Arga tak mempedulikan ucapan Seli. Dirinya justru merasa bahagia kalau memang Anindya benar hamil. Inilah saat yang dia nanti. Dia tak ingin Anin pergi meninggalkannya. Berharap kehadiran anak diantara mereka, mampu menguatkan pernikahan dirinya dan Anindya.
"Mas, kamu kenapa? Geli aku, Mas. Aku sampai kaget ada yang gusel-gusel perut aku," ujar Anin yang terpaksa harus membuka matanya.
Mendengar ucapan Seli. Arga langsung mengakhiri panggilan dengan Seli dan masuk ke kamar kembali, kemudian naik ke ranjang untuk menciumi perut istrinya berkali-kali.
"Aku yakin kalau sekarang ini kamu sedang hamil," ucap Arga dengan raut wajah bahagia.
Anin mengerutkan keningnya, dan langsung bangkit duduk. Mencoba berpikir apa yang diucapkan suaminya itu. Mengingat-ingat terakhir kali dirinya menstruasi. Kepala hal ini tak terpikir sedikit pun olehnya. Bahwa dirinya kemungkinan besar sedang hamil.
"Makasih ya Sayang, aku bahagia banget," ucap Arga sambil memeluk tubuh istrinya. Seakan dirinya adalah sosok suami yang baik.
"Kalau sakit aku bukan karena hamil gimana?" tanya Anin sambil merenggangkan pelukan suaminya.
"Aku tak masalah, kita bisa berusaha terus. Namun, jika benar adanya, tentu saja aku akan bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah," sahut Arga dan Anin hanya mengangguk pasrah.
Anin dan Arga sudah bersiap-siap untuk memeriksakan kondisi Anin ke Bidan terdekat, yang letaknya tak jauh dari perumahan mereka tinggal. Wajah Anin masih terlihat pucat, karena dirinya masih saja mual.
Untungnya saat itu tak terlalu banyak pasien, membuat Anin tak perlu harus berlama-lama menunggu. Rasanya dia tak tahan, seperti ingin pingsan. Arga terus menggenggam tangan istrinya, merasa khawatir. Dia tak peduli dengan Seli yang saat ini sedang merasa gusar, karena sang kekasih hati tak kunjung menghubungi dirinya. Membuat dirinya harus menahan perasaan rindu.
"Silakan Ibu tes urine terlebih dahulu dengan menggunakan alat tes kehamilan ini," ujar Bidan Febri. Bidan Febri adalah pemilik rumah bersalin. Anin memilih periksa di sana, walaupun dirinya memiliki asuransi untuk periksa di dokter.
Anin terkejut dan bercampur bahagia saat melihat dua garis merah terpampang di testpack yang dia gunakan. Sebentar lagi dirinya dan sang suami akan menjadi orang tua. Anin mengelus perutnya yang masih terlihat rata, dengan raut wajah yang bersinar.
"Selamat Ibu memang benar hamil. Sekarang Ibu berbaring ya di sana, untuk mendengarkan detak jantung Baby," ujar Bidan Febri.
Denyut jantung bayi sehat, untuk lebih jelas usia kandungan dan kondisi janin dalam kandungan. Bidan Febri menyarankan agar Anin melaksanakan USG. Bidan Febri memberikan obat pereda rasa mual, vitamin, dan juga kalsium.
"Akhirnya aku sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Terima kasih ya Sayang, karena kamu mewujudkan keinginan aku," ucap Arga membuat Anin tersenyum. Dia mengira rumah tangganya berjalan baik-baik saja, hanya saja dirinya harus lebih bersabar agar suaminya mendapatkan pekerjaan kembali. Anin yakin kalau suaminya suatu saat nanti akan mendapatkan pekerjaan, rezeki untuk anaknya.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh egois. Meskipun kamu mual kamu harus paksain makan dan jangan lupa diminum obatnya! Pikirkan kondisi anak kita," cerocos Arga dan Anin hanya menganggukkan kepalanya.
Anin terlihat tersenyum bahagia, dirinya yakin kalau suaminya sangat mencintainya. Pernikahannya berjalan semestinya, seperti impiannya. Arga bersikap manis kepadanya. Anin berusaha melupakan apa yang pernah diperbuat Arga kepadanya. Semua ini demi anaknya. Anin berpikir, apa yang diperbuat Arga karena rasa tertekan karena belum memiliki pekerjaan.
"Doakan aku ya, semoga aku bisa cepat mendapatkan pekerjaan. Aku juga tak ingin terus menerus berpangku tangan kepada kamu. Aku ingin menjadi suami yang bertanggung jawab untuk keluarganya. Bisa memberi nafkah untuk kamu dan calon Baby kita," ungkap Arga dan diaminkan oleh Anin.
Arga senang karena akhirnya sudah ada keinginan untuk makan. Kini mereka sedang berada di tempat makan yang berada di pinggir jalan. Anin menginginkan pecel ayam sebelum masuk ke gerbang perumahannya, dan menginginkan makan di sana. Sebisa mungkin Arga ingin menuruti keinginan Anin, meskipun uangnya berasal dari Anin.
Hari terus berganti, kehidupan rumah tangga Anin dan Arga terlihat adem ayem, tak pernah ada percekcokan. Arga juga kerap bersikap mesra kepada Anin, membuat Anin tak pernah berpikir buruk atas apa yang di perbuat Arga kepadanya.
"Aku benci kamu. Kamu selalu saja membuat aku menunggu dan menangisi kamu," ujar Seli yang sudah terisak tangis.
Hari ini Arga dan Seli bertemu. Arga menjemput Seli di tempat kerja Seli, dan izin kepada Anin kalau dirinya ingin bertemu temannya untuk menanyakan tentang pekerjaan. Anin pun percaya saja. Dia hanya ingin fokus kepada kehamilannya, dan tak mau berpikir macam-macam.
"Dasar laki-laki pembohong! Kamu bilang, kamu tak pernah lagi menyentuh Anin. Tetapi kenyataannya apa? Anin saat ini sedang hamil. kan? Lebih baik kita akhiri saja, aku capek selalu menjadi yang kedua. Aku sakit, karena kamu selalu saja memikirkan perasaan Anin dan tak pernah mempedulikan perasaan aku. Kamu capek hubungan seperti ini. Kamu tak pernah bersikap tegas," cerocos Seli.
"Beb, dengarkan aku! Sudah berkali-kali aku katakan kepada kamu. Aku butuh waktu untuk meninggalkan Anin, terlebih saat ini dia tengah mengandung anak aku. Lagi pula, bukankah kita sudah sepakat, kamu tak akan melarang aku untuk tetap bersama Anin. Sampai kapanpun Anin itu istri aku. Meskipun aku pun tak ingin kehilangan kamu. Please, aku mohon! Aku butuh pengertian kamu," sahut Arga.
Arga benar-benar laki-laki ******, breng*sek yang menginginkan dua wanita di hidupnya. Ingin hidup bahagia dengan istri dan calon anaknya dan juga ingin tetap bersama Seli.
"Sampai kapan? Sampai Anin yang akan menceraikan kamu? Aku juga seorang wanita, ingin di perhatikan. Kamu pikir Anin saja yang ingin diperlakukan manis?" cerocos Seli.
Arga langsung memeluk tubuh kekasihnya, mencoba menenangkan. Agar Seli tak pernah meninggalkan dirinya. Hingga akhirnya Arga berjanji akan membagi waktunya untuk Seli. Dia janji akan bertemu Seli satu atau dua hari setiap minggunya.
"Gitu dong. Aku juga butuh kamu. Aku tak masalah kamu masih bersama dia, asalkan kamu tetap memberi waktu untuk aku. Satu hal lagi, jika kamu sedang bersama aku, kamu adalah milik aku. Aku tak ingin kamu merespon panggilan atau pesan darinya. Sama halnya ketika kamu sedang bersamanya, aku akan berusaha untuk menghilangkan perasaan cemburu aku. Intinya aku ingin kamu bersikap adil," ujar Seli dan Arga menganggukkan kepalanya. Mengiyakan permintaan Seli.
Seli meminta Arga untuk menginap di kosannya malam ini, tetapi Arga menolaknya. Namun, dia berjanji suatu hari nanti di akan mewujudkan keinginan kekasihnya dan Seli akan menunggu saatnya tiba.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Jeni Safitri
Pelakor koq minta waktu lebih dari istri sah pie iki
2024-04-19
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
dasar dj4l4n9 gak tau diri.
ya iya aja keleeuuss Arga perhatian sama Anin ... kan suami istri .. ...
2023-08-24
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
kesian sama Anin yg bener2 dibodohin sama suami lucknut ...
mudah2an Anin peka ya ... dan kelakuan Arga cepet ketauan ...
dgn kondisi mual berat, bisa jadi alesan Anin utk nolak berhubungan badan ...
gak rela kalo Anin una inu sama Arga, sementara Arga juga celah celup si dj4l4n9 🤮🤮
2023-08-24
0