...Episode XVII...
Beberapa hari pasca Christ di rawat di rumah sakit khusus Human Change.
Beberapa hari setelah Christ sakti, kini ia pun diperbolehkan untuk pulang berkat kesehatannya yg berangsur membaik.
Setelah Christ berhasil memenangkan pertandingan itu, Christ pun dinobatkan sebagai Human Change paling hebat didalam akademinya.
Semua Human Change, guru bahkan para murid yg belajar disana kini bangga kepada Christ.
Teman temannya seperti Maria beserta kakaknya yakni Wiyana pun turut senang melihat Christ dapat memenangkan pertarungan tersebut.
Sehabis penerimaan medali sekaligus hadiah dari panitia pertandingan, Christ langsung dihampiri oleh Maria serta Wiyana.
"Selamat loh Christ." ujar Maria pada saat itu seraya memeluk Christ.
Owh ya, sebenarnya Maria dengan Christ belum sepenuhnya pacaran.
Jadi paham maksud saya kan?
Oke kita lanjut lagi.
"Haha, santai kok, ini juga berkat dari doamu kan," ucap Christ sembari mengusap usap rambut Maria yg nampak sangat berantakan tersebut.
Rambut Maria yg panjang lagi berwarna merah terlihat berkibar kibar diterpa angin.
Terlebih dengan baju yg dipakainya saat itu, membuatnya tampak anggun.
"Baguslah kalau begitu," ucap Maria yg perlahan melepaskan pelukannya tadi.
Maria lupa kalau ia tadi mengajak kakaknya kesini.
Karena hal itu, sambil malu malu Maria lalu mencoba untuk melepaskan pelukannya barusan.
"Hm......." gumam Wiyana sembari menatap curiga akan tingkah adiknya tersebut.
"Sebenarnya ada yg ingin saya tanyakan kepada kalian berdua,"
"Ini mengenai kedekatan antara kalian berdua....." ujar Wiyana.
"Apakah kalian berdua benar benar sudah........" sayangnya, ucapan Wiyana barusan malah disela oleh seseorang.
"Halo semuanya," ucap Ron seraya menghampiri Christ dan Maria seraya
Entah dari mana, tiba tiba muncul Roy dari belakang ketiganya.
"Eh, ada kamu toh Roy," ucap Christ kepada Roy pada saat itu.
"Hampir saja," ucap Christ yg merasa lega didalam benaknya itu.
Ia sangat bersyukur, kalau saja tadi Roy tidak datang kesana, maka keduanya akan mendapatkan ocehan maut dari Wiyana selaku kakaknya tersebut.
Christ lalu melirik kearah Maria sebentar. Maria awalnya tidak sadar dengan tatapan dari Christ.
Sadar kalau dirinya kini tengah diperhatikan membuat Maria menjadi sedikit salah tingkah.
Bahkan Maria harus menyembunyikan wajahnya itu supaya tidak ketahuan oleh semuanya.
Sejenak suasana berubah menjadi sedikit canggung.
Menghindari kecanggungan yg terlalu lama, Christ lalu mengajak kedua temannya itu untuk berjalan jalan sebentar.
"Eh iya, bagaimana kalau kita keluar untuk berjalan jalan sebentar?" kata Christ seraya memberi kode kepada keduanya.
"Sembari merayakan kemenangan saya?" Bagaimana? kalian pada setuju tidak?" tanya Christ kepada kedua temannya itu.
"Itu sih terserah dirimu," ucap Roy.
"Ron berarti setuju?" kata Christ.
"Baguslah. Bagaimana denganmu Mar?" ucap Christ sembari melemparkan pertanyaan ke pada Maria.
"Hm......" Maria awalnya agak ragu untuk menjawabnya. Namun tiba tiba ada seseorang yg mewakili jawabannya.
"Kamu boleh ikut kok, Mar." ucap Wiyana seraya mewakilkan perkataan Maria.
"Eh, seriusan nih kak?" tanya Maria dengan nada tidak percaya.
"Kapan kakakmu ini pernah berbohong?" ujar Wiyana dengan nada serius.
"Sudah ikut saja sana kamu dik," kata Wiyana seraya berbisik kepadanya.
"Nanti Christ kelamaan menunggu kamu loh," ujar Wiyana dengan nada berbisik kepada adiknya.
"Apa sih kak," ujar Maria sembari berbisik kepada kakaknya itu.
"Christ, saya titip Maria kepadamu ya," ujar Wiyana dengan nada serius.
"Eh, iya iya Kak Wiyana." ucap Christ.
Christ lalu mengomel didalam hatinya.
"Dititipin?"
"Dikiranya Maria barang bawaan apa ya," ujar Christ di dalam benaknya tersebut.
Wiyana lalu melanjutkan perkataannya tadi.
"Ya sudah, kalau begitu saya tinggal terlebih dahulu, ya." ucap Wiyana sembari pamit kepada ketiganya.
"Siap kak," ujar ketiganya dengan serempak.
Wiyana lalu benar benar pergi dari ruangan itu dengan meninggalkan mereka bertiga.
Suasana lalu berubah menjadi senyap.
Christ yg merasa gabut lalu mengatakan.
"Owh iya Roy, kamu kok sendirian kesini?
"Memangnya Aaron sedang pergi kemana dan?" tanya Christ dengan penuh penasaran.
Buat yg belum tahu, pasca selesainya pertarungan final pada beberapa hari lalu, kini antara Aaron dengan Christ sudah resmi berteman.
Bisa dikatakan, keduanya kini berubah menjadi teman dekat.
Oke lanjut.
"Kurang tahu juga sih Christ, apa saya ajak saja dia saja ya?" gumamnya itu.
"Kurang seru kalau hanya kita bertiga bukan"
"Nanti yg ada saya malah jadi nyamuk kalian berdua lagi," timpal Roy seraya mengejek keduanya.
"Eh, kamu omong apa barusan?" kata Maria dengan nada sedikit kesal.
"Owh, kamu mau kena serangan saya nih," ujar Christ seraya mengeluarkan percikan listrik dari tangannya tersebut dengan tujuan supaya Roy takut.
Usaha Christ rupanya berhasil. Nampak Roy yg gemetaran melihat listrik yg keluar dari tangan Christ.
"Eh, maaf maaf deh,"
"Kamu bisa hilangkan tidak listrik itu?" ucap Roy yg ketakutan.
"Baguslah kalau kamu paham," ujar Christ seraya menghilangkan listrik yg ia miliki.
"Hah......." ujar Roy yg lega melihatnya.
"Oke kembali lagi ke topik,"
"Mengenai agenda liburan kita kali ini, maka sudah saya putuskan......."
"Begini saja, kamu coba ajak Aaron terlebih dahulu,"
"Sedangkan kami akan menetapkan kemana kita akan pergi habis ini,
"Jadi kami akan menunggu kalian berdua disini,"
"Bagaimana?" ujar Christ seraya menanyakan apakah semuanya paham dengan idenya itu.
"Hm....." Bukannya menjawab perkataan Christ barusan, tanpa sadar Roy malah senyum senyum sendiri layaknya orang gila.
Christ yg heran lalu bertanya kepadanya.
"Oi, kenapa kamu diam aja?" tanya Christ seraya berbisik pelan pelan.
"Tujuanmu menyuruh seperti itu agar kalian bisa berduaan lebih lama, kan?" ucap Ron dengan nada mengejek.
Christ tentu saja kaget dengan apa yg diucapkan olehnya.
Christ yg kesal pun lalu memukul pundak anak itu seraya berkata.
"Ngaco aja kamu kalau ngomong, cepetan untuk susul Aaron sana," pinta Christ dengan nada menyuruh.
"Iya iya, ada yg tidak sabar bener nih untuk berduaan dengannya," ucap Roy seraya memberi kode kepada Christ.
"Sialan kau Roy," ucap Christ didalam benaknya.
"Haha, saya tinggal tidak apa kan nih?" ucap Roy seraya tertawa terbahak bahak.
Ia lalu meninggalkan Christ dengan Maria disana.
"............" bukannya saling mengobrol, keduanya malah bersamaan untuk diam diaman terlebih dahulu.
Akan tetapi, untuk menghindari kecanggungan yg berlarut-larut, Christ lalu membuka topik.
"Hmph......."
"Mar?" tanya Christ dengan sangat gugup.
Sangking gugupnya, ia bahkan mengeluarkan sedikit keringat.
Maria lalu menjawabnya.
"Iya Christ, kamu kenapa dah?" tanya Maria yg kebingungan dengan ekspresi dari Christ.
"Begini, kan kompetisi sudah berakhir ya?"
"Nah jadwal berikutnya itu apa ya?" tanya Christ dengan nada sungguh sungguh.
"Jadwal berikutnya ya?" gumam Maria.
"Seinget saya sih, kita tidak akan ada jadwal selama beberapa Minggu ke depan,"
"Jadi maksudmu......" ucapan Christ langsung disela oleh Maria.
"Yap, seperti yg kau duga, nanti kita akan diberikan cuti selama beberapa Minggu ke depan," ucap Maria dengan nada santai.
Christ yg tidak percaya dengan perkataan Maria barusan lalu bertanya
"Tunggu sebentar........" kata Christ yg mencoba untuk memikirkan perkataan Maria dengan nalarnya.
"Bukankah Human Change yg telah tinggal di Kota ini tidak akan diperbolehkan untuk pulang sama sekali?" tanya Christ dengan nada keheranan.
"Iya, itu beneran kok Christ,"
"Nanti kau akan diperbolehkan oleh pemerintah untuk berlibur suka ria, asal dengan syarat untuk mematuhi segala peraturan yg ada pada negara ini," ucap Maria dengan sangat rinci.
"Hm........"
"Begitu ya," ucap Christ seraya memegangi dagunya tersebut.
Christ lalu memikirkan apa yg ingin ia lakukan setelah masa liburan dimulai.
"Setelah liburan ini, saya ingin jalan jalan kemana ya?"
"Sepertinya Maria akan menginap disini, sedangkan untuk Roy dan Aaron itu sendiri mereka pasti ingin pulang ke kampung halamannya selamanya,"
Hm....." gumam Christ di dalam benaknya itu.
Sayangnya lamunan itu tak berlangsung lama karena........
"Nah, itu mereka berdua sudah sampai," lamunan dari Christ seketika buyar melihat kedatangan keduanya.
"Yo, maaf lama menunggu," ucap Aaron.
"Ya tidak apa apa kok," ucap Maria dengan santai
"Eh omong omong, kita mau kemana dulu nih?" tanya Christ kepada semuanya.
"Hmph......." ujar ketiganya seraya memikirkan hal tersebut.
Melihat kalau ketiganya belum memilki rencana sama sekali, Christ lalu mengomel di dalam benaknya tersebut.
"Elah, saya kira sudah ada ide untuk pergi kemana," kata Christ dengan nada sedikit kesal.
"Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bermain disebuah taman hiburan saja?" tanya Christ seraya menyampaikan idenya.
"Ide bagus, saya setuju." kata Roy yg langsung setuju akan perkataannya barusan.
"Saya pun," kata Maria yg sependapat dengan Christ.
"Saya ikut aja sih, yg paling terpenting kita harus bersenang senang hati ini......" kata Aaron dengan nada lantang.
"Ya sudah, ayo langsung berangkat saja." ucap Aaron yg bersemangat.
Ia lalu menyeret tangan Roy untuk ikut bersamanya.
Aaron lalu mengajak Roy untuk jalan duluan meninggalkan Christ dengan Maria.
Merasa kalau keduanya telah berlari sangat cepat, secara tiba tiba Maria malah memegang tangan Christ.
"Ayo buruan Christ," ujar Maria dengan nada sedikit cemberut.
"Iya iya, sabar atuh." ujar Christ yg terpaksa menuruti perkataan Maria.
Pelan tapi pasti, kedekatan antara mereka berdua sudah tidak bisa dipungkiri lagi.
Maria sudah dipastikan kalau dirinya menyukai Christ, namun Christ sendiri masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Singkat saja, setelah mereka berempat berpesta seharian penuh, akhirnya mereka pulang dengan hati ceria.
Beberapa hari setelah Kompetisi itu berakhir, kini tibalah saatnya bagi Human Change untuk berlibur mengabiskan masa cuti mereka.
Sebelum ia pulang, ia ingin berpamitan dengan Maria dan seluruh temannya tersebut. Tepat ketika Christ hampir sampai di Asrama Maria, Christ mendengar sebuah perbincangan antara adik kakak.
Rupanya itu adalah Maria dengan Wiyana. Christ yg tadinya berniat untuk menghampiri mereka berdua, mengurungkan niatnya itu karena Maria tengah berbincang serius dengan Wiyana.
Christ kemudian mendengarkan pembicaraan mereka berdua dari balik dinding.
"Inget ya dik, sedekat apapun dirimu dengan Christ, jangan pernah berani untuk memberi tahu mengenai masa lalu mu itu." ucap Wiyana dengan nada serius.
"Tapi apa masalahnya kak? Christ itu orangnya baik, dia tidak mungkin untuk menyebarkan aib seseorang apalagi untuk aib orang yg paling ia cintai," ucap Maria sembari bertanya.
"Maria memiliki masa lalu seperti apa sih?" ucap Christ didalam benak hatinya.
"Ya memang Christ itu orang baik, tetapi kau jangan terlalu percaya dengan kebaikan seseorang. Bisa saja dia hanya baik depan dirimu saja," ucap Wiyana.
"Kok kakak ngomong seperti itu, jangan bilang kakak tidak menyukai Christ ya?" tanya Maria.
"Bukan seperti itu dik, kakak tidak bermaksud untuk mencurigai Christ, namun kakak hanya mengingatkan saja," ucap Wiyana dengan panjang lebar.
"Huh....Iya deh, kali ini Maria bakalan nurut dengan perkataan kakak," ucap Maria dengan nada lesu.
"Nah bagus, ngomong ngomong tumben Christ tidak menghampiri dirimu?" tanya Wiyana kepada Maria.
"Nanti juga Christ bakalan datang kok, bukannya tadi kakak bilang kalau kakak masih punya sedikit urusan di kamar kakak?" tanya Maria.
"Eh iya, aduh sampe kelupaan, kakak tua tinggal ga papa kan?" ujar Wiyana sembari meninggalkan Maria.
"Iya kak, hati hati dijalan," ucap Maria.
Ruangan lalu menjadi sangat sunyi setelah Wiyana pergi meninggalkan Maria. Namun Christ masih penasaran dengan apa yg dikatakan oleh Wiyana.
"Apa sebaiknya aku tanyakan saja ya kepada Maria? Kebetulan juga orangnya sedang ada disini kan?" tanya Christ didalam benaknya.
Christ lalu menghampiri Maria yg tengah melamun tidak jelas.
"Nah Maria," ucap Christ sembari mengejutkan Maria.
"Astaga, Hih..... Jangan usil deh Christ," ucap Maria sembari memukul pundak Christ.
"Ya ya maaf, habis kamu melamun tidak jelas. Memangnya lagi mikirin apa sih?" tanya Christ.
"Hm......"
Bukannya menjawab, Maria malah diam saja. Christ yg melihat hal itu, paham bahwa Maria memang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Nah Christ, lain kali saya boleh cerita mengenai suatu hal tidak?" pinta Maria dengan nada memelas.
Kasihan, Christ lalu menanggapinya dengan santai.
"Kau bisa mendatangi ku kapan saja," ucap Christ.
"Hm...." ucap Maria.
"Eh iya, saya ga bisa berlama-lama nih. Hari ini saya harus kembali ke rumah saya. Jadi niat saya adalah untuk berpamitan denganmu." ujar Christ dengan panjang lebar.
"Owh, kau jadi untuk pulang hari ini Christ?"
tanya Maria.
"Sepertinya iya sih," ucap Christ secara singkat.
Singkatnya, mereka berdua akhirnya saling berpamitan. Christ pamit untuk pulang ke rumahnya sedangkan Maria harus menginap di Asrama ini.
Ketika masuk masa liburan, Murid yg tidak mau untuk berlibur diperbolehkan untuk menginap di Asrama.
Dengan membawa koper penuh, Christ lalu pergi meninggalkan asrama itu. Setelah ia berhasil mendapat surat identitas Human Change, kini Christ telah tiba di depan rumahnya.
"Huh.....Capek juga hari ini," ucap Christ setelah ia membuka pintu rumahnya.
Namun ada kejanggalan di dalam rumahnya. Ketika Christ berusaha untuk melepas sepatunya, Christ malah mendengar ada suara keributan di dapur miliknya.
"Pranggggg" (bunyi wajan jatuh)
"Eh apaan tuh?" tanya Christ.
"Siapa yg tengah berada di dapur?"
Anehnya tidak ada suara yg menjawab. Takut kalau dirinya adalah maling, Christ langsung mengambil sapu didepan rumahnya.
"Hii.....Baru ditinggal sebentar kok ada hantunya sih," ucap Christ dalam hatinya.
Ia lalu menghampiri dapur miliknya. Sembari berjalan, Christ langsung komat Kamit untuk berdoa
"Semoga bukan hantu, semoga bukan jin," ucap Christ.
Disaat ia sudah mencapai di dapur, ia langsung mengatakan.
"Hayo maling, mau kemana kau." ucap Christ yg ingin memukul Sanjaya dengan sapunya tersebut.
"Waa........" teriakan dari Sanjaya berhasil untuk menghentikan serangan dari Christ.
"Kak Sanjaya? Ini benar kakak kan?" tanya Christ dengan nada tidak percaya.
"Iya beneran kok, eh sapunya bisa diturunin dulu tidak. Kakak lagi masak nih soalnya," ucap Sanjaya sembari mengaduk aduk makanan yg ada di panci.
Setelah dicek ke dapur, rupanya orang yg berada di dapur adalah Sanjaya, kakak kandung dari Christ itu sendiri.
"Kakak," ucap Christ sembari memeluk kakaknya tersebut.
"Kakak kalau dateng kenapa tidak bisa bilang dulu sih, Christ pikir kakak maling," ujar Christ sembari menahan malu.
Sontak Christ langsung memeluknya dan mengungkapkan bahwa dirinya sangat senang dikunjungi oleh kakaknya tersebut.
"Ya kalau begitu, bukan surprise dong namanya," Sanjaya lalu melepaskan pelukan Christ.
Buat info aja nih.
Wijaya merupakan kakak kandung dari Christ. Ia memang jarang mengunjungi adik kandungnya itu karena Wijaya juga dimasukkan kedalam Kota khusus HC.
Namun karena suatu hal, Sanjaya tidak bisa menemui Christ selaku adik kandungnya sendiri dalam waktu dekat. Ini disebabkan karena keluarga besarnya.
Jadi dengan kata lain, ia dipisahkan dengan adiknya sendiri. Wijaya sendiri diklasifikasikan sebagai HC kekuatan Angin.
Berhubung kini kakaknya sudah pulang, Christ bermaksud untuk merayakannya.
"Kak, berhubung kakak sudah pulang, bagaimana kalau besok kita pergi ke taman hiburan?" tanya Christ kepada Sanjaya.
"Hm....Gimana ya, ya udah deh. Kakak ngikut aja," ucap Sanjaya sembari memakan masakan miliknya tersebut.
"Yes...Begitu dong," ucap Christ dengan penuh semangat.
"Janji ya besok bakalan pergi, awas PHP loh," pinta Christ.
"Iya iya, bawel amat dah. Udah dimakan dulu masakan kakak. Nanti keburu dingin loh." ucap Sanjaya sembari menyuruh Christ untuk makan.
"Siap kak," ucap Christ sembari menikmati masakan kakak nya tersebut.
Malam itu merupakan malam yg penuh kebahagiaan bagi Christ.
Karena ia dapat bertemu dengan kakak kandungnya yg telah lama tidak pernah ia temui selama beberapa tahun lamanya.
Bersambung.........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments