"Kenapa? Lo gak percaya kalau gue bisa kasih orang tadi pelajaran? Kita lihat aja nanti. Gue bener bener akan nemuin dia." ujarnya dengan tergelak, satu tangannya bermain nakal di kancing baju Dirga.
Dirga menekan tombol lift, merengkuh bahu Cecilia dan membawanya masuk kedalam saat pintu lift terbuka.
"Mending lo sekarang tidur dari pada meracau kemana mana." Menepis tangannya masih masih menggerayang di balik celah kancing.
"Oh god! Lo emang cewe brengsekk. Lo gak tahu ada CCTV di lift ini."
Gadis berambut pirang itu berdesis, dia menyandarkan kepalanya pada bahu Dirga, "Gue gak peduli. Lo tahu gimana gue kalau tidur abis mabok kan? Hem ...? Lo juga pasti mau kan?"
Sial ini yang bikin gue makin gak bisa lepasin dia, selain uang. Dia tahu apa yang gue mau, tanpa harus kasih imbalan apapun. Dirga membatin, tak lama dia mengangguk pelan.
Cecilia mengulum senyuman, tidak ada satu pun pria yang bisa menolak pesonanya selama ini.
"Apa gue harus cari tahu siapa orang yang tadi?" ujar Dirga.
"Hm ... lo yang paling ngertiin gue sayang." ujar Cecilia dengan merapatkan tubuhnya, dia memeluk pria yang kini tidak kuasa menahan has ratnya. Tangannya sudah merekat di pinggang gadis berparas cantik dengan tindikan di hidung mancungnya.
"Nakal ...! Lo gak marah marah lagi kan?" tanya Cecilia dengan wajah menggoda, bibir sensualnya sedikit terbuka, seolah siap menyambar bibir lawan yang tiba tiba melemah dihadapannya.
Ting
Pintu lift terbuka, sesosok pria berjas hitam berdiri menatap mereka berdua, tak dinyana pria itu berdecih dengan pandangan jijik seraya menggelengkan kepalanya.
"Benar benar tidak punya etika!" gumamnya.
Cecilia maupun Dirga terbelalak, pria yang berdiri mematung dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya.
Ini kan pria yang tadi ngata ngatain gue?
Dirga melangkah keluar disusul oleh Cecilia yang berjalan lambat. Gadis berambut pirang itu terus menatap pria yang masih menunggunya keluar. Senyuman nakal dia layangkan namun pria itu sama sekali tidak menunjukan reaksi apa apa.
Bener ... Dia pria yang bilang gue cacat mental.
Mereka berjalan melewatinya, pria berjas hitam itu masuk tanpa ingin peduli sama sekali.
Namun dengan gerakan cepat, Cecilia kembali masuk pada saat pintu lift hendak tertutup. Meninggalkan Dirga yang tersentak kaget.
"Cecil ... Astaga! Apa yang dia lakukan. Bener bener tuh jalaang. Cari masalah mulu." serunya dengan terus menekan tombol agar lift terbuka. Namun usaha Dirga tentu saja sia sia, lift sudah berpindah lantai.
Cecilia menabrakkan dirinya dengan sengaja, membuat dadanya yang membusung menabrak tubuh tegap pria didepannya. Refleks pria itu memegang kedua bahunya untuk menjauh.
"Ingat aku tuan bijak?"
Pria tersebut mengernyit, rasanya dia tidak pernah melihat gadis cantik namun seberantakan itu.
"Kau mabuk?"
Cecilia terkekeh, dengan jadi telunjuk dan ibu jari yang dia rekatkan. "Hanya sedikit, pengaruhnya tidak seberapa, aku masih sadar dan ingat betul wajah anda tuan."
"Kau gila ... Aku bahkan tidak mengenalmu nona." ujarnya dengan mendorong Cecilia hingga di terhuyung.
Lagi lagi Cecilia terkekeh, dia tidak menyerah mendekatinya. Bak pucuk di cinta ulam pun tiba, dia tidak perlu susah payah mencarinya.
"Itu sebabnya aku disini tuan, mari berkenalan."
Cecilia mengulurkan tangannya, dengan senyuman di wajah cantiknya. "Veronika Cecilia, call me Cecilia,"
"Aku tidak berminat!"
"Kalau begitu call me sayang gimana? Hem ...?"
"Benar benar sinting."
"Tidak apa apa ... Aku memang sinting." Cecilia kembali terkekeh.
Pria itu menggeser tubuhnya satu langkah ke samping, begitu juga dengan Cecilia yang terus menempel.
"Kau tahu tuan bijak! Aku bisa melakukan apapun. Diatas ... Dibawah, disamping, atau apapun yang kau perintahkan." ujarnya dengan kerlingan satu matanya.
Pria itu tidak menjawab, dia menatapnya dengan bengis dan hanya mendengus kasar.
"Kau tidak percaya? Atau mau aku contohkan?"
"Enyahlah!"
"No no ... No! Aku tidak akan pergi sebelum berkenalan," Cecilia melirik nomor lantai yang muncul di atas pintu lift. "Atau aku akan memberimu satu contoh yang akan membuatmu menyesal sekali tuan."
"What ever lakukan semaumu."
Cecilia kembali mendekat, kali ini dia menghadap ke arahnya, sedikit berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke arah telinga pria berjas hitam itu. "Kau akan segera jadi milikku tuan!"
Namun pria itu kembali mendorongnya, "Kau fikir aku mau denganmu jalaang kecil?"
"Tentu saja ... Cause I'm a Sugar Baby!"
Ting
Cecilia mengedipkan satu mata kearahnya dan merobek baju bagian bahunya dengan sengaja, pintu terbuka dan seketika tubuh Cecilia terhuyung ke arah luar.
"Tolong ...!"
Pria itu tersentak bukan main, dia benar benar tidak menyangka wanita muda itu benar benar sangat nekad.
Beberapa orang yang tengah berada dilantai satu itu menoleh ke arahnya, sebagian yang tengah menunggu lift pun tersentak.
"Nona? Kau tidak apa apa."
"Tolong aku pak! Dia dia ... dia melakukan pelecehan." ujarnya dengan menangis, tangannya menunjuk ke arah kotak besi dimana pria itu terpaku.
Tubuhnya membeku seketika, bahkan untuk melangkah saja rasanya benar benar berat.
"Dia ... Dia memaksaku! Padahal aku sudah menolak, aku takut ... Pak ... Bu ... To--tolong aku." ujar Cecilia menutupi bagian tubuhnya yang kini terlihat, dia juga semakin menangis dengan bercucuran air mata.
"Benar benar akting yang bagus!" ujar pria itu keluar dari lift. "Kau sengaja menjebakku."
Orang orang disekitar yang melihatnya sudah tampak geram melihatnya,
Ayo kita laporkan polisi.
Aku tidak menyangka di apartemen ini ada seorang maniak.
Aku jadi takut disini.
Orang orang semakin ramai membicarakannya, tak lama kemudian seorang security datang dengan berlari.
"Pak ... Bawa dia! Bawa orang yang telah melakukan pelecehan, aku ... aku----"
"Tidak ... aku tidak melakukannya, dia bohong!"
"Enggak pak ... Dia yang bohong."
"Kalau begitu kita cek CCTV saja! Dan buktikan jika aku benar benar melakukannya padamu." sentak pria itu dengan rahang tegas yang semakin bergemelatuk menahan marah.
Sial ... Gue lupa kalau ada CCTV di lift.
Keduanya digiring ke kantor managemen apartemen, Pria itu berjalan dengan kesal. Dan terus menyorot ke arah Cecilia. Sementara gadis itu terus menunduk di belakang securty yang membawanya. Dia melupakan sesuatu hal yang paling penting hari ini. CCTV.
"Kau akan menyesal karena membuat masalah dengan ku nona ******." desis pria yang berjalan dengan tegap. Tidak ada ke khawatiran di wajahnya, tenang dan datar sekali.
"Silahkan duduk! Aku akan mengecek CCTV lebih dulu." ujar Securty bernama Dika itu.
Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa, namun tidak dengan Cecilia. Dia terus berfikir bagaimana caranya bisa mengatasi masalah yang dia buat sendiri.
Sial gue harus gerak cepat, apa gue kabur aja dari sini? Atau ... Ayo Ce mikir ... Otak ayo mikir keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
epifania rendo
kenakan cellin
2023-04-28
0
Manroy Manta
ya ampun ce, mau2nya dijadiin atm berjalan sama dirga
dirga sadis lo tega bgt
2022-12-20
2
Retno Isusiloningtyas
mau dibantu mikir ,Ce?
kabuuuur
2022-12-19
0