"Wah ini anak sudah benar-benar keterlaluan kalau seperti itu. Di kasih hati, minta jantung. Sudah pengangguran, masih saja berani menyakiti hati seorang istri. Terlebih saat ini kamu sedang hamil. Lebih baik kamu usir saja suami tak berguna seperti itu, tak ada untungnya. Kalau pengangguran, tetapi masih bersikap baik sih tak masalah. Ini sudah paket komplit. Dia hanya jadi benalu untuk kamu," ucap Rudi sang Papa.
"Iya benar banget yang Papa bilang. Setelah Anin lahir, lebih baik kamu minta cerai saja," sahut Mama Dahlia, Mama dari Anindya.
Orang tua mana yang merasa tak geram, jika sang anak di perlakuan seperti itu oleh suami tak bergunanya itu. Hati kedua orang tua Anin terasa panas. Mereka berniat akan menghampiri Arga ke rumah yang Anin dan Arga tempati, dan mengusir Arga dari rumah itu.
"Kamu tenang saja ya, Sayang. Biar semuanya Papa dan Mama yang urus semuanya," sahut Mama Dahlia dan Anin menganggukkan kepalanya.
"Menurut kamu si Arga masih di rumah atau pulang ke rumah ibunya," tanya Papa Rudi.
Anin yakin kalau saat ini suaminya pasti masih berada di rumahnya. Laki-laki tak tau diri itu, pasti tak akan mau pergi meninggalkan rumah itu. Dia masih berharap Anin akan memaafkan dirinya, dan mau kembali kepadanya.
"Ya sudah ayo kita ke rumah kamu sekarang! Laki-laki seperti itu, tak patut dibiarkan. Akan semakin ngelunjak. Biar otaknya mikir, tak akan ada wanita yang mau sama laki-laki tak berguna seperti dia," ujar Papa Rudi dan diiyakan oleh Mama Dahlia.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Anindya. Mama Dahlia mencoba menenangkan sang anak selama di dalam perjalanan. Anin tak pernah menyangka, kalau nasib pernikahannya akan seperti ini. Impiannya akan pernikahan yang begitu indah, musnah sudah. Hanya goresan luka yang tertinggal di hatinya.
"Sabar ya, Sayang! Jangan patah semangat, terus berdoa kepada Allah. Semoga keputusan yang kamu ambil adalah keputusan terbaik untuk kamu. Lanjutkan hidup kamu, Mama yakin kalau suatu saat nanti kamu pasti akan meraih kebahagiaan," ucap Mama Dahlia dan Anin hanya menganggukkan kepalanya lesu.
Mereka bertiga sudah sampai di depan rumah Anindya. Benar saja Arga saat itu berada di rumah. Mereka bertiga turun untuk masuk. Papa Rudi berjalan dan membuka pagar lebih dulu, diikuti Anin dan Mama Dahlia dari belakang.
"Arga! Buka pintu rumah!" teriak Papa Rudi sambil menggedor-gedor pintu rumah. Membuat Arga yang saat itu sedang tertidur, terpaksa bangun dan membuka matanya. Arga langsung bergegas membuka pintu rumahnya. Dirinya merasa terkejut, saat melihat Anin dan kedua orang tua Anin yang sudah berdiri di depan pintu rumah.
"Cepat kamu bereskan barang-barang kamu, dan segera pergi dari sini! Dasar laki-laki tak berguna, hanya bisa menyakiti hati istri. Sudah pengangguran, masih saja bertingkah sombong," usir Papa Rudi. Papa Rudi terlihat tidak main-main, wajahnya begitu menyeramkan.
"Kami benar-benar menyesal menikahkan kamu sama anak saya, jika tahu akhirnya akan seperti ini. Anin begitu berharga bagi kami, berani-beraninya kamu menggoreskan luka di hati anak kami," ucap Mama Dahlia. Dia pun tak tinggal diam.
"Ku mohon Pa, jangan pisahkan kami! Kami saling mencintai. Memang saya akui, saya sempat khilaf sampai berbuat kasar kepada Anin. Semua ini karena Anin yang tak pernah bisa menghargai suaminya. Memang saya ini pengangguran, tetapi bukan berarti saya berpangku tangan. Anin pun tahu, kalau saya sudah berjuang keras agar cepat mendapatkan pekerjaan. Namun sayangnya sampai saat ini belum ada rezekinya. Rezekinya masih lewat Anin. Saya juga mikir Pa, meskipun saya terlihat cuek. Di lubuk hati saya yang paling terdalam, saya juga ingin membahagiakan Anin. Masa iya selama pernikahan, saya harus terus menerus menggantungkan hidup saya kepada Anin. Memberikan beban di pundak Anin," ungkap Arga memohon iba. Arga terlihat bersujud di kaki Papa Rudi, bahkan dirinya sampai meneteskan air matanya, demi melancarkan aksinya.
"Ya. Tapi kamu tetap saja salah. Saya saja selama menikah bertahun-tahun dengan Mama-nya Anin, tak pernah sekalipun menyakiti hati Mama-nya Anin. Kami berjuang bersama-sama, bekerja mengumpulkan uang untuk membeli rumah dan harta lainnya. Semakin kamu menyakiti hati seorang istri, hidup kamu akan semakin sulit. Rezeki kamu semakin jauh. Baru saja menikah, sudah kelihatan sifat asli kamu. Sudah, cepat kamu bereskan sekarang! Saya tak mau dengar alasan kamu," ujar Papa Rudi tegas.
"Sayang, ku mohon maafkan aku! Aku tak bisa hidup tanpa kamu! Aku cinta banget sama kamu," ungkap Arga yang kini bersujud di kaki Anin. Namun sayangnya Anin tak menggubris ucapan Arga, dirinya justru pergi meninggalkan Arga dan masuk ke dalam kamar untuk memasukkan barang-barang suaminya ke koper.
"Ini barang-barang kamu! Kita pisah sampai anak ini lahir, setelah itu aku akan urus perceraian kita! Aku sudah sangat sakit hati! Selama ini aku sudah berusaha bersabar menghadapi kamu," ucap Anin sambil memberikan satu koper besar berisi barang-barang suaminya.
"Lebih baik sekarang kamu pergi. Kita bicarakan lagi nanti, setelah anak kalian lahir," ujar Papa Rudi.
Arga akhirnya mengalah, dirinya akan pergi meninggalkan rumah yang selama ini dia tempati bersama sang istri. Percuma saja dirinya bicara sekarang, Anin masih tersulut api kemarahan. Tak mungkin bisa di ajak berbicara baik-baik. Arga memasang wajah penuh penyesalan dan tak lupa mencium perut istrinya.
"Ingat jangan egois! Pikirkan juga anak kita! Masa kamu tega memisahkan dia dengan ayah kandungnya," bisik Arga di telinga Anin, membuat Anin merasa gelisah mendengar penuturan suaminya.
***
"Gue harus berpura-pura menjadi laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, agar Anin memaafkan kesalahan gue dan mau kembali sama gue."
"Sorry Sel, untuk sementara waktu nomor kamu, aku blokir dulu ya. Aku ingin fokus untuk menyakinkan Anin dulu, agar dirinya mau memaafkan aku dan kembali kepadaku lagi," gumam Arga saat melakukan blokir nomor ponsel Seli.
Seli yang sangat mencintai Arga, tentu saja merasa panik. Dirinya merasa tak terima, Arga meninggalkannya. Memutuskan komunikasi dengannya. Hal itu membuat Seli merasa frustasi, tak karuan. Dia tak bisa hidup tanpa Arga.
"Kamu kemana? Kenapa whatsapp nomor ponsel aku, kamu blokir? Apa salah aku? Aku tidak terima. Lebih baik aku mati, jika harus berpisah dengan kamu," ucap Seli lirih.
Cinta membuat pikiran Seli menjadi sempit, hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Namun sebelumnya dirinya sempat mengirimkan pesan ke Arga. Memberitahukan tentang ancaman dirinya untuk melakukan bunuh diri.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestiku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
bunuh diri gih sonoh... lumayan dunia berkurang 1 dj4l4n9 🤪🤪
2023-08-24
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
b0d0h aja kalo Anin masih luluh ... 😠
2023-08-24
0
3 semprul
bunuh diri ya bunuh diri aja....
2022-09-25
0