Stella yang kebetulan sedang jalan menuju dapur, tentu saja mendengar ada keributan dibawah, dan dia diam-diam mengintip, ingin tahu soal apa yang terjadi.
Namun ternyata itu cukup mengejutkan, melihat sepasang Ayah dan Anak itu bertengkar.
Stella juga tidak menyangka, Felix bisa menampar Allen seperti itu, baru kemudian untuk kedua kalinya, Felix merasa ragu.
Stella memikirkannya, sepertinya hubungan mereka memang tidak begitu baik.
Selama bersama Allen, Allen menceritakan soal Ayahnya, jadi dirinya juga tidak begitu tahu hubungan antara mereka.
Namun sepertinya, hubungan lebih buruk dari pada yang dirinya kira.
Dan sekarang, baru menyadari jika dirinya berdiri di tengah-tengah benang yang begitu tipis di antara mereka berdua.
Dan sepertinya lagi, kemarahan Allen yang selalu dia tahan selama bertahun-tahun meledak dalam sekejap.
Stella sedikit melamun ketika memikirkan hal-hal itu, sampai dia melupakan untuk melarikan diri dan malah kepergok oleh Felix kebetulan berjalan ke arah Stella.
Tatapan mereka lalu segera bertemu.
Jelas, Stella memiliki pandangan gugup ketika menatap kearah Felix.
Felix lalu langsung berkata dengan ekspresi marah,
"Sekarang apakah kamu puas melihat hubuanganku dan Allen menjadi semakin berantakan?"
Itu hanyalah sebuah pertanyaan dingin yang mana tidak membutuhkan Sebuah jawaban.
Karena Felix hanya langsung melewati Stella yang sudah terdiam seperti itu.
Stella sendiri tidak pernah memiliki maksud untuk merusak hubungan antara ayah dan anak itu, keputusannya untuk menikah dengan ayah Alen ini murni hanya keinginan Implusif saja, karena dirinya tidak bisa membiarkan Allen menikah dengan Cythia dan mereka berbahagia atas penderitaannya.
Ya, sekarang Stella menjadi binggung sendiri tentang apa sebaiknya yang harus dirinya lakukan.
Baiklah Mari pikirkan itu nanti sebaiknya dirinya mencoba untuk memenangkan Paman Felix itu lagi.
Dan begitulah Stella menyusul Felix kekamarnya.
Jelas, ketika memasuki kamar Felix Stella masih merasa asing, dirinya mendegar suara pancuran air, yang sepertinya Felix sedang mandi.
Stella beralih menatap sebuah piano di ruangan itu.
Mendekat kearahnya, dan penyentuh Piano itu, yang sepertinya tidak pernah dimainkan untuk waktu yang lama.
Dirinya juga tahu, mungkin Piano ini milik Almarhum Ibu Allen, dirinya tahu dari Allen jika Ibunya dulu sangat hebat saat bermain piano. Namun sayangnya bakat hebat dalam bermain piano itu tidak diturunkan pada Allen, Allen sangat buruk saat bermain Piano.
Dulu ketika masih kecil, dirinya dan Allen ikut Les Piano bersama, dirinya akan kadang-kadang mengajari Allen bermain Piano juga, karena permainan piano miliknya lebih bagus dari pada Allen.
Sial.
Sekarang Stella lagi-lagi memikirkan soal Allen...
Ya, mau bagaimana lagi, Allen merupakan salah satu hal paling penting dalam hidupnya, hampir kebanyakan kenangan dalam hidupnya ini, ada Allen yang berada disana.
Namun, Allen terlihat begitu mudah membuang dirinya dan menghianatinya seperti itu....
Apakah hari-hari mereka selama ini tidak ada artinya bagi dia?
Stella segera mengeleng-gelengkan kepalanya, menjauh dari Piano itu, tidak baik terlalu memikirkan hal-hal yang sudah menjadi masalalu.
Stella kemudian, kembali ke tempat tidur dan duduk disana sampai memainkan ponselnya.
Cukup lama sampai Felix keluar dari kamar mandi, dan hanya mengenakan handuk dibagian bawahnya.
Stella tidak bisa terbiasa dengan pandangan itu, namun matanya tidak bisa berhenti untuk melihat.
Felix yang merasa ditatap dari tadi, jelas merasa risih,
"Berhenti menatapku!"
Mendengar hal itu, Stella segera mengalihkan tatapannya dari Tubuh setengah telanjang Felix yang cukup memukau mata itu.
Mencoba melihat kearah lainnya, dan mulai membuat alasan.
"Siapa yang menatap Pak Tua seperti mu? Sungguh, tidak ada hal bagus yang perlu di lihat,"
Jelas itu hanya alasan yang mengada-ada, dan membuat Felix jengkel.
Berada di sekitar bocah itu, membuat Felix sering kali kehilangan kesabarannya, padahal biasanya, dirinya tipe orang yang cukup bisa menahan emosinya.
Namun, jika menyangkut soal bocah didepannya itu, dirinya entah kenapa susah mengendalikan dirinya sendiri.
"Lupakan. Tidak ada gunanya berbicara dengan bocah sepertimu,"
Mendengar dirinya dipanggil bocah, Stella jelas menjadi marah.
"Siapa yang Paman panggil Bocah?"
"Untukku, kamu masih seperti anak kecil yang tidak bisa diatur dan suka seenaknya sendiri, seperti Allen,"
"Jangan sama-samakan aku dengan Allen!!"
"Hah, terserah kamu. Bocah, ya bocah,"
Mendengar sepertinya, Paman di depannya itu, menjadi tidak mau mengalah, Stella juga mengabaikannya.
Dan memilih untuk mencoba tidur disana.
Sendangkan Felix yang tiba-tiba diabaikan itu, juga merasa kesal, lalu menatap dimana Stella tidur.
Dia lalu mulai berkomentar,
"Hey! Siapa yang menyuruhmu tidur ditempat tidurku?"
Stella yang baru membenarkan batalnya itu, segera menatap Felix dengan ekpersi tidak percaya, lalu berkata,
"Hanya ada satu tempat tidur di Ruangan ini, jelas aku hanya bisa tidur disini, mau dimana lagi?"
Felix lalu menunjuk kearah Sofa disamping ruangan.
"Paman Bercanda?"
"Tentu saja tidak,"
"Aku jelas tidak mau!! Paman saja yang tidur di Sofa!!"
Felix lalu segera naik ketempat tidur, dan memposisikan dirinya disana.
"Aku? Tidur di sofa? Itu jelas tidak mungkin, ini adalah kamarku dan tempat tidurku, tentu saja aku tidur disini!! Kamu sana pergi ke sofa!!"
"Paman benar-benar tidak masuk akal!! Dan apa-apa ini! Pakai Baju Paman!!" Kata Stella sambil menutup matanya itu.
"Aku tidur seperti ini! Terserah aku mau bagaimana!!" Kata Felix lalu mulai masuk kedalam selimut.
Stella juga menjadi tidak sabar, tidak akan pernah mengira jika Paman ini benar-benar bisa keras kepala dan berdebat hanya karena masalah tempat tidur saja, namun dirinya juga tidak mau mengalah, lalu segera berkata,
"Ya sudah, aku juga akan tidur disini! Siapa pula yang ingin di sofa? Hpmh,"
Pada akhirnya, mereka berdua terpaksa tidur di tempat tidur yang sama, Felix jelas tidak mau mengalah dengan pergi tidur di Sofa, apalagi Stella.
Stella memang merasa cukup terganggu mengenai fakta bahwa Felix tidur hampir telanjang itu, namun dirinya mencoba menguatkan diri dari rasa malunya itu, lalu mulai menjaga jarak 1 meter dari Felix.
Stella mencoba meyakinkan dirinya jika ini baik-baik saja.
Toh mereka sudah melakukannya lebih dari ini, apa lagi yang membuat dirinya merasa malu?
Namun tetap saja, ini masih membuat Stella merasa canggung, tidur dengan satu tempat tidur dengan Pria lain.
####
Hal pertama yang Stella lihat ketika bangun tidur adalah, sebuah tangan telanjang yang memeluk dirinya erat seperti guling.
Sepintas Stella merasa kaget, dengan posisi ini.
Padahal jelas, semalam dirinya memberi jarak satu meter diantara mereka, namun kenapa pagi ini jadi seperti ini?
Kepalanya yang berada didada telanjang Pria sampingnya ini membuat Stella merasa salting sendiri.
Jantungnya hampir saja copot, setelah mengerakkan tangannya, dan malah merasakan dirinya memengang sesuatu yang salah, dia mulai meraba-raba sedikit apa itu, itu ternyata sesuatu yang hangat dan sedikit keras!!
Stella mulai memikirkan beberapa situsi tentang apa hal itu sebenarnya, lalu menatap wajah Pria yang memeluknya, yang seperti masih tertidur lelap dengan nyaman, seperti menikmati dirinya sendiri, malah terlihat keenakan.
Stella segera menjatuhkan tangannya itu, dari benda terkutuk dibawah sana, merasa malu sendiri.
Astaga....
Stella juga segera melepaskan pelukan itu, dan mendorong Felix dari atas tempat tidur karena begitu panik.
Felix yang tiba-tiba ditendang dari tempat tidur itu tentu saja kaget.
Dia terbangun, lalu menatap Stella dengan ekspresi kebencian.
"Stella!! Apa yang kamu lakukan pagi-pagi dengan membuat keributan?"
"Paman sendiri yang tidak tahu malu!!!! Akhhh.... Pakai baju Paman!! Dasar Mesum!!"
Sekarang, Felix melihat tubuhnya, yang masih tidak mengenakan apa-apa.
Dirinya semalam lupa memakai celana gara-gara, Stella yang membuat masalah soal ingin tidur di tempat tidur itu.
Dirinya hanya sedikit bercanda soal dirinya tidur telanjang itu, agar Stella pergi dari tempat tidur dan memilih tidur di sofa.
Namun siapa yang tahu, jika Stella ini benar-benar tidak tahu malu!!!
Akhhh...
Benar-benar pusing berurusan dengan Bocah yang satu ini!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments