Irsan tiba di rumah sakit, dia setengah berlari menuju ruang operasi dimana semua orang telah menunggunya.
"Maaf aku terlambat!" ujarnya saat masuk, dia membuka jubah putih kebanggaannya dan seorang suster membantu memasangkan baju khusus operasi berwarna biru.
"Tidak apa Dok! Maaf harus membuat dokter kemari di saat dini hari."
"Itu sudah kewajibanku sebagai Dokter Sus."
Suster mengulas senyuman, dia menyerahkan berkas mengenai data dan diagnosis pasien sebelum Dokter masuk ke dalam.
"Semua siap?" ujarnya pada Tim yang akan membantunya.
Drett
Drett
Drett
Ponsel Cecilia yang berada di tasnya kembali berbunyi, dan membuat suster heran karena biasanya Dokter unggulan mereka kerap mematikan ponsel saat di ruang operasi.
"Mau di angkat dulu tidak dok? Takutnya penting."
"Tidak apa ... Itu bukan ponselku!" ujarnya masuk kedalam ruangan steril, dan membiarkan ponsel Cecilia terus menjerit jerit.
***
Dokter Irsan menghempaskan tubuhnya di kursi kerja miliknya, mengambil ponsel milik Cecilia yang tidak berhenti berdenting, karena ponselnya memakai sandi, dia juga tidak bisa melakukan apa apa termasuk mematikan daya ponsel.
Dia hanya melihat notifikasi pesan dari Dirga yang berisi umpatan umpatan kasar dan juga beberapa notifikasi lainnya yang di sinyalir dari Sang Daddy. Reno.
"Dasar jalaang kecil! Pintar sekali dia, memiliki pacar tapi juga berhubungan dengan pria lainnya."
Irsan kembali beranjak dari duduknya, tidak lupa dia memasukkan kembali ponsel Cecilia ke dalam tas. Seorang suster masuk membawa teh hangat untuknya.
"Dokter Irsan mau pulang?"
"Hm ... Aku harus mandi dan berganti pakaian, setelah iu kembali ke sini."
"Pasti sangat melelahkan!"
Irsan hanya tersenyum, meminum sedikit teh yang dia minta lalu segera keluar dari ruangannya untuk pulang.
***
Cecilia terbangun saat hari sudah terang benderang, sinar terangnya menerobos masuk dan membuat dia terperanjat. Bertambah kaget saat mengingat jika pagi ini dia harus ke kampus.
"Sial ... Si Dirga gak bangunin gue! Dia kan tahu gue ada kelas hari ini." gerutunya saat tahu Dirga sudah tidak ada dan dia sendirian di apartemen itu.
Gadis cantik berambut pirang itu masuk ke dalam kamar mandi, melakukan ritual bersih bersih yang secepat kilat dan menyambar pakaian paling atas di dalam lemarinya.
"Mana gak ada orang yang hubungin gue lagi!" gerutunya lagi dengan mencari ponsel di dalam tas yang di pakainya semalam, dia terus mencari hingga raut wajah nya berubah kesal karena tidak menemukannya.
"Ponsel gue mana lagi nih! Dah tahu telat, ada ada aja deh!"
Dengan cepat Cecilia keluar dari unit kamarnya, dengan tetap menggerutu pada Dirga yang telah pergi lebih dulu, tidak hanya itu, dia juga memakai mobil miliknya untuk pergi ke kampus.
"Mobil dia yang make, lah gue malah dia tinggal, bener bener nih si Dirga mesti di air keras supaya kapok." gumamnya masuk ke dalam lift.
Tak lama dia keluar dari lift dan berjalan keluar gedung, menghirup udara sebanyak mungkin dengan tangan yang dia rentangkan.
"Eeuhm ... Semangat Cecil ditahun ke tiga!" soraknya sendiri.
Bugh!
Tanpa sengaja tas miliknya mengenai bahu seseorang yang berada di belakangnya hingga dia berdehem.
Ekhem!
Cecilia menoleh ke arah belakang dan terkekeh, "Dokter Irsan lagi. Apa kabar dok? Bahunya gak apa apa kan?"
Irsan hanya mendengus, dia mengayunkan langkahnya meninggalkan gadis setengah gila dan tidak ingin terlibat apapun lagi dengannya.
"Sayang tunggu dong!"
Cecilia mengejarnya dengan terus terkekeh, kesempatan mengerjainya lagi tidak akan dia sia siakan begitu saja.
Orang orang yang mendengarnya tentu saja menoleh ke arah mereka, bak pasangan yang tengah bertengkar dan membuat Irsan kesal.
"Tutup mulutmu!"
"Maaf ... Kebiasaan memanggil sayang pada pria tampan!" Ucapnya terkikik.
Irsan masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin mobil dan bersiap pergi, dengan cepat Cecilia menghampirinya serta mencondongkan tubuhnya, dengan lengan yang sengaja dia letakkan di pintu mobil. Jarak wajahnya pun sengaja dia dekatkan.
"Apa aku boleh menebeng?"
Irsan mendengus lagi, "Jangan mimpi!"
Dia langsung menginjak pedal gas dan melaju, meninggalkan Cecilia yang kaget karena gerakan Irsan yang tiba tiba, untung saja tubuhnya tidak limbung. Dia berdecak kesal dengan menendang udara.
"Sialan! Hanya dia yang berani menolak."
Irsan melihatnya dari spion mobil, bibirnya melengkung tipis. Merasa puas karena membuat gadis yang memberinya banyak masalah itu kesal. Tiba tiba dia menghentikan laju kendaraannya. Menunggu sesaat dengan terus melihat ke arah spion.
Cecilia melihatnya dari belakang, dan tersenyum saat Irsan menghentikan mobilnya. "Gue udah bilang! Gak ada yang bisa nolak gue! Termasuk dia."
Tak lama Cecilia bergegas menghampirinya lagi, dia dengan percaya diri jika Irsan memang mengijinkan dirinya menebeng.
"Kenapa berubah fikiran sekarang? Atau Om dokter sebenarnya memang ingin mengajakku tapi tidak berani, hem?" ujarnya dengan kembali menyondongkan tubuhnya.
Irsan melongo keluar dengan tangan yang dia letakkan di pintu mobilnya, agar Cecilia tidak seberani tadi. Dia berdecih,
"Siapa yang berubah fikiran? Aku?"
Cecilia mengangguk, dia mengulas senyuman paling indah di wajahnya. "Iyakan?"
Irsan mengambil ponsel dan menyodorkannya pada Cecilia, membuat gadis itu semakin tersenyum.
"Kau ingin bertukar nomor denganku? Baiklah ... Tapi ponselku entah di mana sekarang! Aku lupa, aku akan menghubungimu nanti oke!" ujarnya dengan mengambil ponsel dari tangan Irsan.
"Itu ponselmu! Dasar bodoh." tukas Irsan kembali melajukan kendaraannya, dia tergelak melihat wajah dongkol Cecilia. "Dia benar benar bodoh!" gumamnya saat berlalu pergi.
Cecilia mengerjapkan kedua manik dengan bulu mata lentiknya itu, dia benar benar di kerjai oleh Irsan.
"Sialan tuh orang! Dia bener bener bikin gue keliatan bodoh!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
epifania rendo
di kerjain balik
2023-04-29
0
Meili Mekel
cecil sangay di sayankan
2022-10-22
2
Ni.Mar
haaAaaa tengsin donggg Cecil kelihatan bodoh di depan orang yg kita taksir gk enak bgt. pernah KY gitu malu gk ktulungannnnnn ampun dehhh
2022-10-02
0