...Episode XX...
Kita ambil dari sudut pandang pemerintah.
Awalnya Pemerintah mendapat kabar dari salah satu Agensi, bahwa ada 3 HC yg bertarung hingga menghancurkan taman hiburan milik mereka.
Alhasil mereka langsung bergerak cepat untuk menangkapnya.
Mereka kini tiba ditempat kejadian. Terlihat ada 3 HC yg tengah sibuk bertarung. Team pemerintah menunggu aba aba dari komandan demi mengurangi risiko cidera akibat pertarungan tersebut.
Setelah Christ menghancurkan sekaligus menyambar HC gila tadi dengan listriknya, sontak agensi pemerintah langsung datang dan membekuk mereka bertiga.
3 HC tersebut akhirnya berhasil ditahan untuk sementara waktu. Namun ketika para agensi ingin membawa mereka bertiga ke penjara, entah kenapa alasannya ada perintah dari komandan agensi tersebut untuk membawa 1 HC saja yg ke penjara.
Khusus kakak beradik itu, mereka berdua diminta untuk dibawa ke markas besar guna dimintai keterangan lebih lanjut. Akhirnya para agensi tersebut langsung menuruti perintah pimpinan tadi tanpa banyak omong.
Kita fokus dengan keadaan Christ bersama Sanjaya.
Christ dengan Sanjaya lalu diminta untuk menaiki mobil khusus tahanan. Mereka pun menurutinya. Sembari dijaga ketat oleh para agensi, mereka langsung menaiki mobil tersebut tanpa banyak suara.
"Oke, ayo berangkat," ucap salah satu Agensi pemerintah.
"Kak, sebenernya kita ini ingin dibawa kemana sih?" tanya Christ kepada Sanjaya.
"Kakak juga tidak tahu dik, kita ikuti saja arahan dari mereka." ucap Sanjaya sembari menenangkan Christ.
Namun situasi didalam mobil tersebut malah semakin tegang. Untuk mencairkan suasana, Christ lalu berbisik kepada kakaknya itu.
"Kak, bagaimana dengan nas......" ucapan Christ sedikit terpotong.
"Hei!!!!! Jangan berisik," bentak salah satu Agensi tersebut.
"Bisa diem tidak, kalau masih berisik lagi, saya bisa adukan semuanya ke Pemimpin, biar kalian tau rasanya hidup di penjara," gertak salah satu Agensi tersebut.
Para agensi yg ada di mobil seolah tidak memperbolehkan keduanya untuk berbicara sama sekali. Alhasil, mereka berdua langsung terdiam selama beberapa saat.
"Buset, disini suasananya udah berasa seperti di penjara," keluh Christ didalam benaknya.
Setelah beberapa saat mengendarai, akhirnya mereka pun sampai di markas bawah tanah.
"Akhirnya sampai juga," ucap salah satu Agensi tersebut.
Christ yg sedikit penasaran lalu melihat lihat keadaan disekitarnya. Nampak beberapa perwakilan agensi itu tengah bersiaga tanpa adanya rasa kantuk sama sekali.
"Wuih, keren juga," ucap Christ sembari memuji keadaan sekitarnya.
"Oke kalian berdua, silahkan turun terlebih dahulu," pinta salah satu Agensi tersebut.
"Ayo Dik," ucap Sanjaya sembari mengajak Christ turun.
Christ lalu turun dari mobil tersebut.
Kemudian dari beberapa agensi tersebut, kini tengah bersiap untuk mengawal kakak beradik ini.
Alhasil, situasi disana malah menjadi sedikit tegang.
Christ yg merasa lelah diawasi, lalu berbisik kepada Sanjaya.
"Kak, kakak tidak merasa risih dengan tatapan mereka tah?" tanya Christ.
"Sebenernya kakak juga merasa tidak nyaman, namun apa boleh buat, kita harus menuruti mereka atau nantinya kita akan dijebloskan di penjara," Sanjaya sembari mengingatkan Christ.
Christ yg paham lalu langsung diam begitu saja.
Sampailah mereka berdua di suatu ruangan rapat khusus para agensi.
"Kalian tunggu disini sebentar, komandan saya akan memutuskan, akankah kalian layak untuk dibebaskan atau malah berakhir di penjara." ucap salah satu Agensi tersebut.
Sembari menunggu, Christ diperbolehkan untuk berbincang sebentar dengan Sanjaya. Mereka kini tengah meratapi nasib jika mereka harus dipenjara selamanya.
"Kak, bagaimana mana ini? Apa kita kabur saja menggunakan kekuatan yg kita punya?" tanya Christ.
"Eh, jangan. Nanti identitas mu akan dicari sampai seluruh kota. Kau mau itu terjadi?" ujar Sanjaya dengan nada serius.
"Ya, habis mau bagaimana lagi kak?"
"Christ tidak mau kalau sampai dipenjara. Padahal niat kita kan baik, yakni berupaya untuk menyelamatkan nyawa para warga yg ada disekitar loh," ucap Christ dengan nada lesu.
"Sudah, kau tenang saja,"
"Feeling kakak, kita tidak akan dipenjara kok," ucap Sanjaya sembari meyakinkan Christ.
"Kenapa kakak bisa sangat yakin?" tanya Christ dengan penuh keheranan.
"Rasanya sangat konyol jika kita dipenjara begitu saja tanpa adanya penjelasan sama sekali....."
"......Lagipula, yang Christ lakukan pada saat itu bukanlah perusakan properti secara sepihak. Karena sebenarnya yg kau lakukan pada saat itu adalah sebuah cara untuk menyelematkan diri sendiri dan orang lain," ujar Sanjaya dengan mantap.
"Hmph......."
"Begitu ya kak?" ujar Christ.
"Udah santai saja, kita bukan penjahat begini," ujar Sanjaya.
Beberapa menit mereka berdua mengobrol, muncul lah pemimpin dari agensi itu. Christ terkejut melihat pemimpin tersebut.
"Engkau kan......." ucap Christ dengan nada tidak percaya
"Yo....Kita ketemu lagi loh, Christ," ucap Arif.
Ya, Arif adalah pemimpin dari agensi tersebut.
Tentu saja Christ sangat gembira. Sanjaya lalu bertanya kepada Christ mengenai siapa itu Arif
"Nah dik, dia itu siapa?"
"Kok kamu bisa kenal dengannya?" tanya Sanjaya sembari berbisik kepada Christ.
Christ lalu menjawabnya dengan santai.
"Owh, namanya adalah Arif kak. Arif adalah orang yg mau membantu sekaligus memberi informasi kepada Christ mengenai apa yg harus dilakukan jika sudah berada di Kota Khusus HC." ucap Christ dengan sangat rinci.
"Begitu ya," ucap Sanjaya.
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul, mari kita mulai rapat ini," ucap Arif.
Setelah terjadi perdebatan panjang antara kakak beradik itu dengan agensi itu, akhirnya keputusan rapat itu sudah bulat.
Christ dengan Sanjaya dinyatakan tidak bersalah atas hancurnya taman hiburan milik pemerintah.
Justru mereka dinobatkan sebagai pahlawan berkat kebaikan mereka yg telah membantu orang disekitarnya untuk mengungsi terlebih dahulu.
"Fiuh....Aman, untung saja Arif dari tadi selalu membela saya," ucap Christ dalam benaknya.
"Untung saja temanmu itu mau membela kita, Christ." ucap Sanjaya sembari tersenyum.
Setelah rapat itu selesai, semua orang diperbolehkan untuk keluar dan pulang. Namun tidak dengan kakak beradik ini.
"Ayuk kak, kita pulang. Badanku sudah pegel semua nih," keluh Christ.
"Yasudah ayo," ucap Sanjaya.
Namun ketika mereka berdua hampir untuk meninggalkan ruang rapat tadi, tiba tiba ada seseorang menghalangi mereka.
"Eitssss.. Kalian tidak boleh pulang terlebih dahulu," ucap Arif sembari menahan mereka berdua.
"Mohon maaf nih, ada apa ya?" tanya Sanjaya.
"Iya, kan semuanya sudah pada pulang tuh?" tanya Christ dengan nada keheranan.
"Sudah, kalian disini dulu. Ada hal penting yg ingin saya tanyakan kepada kalian berdua." ucap Arif dengan nada serius.
Kebingungan, mereka berdua akhirnya menuruti perkataan Arif.
Arif rupanya sengaja menahan sebentar kakak beradik tersebut karena ia memang memliki keperluan dengan mereka berdua.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Arif langsung menutup pintu ruangan tersebut. Ia lalu mulai bertanya mengenai suatu hal.
"Nah, kalian berdua boleh duduk kembali di kursi situ," pinta Arif.
Setelah mereka berdua duduk, Arif langsung memberi tahu tujuan sebenarnya mengapa ia menahan mereka berdua.
"Jadi begini. Saya bangga terhadap jasa kalian yg telah menyelamatkan warga sekitar dari ancaman HC,"
"Nah berhubung pemerintah terkesan akan kerja keras kalian, disini saya ingin bertanya mengenai suatu hal...."
"Apakah kalian bersedia untuk menjadi personel Agensi di Kota ini?" tanya Arif dengan nada serius.
"Kalian tidak perlu menjawabnya sekarang, kami akan menunggu jawaban ini hingga lusa." ucap Arif tanpa adanya keraguan.
Sontak kedua kakak beradik itu terkejut dengan apa yg telah dikatakan oleh Arif.
"Hah??" ucap mereka berdua.
"Kok permasalahannya jadi rumit ya?"
"Jujur kami memang berusaha untuk menyelematkan warga disekitar, namun kami tidak berharap untuk menjadi agensi disini," ucap Sanjaya.
Christ lalu menyambung perkataan dari Sanjaya sembari berkata.
"Betul itu Rif, kami tidak menginginkan untuk menjadi seorang pahlawan. Kami hanya berniat untuk melindungi warga yg tengah kesusahan saja," ucap Christ.
Namun, keputusan Arif sudah bulat. Ia sangat ingin untuk merekrut mereka berdua.
"Bukankah sudah kubilang? Saya tunggu jawaban kalian pada lusa depan," Arif lalu meninggalkan mereka berdua.
Namun sebelum pergi, Arif sempat mengatakan.
"Setidaknya kalian pikirkan dengan matang mengenai ucapan ku ini," ucap Arif seraya pergi dari ruangan itu.
Kini tinggallah Christ dengan Sanjaya di ruangan itu. Mereka jelas sangat kebingungan dengan apa yg telah terjadi.
Singkat cerita, mereka berdua kini telah sampai di rumah. Christ langsung menghempaskan badannya di kasur.
"Aduduh, badanku sakit sekali," ucap Christ sembari berbaring di ranjang.
Terlebih setelah Christ menggunakan sebagian kekuatannya secara terus menerus, itu membuat tubuhnya terasa dipenuhi beban.
Christ lalu memikirkan sejenak mengenai perkataan akan Arif.
Disaat kakaknya tengah memasak makan malam, Christ lalu menanyakan hal itu kepada Sanjaya.
"Nah kak, apa jawabanmu mengenai ucapan Arif barusan?" tanya Christ.
"Loh? Kamu masih memikirkan akan perkataannya toh?" tanya Sanjaya.
"Bisa dibilang seperti itu sih, kalau kakak bagaimana? Apa kakak akan menerima ajakan dari pemerintah?" tanya Christ.
"Kakak sih tergantung pada mu dik, kalau kamu mau untuk mengikutinya, maka kakak juga akan ikut. Tetapi kalau Christ tidak mau, ya sudah toh. Kakak sih simpel orangnya," ucap Sanjaya dengan santai.
"Hm......" Christ masih melamun mengenai hal itu.
"Apa aku tanyakan saja ya kepada Spirit itu?" ucap Christ dalam benaknya.
"Nah Spirit, menurutmu apa yg harus saya lakukan sekarang?" tanya Christ kepada Roh yg ada didalam tubuhnya.
"Mengapa kau malah menanyakannya kepada ku? Jawabannya tergantung pada dirimu sendiri." ucapan Spirit itu hampir sama dengan Sanjaya.
"Perkataan mu sama seperti kakakku ya?" ucap Christ sembari mengejek.
"Intinya pikirkan saja secara matang matang Christ, semua keputusan ada ditangan mu," ucap Spirit itu dengan bijak.
"Kau benar Spirit, mungkin diriku saja yg terlalu khawatir," gumam Christ.
Beberapa hari kemudian.
Christ langsung mengajak Sanjaya ke markas kemarin. Ia akan menjawab dengan jelas mengenai apakah ia akan menerima keputusan dari Arif atau menolaknya.
"Ayo kak, buruan dong, nanti kita bisa terlambat nih," ucap Christ sembari merengek.
"Iya iya sabar, kakak make sepatu dulu dong," ucap Sanjaya.
"Buruan kunci pintunya Christ," ucap Sanjaya.
"Sudah kak, ayok berangkat," ucap Christ.
Setelah beberapa saat diperjalanan, Christ dan Sanjaya kini telah tiba di depan markas tersebut.
Singkat cerita, mereka berdua lalu diperbolehkan untuk masuk. Mereka berdua lalu diminta untuk menunggu sebentar.
"Silahkan duduk dulu, kalian berdua boleh bersantai sebentar disini," ucap salah satu Agensi disana.
"Baiklah," ucap kakak beradik itu.
Selang beberapa lama menunggu, Arif lalu datang.
"Yo, maaf telah lama menunggu bukan?" ucap Arif sembari basa basi.
"Ya, tidak apa apa kok," ucap Sanjaya.
"Jadi bagaimana? Kalian mau buka untuk menjadi salah satu anggota kami?" tanya Arif.
Awalnya Sanjaya ingin mengatakan sesuatu hal, namun ia malah dicegah oleh adiknya sendiri.
"Sepertinya saya saja yg bicara, maklum Christ masih bingung. Jadi soal penerimaan anggota itu, mungkin saja kami akan meno...." ucapan Sanjaya terpotong oleh Christ.
"Tunggu bentar, biar saya saja yg bicara," ucap Christ dengan nada serius.
"Setelah saya pikirkan secara matang, saya menyimpulkan bahwa saya akan bergabung dengan anggota agensi ini. Namun dengan dua syarat." ucap Christ tanpa basa basi.
"Selama persyaratan itu tidak aneh aneh, kami akan menurutinya. Memangnya apa yg kau inginkan?" tanya Arif.
"Baguslah. Syarat yg pertama, saya ingin dibuatkan team sendiri. Soal bagaimana susunan teamnya, beberapa teman saya harus diperbolehkan untuk ikut dalam team saya..." ucapan Christ belum selesai.
"Dan yg kedua, ini yg paling terpenting...."
Christ awalnya ingin menjawab bahwa ia ingin uang muka terlebih dahulu. Namun ia malah teringat akan mimpinya pada saat itu yg membuatnya teramat penasaran.
".... Saya meminta semua laporan akan kejahatan yg pernah terjadi di kota ini tanpa terkecuali. Tidak ada seseorang yg boleh menyembunyikan beberapa laporan dari kami, termasuk kecelakaan tragis yg telah menimpa saya beberapa tahun yg lalu." ucap Christ dengan nada serius.
"Hei, ini ruang rapat bung, bukan pasar. Enak saja nada bicaramu meminta semua laporan," sela salah satu Agensi yg ada disana.
Rupanya ada beberapa Agensi yg mengawasi pembicaraan itu.
"Kalau kau merasa keberatan, ya sudah batalkan saja. Dengan begitu Saya tidak jadi untuk masuk kedalam anggota ini," gertak Christ.
Sontak para agensi langsung terdiam mendengar hal itu. Arif yg mendengarkan mengenai 2 syarat yg diajukan oleh Christ, langsung menerimanya.
"Selamat Christ dan Sanjaya, kalian kini resmi menjadi team kami," ucap Christ dengan nada bangga.
"Eh komandan, kau yakin? Mereka ini meminta hal yg macam macam loh?" tanya salah satu Agensi yg tidak setuju dengan perekrutan kedua kakak beradik itu.
"Memangnya kalian yakin kalau kedua kakak beradik ini akan berani untuk macam macam?" tanya Arif.
"Soal itu......" agensi yg menolak permintaan dari Arif justru terdiam dengan ucapan dari Arif itu sendiri.
"Ya sudah, kalian berdua segera untuk membentuk team secepat mungkin. Karena kalian adalah anggota baru, saya akan memberikan sebuah tugas mudah." ucap Arif.
"Tugas seperti apa itu?" tanya Christ dengan Sanjaya.
"Kalian dapat melihatnya di Next Episode" ucap Arif.
Kita akan melihat aksi dari mereka berdua pada Next Episode.
Fiksi ini Upload setiap 2 hari sekali, jadi jangan ketinggalan untuk membacanya Ya :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments