...Episode IX...
Setelah masuk ke dalam gerbang sekolah atau lebih tepatnya sebuah asrama besar, Christ pun mulai mencari dimana letak ruang pendaftaran.
Karena sekolah ini memiliki lebar serta luas yang cukup luas, alhasil Christ pun malah menjadi bingung sendiri di dalamnya.
Sembari terus berjalan, ia yg tak ingin masuk lebih dalam lantas bertanya kepada salah satu perempuan yg kebetulan sedang berada disana.
"Permisi, maaf mengganggu waktunya......"
"Tempat pendaftaran untuk calon Human Change itu letaknya di bagian mana, ya?"
Awalnya perempuan itu sedikit terkejut dengan kedatangan Christ. Namun melihat nada bicara halusnya yg menyatakan bahwa ia bukan orang jahat, wanita itu lalu menjawab.
"Ruang pendaftaran-- ya?"
"Ahh--- anda nanti tinggal jalan lurus terus hingga bertemu dua belokan, ambil belokan ke kiri. Sekitar 200 meter berjalan, maka kamu akan tiba disana,"
Cewek itu menjelaskan dengan rinci mengenai ruang pendaftaran.
"Owh begitu, omong omong makasih atas infonya ya,"
"Ya, sama sama." ujar cewek itu.
Seusai mendapat petunjuk darinya, Christ lalu mulai berlari dan mengikuti arahan sesuai omongannya. Sembari diperjalanan, tiba-tiba otaknya mulai berhalusinasi.
"Fumu--- lumayan juga tempat ini untuk memiliki hal unik seperti tadi ya," gumam Christ di dalam hatinya.
Tersadar dari lamunannya, ia langsung mengabaikan akan hal tadi dan mempercepat langkahnya hingga akhirnya ia benar-benar berdiri di depan ruang pendaftaran.
Disaat sedang dalam proses pendaftaran, Christ diminta untuk merentangkan kedua tangannya.
"Mohon untuk merentangkan tangan anda." ucap suatu mesin yg tengah memindai tubuh Christ.
"Eh iya iya," ujar Christ sembari merentangkan kedua tangannya.
Tanpa banyak tingkah, ia menurutinya.
Setelah dipindai dengan sangat lama, akhirnya selesailah proses pemeriksaan untuk Christ. Kemudian hasil dari pemindaian itu sendiri kini langsung diberikan kepada ia selaku murid baru disana.
"Hm.......?"
"Sudah kuduga," ujar Christ tanpa adanya rasa terkejut.
Sesuai dugaan, Christ diklasifikasikan sebagai Human Change berkekuatan Listrik.
Christ tidak terkejut mendengar hal itu karena sebelumnya ia telah bertemu dengan Spirit Lightning of the Master, yg dimana dari namanya saja sudah mewakili roh listrik.
Seusai diberikan padanya, Christ lantas cabut dari sana untuk pergi ke sebuah asrama khusus HC. Perlu diketahui bahwa semua Human Change tinggal disana, dengan dibagi akan setiap HC pada kelompoknya masing masing.
Selang beberapa menit mencari, akhirnya Christ pun berhasil masuk ke kamar khusus untuknya.
Setibanya ia di dalam, bak orang yg tidak diberi makan selama sebulan penuh, Christ langsung membaringkan tubuhnya ke kasur untuk menghilangkan rasa penat yg melekat fi sekujur tubuhnya.
"Haaah----......."
"Asli capek banget hari ini. Mana besok harus berangkat untuk belajar ke sekolah lagi, saya kan sudah bekerja,"
"Hah.........."
Tanpa dipungkiri, ia memang menginginkan untuk menjadi manusia normal. Namun bukan berarti ia bakalan mau untuk menjadi salah satu Human Change.
Ia yg terlalu lelah kini mulai termenung.
Ia memikirkan mengenai nasib dirinya, jikalau mereka mengetahui bahwa ada salah satu keturunannya yg dimasukkan kedalam kota kecil khusus Human Change.
"Keluargaku ada yg marah tidak ya? apalagi bila mendengar salah satu cicit dari keturunan nya yg malah masuk ke dalam asrama Human Change?" gumam Christ dalam benaknya itu.
"Tetapi bukannya kakak kandung ku termasuk dalam HC juga ya? Mungkin saja diriku masih diterima di keluarga ku kali, mengingat bahwa kakak ku saja masih dianggap sebagai keluarga besar," ujar Christ dalam benaknya.
Sembari termenung, Christ kemudian memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Pandangan kamar yg cukup bagus disertai dengan ditaruhnya beberapa perabotan yg unik membuat siapapun orang yg berniat menginap disana akan merasa betah.
Ketika tengah melihat-lihat interior tersebut, matanya tertuju pada salah seorang yg sedari tadi mengawasi Christ.
"Itu anak kenapa dah?" ujar Christ seraya fokus memperhatikan anak tersebut.
"Hadeh, unik juga sekolahan ini,"
Keheranan, Christ lantas mengatakan.
"Oy..... kamu yg ada disitu, ayo kesini,"
"Eh, saya?" kata orang tersebut dengan nada terkejut.
"Iya, ada yg mau saya tanyakan kepadamu,"
Meski malu malu, anak itu lalu menghampiri Christ.
"Anu-- maaf tadi saya malah......" ujar anak itu sembari menundukkan kepalanya.
Karena merasa tidak enak telah mengintip orang secara sembarangan, ia menundukkan kepalanya.
"Ahh--- soal itu...... Lupakan saja akan kejadian tadi, toh saya tidak apa-apa kok."
"Owh iya, perkenalkan nama saya Christ. Murid baru disini. Kalo namamu?" ucap Christ seraya basa basi.
"Kamu bisa memanggil saya sebagai Roy," ucap Roy seraya menjabat tangan Christ.
Anak itu lalu mengulurkan tangan kanannya kepada Christ pertanda untuk berkenalan. Melihat uluran tangannya spontan membuat tangan Christ gatal untuk menjabat tangan anak tersebut. Kini mereka sudah resmi berteman.
"Eh ngomong-ngomong, kamu berasal dari kelompok mana Roy?"
"Kok tahu tahu bisa ada di kamar saya?" ucap Christ dengan penuh keheranan.
"Saya ini sama dengan dirimu,"
"Eh? Maksudmu engkau memilki kekuatan Lightning juga?"
"Ya."
Rupanya Roy teridentifikasi sebagai Human Change berkategori power Lightning. Jelas Christ agak sedikit terkejut karenanya.
"Tu- tunggu sebentar, kamu kok bisa mengetahui akan kategori kekuatan saya? Perasaan saat tiba di tempat ini, saya tidak pernah memberitahukan siapapun deh." papar Christ yg tampak kebingungan.
Jelas kalau ia sedikit heran. Ia tidak menyangka bahwa orang yg diajak kenalan olehnya, mengetahui sedikit informasi mengenai kekuatan barunya.
Christ lalu berpikir sejenak, sembari di dalam otaknya itu.
Ia menduga kalau yg memberitahukan mengenai penerimaan dirinya di akademi ini kemungkinan adalah cewek yg dia temui di lorong sebelumnya. Sedangkan orang yg memberitahukan perihal kekuatannya adalah pihak guru di sekolah ini.
"Mungkin, kali ya? Ah-- sudahlah, saya harus mengorek informasi mengenai apa saja yg dilakukan ketika sudah berada disini," ujar Christ didalam hatinya.
"Bukan apa apa, itu memang sudah hobi saya.....
"Eheh..." ucapnya dengan santai.
Christ lalu tersenyum.
Entah perasaan yg lagi baik atau karena hal lain, ia merasa cocok satu sama lain. Christ tak lupa untuk memberitahukan mengenai identitas dirinya sebelum masuk ke sekolah ini.
"Aaahaha--- ah iya Roy, ada satu hal yg ingin saya tanyakan padamu" tanya Christ dengan nada serius.
"Hah? Apaan tuch? Tanya saja Christ, toh tak orang yg bakal melarang."
"Kamu boleh menceritakan sedikit tidak, mengenai apa saja yg dilakukan oleh HC yg berada disini?" tanya Christ dengan sopan.
"Ya ampun, keasikan ngobrol sampai lupa buat memberi tahu engkau akan hal tersebut. bagaimana kalau saya berikan jadwalnya saja?"
"Boleh, kalau tak memberatkan kamu."
"Santai kali Christ, tak ada yg merasa terbebani kok, tunggu sebentar ya....." ujar Ron yg segera berlari untuk balik ke kamarnya. Lalu, selang 30 detik kemudian, ia kembali ke kamar Christ seraya membawa selembar kertas berisikan jadwal sekolah.
Tanpa banyak alasan, Roy pun menyerahkan kertas itu kepada rekannya.
"Nih ---"
"Terimakasih." ucap Christ sembari mengambil kertas di tangan rekannya.
Sejenak, Christ mulai membaca satu persatu mengenai tulisan yg tercatat didalam kertas tersebut.
"Jadwal tiap hari Human Change"
Pukul 08.00 pagi, berangkat ke sekolah
Pukul 09.00 pagi, dimulai pembelajaran
Pukul 12.00 siang, istirahat pertama
Pukul 2 siang, murid diperbolehkan pulang
Pukul 3 - 5 sore, waktu bebas
Pukul 6 - 8 malam, sudah ada di asrama
Merasa kalau jadwal di asrama mirip sekali dengan jadwal anak sekolah tak ayal membuat hati kecil Christ bergumam.
"Eh buset, jadwalnya kok mirip seperti anak sekolah ya? Buset-- buset, sungguh mengerikan."
Ketika Christ tengah asik dalam ocehan kecilnya, Roy yg sedari tadi memerhatikan wajah Christ kemudian menambahkan sebuah info.
"Ah--- iya, sampe kelupaan, jadi begini Christ....."
"Hm?"
"Nantinya..... setiap kelas akan memiliki gurunya masing-masing, dan setiap kelas jelas memiliki guru yg berbeda, ini jelas sekali mengingat bahwa banyak sekali manusia super di tempat ini."
"Biasanya yg akan dipelajari di dalam kelas paling tidak jauh dari cara mengendalikan kekuatan yg kamu miliki selama ini. Yg paling terpenting disini adalah....."
"Jangan pernah mempunyai musuh didalam kelasmu Christ, karena nanti akan berakibat fatal jika kau melanggarnya," ucap Roy dengan penuh keseriusan.
"Owh, begitu."
"Ah--- rasanya saya sudah memperkenalkan diri saya serta asal usul saya right?"
"Ya.... then?"
"Aku ingin mendengar alasan kenapa kamu bisa berada di tempat ini, apa kamu berinteraksi dengan manusia super?"
"Hahaha......." jawab Christ sembari tertawa pelan.
"......." heran, rekan di sebelahnya justru malah diam dan mengganggap bahwa joke yg diceritakan oleh Christ adalah garing.
"Emh....... Roy?"
Entah karena malu atau karena suatu hal, tiba tiba Roy langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Permisi Christ, sepertinya saya ada urusan deh."
"Eh?"
Ternyata Roy berniat pergi dari kamar Christ.
Penasaran, Christ yg sedikit bingung akan situasinya kemudian bertanya lagi.
"Eh, emmm---- perlu kah saya antar ke depan
"Tak perlu, saya bisa sendiri kok." respon Roy dengan nada datar
Karena kasihan, Christ lalu mengizinkannya.
"Owh-- ya sudah, silahkan kalau begitu,"
Sontak, Roy yg sudah berada di gagang pintu kemudian langsung cabut meninggalkan Christ sendirian di kamarnya.
Christ yg keheranan melihat tingkah dari temannya tersebut hanya bisa terdiam dan tersenyum.
Kini, esok hari ia akan menjalani kehidupan barunya pada sekolahan, atau yg biasa disebut sebagai asrama.
Akankah Christ dapat untuk menjalani kehidupannya itu?
Pertanyaan ini hanya bisa dijawab kalau kalian membaca episode selanjutnya.
Bersambung..........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
M IHSAN AMZAH
hari baru,masalah baru
2023-11-05
1