Kembali ke Acara Pernikahan Stella dan Felix.
Felix yang melihat Stella benar-benar puas melihat wajah Putranya Allen itu kesal, perasaan Felix menjadi cukup rumit.
Dirinya merasa tidak senang dimanfaatkan seperti ini, Felix menjadi marah, lalu berkata,
"Stella, sudahlah, jangan mengodanya terus. Allen tentu saja masih marah,"
"Paman benar-benar tidak membelaku tadi didepan Allen?"
"Sungguh, apa maumu sebenarnya?"
"Tentu saja yang aku inginkan adalah Paman,"
Melihat sekali lagi ucapan omong kosong keluar, Felix mulai mengabaikannya.
Namun, walaupun dirinya bersikap dingin dari tadi, Felix melihat bahwa Stella malah menikmati Pesta ini dengan senang hati, hal-hal ini jelas membuat Felix yang dari tadi tidak senang merasa cukup ilfil.
Sampai akhirnya Pesta Berakhir, kemudian Felix dan Stella di antara ke Kamar Hotel yang sudah khusus disiapkan untuk mereka berdua.
Stella yang lelah itu, segera melucuti dandanannya dan segera pergi ke Kamar Mandi untuk Mandi.
Berikutnya, Stella keluar dari Kamar mandi, mencoba untuk mendekati Felix, namun Felix malah terlihat mengabaikannya dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi.
Melihat Felix masih seperti itu, tentu saja Stella menjadi kecewa.
"Sungguh, kenapa dia masih begitu menyebalkan? Ahh... Sudahlah, sebaiknya aku tidur saja," guma Stella.
Tidak lama sampai Felix keluar dari kamar mandi, hal yang dirinya lihat adalah Stella yang berbaring terlihat tertidur pulas di tempat tidur.
Melihat Stella begitu damai seperti ini, Felix benar-benar merasa kesal..
Seharian tadi, Stella benar-benar membual soal pernikahan ini pada para tamu, terutama pada teman-temannya, bagaimana Stella sangat senang menikah dengannya.
Padahal dirinyalah yang paling tahu, jika Stella ini hanya menfaatkan dirinya untuk hal-hal ini.
Dan sekarang melihat Stella malah tidur pulas seperti ini, membuat Felix merasa tambah kesal.
Lalu, Felix teringat sesuatu, mencari ide untuk membuat Stella kesal dan malu.
Felix segera mendekatkan wajahnya pada Stella, berbisik dan mencoba membangunkannya.
"Sayang, tidakkah kamu lupa jika ini Malam Pertama kita?"
Stella yang awalnya hanya setengah tidur itu, tentu saja begitu kaget merasakan tiba-tiba ada seseorang yang berbisik padanya.
Suara nafas hangat yang langsung masuk ke telinganya membuat dirinya sedikit berdebar.
Apalagi suara maskulin yang terdengar mengoda itu.
Stella buru-buru bangun, dan mendorong Felix dengan refleks.
"Pa... Paman apa-apaan sih! Mengagetkan orang saja!!" Kata Stella panik.
Melihat wajah panik Stella itu, Felix mencoba mengodanya lagi,
"Hey, apakah kamu lupa jika ini Malam Pertama kita? Kenapa kamu tidur? Bukankah kamu harus melayaniku malam ini? Hah, atau jangan bilang, kamu tidak mau melakukannya? Kamu tidak mengagap serius Pernikahan ini?"
Mendengar perkataan Felix tiba-tiba itu, Stella sedikit terdiam.
Memang sebelum dirinya menjalankan rencana ini dan menikahi Ayah Allen itu, dirinya sudah bertekad dan sudah siap jika saja mereka akan melakukan hal-hal semacam itu.
Hanya saja dirinya sedikit kaget karena hal hal ini berlangsung terlalu cepat.
Stella masih terdiam, sebentar.
Wajahnya sebenarnya sedikit memerah ketika memikirkan hal-hal ini.
Lalu setelah memejamkan matanya sedikit, Stella lalu segera berkata,
"Ayo Paman, segera kita lakukan secepatnya saja,"
Mendengar kata-kata tegas itu, Felix menjadi tidak bisa berkata-kata.
Melihat reaksi Felix yang diam itu, Stella segera menujukan senyumannya.
Jelas, dirinya sekarang tahu jika Pria di depannya ini, hanya bercanda dan ingin menggoda nya ingin membuat dirinya ke sel karena mengatakan hal-hal itu seperti memberikan pelayanan padanya atau sesuatu.
Namun tentu saja itu jelas tidak mempan.
Stella lalu mendekat kearah Felix, memegang kancing baju kemeja Felix.
"Paman? Kenapa Paman diam saja!!"
Felix dengan ragu lalu bertanya,
"Kamu.... Kamu serius ingin melakukan?"
Stella berpura-pura menunjukan wajah terkejutnya.
"Bukankah memang begitu? Tadi Paman yang mengajak bukan? Atau sebenarnya Paman malah takut?"
"Takut apa? Jangan bicara omong kosong,"
"Ya, kan barang kali saja karena Paman sudah tua, milik Paman sudah tidak bisa berdiri lagi, dan tidak bisa digunakan lagi,"
Mendengar kata-kata frontal yang mengejeknya itu, jelas wajah Felix memerah karena marah, lalu segera berkata tanpa pikir panjang,
"Siapa yang kamu bilang tua dan tidak bisa berfungsi lagi? Jelas ini masih berfungsi dengan baik!!"
Merasa umpannya sudah diambil, Stella melanjutkan Provokasinya.
"Ya kan aku hanya bilang kemungkinan. Atau malah, milik Paman memiliki ukuran yang kecil dan membuat Paman malu,"
"Berhenti bicara omong kosong lihat dan rasakan sendiri!!"
Felix setelah mengatakan itu, kemudian menyesal.
Sial, dirinya benar-benar termakan umpan dan menjadi emosi sendiri.
"Kalau begitu mari kita lakukan, aku akan mencobanya," kata Stella dengan ekpersi tanpa takut itu.
Tatapan mereka bertemu, sejujurnya Felix cukup kaget melihat tekad gadis didepannya ini.
Seorang gadis muda yang baru berusia dua puluh tahun, berbeda dua puluh tahun dari dirinya.
Felix masih merasa ragu untuk mencoba mendekat.
Namun, dirinya tidak bisa menarik kata-katanya sendiri, atau gadis didepannya ini malah akan lebih banyak mengejeknya nanti.
Baik, segera lakukan dengan cepat agar semuanya selesai.
Felix segera menarik Stella dalam pelukannya, lalu menciumnya.
Ini berbeda dengan ciuman sebelumnya, ciuman ini sedikit lebih dalam dan cukup lama.
Stella yang merasakan gerakan itu tiba-tiba, merasakan kekagetannya.
Ini pertama kalinya dirinya begitu dekat dengan Pria sebelumnya.
Rasa lembut dan hangat yang menempel dibibirnnya itu membuta Stella sedikit gemetar dan berdebar.
Ini....
Mereka benar-benar akan melakukannya?
Memikirkan hal ini, jantung Stella jelas berdebar lebih kencang dari biasanya, dan tubuhnya mulai memanas.
Sepintas muncul keraguan disana.
Ciuman itu berlangsung cukup lama sampai Felix melepaskan Stella.
Dan sekali lagi mereka saling bertatapan.
Sekarang, Felix melihat sedikit keraguan pada gadis didepannya ini.
Felix jelas tahu ekpersi ini...
Ini adalah ekpersi tidak nyaman karena di perlakukan dengan ingin oleh laki-laki yang tidak Stella cintai, rasa enggan masih ada disana.
Ekpersi ini cukup familiar dimasalalu....
Ekpersi yang membawa kenangan buruk untuk Felix...
Tidak...
Apa yang dirinya lakukan?
Dirinya tidak boleh lagi memaksa seperti ini, untuk Stella melakukan hal-hal ini jika dirinya tidak mau.
"Jika kamu merasa ragu dan tidak ingin melanjutkan, katakan saja. Ini tidak masalah.... Aku tidak akan mengejekmu atau sesuatu setelahnya. Aku hanya tidak ingin memaksamu," Kata Flexi dengan ekpersi rumit.
Stella juga awalnya sedikit ragu, dia juga melihat tatapan dalam dan terlihat sedih dari wajah Pria di hadapannya itu.
Walaupun terlihat ada Keraguan...
Kesedihan...
Rasa bersalah...
Juga kata-katanya yang lembut, yang mencoba memberikan dirinya kebebasan untuk memilih, membuat Stella menjadi tersentuh.
Stella kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan menatap lagi wajah Pria di depannya.
Lagipula Paman Felix cukup tampan, kenapa musti ragu?
Dan mereka sudah menikah...
Melihat lagi jika Pria dihadapannya itu sebenarnya cukup perhatikan dan benar-benar membuat Stella tersentuh.
Stella lalu tersenyum, dan menarik Felix lagi, dan memberikan ciuman ringan dibibir Felix, lalu segera berkata,
"Tidak... Aku akan melakukannya dengan Paman, ini adalah keinginanku, bukan paksaan siapapun...."
"Benar?"
"Ya, aku selalu melakukan apa yang aku inginkan tidak ada yang memaksaku, termasuk menikah dengan Paman...."
Melihat tatapan keraguna itu hilang dari mata Stella, Felix menjadi tidak bisa mundur lagi.
Yah, toh ini hanya Formalitas untuk Pernikahan Mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
halimah abdul hayes
Nanti ketagihan
2022-08-31
3
Ririn Nur'aeni
makin penasaran dengan ceritana,,jngal lama up nya ya ka author☺️
2022-08-29
1
Muzie✰͜͡v᭄👻ᴸᴷ㊍㊍
Baru pemanasan pengantin baru belum un boxing 🤣🤣🤣
Hari senin langsung kasih Vote aja biar kak author nya semangat 💃💃💃
2022-08-29
6