Arga memang telah blokir whatsapp Seli, sehingga dirinya tak bisa lagi menghubungi Arga. Namun, dirinya masih memiliki kesempatan untuk menghubungi Arga melalui SMS dan telepon biasa. Karena Arga tak terpikir untuk blokir itu.
"Apa-apaan sih kamu? Menambah kepusingan aku saja. Urusan aku sama Anin saja belum selesai, kamu menambahnya lagi.
Otak Arga merasa mumet, berpikir apakah dia harus menghubungi Seli atau tidak. Tetapi bagaimana dengan Anin? Jika Anin mengetahui hubungan dirinya, semakin sulit saja dirinya untuk kembali kepada Anin.
"Aaaaaahh," Arga berteriak meluapkan perasaannya.
Sejam dua jam dia masih bertahan untuk tidak peduli dengan Seli, meskipun akhirnya Seli akan benar-benar melakukan bunuh diri. Namun, akhirnya Arga mengurungkan niatnya. Dia masih peduli dengan Seli, dan dia tak ingin terjadi sesuatu dengan Seli. Dia tak ingin kehilangan Seli kembali.
Akhirnya Arga memutuskan untuk membuka blokir nomor Seli. Dia mencoba menghubungi Seli, tetapi Seli tak mengangkatnya. Rasa panik menghantui Arga, dia takut kalau hal itu benar-benar terjadi.
"Kemana sih kamu? Masa iya kamu beneran nekat melakukan bunuh diri," Arga bermonolog sendiri dengan hatinya.
Seli tak juga ada kabarnya membuat Arga semakin gelisah tak tenang. Hingga akhirnya telepon itu di angkat. Namun, bukan Seli yang mengangkat dan melakukan panggilan dengan Arga.
"Kamu siapa? Dimana Seli? Mengapa bukan dia yang mengangkat telepon dari aku," serentetan pertanyaan terlontar dari bibir Arga.
"Seli sedang tidur, dokter menyuntikkan obat penenang. Dirinya sempat melakukan percobaan bunuh diri. Untungnya nyawanya masih bisa tertolong. Saat ini dia berada di rumah sakit, untuk pemulihan," jelas Anggita teman kantornya.
"Ya ampun Sel, kamu benar-benar nekat. Aku kira kamu hanya main-main saja. Ternyata kamu benar-benar melakukannya," gumam Arga.
Urusan Seli dia anggap selesai, dirinya sudah merasa lebih tenang. Karena Seli sudah tertolong, hanya butuh pemulihan saja. Baru saja bernapas lega, kini dirinya harus berhadapan dengan sang ibu.
"Arga, kamu itu apa-apaan sih? Bikin malu orang tua saja. Ibu tak menyangka kamu seperti itu. Harusnya kamu itu bersyukur karena memiliki istri yang baik, yang mau menerima kamu meskipun dalam keadaan kamu menganggur. Ini malah menyakiti hati dia, bahkan menggoreskan luka di hatinya dengan memberikan tamparan di wajahnya. Orang tua mana yang tak akan marah, jika anaknya di perlakukan tidak baik oleh suaminya. Sekarang kamu tanggung kesengsaraan kamu, akibat ulah kamu sendiri," cerocos sang Ibu.
"Kok Ibu jadi menyalahkan aku sih? Aku tak akan seperti ini, kalau Anin tak memulainya. Dia tak pernah menghargai aku sebagai suaminya. Kata siapa dia menerima kondisi Arga, Anin itu kalau di rumah kerjaannya mengoceh. Membuat Arga merasa tidak terima diperlakukan seperti ini terus. Bagaimanapun Arga ini seorang laki-laki, punya harga diri. Ibu seharusnya bantu Arga untuk kembali kepada Anin. Apa ibu tak kasihan dengan cucu Ibu, yang harus menerima kenyataan orang tuanya berpisah sejak dirinya dilahirkan," sahut Arga membela diri.
Eliza mencoba berpikir atas apa yang diucapkan anaknya itu. Memang ada benarnya ucapan sang anak. Dia tak ingin cucunya menanggung keegoisan orang tuanya. Dia berpikir kalau semua ini karena Anin memiliki sikap keras dan berkuasa, terlebih sang anak saat ini menganggur dan Anin lebih maju kariernya dari sang anak.
"Ya sudah, nanti kita coba temui Anin di rumah orang tuanya selepas magrib. Takutnya jam segini dia masih di kantor," ujar Mama Eliza membuat Arga bersorak gembira dalam hati.
Tepat pukul 7 malam, Arga dan sang Ibu sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tua Anin. Arga yakin kalau Anin lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya. Dengan menggunakan sepeda motor maticnya, Arga dan sang Ibu sudah sampai di depan pagar rumah Anin. Mereka langsung mengucap salam, agar sang pemilik rumah membukakan pintu pagar dan mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam.
Benar saja, awalnya Mama-nya Anin tak suka dengan kedatangan Arga. Semenjak dirinya mengetahui sikap Arga yang masih resmi menjadi menantunya, menyakiti hati anaknya. Namun saat melihat sang Ibu yang berada di sebelahnya, akhirnya Mama Dahlia terpaksa menerima kedatangan mereka dan mempersilahkan untuk masuk. Lagi pula dirinya ingin membicarakan hal ini dengan Ibu-nya Arga.
"Silahkan duduk, Bu," ucap Mama Dahlia
Arga dan Mama Eliza kini sudah berada di ruang tamu, sedangkan Mama Dahlia memilih untuk masuk ke dalam untuk memanggil suaminya dan memberitahu kepada Anindya masalah kedatangan suami dan mertuanya ke rumah. ) memilih untuk tidak menemui mereka. Sedangkan Pak Rudi tentu saja menemui mereka, kesempatan untuk mereka membahas tentang perceraian Anin dan Arga. Pak Rudi keluar dengan wajah yang tak bersahabat, sedangkan Arga justru bersikap biasa seperti orang yang tak bersalah.
"Akhirnya inilah saat yang kami tunggu. Pastinya Ibu sudah tahu dari anak Ibu kan tentang apa yang yang terjadi dengan pernikahan anak Ibu dengan anak saya, Anin. Kami selaku orang tua sudah memutuskan, agar Anin bercerai dengan anak ibu. Sudah cukup, anak saya bersikap sabar dengan anak Ibu," ucap Pak Rudi tegas.
"Sebelumnya saya selalu Ibunya Arga ingin meminta maaf. Kalau anak saya memiliki kesalahan terhadap anak Bapak. Perlu Bapak pahami, pernikahan anak-anak kita masih terbilang sangat baru. Wajar jika perlu adanya sebuah adaptasi, atau saling mengenal satu sama lain. Terlebih hubungan pacaran mereka sangat singkat. Untuk urusan Arga kerap bersikap kasar, mungkin saat itu Arga sedang berada di posisi tertekan, terlebih dirinya belum juga mendapatkan pekerjaan dan selama ini hanya bertumpu kepada Anin. Namun, Bapak dan Ibu juga perlu pahami. Itulah suka duka berumah tangga. Dimana pasangan perlu adanya saling memahami pasangannya. Terkadang rasa tertekan membuat seseorang tak bisa mengontrol kadar emosi mereka. Lantas bagaimana kita sebagai pasangan? Tentu saja menenangkan dan memahami, bukan semakin menekannya. Terlebih saat ini Anin sedang hamil, kadar sensitif orang hamil lebih tinggi. Jangankan suatu hal yang salah, yang benar pun terkadang dianggap tetap salah. Arga pun sebenarnya tak ingin seperti itu, pastinya dia ingin membahagiakan keluarganya, menafkahi istrinya. Hanya saja rezekinya masih di Anin. Kedatangan kami kesini yang tak lain, ingin meminta maaf dan meminta Anin, Bapak, dan Ibu mau memaafkan kesalahan Arga. Bayi dalam kandungan Anin membutuhkan figur seorang Bapak. Anin tak boleh egois, dia harus pikirkan juga anak yang masih dalam kandungannya. Apa Anin tega membuat bayi yang tak berdosa harus menanggung perpisahan orang tuanya sejak lahir," ungkap Ibu Eliza, Ibunda dari Arga.
Sambil menunggu up, mampir yuk di suami vangke lainnya. Maaf jika cerita kami sangat menguras emosi para readers🙏🙏.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Jeni Safitri
Wah.. Acungan jempol 2 utk ibu arga hebat komunikasinya pinter ngelesnya pantasan arga pinter ngeles juga
2024-04-19
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
pak Rudi dan bu Dahlia jangan sampe oleng sama omongan bu Eliza yg udah terpengaruh mulut manis Arga ...
2023-08-24
0
𓂸ᶦᶰᵈ᭄🇪🇱❃ꨄ𝓪𝓢𝓲𝓪𝓱࿐
dasar penanguran gak guna
2022-11-15
1