"Sayang, aku pulang dulu ya. Hari ini Anin pulang, aku tak ingin membuat dia curiga karena aku tak di rumah saat dirinya tak ada. Aku harus membersihkan rumah, sebelum dirinya pulang," ucap Arga mencoba memberi pengertian kepada Seli.
"Ya sudah, lagi pula kalau aku meminta kamu tetap di sini pun kamu pasti tak akan mewujudkannya. Kamu pasti akan selalu berat sama istri kamu itu," sahut Seli ketus.
Arga langsung memeluk tubuh kekasihnya. Tentu saja dirinya tak ingin Seli marah. Dia berjanji, kalau setelah ini masih akan ada pertemuan. Arga juga berjanji kalau dirinya setiap hari akan menghubungi Seli.
"Sudah ya! Jangan Marah! Aku tak bisa tenang kalau kamu marah sama aku. Aku pulang dulu. Miss You, Baby," ucap Arga sambil mencium kening Seli. Membuat Seli merasa bahagia, karena merasa dicintai.
Sesampainya di rumah, Rian langsung membersihkan rumah. Dia ingin mengambil hati Anin. Mulai dari mengganti sprei, menyapu, mengepel, dan juga mencuci piring yang dua hari lalu belum dia cuci.
"Kalau rumah rapi seperti ini, Anin pasti senang," ucap Arga sambil tersenyum
Setelah rumah terlihat bersih, saatnya Arga untuk bersantai menikmati rokok dan secangkir kopi susu yang menjadi kesukaan. Nikmat sekali hidupnya. Hidup memiliki dua orang wanita sekaligus, yang membiayai hidupnya.
"Beb, hari ini kamu tolong jangan hubungi aku dulu ya! Aku harus menyambut kedatangan Anin, menemani dirinya tidur. Besok aku yang akan menghubungi kamu," ujar Arga di panggilan telepon.
"Ya sudah. Tetapi awas ya, jangan bercinta sama dia. Lihat saja kalau kamu melakukan hal itu. Berarti kamu tak puas sama aku," ancam Seli.
Arga berjanji pada Seli, kalau dirinya tak akan menggauli istrinya. Lihat saja nanti, apakah Arga benar-benar akan melakukannya atau hanya sekedar menyenangkan hati Seli. Di jamin Arga tak akan kuat menahan hasratnya.
Anin baru saja sampai di rumah, dan melihat sang suami sedang tertidur di sofa. Dirinya bisa masuk, karena keadaan pintu rumah yang terbuka. Bahkan Arga tak terbangun, meskipun sang istri sudah mengucap salam.
"Ya ampun Mas, tidur seperti orang pingsan saja. Aku masuk saja, sampai tak dengar. Memangnya kamu habis ngapain saja sih. Rumah sih bersih," gerutu Anin.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Arga masih tidur mengorok, dirinya masih tak menyadari kalau sang istri sudah pulang sejak tadi. Padahal Anin sempat menutup jendela dan pintu dekat Arga tidur. Kini Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Arga masih saja tak ada perubahan. Membuat Anin tak sabar, hingga akhirnya dia membangunkan sang suami dari tidurnya.
"Mas, Mas bangun! Ini sudah malam. Kamu itu tidur, seperti orang pingsan saja," ujar Anin yang mencoba membangunkan suaminya sambil tangannya terus menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
"Emmm."
Perlahan Arga membuka matanya. Mengucek-ngucek matanya. Melihat wajah istrinya yang berdiri disampingnya. Dirinya langsung terbangun dan duduk.
"Kamu habis ngapain sih, Mas? Tidur seperti orang pingsan saja. Bahkan aku pulang sejak tadi saja, kamu tidak tahu," cerocos Anin.
Tentu saja Arga seperti itu, karena selama dua hari Arga bersama Seli di kosan Seli, dia tak ingin melewati waktu sedikitpun untuk bercinta, hanya tidur beberapa jam saja.
"Kamu yang buat aku seperti ini," ujar Arga berbohong.
"Loh kok salah aku?" tanya Anin yang kini memincingkan matanya.
"Kamu yang buat aku tak bisa tidur karena harus menahan rindu," sahut Arga membuat Anin tersenyum. Dia percaya saja suaminya itu melakukan hal itu.
Arga langsung memeluk tubuh Anin, seakan dirinya benar-benar merindukan sosok istrinya. Bersikap manis layaknya seorang suami, yang merasakan rindu setelah lama berpisah dengan sang istri.
***
"Kamu kemana sih? Kenapa tak ada kabar juga sampai sekarang?"
Sudah beberapa hari ini Arga tak menghubungi Seli, tentu saja membuat Seli gelisah. Bahkan Arga memblokir nomornya Seli. Karena Arga tak ingin Anin mengetahui kalau dirinya selingkuh. Arga ingin fokus mengurus Anin yang sedang sakit
"Kamu mau makan apa? Biar aku beliin," ujar Arga.
Sudah dua hari belakangan ini Anin sakit, terbaring lemah di ranjang. Dirinya sering kali muntah, tak menerima makanan. Membuat wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya terasa lemas. Arga sudah mengingatkan sang istri untuk berobat ke rumah sakit. Namun, Anin selalu saja menolak.
"Kalau hari ini kamu masih seperti ini, lebih baik periksakan ke dokter. Agar kita tahu penyakit kita," ucap Arga.
"Aku hanya kecapean saja, Mas. Ditambah lagi pola makan aku akhir-akhir ini tak teratur. Membuat asam lambung aku menunggu. Nanti juga baikan. Mungkin aku di suruh istirahat dulu Mas," ungkap Anin dan Arga mengiyakan.
Arga mencoba menjadi suami yang baik, mengurus istrinya yang sedang sakit. Membuatkan teh hangat dan membelikan makanan untuk sang istri. Baru dua hari seperti itu saja, Anin sudah terlihat bertambah kurus.
"Mau bakso?" tanya Arga.
Arga sangat tahu kalau sang istri suka sekali bakso. Lagi-lagi Anin hanya menggelengkan kepalanya. Tak ada yang dia inginkan. Mendengarnya saja, dirinya sudah merasa mual.
"Kalau semuanya tak mau, yang ada kamu bisa masuk rumah sakit. Karena tak ada asupan makanan ke dalam perut kamu. Kalau kamu seperti ini terus, gimana aku bisa tenang ninggalin kamu," cerocos Arga.
"Jadi kamu tak ikhlas ya mengurus aku?" sindir Anin.
"Bukannya seperti itu. Kalau kamu tak ada keinginan untuk makan, kapan kamu akan sembuhnya. Aku kan khawatir," sahut Arga mencoba merayu sang istri. Arga langsung menciumi wajah istrinya dan memeluk tubuh istrinya.
"Sayang kamu lagi sakit, padahal aku kepengen banget Yang," ujar Arga, tetapi Anin tak menanggapinya.
Anin sudah tertidur dan Arga memilih untuk bersantai di luar. Dia ingin menghubungi Seli. Arga yakin kalau Seli saat ini pasti sedang menunggunya. Hingga akhirnya Arga memilih untuk membuka blokir nomor ponsel Seli. Melihat Arga menghubungi dirinya, tentu saja Seli merasa bahagia.
"Kamu kemana saja sih?" tanya Seli.
"Maaf, setelah Anin pulang dari tugas luar kota dirinya sakit. Namun, parahnya baru dua hari ini. Maafkan aku! Maafkan aku yang telah blokir nomor kamu. Aku takut jika nantinya kamu menghubungi aku di saat bersama Anin. Selama dirinya sakit, aku 'lah yang menjaganya.
" Memangnya Anin sakit apa? Alasan saja kali, untuk menarik simpatik kamu," ujar Seli yang berniat memecah belah pernikahan Anin dengan Arga.
Arga menceritakan tentang kondisi Anin saat ini yang tak bisa makan, karena terus menerus muntah. Tubuhnya terlihat kurus, lemas, dan gak bersemangat. Bahkan Anin sampai tak bisa bekerja. Membuat Seli terperangah mendengarnya.
"Apa Anin saat ini sedang hamil? Sepertinya ucapan Arga mengarah kepada itu," gumam Seli dalam hati. Tentu saja hal itu membuat Seli merasa kesal. Meski hal itu bersifat wajar. Karena Arga adalah suami dari Anindya. Namun bagi Seli, Arga telah membohongi dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
3 semprul
kurang ajar banget sih....
2022-09-07
0
Benazier Jasmine
dasar laki2 seperti arga buang saja ke laut kak, hidup juga g ada gunanya buat org sakit hati saja😂😂😂
2022-09-03
0
Pengagum rahasia
emosi jiwa aku beneran
2022-08-22
1