah.
Beberapa penghuni apartemen melewatinya dengan heran, ada juga yang tidak berani menatapnya langsung.
Seorang security datang setelah mendapat laporan terkait Dirga yang membuat keributan dan juga pengrusakan. Namun Dirga yang tengah emosi bahkan enggan mendengarkan peringatan dari security yang bertugas kala itu.
"Apa lo? Mau macem macem sama gue? Gue tinggal di sini dan bayar semua iuran tepat waktu, jadi gue berhak ngelakuin apapun itu termasuk ngerusak unit ini!"
Nita yang mendengarnya di balik pintu berdecak heran dengan tingkah Dirga yang semakin menyebalkan, dia masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang.
"Emang brengsekk si Dirga! Dia bahkan so berkuasa di sini, emangnya dia yang bayar semua? Jelas jelas dia cuma numpang hidup."
"Kayaknya gue harus ngomong sama dia Nit!"
"Jangan gila lo! Lo mau ngomong apa lagi sama dia? Yang ada dia nanti nyakitin lo lebih parah dari ini." Sentak Nita marah, dia jelas jelas tidak setuju Cecilia melakukan hal itu.
"Lo percaya sama gue Nit! Gue bakal baik baik aja."
***
Hampir satu jam Dirga berdiri di depan pintu apartemen, begitu juga dengan security yang tidak bisa menghandlenya. Hingga akhirnya pintu terbuka, Cecilia berdiri menatapnya.
"Akhirnya lo keluar juga brengsekk!" seru Dirga yang tidak lagi dapat membendung amarahnya.
Bugh!
Cecilia melempar tas berisi barang dan pakaian Dirga, tepat pada Dirga yang hendak masuk ke dalam.
"Apaan nih maksudnya?"
Cecilia tidak mengatakan apa apa, dia hanya menatapnya datar, pria jangkung itu menghempas tas hingga jatih tepat di kaki Cecilia.
"Lo gak bisa seenaknya ngusir gue dari sini! Kalau lo lakuin itu, lo gak bakal tahu apa yang bakal gue lakuin sama lo!"
"Emang lo mau ngelakuin apa? Lo gak tahu malu." sela Nita muncul dari belakang Cecilia.
Dirga semakin berang, dia menatap Nita dengan tajam, "Gue udah duga! Lo biang kerok!"
"Kalau iya kenapa? Gue emang gak suka lo perlakuin temen gue kayak gini! Gue bakal laporin lo ke polisi."
Tidak hanya Dirga yang tersentak, Cecilia juga tidak kalah kaget, dia menoleh ke arah belakang melihat sahabatnya.
"Nit!"
"Jangan bodoh Ce! Gue gak bakal tinggal diam liat lo di giniin! Lo mending jadi pelacurr seumur hidup dari pada hidup sama cowok yang gak tahu diri kayak dia." Sarkas Nita dengan kedua mata mendelik ke arah Dirga.
Dirga merangsek masuk dan hampir memukul Nita, namun Nita berhasil lari ke arah meja. Dan melempar vas bunga ke arahnya namun Dirga berhasil mengelak,
"Pergi lo brengsekk! Banci kaleng yang cuma berani sama cewek lo!"
Pria berparas kebule bulean itu berdecih, "Lo emang biang kerok! Lo seneng kan liat gue terus terusan berantem sama orang yang lo anggep temen itu! Apa dia belum tahu busuknya lo Nita?"
Cecilia menarik tangan Dirga, dan mendorongnya, "Dirga!"
"Hm ... Atau lo mau gue yang bilang?"
Dua orang security masuk dan berusaha membawa Dirga pergi, walaupun Dirga menolak dia bahkan di seret keluar dari sana karena sudah sangat meresahkan.
"Lo liat aja anjim! Gue gak bakal tinggal diam!" serunya dengan menepiskan tangan security yang menyeretnya, "Awas, gue bisa keluar sendiri!"
Cecilia menghampiri Nita, dan memeluknya, "Lo gak apa apa kan Nit?"
Nita mengangguk, "Udah gue bilang, dia itu brengsekk! Lo harusnya sadar dari dulu Ce."
"Maaf!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
∆_•MiMih•_∆
greget gue sama Dirga pengin gue geprek pake cabe setah 😬
2022-12-25
1
Yuli Ana
ayo kita silet2 dia ,,gw yakin kl ada Regi ini semua ga bakal terjadi..😡😡banci brani sm perempuan
2022-12-07
1
lina
bner tuh kata nita
2022-11-19
0