Pagi itu, saat sarapan, Stella dan Felix terlihat saling berbicara dengan akrab.
Felix dari tadi diam saja dari awal sampai akhir, hanya sesekali mengiyakan ketika salah satu dari mereka bertanya padanya.
Sampai, tiba-tiba Ibunya itu berkata-kata hal-hal yang mengejutkan,
"Stella, aku sebenarnya sudah menyiapkan Acara untuk Bulan Madu kalian,"
Felix langsung memiliki ekspresi kaget ketika mendengar itu.
"Sungguh? Ibu baik sekali, aku sempat kelupaan soal hal-hal ini karena banyak yang diurus," kata Stella dengan malu-malu.
"Ibu, sepertinya aku tidak bisa dulu pergi bulan madu dalam waktu dekat ini. Ibu tahu sendiri, jatwal Pekerjaanku cukup padat,"
Mendengar penolakan langsung dari putranya itu, Eve jelas merasa kesal dan segera mengeluh,
"Felix, kamu ini ya, kamu baru saja menikah, namun yang kamu pikirkan malah pekerjaan, pantas saja selama ini kamu tidak kunjung menikah lagi, Pasti banyak wanita yang segera bosan jika kamu terus seperti ini, kamu tidak ada romantis-romantisnya bahkan tidak mencoba untuk mengajak Bulan Madu Istrimu, padahal kalian ini adalah penganti baru,"
Felix yang mendapatkan keluhan segera mengelak,
"Tapi Ibu juga tahu sendiri jika acara pernikahan ini benar-benar mendadak sedangkan pekerjaanku dan jadwalnya sudah diatur lebih dari satu bulan yang lalu jadi ini bukan salahku jika aku menjadi sibuk sekitar belakangan ini,"
Mendengar perdebatan antara Ibu dan Anak itu, Stella jelas merasa tidak nyaman.
ini tidak seperti dirinya benar-benar ingin pergi Bulan Madu dengan Felix.
Walaupun dirinya ingin mendekat dengan pria itu, namun dirinya juga merasa langkah itu terlalu cepat. Dirinya harus pelan-pelan dalam melaksanakan hal-hal ini dulu, dan melakukan pendekatan secara perlahan-lahan tidak langsung begitu agresif atau mungkin Felix akan benar-benar membencinya.
Stella segera berkata,
"Ibu tidak perlu buru-buru, Bulan Madu bisa dipikirkan ketika Felix sedang memiliki waktu luang aku tidak bisa memaksanya,"
"Astaga, Stella kamu ini sungguh baik sekali. Sebenarnya Aku ingin segera mendengar kabar baik dari kalian berdua,"
Stella tentu saja mengerti apa maksud kabar baik yang Ibu Felix itu inginkan.
Hanya memikirkannya saja membuat Stella merasa malu sendiri.
Walaupun awalnya dirinya memang berniat untuk membuat adik kecil untuk Allen....
Namun setelah memikirkannya lagi harus melakukan hal-hal seperti itu seperti malam sebelumnya dengan Felix, dirinya merasa malu.
Bukan karena dirinya tidak suka...
Hanya saja....
"Apa yang membuat Ibu menjadi terburu-buru? Ibu sudah punya cucu sebesar Allen," kata Felix menambahkan.
"Cih, Felix kamu ini tidak mengerti perasaan orang tua, aku ingin mengendong cucuku yang masih bayi yang masih lucu-lucunya, Allen sudah sebesar itu sekarang, ini benar-benar berbeda,"
"Ibu sungguh sangat aneh," komentar Felix lagi.
"Sebenarnya Ibu tidak perlu terlalu terburu-buru, kabar baik pasti juga nanti akan datang," kata Stella berbicara asal.
Kemudian tidak ada lagi percakapan yang dilakukan oleh mereka, dan mereka menikmati sarapan itu dengan damai.
Dan tentu saja, Stella mencoba menyiapkan sarapan untuk Felix, seperti mengambilkan beberapa lauk yang ada diatas meja.
Felix menerima itu tanpa kata-kata.
Orang Tua Felix cukup puas melihat mereka berdua sudah menjadi cukup dekat.
Dan begitulah pagi itu berlalu, dengan mereka berdua kembali ke Kamar Hotel untuk membereskan barang-barang mereka, sebenarnya tidak ada barang yang Felix perlu bawa, hanya jam tangannya tertinggal disana.
Dan sekali lagi, hanya ada Stella dan Felix yang ada di Ruangan itu.
Felix melihat bagaimana Stella sudah menyiapkan koper miliknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Felix dengan ekspresi heran.
"Tentu saja Pulang Ke Rumah Paman, Rumah Keluarga Chastielo,"
"Kenapa harus kesana? Nanti aku akan menyiapkan Apartemen tempat kamu akan tinggal,"
Stella artinya membaca apa yang Felix rencanakan itu.
Felix ingin membiarkan dirinya tinggal di Apartemen sendirian dan ditinggalkan seperti itu?
Tentu saja dirinya jelas tidak akan mau.
"Tidak bisa!! Aku akan tinggal di Rumah Keluarga Chastielo!!"
"Stella, sudah jangan macam-macam, tidak ada hal yang baik jika kamu tinggal di sana,"
Stella terlihat tidak peduli dengan perkataa Felix itu, kemudian pergi dari Kamar Hotel dengan kopernya itu, yang mana ini memaksa Felix mengikutinya.
"Stella, dengarkan aku!! Apa yang kamu mau dengan tinggal di Rumah Keluarga Chastielo? Aku bahkan jarang tinggal disana,"
Sekarang Stella ingat, bahwa Felix ini lebih banyak tinggal di Luar Negeri, jika pulangpun hanya sesekali saja.
Hanya saja, beberapa bulan lalu, Paman Felix ini memang kembali ke Negara ini untuk mengurus Perusahaan, menjadi CEO Perusahaan Keluarga, karena Ayahnya ingin pensiun.
Dan tidak mungkin menyerahkan tanggung jawab sebesar ini pada Allen yang masih begitu muda.
Soal dia tinggal dimana, dia kadang memang tinggal di Apartemen yang sangat dekat dengan kantor karena dia lebih banyak kerja lembur, lalu kadang akan tinggal di Rumah Keluarga Chastielo.
Tapi kalau dirinya memilih tinggal di Apartemen, jelas Felix akan lakukan apapun yang dia inginkan dan kesempatan dirinya untuk mendekatinya menjadi kecil.
Berbeda jika mereka tinggal di rumah keluarga Chastielo, jelas ada Orang Tua Felix yang akan memantau mereka jadi Felix tidak akan bisa seenaknya.
"Pokoknya, aku ingin kita tinggal di Rumah Keluargamu!!"
"Kenapa kamu begitu keras kepala?"
"Sangat sepi jika harus tinggal di Apartemen, lagipula jika aku tinggal di Rumah Keluargamu, aku bisa menemani Kakek dan Nenek, mereka pasti tidak akan kesepian jika ada aku di sana,"
"Mereka tidak pernah kesepian bahkan jika tidak ada kamu di sana,"
Mendengar kata-kata dingin itu, Stella tidak tahu harus merespon seperti apa.
Apasih masalahnya jika dirinya tinggal di rumah Keluarga Chastielo?
Kenapa Felix masih begitu menentang ini benar-benar menyebalkan.
Pada akhirnya, Stella tetap memaksa untuk tinggal di Rumah Keluarga Chastielo.
Ketika tiba di halaman Rumah itu, perasaan Stella menjadi cukup rumit.
Ini adalah rumah yang familiar untuk dirinya.
Ada begitu banyak kenangan di rumah ini.
Tempat di mana dirinya dan Allen sering bertemu dan bermain bersama sejak mereka kecil.
Di Rumah Keluarga ini pula, hari dimana Allen memasangkan cincin pertunangan mereka.
Mereka menghabiskan begitu banyak waktu bersama di rumah ini.
Memasuki rumah itu, sekarang memang membuat perasaan Stella menjadi semakin tidak enak.
Ketika tiba di Ruang Tamu, disana ada berbagai pajang sebuah Foto dan Lukisan Keluarga.
Namun ada salah satu lukisan yang terlihat cukup mencolok disana.
Itu adalah Lukisan dari Allen Chastielo yang berdiri disebuah taman bunga yang indah, dan tersenyum senang.
Stella tanpa sadar ketika melewati Lukisan itu, tentu saja merasa hatinya begitu sedih.
Ini adalah lukisan yang dirinya buat untuk Allen sebagai hadiah Ulang Tahunnya yang ke tujuh belas.
Dan dirinya yang begitu keras kepala ingin lukisan ini dipajang di Ruang Tamu Keluarga Chastielo.
Melihat lukisan ini, seolah-olah Stella mengigat lagi masa muda mereka.
Dimana, dirinya dan Allen yang memasang sendiri lukisan ini, bercanda dan tertawa bersama ditempat ini.
'Stella, lihat kamu memasangnya kurang simetris,'
'Tidak, aku kira ini sudah Simetris,'
Namun saat mengatakan hal itu, dulu Allen diam-diam memberi Stella kejutan dengan mencium pipinya.
Mengigatkannya lagi kejadian hari itu sekarang, tiba-tiba membuat Stella ingin menagis.
Jadi...
Dari mana hubungan antara dirinya dan Allen menjadi salah?
Stella memikirkannya, mungkin percuma jika mengingat itu sekarang karena semuanya sudah berakhir....
Felix yang baru saja tiba di Ruang Tamu, tentu saja melihat bagaimana Stella menatap Lukisan bergambar Allen disana.
Melihat tatapan Stella yang seakan penuh kerinduan pada pemilik gambar di lukisan itu, membuat perasaan Felix terasa rumit.
Memang, dari Awal Pernikahan mereka mungkin Stella memang berniat menjadikan dirinya dan memanfaatkan dirinya sebagai ajang balas dendam untuknya.
Namun tentu saja dirinya tidak akan menerima ini dengan mudah dirinya tidak akan ikut dalam permainan Stella yang jelas itu.
Dan disinilah, Felix sekali lagi lalu menarik Stella agar menatap kearah dirinya,
"Stella, aku tidak akan terlibat dalam permainanmu. Aku tahu kamu ingin tinggal di rumah ini agar kamu terus bisa melihat Allen bukan? Kamu masih menyukainya bukan?"
Stella lalu tersadar dari lamunannya itu lalu menatap Felix dengan kaget setelah mendengar kata-kata,
"Tidak, tidak seperti itu."
"Sudahlah, tidak usah mengelak. Aku di sini akan menegaskan ini sekali lagi padamu, aku tidak akan mudah untuk kamu manfaatkan demi balas dendam mu itu, aku bukan alat yang bisa kamu gunakan!! Ingat itu Stella!! Aku tidak akan masuk dalam permainan yang kamu buat, dan aku pasti akan mengakhiri Pernikahan ini. Jadi jangan bermain-main denganku, bocah!"
Kata-kata itu begitu tegas dan penuh kemarahan, membuat Stella tidak bisa berkata-kata lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Hotlin Situmorang
memang Stella nya itu ooon..
2024-07-24
0
wonder mom
stella tu bodoh ato oon c? sebenere y sm j jg. perempuan g perlu bodoh utk dihargai.
2022-10-01
1