Stella benar-benar tidak mengerti soal hal-hal yang Felix katakan barusan.
Memang, dirinya akui, kalau niat awalnya Menikahi Felix memang seperti itu, namun dirinya bahkan tidak melakukan apapun sampai sekarang, namun Felix entah kenapa tiba-tiba marah.
"Aku tidak tahu apa maksudmu?"
"Sudahlah, kamu tahu apa yang aku maksud, tidak usah banyak mengelak,"
Hal-hal yang terjadi berikutnya, Felix langsung pergi dari sana, meninggalkan Stella yang binggung itu.
Berikutnya, Stella yang sendirian di Ruang Tamu lalu disambut oleh beberapa Pelayan membantunya untuk menuju ke Kamar Utama, yaitu kamar Felix.
Kata Pelayan, Orang Tua Felix saat ini berada di Luar, jadi hanya ada Stella yang ada disana.
Stella sebenarnya merasa sedikit gugup untuk masuk ke kamar Felix sendirian, takut-takut itu akan membuat Felix lebih marah lagi.
Namun apa boleh buah, toh orang itu juga malah pergi entah ke mana tidak jelas jadi dirinya juga tidak memiliki pilihan lain.
Sayangnya, Kamar Felix tepat berada disebelah Kamar Allen.
Ketika pergi ke Rumah ini, tentu saja Stella cukup familiar dengan lorong ini, loreng yang sama yang menuju ke Kamar Allen.
Dirinya juga selalu tahu, jika kamar ini adalah Kamar Ayah Allen, salah satu Ruangan Misterius di Rumah ini yang tidak pernah berani dirinya masuki, karena Allen saja tidak berani untuk masuk ke kamar Felix.
Dirinya dengar dari Allen, Felix itu tipe yang tidak suka orang lain untuk menyentuh barang-barang miliknya.
Jadi wajar saja jika Stella merasa gugup ketika memasuki kamar itu.
Ya, sekarang di bantu oleh beberapa Pelayan, mereka mulai meletakan koper Stella di dalam ruangan kamar yang terlihat asing itu, kemudian Stella menyuruh mereka pergi, dirinya akan beres-beres nanti saja.
Setelah mereka pergi Stella melihat desain kamar itu terlihat sederhana, tidak memiliki banyak dekorasi, hanya ada cat yang sama seperti ruangan lain di Rumah ini.
Kamar itu ternyata lebih besar dari pada yang Stella kira.
Disana, ada sebuah Piano Besar, di dekat jendela menuju Balkon.
Disampaignya lalu ada sebuah Sofa yang cukup besar dan sebuah meja, sepertinya tempat untuk bersantai.
Lalu ditengah ruangan, ada sebuah tempat tidur besar ukuran King Size dengan dekorasi seprai berwarna biru dongker.
Di dalam kamar itu, ada juga sebuah foto yang begitu besar.
Ya, Stella tentu saja tahu foto siapa itu.
Itu adalah foto Pernikahan Felix dengan Ibu Allen, ini juga bukan pertama kalinya dirinya melihat foto dari Ibu Allen yang sudah lama meninggal.
Disamping foto besar itu, ada juga foto-foto Ibu Allen dalam berbagai posisi, ketika masih muda.
Disana juga ada beberapa foto lainnya, antara Felix dan Ibu Allen.
Stella melihat-lihat deretan foto itu.
Sepintas, hal-hal ini terlihat normal, namun semakin Stella melihatnya, Stella merasa ada yang aneh.
Kenapa tidak ada foto Allen disini?
Ya, dirinya tahu, jika Ibu Allen meninggalkan saat melahirkan Allen.
Jadi tidak akan ada foto mereka bersama.
Namun setidaknya, sebagai seorang Ayah, biasanya akan menyimpan foto-foto Putranya yang tumbuh dari ketika dia masih kecil hingga dewasa.
Melihat Felix menyimpan begitu banyak foto Almarhum Ibu Allen namun tidak menyimpan foto Allen satupun....
Ini benar-benar aneh.
Kalau Stella ingat lagi, dirinya jarang melihat Felix datang ke Ulang Tahun Allen.
Dirinya sedikit mengerti, hari ulang tahun Allen, juga merupakan hari peringatan kematian Ibu Allen, hari yang bahagia sekaligus sedih.
Mungkin Felix selalu merasa tidak menyukai hari itu, hari dimana Istirnya tercinta meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Dan juga terlihat jelas, Felix masih sangat mencintai Almarhum Ibu Allen sampai sekarang.
Sampai bertahun-tahun berlalu dan Felix tidak pernah berniat menikahi wanita manapun.
Kisah cinta yang terlihat sangat romantis, namun memiliki akhir yang sedih.
Namun, tetap saja Felix itu aneh.
Padahal Allen jelas satu-satunya Putranya, namun Felix jarang memberikan perhatian pada Putranya satu-satunya itu.
Sampai-sampai karena hal-hal ini, banyak orang yang mengira kalau Allen adalah anak selingkuhan atau anak angkat.
Namun ketika hal-hal ini dibahas di depan wajah Felix, Felix jelas akan sangat marah, dan selalu membela kalau Allen memang Putra Kandungnya.
Dan Allen juga sangat sensitif jika ada yang mengejeknya soal hal-hal ini.
Sudahlah dirinya tidak ingin memikirkan soal sepasang Ayah dan Anak yang sama-sama aneh dan tidak mudah dipahami itu.
Stella yang merasa lelah, lalu segera menuju ke tempat tidur untuk berbaring.
####
Hari cukup cepat berlalu, bahkan sampai jam makan malam, Stella tidak melihat Felix pulang.
Saat ini, Stella sedang makan malam dengan Orang Tua Felix.
Mereka berdua jelas mencoba menghibur Stella.
"Felix memang seperti itu, dia sepertinya pergi Ke Kantor hari ini, jika dia sudah sibuk bekerja iya akan melupakan segalanya dan bahkan lupa untuk pulang, jadi kamu tidak usah khawatir," kata Ibu Felix mencoba menenangkan Stella.
"Yang Istirku katakan benar, Felix memang selalu terlalu fokus dengan pekerjanya, itulah yang selalu membuat kami berdua khawatir karena dia tidak bisa merawat dirinya sendiri, dan kami juga tidak bisa mengadakan Allen yang juga sibuk dengan hidupnya sendiri untuk merawat dan memperhatikan Ayahnya, sungguh kami sangat bersyukur kamu mau menikah dengan Putraku ini," kata Ayah Felix dengan wajah seriusnya itu.
Stella tentu saja hanya tersenyum canggung mendegar hal-hal yang dikatakan oleh mereka.
Dirinya juga tidak perlu bertanya kenapa Allen tidak ada.
Sebelumnya, ketika dirinya bertanya pada Pelayan, mereka memberi tahu, jika Allen memang sudah tidak pulang ke Rumah sejak beberapa hari lalu.
Entah, dia menginap kemana.
Jadi malam itu, terpaksa Stella berada dikamar sendirian.
Namun entah kenapa tiba-tiba, Stella tidak bisa tidur di ruangan yang tidak familiar ini, hingga waktu berlalu begitu saja, Stella masih membolak-balik tubuhnya merasa tidak nyaman.
Disisi lainnya, saat ini Felix baru saja tiba di tempat parkir mobil Rumah Keluarga Chastielo.
Felix seharian ini memang menyibukkan jadinya dengan pekerjaan agar dirinya bisa melupakan hal-hal yang terjadi belakangan ini.
Namun apa yang Felix dilihat dari tempat parkir adalah hal yang cukup mengejutkan.
Itu adalah Allen yang sedang dibawa masuk oleh salah satu pelayan ke Rumah itu.
Allen disana dalam posisi sedikit linglung, terlihat sekali seperti sedang mabuk.
Felix lalu segera bertanya pada Pelayan disana.
"Kenapa dengan anak ini?"
"Kami juga tidak tahu, tahu-tahu seorang supir mengantarkan dia kesini dalam keadaan ini,"
Felix lalu menatap Allen yang terlihat tidak begitu sadar itu.
Jelas sekali dirinya mencium bau alkohol yang begitu menyengat dari tubuh Allen.
Jelas, melihat Allen minum, Felix merasa tidak suka.
"Allen!! Kamu apa-apaan hah? Sejak kapan kamu menjadi pemabuk seperti ini? Apakah kamu sadar jika kamu melanggar aturan Keluarga ini! Tidak ada minum minuman Keras dalam Keluarga Chastielo!!"
Allen sebenarnya hanya merasa sedikit pusing, namun dia masih sadar.
"Hah? Itu terserah Allen saja!! Aku tidak mau mendengarkan perintah Ayah yang tidak tahu malu menikahi gadis seumuranku, dan dari semua orang itu adalah Stella!! Tidak sudi aku mendengarkan Ayah lagi!!"
Felix yang mendengar hinaan dari Putranya itu, tentu saja menjadi marah, dia lalu menampar Allen dengan penuh emosi.
"Allen!! Menurutku karena siapa aku harus menikah dengan Stella? Just kkpi semua itu untuk membatalkan pernikahan mu yang padahal sudah menghitung hari!! Kamu benar-benar tidak masuk akal!!"
"Ayah yang tidak masuk akal!! Ayah benar-benar berani menikahi Stella padahal jelas Ayah tahu jika dia mantan tunanganku!! Ayah sudah tidak mengagap aku lagi!!"
"Tutup mulutmu itu!! Ini jelas karena perbuatan memalukan mu itu, kenapa menjadi seperti ini!!"
"Tapi Ayah tetap menikah dengan orang sialan itu!! Dan kenapa harus Stella? Kenapa Ayah? Dia dua puluh tahun lebih muda dari pada Ayah!! Apakah Ayah tidak tahu? Sekarang semau orang bertanya padaku soap Pernikahanmu!! Tidak tahukan Ayah betapa malunya aku ketika mereka bertanya?"
Felix yang mendengarkan kata-kata Allen itu, merasa kesal.
Jelas, bukan dirinya yang membuat situasi menjadi seperti ini.
Dirinya juga jelas tidak mengharapkan situasi ini, namun Putranya ini menjadi tidak masuk akal dan malah menyalahkan dirinya atau semua ini sungguh menyebalkan.
"Hah... Jika kamu tidak membatalkan pernikahanmu situasinya tidak akan menjadi seperti ini!!"
Allen sepertinya tidak mendengarkan apa yang Felix katakan, hanya terus berbicara banyak omong kosong karena dia sedikit masuk sehingga semua keberanian yang dia miliki muncul.
"Ayah selalu begitu!! Ayah selalu tidak peduli padaku!! Dan sekarang Ayah Menikah lagi, apakah sekarang Ayah akan melupakan Aku dan Ibuku? Ayah tidak mencintai Ibuku lagi.... Ayah tidak menyayangiku,"
"Allen!! Jangan bicara omong kosong lagi!!"
Allen sekarang memiliki ekpersi seperti anak kecil yang merengek,
"Allen benar-benar benci dengan Ayah!! Aku juga benci Stella sialan itu!! Dia berani menyuruhku memanggilnya Ibu? Dia pikir dia siapa? Dan Ayah bahkan tidak pernah membelaku!! Ayah selalu tidak adil padaku!!"
Felix yang sudah tidak tahan dengan semua kata-kata Allen itu.
Ingin segera menyuruh Pelayan agar membawa Allen kembali ke kamarnya.
Namun, kata-kata Allen menjadi semakin ganas,
"Allen benci Ayah tidak tahu malu sepertimu!! Kamu tidak layak untuk menjadi Ayahku!! Seharusnya dulu Ibuku tidak menikah dengan Ayah!! Aku benar-benar menyesal dilahirkan sebagai Putramu!!"
Emosi Felix benar-benar tersulut dengan kata-kata Allen itu, sekali lagi Felix menaikan tangannya hendak menampar Felix.
"Tampar aku semaumu!! Ayah tidak tahu malu!? Aku benci denganmu!!"
Felix akhirnya mencoba menenangkan emosinya, menyusun Pelayan segera membawa Allen naik dan pergi dari sana, tidak lagi mau mendengarkan omong kosongnya itu.
Sekarang, Felix menjadi semakin tidak mengerti...
Hubungan antara dirinya dan Putranya sudah tidak begitu dekat namun sekarang malah menjadi seperti ini....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Hotlin Situmorang
kacian kau Allen...
2024-07-24
0