Restoran (2)

"Tok... Tok... Tok..."

Suara ketukan pintu terdengar.

Keraguan terlihat dari mata setiap orang yang berada di dalam ruangan itu. Mereka saling menatap satu sama lain.

Sebelum mereka bereaksi, terdengar suara dari luar.

"Halo, apa ada orang di dalam?" Ucap seseorang.

Mereka yang berada di dalam saling menatap dan mengangguk seakan mengerti satu sama lain.

"A...apakah tidak ada zombie diluar?" Tanya salah satu gadis gugup.

"Tidak ada lagi zombie disini, tapi kalau kalian tidak membuka pintunya, zombie-zombie lain akan segera datang." Jawab seseorang dari luar.

"Kreeeek...." Terdengar suara pintu terbuka.

Alvin tertegun sejenak. Ternyata yang membuka pintu adalah seorang gadis bertubuh mungil namun cantik diikuti oleh seorang pemuda berbadan tegap sambil mengarahkan pisau padanya.

"Mm... Kemana zombie-zombie diluar pak?" Ucap gadis itu.

'Pak? Apa aku setua itu?' batin Alvin.

Alvin mengernyitkan dahinya. Dia hanya menoleh dan menunjuk ke arah zombie-zombie yang tergeletak di tanah.

Mata gadis cantik itu berbinar. Ada 2 kata yang terlintas dipikirannya, "Tampan dan Kuat".

Seolah mendapatkan kembali harapan hidupnya. Gadis cantik itu pun berbalik untuk memanggil temannya.

"Anna, kemari lah, diluar sudah aman." Kata gadis loli itu.

Lalu muncul dua orang lagi, seorang gadis cantik diikuti seorang pemuda yang terlihat arogan.

Mata Alvin langsung terfokus pada gadis cantik yang dipanggil 'Anna' itu. Dia seakan terhipnotis dalam lamunannya saat melihatnya.

Dengan berbalut gaun putih yang menutupi lututnya, dia terlihat seperti malaikat yang jatuh dari surga, memiliki kulit putih yang sedikit pucat dengan postur tubuh layaknya model, rambut hitam panjang bergelombang, mata kecoklatan dan wajah yang cantik jelita, menyempurnakan sosoknya.

Walaupun sedikit kotor di beberapa bagian, tidak menjadi penghalang bagi gadis itu untuk menjadi wanita terindah yang pernah Alvin jumpai. Sosok yang bernama 'Anna' ini merupakan salah satu karunia Tuhan yang tidak ada cacatnya.

Saat melihat Alvin, gadis itu langsung bertanya.

"Permisi pak, saya Anna Lawrence, mahasiswi Universitas Skycloud." Ucap Anna sambil menyodorkan tangannya.

"Alvin Delamo." Ucap Alvin singkat.

Dengan tangan yang masih menggantung, Anna menarik kembali tangannya dan sedikit kesal akan ketidaksopanan Alvin. Lalu satu per satu Anna memperkenalkan diri teman-temannya kepada Alvin.

Gadis cantik bertubuh seksi yang dia temui pertama kali bernama Natasha Brown. Pemuda berbadan tegap sebelumnya adalah Kyle Lawrence. Dia dan Natasha merupakan sepasang kekasih. Sedangkan Kyle dan Anne merupakan saudara sepupu.

Pemuda lainnya yang tidak bersahabat dan arogan bernama Felix London, dia tidak memperkenalkan dirinya dan memandang remeh Alvin.

Saat ini Alvin mengenakan seragam yang mirip dengan tentara, membuatnya terlihat seperti tentara muda. Hal ini menyebabkan kesalahpahaman bagi Felix. Dia menganggap bahwa semua tentara masih dibawah kekuasaan dan harus mendengarkan perintah ayahnya.

"Hey bung, apa kamu dikirim oleh ayahku? Bagaimana jika kamu terlambat menyelamatkan kami?" Ucap Felix dengan mata yang memandang remeh Alvin.

"Siapa kamu?" Tanya Alvin.

"Aku Felix London. "

"Aku tidak mengenalmu."

"Ayahku Patrick London, dia adalah Ketua Dewan Kota Skycloud, dia ... "

"Cukup, aku tidak mengenal ayahmu, jangan buang-buang energi untuk menjelaskannya." Sela Alvin

Alvin paling membenci orang-orang yang membanggakan nama orang tua mereka untuk mendapatkan ketenaran. Dia pun tidak tertarik mendengarkan kesombongan dari Felix. Hal ini juga yang membuat Felix memandang Alvin dengan sinis karena penjelasannya dicela.

"Tuan Delamo ..."

"Panggil Alvin saja."

"Baik A..alvin, apakah kamu punya sedikit makanan?" Tanya Anna tersipu malu.

"Mmm.. bukankah ini restoran? Apa tidak ada stok makanan di dapur?" Tanya Alvin.

Jujur saja, selain ingin menambah attribute dari berburu zombie, Alvin pergi ke restoran untuk mendapatkan sedikit perbekalan. Walaupun makanan yang tersedia di cincin penyimpanan sangat banyak, namun dia tetap berkeinginan menimbun makanan.

"Tidak ada lagi makanan yang tersisa, kami sudah memakan semuanya." Jawab Natasha sedih.

"Dibelakang ada ruang penyimpanan makanan, tapi kami tidak menemukan kunci untuk masuk kesana." Jawab Kyle sambil menunjuk ke arah dapur.

Alvin menggelengkan kepalanya dan menatap Kyle.

"Jangan pernah mengatakan sumber makanan kalian terhadap orang asing, kalian tidak akan pernah membayangkan apa yang akan terjadi jika orang lain tau kalian memiliki makanan." Jawab Alvin acuh.

Mendapat teguran itu, Kyle menutup mulutnya.

Dari novel-novel yang pernah dia baca, dia tau makanan akan menjadi sangat langka di kemudian hari. Tapi sebenarnya Kyle dan yang lainnya, kecuali Felix, menganggap Alvin sebagai penyelamat dan tampak dapat dipercaya.

Mereka pun mengangguk bersama. Hanya Felix yang menatap Alvin dengan tatapan yang mencemooh. Dia merasa superior karena menganggap kiamat zombie ini hanya sementara dan pemerintah akan dapat memulihkan Negara dalam beberapa hari.

Alvin mengedarkan pandangannya ke sekeliling zombie yang telah dia bunuh. Kunci gudang pasti disimpan oleh salah satu staf restoran. Setelah beberapa saat, Alvin mendapatkan sekumpulan kunci di salah satu zombie.

"Ayo ke belakang, mungkin ada kunci yang cocok disini." Ucap Alvin sambil melambaikan kunci-kunci temuannya.

Alvin berjalan di depan diikuti oleh yang lainnya. Saat menuju ke gudang makanan, Alvin melihat 2 sosok yang meringkuk di sudut dapur. Dia berhenti sejenak dan mengernyitkan dahi.

"Anda agen real estate itu kan?" Tanya Alvin.

Dikagetkan dengan pertanyaan dari Alvin, seorang wanita mendongakkan kepalanya dan menatap Alvin.

"Pak Delamo? Iya pak, saya Nancy Gordon, marketing dari Gordon Real Estate."

"Bagaimana bapak bisa sampai kesini?" Tanya Nancy.

"Saya hanya kebetulan lewat." Jawab Alvin.

Seolah ingin mengatakan sesuatu, Nancy menatap Alvin cukup lama.

"Baiklah, tunggu sebentar, aku akan buka gudang penyimpanan dibelakang, kalian tunggu saja disini." Ucap Alvin sambil melihat ke arah yang lain.

Saat Alvin berjalan ke gudang penyimpanan, terdengar bisik-bisik dari belakangnya. Dia mengira pasti mahasiswa-mahasiswa itu sedang mencari informasi tentang dirinya dari Nancy.

Alvin tidak peduli dengan percakapan mereka, sekarang prioritasnya keluar dari restoran dengan membawa makanan.

Alvin mencoba semua kunci yang dia temukan untuk membuka pintu gudang. Namun semua kunci tidak sesuai dengan pintunya.

Karena tidak ingin menyerah, Alvin diam-diam mengambil palu godam dari cincin penyimpanannya. Dengan menghantamkan beberapa kali ke pintu, akhirnya pintu pun terbuka.

Mendengar hantaman keras dari belakang, mahasiswa beserta Nancy dan seorang anak yang dibawanya bergegas ke belakang. Mereka tercengang melihat pintu yang rusak.

Dari dalam Alvin berteriak,

"Masuklah, ada cukup makanan disini, kita perlu keluar dari restoran ini secepat mungkin."

Mereka pun bergegas masuk.

Melihat makanan yang ada di dalam ruang penyimpanan, mata semua orang berbinar. Dengan cepat mereka mencari tas, kantong atau apapun yang dapat membawa makanan itu keluar.

"Kita bisa memakannya nanti, sekarang kemasi makanannya dulu. Nona Gordon, sebagai penduduk lokal, tolong pikirkan tempat yang cukup aman bagi kita untuk menetap." Desak Alvin.

Sambil mengemas makanan ke dalam kantong yang dia temukan di dapur, Nancy berkata.

"Tempat tinggalku ada disekitar sini, jaraknya tidak terlalu jauh."

"Bagus, setelah berkemas kita pindah ke tempat tinggal Nancy. Lakukan dengan cepat, aku akan menunggu di depan restoran sambil melihat pergerakan zombie." Ucap Alvin.

Karena pintu belakang tertutup sepenuhnya, Alvin tidak mengkhawatirkannya. Dia bergegas ke depan untuk mengamankan jalur keluar terlebih dahulu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!