Menentukan Keputusan

Beberapa menit kemudian, mereka telah mengumpulkan makanan dari ruang penyimpanan.

Mereka berkumpul lagi di depan restoran.

Saat itu mereka melihat Alvin sedang membunuh beberapa zombie. Setelah membunuh zombie, Alvin mengambil batu evolusi dari kepalanya.

Orang-orang yang berada di restoran melihat Alvin seperti masokis, membunuh zombie tanpa ampun padahal zombie itu sudah tak bergerak lagi.

Alvin sadar bahwa dia diamati oleh mereka, dan menunjukkan batu evolusi.

"Ini batu evolusi, walaupun saat ini aku belum tau kegunaannya, tapi batu ini bisa membuat kita menjadi lebih kuat." Ucap Alvin.

"Jangan tinggalkan batu evolusi setelah membunuh zombie, para zombie juga menggunakan batu ini untuk menjadi lebih kuat." Lanjutnya.

Mereka pun menggangguk. Walaupun mereka tidak mengerti bagaimana batu itu bisa membuat menjadi lebih kuat, namun mereka percaya saat melihat Alvin yang menebas kepala zombie layaknya memotong tahu.

Saat tidak terlihat zombie disekitarnya, Alvin menghampiri mereka.

"Dimana rumahmu Nona Gordon?" Tanya Alvin.

"Tidak jauh, hanya kurang dari 500 meter ke arah sana." Tunjuk Nancy.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Alvin lagi.

Nancy merenung sebentar dan menjawab, "Rumahku tidak terlalu besar, hanya saja memiliki pagar yang cukup tinggi untuk menutup penglihatan orang dari luar."

"Bagus." Seru Alvin.

Saat membunuh zombie tadi, Alvin melihat situasi disekitarnya. Hanya ada dua puluhan zombie yang dapat dia rasakan dari arah yang ditunjuk oleh Nancy.

Karena memiliki vitalitas dua kali lipat, Alvin memiliki pendengaran dan penglihatan sedikit lebih baik dari orang pada umumnya.

Kemudian Alvin mengeluarkan dua buah belati militer, satu ketapel, satu golok dan satu pisau lipat.

"Apa kalian pernah membunuh zombie sebelumnya?"

Mereka menggeleng.

"Aku pernah." Ucap Kyle sambil mengangkat tangannya.

Alvin menghela nafasnya.

"Fiuuh, jujur saja kita tidak akan berhasil." Ucap Alvin.

Mereka yang mendengarkan terkejut.

"Di depan sana ada lebih dari dua puluh zombie. Aku tak akan bisa melindungi kalian semua."

Makna dari ucapan Alvin cukup jelas. Jika mereka ingin mengikuti Alvin, mereka harus bisa melindungi diri sendiri.

"Oy, apa maksudmu? Kalau kamu gak bisa menjamin keselamatan kita, lebih baik kita disini saja. Kita punya cukup makanan, kamu bisa pergi sendiri." Ucap Felix angkuh.

Felix menatap Alvin dengan angkuh. Sesekali dia menatap Anna untuk melihat ekspresinya.

"Lihat, disekitar tidak ada zombie lagi, kurasa kita aman disini." Lanjut Felix.

Felix bersikap sombong untuk menunjukkan kekuasaannya di depan Anna. Dia sudah lama mengincar Anna namun Anna sama sekali tidak tertarik padanya.

Setelah Felix mengatakan hal tersebut, muncul keraguan dihati mereka. Karena tempat ini sekarang cukup aman dan memiliki makanan, mereka merasa tidak perlu pindah ke tempat tinggal Nancy.

Alvin menyadari kegelisahan mereka. Lalu dia menunjuk ke suatu tempat.

"Dari arah sana, ada lebih dari seratus zombie menuju kemari. Sungguh baik jika zombie itu melewati kita, namun jika mereka berhenti dan berkumpul diluar restoran, selamanya kita akan terjebak disini."

"Restoran ini bukan tempat yang baik buat berlindung." Ucap Alvin acuh.

"Aku tidak memaksa kalian untuk percaya denganku. Kalian bisa berfikir selama 5 menit, aku akan menunggu diluar." Lanjutnya.

Alvin mengemas kembali senjata dan membawa bersama dengannya.

Setelah itu Alvin berjalan keluar. Sepanjang 5 menit itu, dia akan memfokuskan dirinya untuk memantau zombie disekitar restoran.

Hanya beberapa detik setelah dia keluar, Nancy dan adiknya mengikuti Alvin.

Alvin tersenyum melihat mereka. Lalu Alvin menyodorkan senjata kepada Nancy. Awalnya Nancy menolak untuk memegang senjata. Namun tangannya ditarik oleh Alvin.

"Kamu harus membunuh zombie untuk bisa bertahan di dunia ini."

Alvin memberi belati untuk Nancy.

"Cobalah untuk membunuh zombie di depan." Ucap Alvin sambil menunjuk zombie

Nancy menguatkan dirinya dan berjalan ke arah zombie. Zombie itu sebenarnya berjalan sangat lambat.

Nancy gemetar saat melihat zombie itu. Dengan daging yang menyembul keluar dan tulang belulang yang terlihat mengerikan. Jelas merupakan mimpi buruk bagi setiap gadis.

Nancy berlari kecil sambil menutup matanya dan menghunuskan belatinya ke bahu zombie.

"Ahhh..."

Saat dia mengira sudah selesai membunuh zombie, dia terdorong ke belakang.

Dengan badan yang tertimpa zombie, dia menahan zombie menggunakan tangan kirinya sambil melirik Alvin dengan tatapan meminta tolong.

Namun harapannya sirna saat melihat Alvin tidak bergerak dari tempatnya, dia berkata,

"Zombie tidak merasakan sakit, semua pergerakannya dikendalikan oleh otaknya."

Setelah mendengar itu, Nancy menarik belati dari tubuh zombie dan menikam langsung ke kepala zombie tersebut.

Setelah pertarungan singkat itu, nafas Nancy terengah-engah, dia seakan masuk ke dunia yang berbeda saat membunuh zombie pertamanya.

Sang adik melihat kakaknya yang berjuang seperti itu, mengepalkan tangannya. Dari tadi dia hendak membantu Nancy, namun dia ditahan oleh Alvin.

Saat zombie terbunuh, sang adik menghampiri dan mendorong zombie dari tubuh kakaknya.

"Prok.prok.prok"

"Selamat Nancy karena berhasil membunuh zombie pertamamu." Ucap Alvin sambil bertepuk tangan.

Nancy bangun dan hanya menatap Alvin. Tatapannya sangat tajam seakan bisa mencabik-cabik organ dalam dan membunuhnya.

Alvin mengabaikan Nancy dan menatap adik Nancy.

"Adik kecil, siapa namamu?" Tanya Alvin

"J..julian G..gordon" Jawab Julian sambil bergetar.

"Baiklah Tuan Muda Gordon, sekarang giliranmu." Ucap Alvin sambil melemparkan pisau lipat pada Julian.

Saat Nancy melihat Alvin melemparkan pisau lipat tersebut, tubuhnya bergetar hendak menerkam Alvin. Dia merasa terlalu berlebihan menyuruh anak kecil untuk membunuh zombie.

Alvin sadar dengan perubahan suasana saat itu, namun sebelum Nancy ingin membantah, Alvin melanjutkan,

"Kamu tidak akan membunuh zombie, coba tusuk kepala zombie itu di bagian belakangnya, dan cari batu seperti ini." Tunjuk Alvin sambil memperlihatkan batu evolusi.

Dengan cepat Julian mengambil pisau lipat dari tanah. Lalu dia memiringkan kepala zombie dan membuat sayatan yang cukup dalam. Saat memasukkan jarinya ke dalam, sontak membuat Nancy dan Julian terkejut.

"Bleeeeghh...."

Mereka pun muntah bersamaan.

Melihat hal itu, Alvin tersenyum pada mereka.

Setelah menenangkan diri, Julian berdiri dan menyerahkan batu evolusi berwarna merah tersebut pada Alvin.

"Bagus Julian, aku menyukai bocah yang lugas sepertimu." Ucap Alvin sambil menepuk-nepuk kepala Julian.

Setelah itu, Alvin memerintahkan Julian untuk mencari batu evolusi dari beberapa zombie yang telah dia bunuh sebelumnya. Ini bisa menjadi latihan baginya untuk dapat menemukan batu evolusi lebih cepat.

Tak lama setelah kejadian itu, mahasiswa yang tadinya sedang berdiskusi datang ke arah Alvin.

Alvin menoleh ke belakang dan bertanya.

"Bagaimana keputusan kalian?" Tanya Alvin acuh.

Mereka saling memandang, Anna pun menjawab.

"Kami setuju untuk mengikutimu, tapi ..." Anna berhenti sejenak.

"Bisakah kamu mengantar kami ke kota Skycloud? Kami ingin kembali ke kota kami." Lanjut Anna.

Tanpa pikir panjang, Alvin langsung menolak gagasan tersebut.

"Aku tidak bisa mengantar kalian kesana, tapi aku akan mencarikan mobil agar kalian bisa berkendara sendiri." Jawab Alvin.

Sebenarnya Alvin ingin membantu mereka, terutama Anna. Membantu gadis cantik merupakan impian semua lelaki. Namun setelah mengetahui tujuan mereka ke kota Skycloud, Alvin mengurungkan niatnya.

Berdasarkan ingatannya, kota Skycloud saat ini dilanda kekacauan. Selain dari zombie dan binatang bermutasi, terdapat perang yang memperebutkan wilayah oleh manusia. Jadi, wilayah perkotaan bukan pilihannya saat ini.

Setelah sepakat dengan persyaratan Anna dan rekannya. Alvin melanjutkan.

"Baiklah, sekarang kita akan membagi tugas masing-masing."

"Diantar kalian bertiga, siapa yang bisa menggunakan senjata?" Ucap Alvin sambil menatap Anna, Natasha dan Felix.

"Aku bisa menggunakan pistol, sebulan sekali aku dilatih menembak oleh ayahku." Jawab Felix sambil membusungkan dadanya, dia menekankan kata 'pistol' agar terlihat keren.

Namun ucapan Felix tidak mendapatkan reaksi apapun dari yang mendengarkan.

"Aku bisa memanah, tapi saat ini kita tidak memiliki busur dan anak panahnya." Jawab Anna sedih. Dia sebenarnya ingin membantu, tapi sepertinya belum bisa untuk saat ini.

"Bagaimana akurasimu dalam menembak?" Tanya Alvin sambil menatap Anna.

"Cukup bagus, aku pernah juara 2 memanah jarak 30 meter." Ucap Anna bangga.

"Hmm.. Lumayan." Jawab Alvin acuh.

"Mmm... Kalau aku belum pernah menggunakan senjata apapun." Ucap Natasha sambil mengepalkan tangannya.

"Tidak apa-apa, aku akan melindungimu." Sambung Kyle sambil memegang tangan Natasha.

Setelah merenung sebentar, Alvin menyerahkan golok pada Kyle, dia bertugas untuk menjaga Natasha.

Anna mendapatkan ketapel dan peluru besinya. Sedangkan Felix akan menggunakan tombak yang telah Alvin buat dengan menyatukan pisau dapur dan sapu.

Untuk Nancy menggunakan belati dan Julian memegang pisau lipat.

Lalu Alvin membagi tugas pada mereka, Natasha akan membawa barang dilindungi oleh Kyle disisi kanan.

Anna berada di sisi kiri bersama Felix. Sulit untuk mengatur Felix, maka Alvin menggunakan Anna untuk menjaga Felix dari berbuat kecerobohan. Mereka juga membawa sedikit barang untuk meringankan beban dari Natasha.

Di bagian belakang, Nancy membawa sisa barang bersama Julian. Julian juga bertugas untuk mencari batu evolusi dari zombie yang telah dibunuh sambil dilindungi oleh Nancy.

Sedangkan Alvin akan bertugas membuka jalan untuk menghabisi zombie-zombie yang berada di depan dengan pedang dan sisa belatinya.

Terpopuler

Comments

Linggis

Linggis

nama-namanya kok mirip yg di sebelah ya

2023-08-16

1

Note_D

Note_D

lanjut thor

2022-10-23

0

Lanz D Kenzy

Lanz D Kenzy

masokis?

2022-10-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!