...Happy Reading......
Tadinya, aku memang ingin ketempat Letto. Tapi semuanya berubah haluan ketika ingat bagaimana caranya meredam amarah yang terlalu membara, dengan cara instan. Whisky.
Aku nggak tau, mengapa kita—aku dan Nadya—saling menyakiti seperti ini. Padahal dulu kami saling berbagi dan memberi tanpa pamrih. Saling mendukung, saling memberi kekuatan saat kita berada di titik terendah hidup. Hingga dalam hati kecilku, aku ingin sekali memeluknya, memberi dan mencurahkan seluruh kasih sayangku untuknya. Tapi sekarang, yang terjadi malah kebalikan dari semuanya, aku menyakitinya. Menyakiti Nadya yang seharusnya aku jaga bersama mandat dari kedua orang tuanya yang dipercayakan kepadaku.
Malam ini, aku tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran karena aku hanya meminum segelas Whiskey—yang dulu menjadi favoritku di masa kelam—karena tiba-tiba mengingat Nadya yang mungkin sedang menungguku pulang. Segelas Whisky sama sekali tidak berpengaruh pada kewarasanku. Hanya saja sedikit pusing mulai terasa ketika menginjak lantai rumah.
Nadya menyambutku, dan aku berniat acuh saja karena tidak ingin berdebat atau mempermasalahkan apapun lagi dengannya, meskipun dalam benakku aku ingin sekali membicarakan semua masalah kami agar clear. Aku anggap semua baik-baik saja setelah aku pulang.
Tapi, sepertinya Nadya tidak ingin mengakhirinya. Dia terus mendesakku, tapi aku terus mencoba menyudahinya dengan beralasan, aku capek.
Seperti tidak ada kata menyerah, Nadya terus menyerang dengan pertanyaan sama yang membuatku muak. Aku membentaknya, dan menyentak tangannya hingga dia jatuh terjerembab duduk di lantai. Kemudian aku menyesal karena mata Nadya mulai terlihat berkaca-kaca. Tidak, aku tidak ingin menyakitinya begini. Aku hanya ingin menghukum diriku sendiri karena sudah membuat Nadya bersalah dan tersudut. Aku diam karena aku tidak ingin ketika bicara, malah menyakiti Nadya. Dan terbukti sekarang. Aku gagal membahagiakan dia, aku juga gagal membuat dia percaya kepadaku karena dia lebih terlihat bahagia saat bersama orang lain.
Merasa sangat bersalah, aku berjalan menyusul Nadya ke kamar. Berniat damai dan meminta maaf padanya karena membuatnya sampai terjatuh. Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu.
Namun, melihat Nadya meringkuk dibalik selimut, hatiku begitu teriris dan tidak sampai hati untuk mendekat padanya. Lalu aku memutuskan untuk masuk kekamar mandi membersihkan diri.
Setelah selesai dengan urusan membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku kembali keluar kamar. Aku melirik ke arah ranjang, dan Nadya masih setia dengan posisi awal, meringkuk membelakangi dan tidak mau peduli pada kehadiranku. Aku pantas menerimanya.
Aku sadar tidak akan berhasil jika aku berusaha meminta maaf sekarang. Nadya sedang buruk, begitupun aku. Kami berdua berada difase yang sangat buruk.
God, kenapa kita berdua jadi seperti ini?
Hubunganku dengan Nadya, bukan sebuah kisah drama yang bisa di pause, lantas diputar mundur untuk mengubah alur, kemudian kembali play hingga bisa menjadi yang diinginkan. Sama sekali tidak bisa seperti itu.
Aku memilih tidur di ruang tengah, didepan televisi yang baru saja aku nyalakan. Perlahan-lahan, pusing yang tadi sempat terasa mendera kepala, menghilang begitu saja ketika aku merebahkan tubuh diatas sofa.
Surabaya, sekolah, dan taman tempat biasa kami bersama dulu menarik imajinasi ku untuk kembali mengulas sebuah senyum karena kisah kami dulu. Di taman itu, kita sering menghabiskan waktu bersama. Bertukar cerita, baik sedih maupun senang. Di taman itu, kami selalu merasa nyaman. Dan disana pula, semua awal kesepakatan ini di buat.
Mendadak, aku kembali mempunyai keinginan untuk meminta maaf pada Nadya. Jika dia akan membenciku setelah ini, setidaknya, aku sudah mendapatkan maafnya.
Okey,
Aku turun dari sofa, berjalan cepat menuju kamar yang kali ini sudah gelap. Nadya sudah memadamkan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
Perlahan kuayunkan langkah kakiku ke arah ranjang, dimana Nadya masih nyaman meringkuk dibalik selimut. Mungkin dia lelah setelah melakukan perjalanan dari Semarang. Mungkin juga, dia berusaha melupakan masalah kami tadi sore dan yang baru saja terjadi, dengan cara tidur.
Ku naiki ranjang dengan gerakan pelan agar jika Nadya memang sudah tertidur, tidak merasa terganggu. Aku mulai menyamankan diri dengan posisi miring menatap punggung Nadya. Bodoh. Bagaimana bisa aku menyakiti wanita rapuh yang berusaha sok kuat ini? Bodoh. Aku terus merutuki kebodohan ku sendiri karena sudah menyakiti Nadya.
Lengan tanganku tiba-tiba terulur ingin menyentuh bahu tenang itu. Bahu ringkih yang selama ini berusaha terlihat sok kuat. Lagi-lagi, aku merutuki kebodohan ku karena sudah menjadi orang jahat yang turut membuatnya terluka. Akan tetapi, ketika telapak ku hendak sampai di sana, aku menggantung beberapa saat diudara. Kemudian menariknya menjauh dan hanya bisa berbisik menyebut namanya.
“Nad,”
Aku menjeda, sengaja barangkali Nadya hanya pura-pura tidur.
Tidak ada balasan, dan aku melanjutkan kalimat yang ingin aku katakan sejak tadi, meskipun Nadya pasti tidak akan mendengar karena dia sudah tertidur. Aku kembali menyamankan posisi, kali ini merebah telentang sambil menumpu kepala dengan satu tangan.
“Aku nggak bermaksud nyakiti kamu Samapi sejauh itu, Nad. Aku nggak mau kayak gitu.”
Aku menghela nafas cukup besar, lalu menghembuskan agar beban ku sedikit terangkat.
“Mungkin setelah hari ini, kamu bakal benci aku dan nggak pingin ngasih aku maaf.
“Nggak apa-apa. Aku tau, aku salah, dan nggak seharusnya kamu maafin aku yang sudah bersikap kasar ke kamu.
“Sumpah. Aku nggak berniat seperti itu ke kamu.”
Lalu, aku diam cukup lama menatap langit-langit kamar yang tidak begitu terang. Suasana cukup sunyi, hanya terdengar desir halus dari pendingin ruangan yang sedang bekerja dengan baik. Lalu aku memutar kepala dan menatap punggung sempit Nadya yang masih terlihat tenang dan nggak terganggu sama sekali dengan ocehanku yang pasti nggak akan dia dengar.
“Aku cuma ingin, kamu nggak tau sisi buruk yang begitu kelam, yang pernah aku lalui sendirian. Aku nggak pingin kamu ngelihat aku yang seperti itu.”
Aku tertawa sendiri seperti orang gila ketika kembali dilempar ke masa lalu. Saat aku berada di lembah gelap dan pekat karena sebuah pengkhianatan.
“Aku—” kalimatku tercekat karena tiba-tiba Saliva meluncur begitu saja melewati tenggorokan. “Aku, takut kamu meninggalkan aku, sama seperti Dinda.” kenangku pilu. Aku sampai memejamkan mata ketika kembali mengingat dia yang pernah aku sayangi, sama besarnya seperti menyayangi Nadya dulu. “Dinda Gadis yang pernah aku cintai sama seperti mencintai dan menyayangimu. Ada sosok dirimu pada Dinda, hingga aku bisa membuka hatiku untuknya. Jauh sebelum aku mengenal Hera.”
Aku kembali merasakan tidak nyaman, kemudian aku memposisikan diriku ke arah samping, membelakangi Nadya. “Tapi Hansel mengambilnya dariku. Mereka mengkhianatiku.” lanjutku dengan suara lebih rendah dari sebelumnya. “Dan sejak hari itu terjadi, aku kehilangan diriku sendiri. Aku melarikan diri ke arah yang tidak seharusnya. Aku gila karena setelah itu, aku berusaha melupakan penghianatan mereka dengan cara menghancurkan diriku sendiri. Yang tidak pernah aku ceritakan ke kamu.”
Aku kembali diam demi mengatur nafas yang mulai memburu.
“Aku hanya nggak ingin, Hansel melakukan hal yang sama, mengambil dirimu dariku. Mengambil kebahagiaan terakhir yang aku miliki dalam hidupku, yaitu kamu.”
Aku ragu mengatakan kalimat selanjutnya yang ingin aku ucapkan, tapi aku rasa Nadya tidak akan mendengarnya, jadi mari ungkapkan saja.
“Aku mengatakan ini, bukan sebagai sahabat kamu, Nad. Tapi sebagai seorang suami, sebagai seorang laki-laki kepada seorang wanita.”
Aku meremat selimut yang menutup separuh tubuhku. Menutup sebagian tubuhku yang menegang karena menggigil takut, lalu menekuk badan agar aku bisa meraih lutut untuk aku peluk.
“Aku, mencintaimu. Jangan pernah tinggalin aku.” []
^^^to be continued.^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
MACA
Kayaknya yang dengerin cm bantal dech🤭
2022-10-31
1
YuWie
akhirnyaaa ngomong juga bagas...cuman nadya denget gak tuh..percuma lah klo nadya tidur beneran.
2022-08-29
1
Erliani hsb
takut untuk saling mencintai agar tak saling menyakiti.agar persahabatan tetap terjalin
2022-08-28
0